"Menikah sejatinya menjadi moment yang paling bahagia. Namun, apa jadinya jika seseorang harus menikah dengan iblis demi sebuah pembalasan dendam.
Ini adalah kisah seorang wanita yang memilih jalan sesat demi membalaskan dendam.
Bainah adalah janda 2 kali, wanita yang nyaris mati bunuh diri, akibat kebodohannya meninggalkan seorang suami hanya untuk mendatangi seorang penipu, yang ternyata memanfaatkan nama baiknya, dan pada akhirnya dia harus rela menanggung semua beban hutang yang ditinggalkan oleh suami kedua untuknya.
penasaran, simak kisah berikut ini,
BUDAK SETAN KARYA MARIAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Sebelumnya ....
Mata Endang sudah melotot sempurna. Dia benar-benar merasa dihina, Bagaimana tidak, Bainah mengatakan hal itu di saat dia dalam keadaan terpuruk, dan yang paling tidak dia sukai, Bainah menghina tepat di depan jasad suaminya.
"Oh iya, kebetulan hari ini aku ada urusan, jadi maaf aku harus pergi sekarang. Sayang sekali, padahal aku masih ingin berlama-lama menemanimu, Endang!" tukas Bainah yang lagi-lagi terdengar menghina. Dia kemudian bangkit, melirik Endang dengan senyum sinisnya.
...BUDAK SETHAN...
...~ Selamat membaca ~...
"Bainah, tunggu!" panggilan itu berhasil menghentikan langkah Bainah, dia menoleh dengan senyuman ramah.
"Oh, Raiden, ada apa?" tanyanya lembut.
"Emm!" Raiden langsung mengedarkan pandangan, menelisik ke sekitar.
"Ada apa?" tanya Bainah yang kedua kali dengan alis yang sudah mengernyit.
"Bicaranya, boleh di lain tempat aja, gak, soalnya ada banyak orang di sini!" bisiknya pelan, membuat Bainah mengernyit heran. "Oke," jawab Bainah. Raiden masih mengedarkan pandangan, memantau situasi berharap tak ada yang memerhatikannya. Namun, sedetik pandangannya menangkap bayangan wajah Surti yang tengah duduk di hadapan jasad Takur, dia terlihat melotot pada Raiden dari kejauhan sejarak 10 meter, sambil sedikit merocok tak jelas.
Raiden paham dengan maksud Surti, meski bahasanya tak bisa di mengerti dengan jelas, tapi dia tetap bisa mengartikan.
"Iya, sebentar aja kok!" sahutnya pelan, yang
kemudian menarik lengan Bainah, mengajaknya ikut ke ruang khusus pertemuan keluarga besar.
Sesampainya, Bainah langsung melepas genggaman Raiden yang sedari tadi merekat pada lengannya.
"Ahh, anu!" Raiden terlihat kagok, wajahnya sudah merah menahan malu.
"Ada perlu apa, ya?" Bainah menaikkan alisnya sebelah. "Butuh pinjaman uang?" Dia mulai melipat tangan di dada.
"Bukan, bukan, kok!" Raiden menggoyangkan tangan di depan Bainah. Untuk meyakinkan bahwa bukan perihal uang yang ingin dia bahas.
"Jadi, apa?"
"Sebenarnya, aku cuma mau bilang, kalau sejak lama aku mengagumi kecantikanmu," ucapnya malu-malu. Membuat Bainah tertawa terpingkal-pingkal.
"Kok ketawa?"
"Kamu mengajakku ke sini hanya untuk mengucapkan ini?" Masih dengan sisa-sisa tawa.
"Iya, aku serius ini!"
"Yakin, gak ada tujuan lain?" Bainah berbisik di dekat telinganya, membuat Raiden seketika menenggak saliva dengan mata membulat sempurna.
"Eng-enggak ada, sumpah! Aku mengatakannya karena takut kalau setelah kamu pergi, aku tidak bisa melihatmu lagi, seperti kemarin saat kamu menghilang selama satu bulan, lalu tiba-tiba saja hari ini kamu hadir di kediaman Kakakku. Aku cuma gak mau kehilangan kesempatan mengungkapkan perasaanku."
Usai mendengarkan penuturannya, Bainah mundur sejengkal, masih setia menautkan lengannya di dada. Dia lalu tersenyum picik.
Hmm, kalau dilihat dari matanya, sepertinya pria polos ini berkata jujur. Jika benar dia menyukaiku, itu berarti bagus. Aku tidak perlu bersusah payah, akan mudah bagiku untuk menyerahkan tumbal pertama. Bainah tertawa puas dalam hatinya.
"Jadi .. kamu mengajakku ke sini hanya untuk mengatakan kalau kamu menyukaiku, apa aku benar?"
Deg!!
"Ehh!" Mata Raiden sudah berbinar kala mengetahui Bainah mengerti dengan cepat maksud dan tujuannya. "Kamu cepat banget pahamnya." Dia tersipu seperti kucing yang menggeliat manja.
'Iyuh, menjijikkan. Bainah mendelik dalam hati.
"Ahh, tentu saja aku paham, karena sebenarnya, sudah lama aku juga menyukaimu!"
"Ehh, kamu serius, Neng?" Matanya semakin berbinar.
"Emm!" angguk Bainah. Sedang wajah Raiden sudah sangat merah. "Baiklah, kalau begitu, besok malam setelah acara tahlilan di rumahmu, temui aku di Rawa Jenggor, ya!" tukas Bainah dengan setia menautkan senyuman ramahnya.
"Ah, iya, Neng Manis! Abang pasti ke sana!" Dia mengepal tangan. "Yess!" ujarnya.
"Oke, aku pulang dulu, ya."
"Iya, hati-hati, Sayang. Eh, maaf, bolehkah aku memanggil kamu Sayang?"
Bainah tertawa kecil. "Boleh dong, dah Sayaang! Muach!" Dia melemparkan ciuman melalui tangannya, membuat jantung Raiden berdegub kencang.
Pria itu tampak berusaha mengatur ritme napasnya yang terasa sangat cepat.
Bainah kemudian pergi, meninggalkan Raiden yang masih terpana menatap janda manis itu. Hingga bayangan Bainah menghilang, Raiden tak jua kunjung berpindah dari tempat ia berpijak.
"Woy!" seru Surti menepuk pundak Raiden, membuatnya tersentak kaget dan langsung memegang dada.
"Astaga, Mbak Sur, apaan sih, bikin kaget aja!"
"Kamu itu ya, kalau mau pacaran, harusnya lihat kondisi dulu dong! Ini keadaan kita sedang kacau! Mas Takur baru saja meninggal, dan bisa saja kita kehilangan kesempatan mendapatkan harta warisannya, tapi sempat-sempatnya kamu mendatangi si janda itu. Gak waras kamu, ya?"
"Yah, jangan galak-galak dong, Mbak Sur! Namanya juga cinta, kan sudah kubilang akau aku sangat suka dengan Bainah, kapan lagi ada kesempatan, sudah sebulan pujaanku itu menghilang, lalu sekarang tiba-tiba ada, ya aku cuma gak mau kehilangan kesempatan dong, Mbak Sur!"
"Ah dasar kamu, sudah cepat kembali ke atas, nanti takutnya ada curiga sama kita karena berlama-lama di sini!" seru Surti mengajak saudaranya itu untuk kembali ke lantai 2.
...*...
...*...
...*...
Malam sudah berganti, kini saatnya mentari kembali hadir menghangati Dusun Rongge, desa yang diliputi sejuta misteri di masa kelam itu kembali aktif kala fajar menyongsong di ufuk timur. Para warga yang terdiri dari kaum hawa tampak sibuk menjemur pakaian, sebagian lain sudah aktif berbelanja di pasar-pasar tradisional.
