(Taka season 1)
Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.
Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.
Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.
Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pijatan tangan Bunda
Bunda Sensa memutar handel pintu. Pelan kakinya melangkah masuk kedalam kamar Taka.
Manik matanya langsung tertuju pada tubuh Taka yang berbaring diatas bed. Ia mendekat.
Saat duduk dipinggiran bed, putra keduanya itu tak bergeming. Kedua matanya tertutup rapat.
Bunda Sensa memperhatikan wajah Taka, memang benar wajah putih bersih itu terlihat pucat.
"Apa Taka sakit?" tanyanya sendiri dengan meneliti wajah Taka. Karna penasaran tangan kanan terangkat untuk menyentuh keningnya, memastikan apa suhu badannya panas.
"Tidak," ucapnya lagi.
"Bunda," merasakan halus sentuhan tangan Bundanya, Taka terbangun.
"Kamu sakit?" langsung bertanya pada intinya.
"Tidak, Bun. Taka baik-baik saja," ia beranjak duduk dan bersandar di headbed.
"Wajah kamu terlihat pucat," ucap Bunda Sensa.
"Bunda nggak usah khawatir, aku baik-baik saja." Taka masih kekeh tidak mau dibilang sakit. Padahal ia sendiri tidak tau dengan kondisi badannya.
"Mungkin kamu kelelahan Nak, sini Bunda pijat." Bunda Sensa menawarkan diri untuk memberi pijatan untuk Taka.
Taka mengangguk. "Boleh Taka tidur dipangkuan Bunda?" tanyanya.
"Boleh dong, Sayang." jawab Bunda Sensa dengan membimbing Taka untuk merebahkan kepala diatas pangkuannya.
"Walau kamu sudah dewasa, bagi Bunda kamu tetap anak kecil. Anak kecil yang masih perlu perhatian dan kasih sayang Bunda. Bunda sempat merasa takut jika kalian dewasa akan hidup mandiri dan tinggal terpisah. Tapi Bunda senang, meski kalian beranjak dewasa masih bisa bersama kalian. Bercanda dengan kalian. Tetaplah jadi anak Bunda sebelum Bunda pergi dan menutup mata ya..."
"Bunda kenapa bicara seperti itu?" Taka bertanya tanpa melihat kearah Bunda Sensa. Pandangan matanya lurus menatap gorden jendela yang berkibar karna tertiup angin.
"Umur Bunda sudah tua, kemana Bunda akan pergi jika tidak menghadap Sang Pencipta." Bunda Sensa tersenyum simpul. Meski sudah tua tapi gigi ginsul itu masih terlihat kokoh. Masih terlihat manis dan cantik, begitu awet muda mungkin dengan basuhan air wudhu yang lebih dari 5kali dilakukan.
"Bunda jangan bicara seperti itu, umur ada ditangan Tuhan. Kemarin Taka nggak sengaja baca di status facebook, pelajar Sekolah Menengah Pertama meninggal karna terkena kanker kelenjar getah bening. Bukankah remaja itu masih terlalu muda, tapi sudah meninggal. Berarti bukan umur yang menentukan kepergian seseorang, tapi memang sudah takdirnya. Bisa saja Taka pergi lebih dulu dari pada Ayah atau Bunda." Taka bercerita panjang lebar. Ia mengeluarkan isi pemikiran tanpa ada kejanggalan apapun tentang takdir hidupnya.
"Iya kamu benar, tapi kalau sudah tua pasti lebih dekat dengan kepergian. Kamu masih muda, jika menjalani kehidupan yang baik dan sehat insyaallah akan dipanjangkan umurnya. Berdo',a pada Allah supaya selalu diberi kesehatan dan umur panjang.
Seperti yang kamu pernah dengar, Bunda dulu saat terjadi peristiwa kelam dan saat melahirkan kalian pernah dinyatakan meninggal, tapi Allah masih memberi kesempatan pada Bunda untuk merawat dan menjaga kalian sampai saat ini. Semuanya seperti keajaiban. Dan keajaiban itu juga berkata adanya do'a tulus. Jangan pernah berhenti berdo'a walau ditengah keputusasaan." disaat dekat dengan putra putrinya, Bunda Sensa memang sering memberi petuah dan nasehat untuk berbuat kebaikan.
"Jika Allah tidak mengabulkan do'a kita, apa Allah tidak sayang pada kita, Bun?"
