sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 30.
"apa maksudmu Gama?" tanya Mala, ia tidak jadi melanjutkan mencari bukunya. ucapan Gama menghentikan aktifitasnya.
"aku menyukaimu."
"Gama......" Kata-kata Mala tercekat ditenggorokannya. ia tidak tau harus menjawab apa.
Mala menatap mata Gama. ada kejujuran di netra itu. sekaligus harapan.
"Gama, maafkan aku. tidak seharusnya kau begini. kau tidak bisa menyukaiku."
"kenapa? apa kau tidak menyukaiku? apa kau sama sekali tidak tertarik padaku?
"karna aku......" kalimat itu menggantung diujung lidah. Mala mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, tidak ada orang didekat mereka.
"aku sangat menyukaimu Mala. aku tau ini waktu yang kurang tepat, tempat ini juga kurang tepat untukku mengungkapkan perasaan ini. tapi mungkin inilah satu-satunya kesempatanku. tolong lihat aku."
"Gama, aku sudah menikah." akhirnya Mala bicara sejujurnya. ia tidak ingin menggantung perasaan Gama. itu akan membuat pria itu sangat terluka dan Mala akan merasa bersalah pada Micko.
Gama tak lantas mempercayai kata-kata Mala. tepatnya ia tidak ingin mempercayainya. kalau memang benar Mala sudah menikah, itu akan sangat menyakitinya. sekarang saja, walaupun ia tidak mempercayaianya, rasa sakit itu tetap ada.
Ia mengangkat wajahnya, menatap wajah Mala kembali. ada tatapan permohonan disana.
"kalau kau tidak menyukaiku, carilah alasan lain Mala. jangan jadikan pernikahan sebagai alasanmu menolakku." kata Gama. ada nada kecewa disana.
itu bukan alasan, Mala bicara sejujurnya. apa lagi yang harus ia katakan. ia memang sudah menikah.
Gama kecewa. dengan alasan yang diutarakan Mala. fikiran Gama melalang buana mencari kekurangan pada dirinya sendiri. mencari hal apa yang tidak disukai Mala dari dirinya. hatinya, tetap tidak ingin mempercayai kalau Mala sudah menikah.
"aku bukan beralasan Gama. aku memang sudah menikah."
"kalau kau sudah menikah, siapa suamimu?" tantang Gama. tapi Mala hanya terdiam. menatap sendu kepada Gama dengan alis mengkerut.
haruskah ia menyebutkan bahwa Micko lah suaminya? apa itu tidak akan merepotkan mereka nanti? Mala masih ingin menyembunyikan status pernikahannya. tapi sepertinya Gama harus tahu. agar pria itu percaya dan tidak menggantungkan perasaannya pada Mala.
"Mala, apa yang tidak kau sukai dariku? katakan. dan aku akan berubah untukmu."
apa perasaan Gama sekuat itu? sehingga ia akan berubah untuk Mala? orang asing yang baru dikenalnya beberapa bulan ini? mengalahkan sifat keras kepalanya sendiri?
"tidak ada yang tidak kusukai darimu Gama. kau pria yang baik. tapi sebaik apapun kau, hal ini tidak benar. aku adalah seorang istri. kebaikanmu bukanlah alasan bagiku untuk tetap menerima perasaanmu. aku sudah terikat dengan pernikahan. dan ikatan itu bukanlah hal yang bisa dihancurkan sesuka hati." kata Mala mencoba memberi pengertian.
"tidak. aku butuh bukti jika memang benar kau sudah menikah. katakan, siapa suamimu? atau mana buku nikahmu? tunjukkan padaku, maka aku akan mempercayainya." Gama masih tidak mau mengalah.
"Gama. siapa yang membawa-bawa buku nikah saat bepergian?"
Gama terdiam. dia kehabisan alasan untuk diutarakan kepada Mala. untuk menarik hati gadis itu agar mau menerimanya. ini adalah penolakan yang pertama kali baginya. selama ini dialah yang lebih banyak menolak wanita.
ada perasaan nyeri di ulu hatinya. apalagi yang harus dia lakukan untuk membujuk Mala? apa memang seperti ini sakitnya sebuah penolakan.? sebenarnya yang membuat Gama merasa sakit adalah alasan Mala menolaknya. mungkin kalau Mala memakai alasan lain, Ia tidak akan sesakit ini.
jikalau Mala menolaknya dengan alasan dia sudah punya kekasih misalnya, ia masih akan bertekad merebut Mala dari kekasihnya. tapi alasan yang dipakai Mala adalah pernikahan. alasan yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya.
"Gama, kau membuat pertemanan kita menjadi canggung."
"seorang pria dan wanita tidak mungkin bisa berteman Mala. pasti akan ada percikan asmara dihati mereka, atau salah satunya. sebelum kau membuktikan pernikahanmu, aku tidak akan pernah mempercayainya. saat kau tunjukkan suamimu, saat itu aku akan mempercayaimu sepenuhnya. kau jangan sakiti perasaanku dengan alasan-alasan konyol seperti itu. aku tidak bisa menerimanya."
Gama tetap kekeuh pada pendiriannya. ia menggenggam tangan Mala. dan menatap penuh harap.
"Gama, kita tidak bisa seperti ini. tolong lepaskan tanganku."
"tidak. aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau buktikan alasanmu menolakku."
bagaimana mala akan membuktikanya? tidak ada Micko disana yang akan menjadi bukti dari alasannya. foto diponselnya, itu tidak akan bisa dijadikan bukti. dan Gama tidak akan percaya. pria cerdas seperti Gama hanya akan melihat bukti fisik yang ada dihadapannya.
Mala tidak bisa lagi berkata-kata. sebenarnya ia kasihan saat melihat tatapan mata Gama yang nampak sangat kecewa. Gama pasti merasa sangat sedih, dan sakit. Mala jadi merasa jahat karna sudah menyakiti hati pria baik itu.
"lepaskan tanganmu darinya.!!!!!!!"
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