Tidak terkecuali dengan seorang wanita yang kembali hadir menduduki kampung itu. Ya, dia adalah Bainah.
Wanita yang sejak semalam nyaris tak tidur karena harus melayani suami gaibnya itu, ditambah subuhnya dia harus keluar rumah hanya untuk menonton saat-saat terakhir Takur yang mati tragis.
...*...
...*...
...*...
"Eh, eh, ada yang lihat langsung gak sih kejadian di rumah Juragan Takur subuh tadi?" bisik seorang ibu yang menjadi langganan sayur dagangan Bu Tuti, sambil memilah-milah sayuran segar yang rencananya akan dia masak hari itu.
"Kudengar sih, Bu Linda sama Bu Mega ada di sana subuh tadi."
"Oh, ya! Serius gak sih kalau Tuan Takur itu matinya karena kena guna-guna."
"Nah, soal itu, aku belum tanya ke mereka, tapi desas-desusnya sih kabar itu benar adanya."
"Ihh, ngerinya."
"Iya loh, tau gak sih, waktu beliau mati, katanya beliau sampai memuntahkan organ-organ perutnya. Usus, jantung, hati, ginjal! Terus itu, bentuknya udah gak karuan, kayak habis di cabik-cabik!" Dia bergidik saat bicara.
"Ih yang benar aja! Ngeri banget!"
Para penggosip yang mendengar langsung menutup mulut tak percaya.
"Iya, aku serius! Oh iya, kudengar pemakamannya dilakukan jam 10 pagi ini, 'kan?"
"Iya, kudengar sih begitu, Pak RT kan yang membantu mengurusnya?"
"Iya, betul. Kalau sudah urusan kematian aja baru deh ngabarin Pak RT! Sudah giliran pembagian zakat dan yang lainnya gak pernah menghadirkan Pak RT!"
"Yaa, sifat keluarga mereka kan memang seperti itu! Bu Tuti aja yang telat bayar hutang sama mereka, di ambil barang-barang di rumah, cuma karena telat sehari pembayaran! Iya gak, Bu Tut?"
Si penjual sayur itu hanya menaikkan alis mengiyakannya. "Ya mau gimana lagi, bunganya gede banget!" sahutnya tiba-tiba.
"Ah, kalau soal hutang sih gak usah di tanya, dia mah paling besar kalau ngambil bunga dari hutang. Saudaraku aja pernah pinjam 3 juta, ehh giliran bayar di minta 6 juta! Gila kan bunganya, 2 kali lipat dari pembayaran."
"Wah iya gila banget! Lalu, apa habar dengan Bainah ya? Kudengar suami keduanya itu ngutang 30-an juta kan, ya?"
"Loh, jadi kamu belum tahu, ya? Tadi subuh kan Bainah datang ke kediaman Juragan Takur, dia bayar hutang plus bunga-bunganya!"
"Seriuuus??" Yang lain terkejut tak percaya. "Bukannya sudah sebulan dia pergi dari kampung kita?"
"Iya mana aku tahu, tapi nih ya penampilannya tadi itu beda banget!"
"Beda gimana?"
"Mewah gitu lah pokoknya!"
"Kok bisa, ya? Dia kerja apa selama sebulan sampai bisa kaya raya begitu?"
"Jangan-jangan dia jual diri!"
"Hush, hati-hati kalau ngomong!" tegur yang lainnya.
"Upzz!"
"Atau mungkin, dia simpanan aki-aki tajir! Hahaha!" Mereka tertawa bersama.
"Bicarain siapa?" tanya seseorang yang tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Eh! Ba-Bainah!"
Deg!!
Tiba-tiba saja Bainah sudah hadir di sana, ikut berkumpul bersama mereka. Seketika semua nyaris terdiam.
...Bersambung .......
hadueh