"Allah menyayangi semua makhluknya, tapi terkadang makhluk itu sendiri melupakan keberadaan Allah. Banyak yang lalai dan terus berbuat kejahatan."
"Bun, apa setelah kematian itu mengerikan? Taka ngeri sendiri Bun, hari ini kita masih bertemu dengan orang terdekat. Tapi nggak tau setelah besok orang itu sudah tidak ada." ucapnya dengan nada takut.
"Untuk itu, sebelum kita pergi harus mempersiapkan diri. Kita harus rajin mencari bekal kebaikan untuk dibawa menuju ke Janah Nya."
"Insyaallah jika aku pergi, aku siap Bun. Semoga bekalku cukup."
"Hust... kamu jangan asal bicara, disisi kanan kiri kita ada malaikat yang menyaksikan Nak. Hati-hati dengan ucapan yang kamu katakan. Sebisa mungkin berbicara baik." Bunda Sensa memberi peringatan agar Taka tidak lagi berbicara asal.
Taka tersenyum dan beralih menatap wajah Bunda Sensa dari bawah. "Iya Bun, Taka cuma asal bicara saja," ucapnya.
"Besok lagi nggak boleh berbicara ngawur."
"Iya,"
"Makasih ya Bun, pijatan Bunda enak kepala Taka sudah merasa ringan, nggak pusing lagi." imbuhnya.
"Loh, berati tadi kamu pusing? kata mu baik-baik saja? kalau pusing langsung minum obat, 2hari lagi kamu ujian harus jaga kesehatan." Bunda Sensa sedikit khawatir, memang dilihat dari wajah Taka memang tampak pucat, tapi sedari tadi putranya kekeh bilang baik-baik saja. Jadi kekhawatirannya tadi tidak berlanjut.
"Cuma pusing sedikit," jawab Taka singkat.
"Walau cuma sedikit harus cepat minum obat, biar tidak berlarut-larut."
"Sebentar Bunda ambilin obat pusing."
Taka beralih duduk, membiarkan Bunda Sensa untuk mengambilkan obat. Ia hanya melihat Bunda Sensa menjauh, dalam hati merasa senang bisa diperhatikan oleh Bunda Sensa.
Setelah mengambil obat, Bunda Sensa memberikan pada Taka untuk diminum dengan segelas air putih.
"Setelah minum obat pasti pusingnya akan hilang." kata Bunda Sensa.
"Oh ya, tadi Nata bercerita katanya kamu bentak dia?" Bertanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung putranya.
"Iya. Taka merasa bersalah sudah bentak Nata. Nanti aku minta maaf."
"Adikmu sangat sedih, nanti segera minta maaf ya. Kalian kalau bertengkar biasanya tidak pernah lama dan tidak serius. Bunda harap, kamu menjadi kakak baik untuk Nata. Tau sendiri, adikmu belum bisa menjaga diri dan suka manja. Sebagai kakak kamu memberikan contoh yang baik."
"Iya Bun. Taka nggak sengaja kok. Abisnya lagi fokus belajar tapi Nata berisik banget, tanya-tanya terus jadi aku kesel."
"Kesel boleh, tapi jangan dilampiaskan dengan kemarahan."
"Kamu masih mau tidur atau pergi kekamar adikmu?"
"Aku dikamar dulu Bun, nanti aja kekamar Nata."
"Ya udah Bunda keluar dulu ya."
Taka mengangguk, pandangannya masih melihat pergerakan Bunda Sensa yang menjauh dan hilang dibalik pintu.
Menyandarkan kepala dan mendongak keatas. Remaja itu akhir-akhir ini sering melamun, sering memikirkan hal aneh pada dirinya.
Merasakan pijatan lembut dari Bunda Sensa membuat kepalanya tidak lagi pusing seperti tadi.
Hanya saja petuah dari Bundanya masih melekat dalam ingatan.
Saat teringat tentang pembahasan umur, ia bergidik ngeri. Bagaimana bisa ia tadi bercerita tentang itu.
Hari-hari sebelumnya selalu ceria dan tidak mengingat tentang hal semacam itu, tapi akhir ini, disaat sendiri ia berpikir jauh. Entah, ia pun tak tau dengan pemikirannya serasa enggan untuk terbuka seperti biasanya.
Dalam hati ingin meyakini bahwa semua baik-baik saja, padahal ia pun merasa takut.
Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