Seaaon 1 tentang Jill dan Jeff (couple J).
Season 2 tentang Shanum dan Salman (couple S).
Jill kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan, ia kemudian bekerja di sebuah perusahaan dan justru bertemu cowok tampan, mapan, dan menawan yang ternyata adalah bosnya.
Shanum terpaksa menggantikan kakaknya menikahi Salman, pria cacat yang tiba-tiba menjelma menjadi pria paling kuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Otoriter
Jeff berdiri dengan gerakan kasar dan mendekati Jill.
Mampus! Pikir Jill menunduk. Disamping memendam kesal, ia juga merasa cemas akan mendapat makian seperti yang dirasakan Pak Andrawan.
Edo geleng-geleng kepala melihat kemarahan Jeff. Meski ia adalah sahabat Jeff, namun jika ia ikut campur dengan urusan yang begini, bisa-bisa malah dirinya yang diterjang oleh Jeff.
“Kau punya etika, tidak? Beginikah caramu berbicara dengan atasanmu?” tegas Jeff.
Jill diam saja mendengarkan suara tegas di dekat telinganya. Ya, Jeff berdiri sangat dekat dengannya. Hingga ketika Jeff bicara, embusan napas Jeff menyapu separuh wajahnya. Jill menatap ke lantai. Namun dari ekor matanya, ia dapat melihat kedua tangan Jeff yang berkacak pinggang.
“Enak saja kamu main pergi begitu saja. Tidak pakai permisi. Tidak pakai basa-basi.” Jeff menunjuk-nunjuk muka Jill sambil berjalan mengelilingi tubuh Jill.
Jill semakin gondok. Ingin sekali ia mengikat bibir Jeff supaya tidak nyinyir. Kemarahan yang dipendam dalam dadanya terasa penuh dan sesak. Gini doang dipermasalahin.
“Edo, ajari dia beretika pada atasan. Caranya berkomunikasi denganku sangat buruk!” seru Jeff.
Edo diam.
“Sekarang pergilah!” perintah Jeff pada Jill. Namun perintah itu tidak membuat tubuh Jill beranjak dari tempatnya.
Merasa heran, Jeff menjentik lengan Jill membuat Jill spontan mengangkat wajah dan menatap Jeff.
“Kau tidak mendengarku?”
“Dasar, Iblis!”
“Heh! Kau bilang apa tadi?”
Jill terkejut. Setahunya, ia hanya menggerutu dalam hati. Tapi saking dongkolnya, umpatan yang seharusnya hanya ada dalam hati malah meluncur keluar dari mulut tanpa sadar.
“Jawab! Kau bilang apa tadi?” Jeff tidak membentak, namun ia bicara dengan nada rendah yang berisi kemarahan, mengeratkan gigi hingga terdengar gemeletukan.
“Anda berbicara dengan saya?” tanya Jill polos dan berhasil membuat Jeff mengepalkan tangan ingin melayangkan jitakan. Iris matanya menatap bola mata Jill dalam-dalam. Jika tidak bicara dengan Jill, memangnya ia sedang bicara dengan tembok?
“Kau sadar sedang bicara dengan siapa?” Jeff berjalan maju hingga membuat Jill melangkah mundur. Selangkah, dua langkah, tiga langkah hingga akhirnya tangan kanan Jeff menyentuh pundak Jill kuat dan mendorongnya ke belakang. Kaki Jill terpaksa berjalan mundur dengan langkah sangat cepat mengikuti dorongan Jeff.
Jill meringis merasakan pundaknya sakit akibat genggaman Jeff yang kuat. Kemudian ia merintih sesaat setelah punggungnya terhentak dinding.
“Aku atasanmu,” ucap Jeff lebih seperti bisikan, tatapannya membunuh. “Tidak pantas kau mengumpatku.”
“Jeff, cukup! Hentikan!” Edo mendekati Jeff, memohon. Ia tidak tega melihat Jill yang hanya bisa diam dan terpuruk. Namun Edo tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berdiri dan menonton tanpa berani menjulurkan tangan untuk menghentikan Jeff yang sudah kalap.
Sebenarnya Jill bisa dan bahkan sudah memiliki keberanian untuk melawan Jeff, tapi ia masih memikirkan Veny. Jangan sampai Veny menanggung malu jika ia berkelahi dengan Jeff. Nggak lucu kan kalau dia tonjok-tonjokan lalu guling-guling berdua di lantai untuk adu kekuatan? Ya ampun.
“Edo, kau dengar wanita ini bilang apa barusan?” pandangan Jeff tidak beralih dari wajah Jill meski ia sedang bicara dengan Edo. “Wanita ini mengumpatku.”
“Sudahlah, Jeff. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.” Edo terkesan memohon.
Jeff meletakkan tangan kirinya melintang di bawah leher Jill, tepatnya di atas dada Jill. Agak keras Jeff menekannya hingga Jill merasa hampir sesak napas.
“Jeff, cukup!” Edo cemas, meski hanya menonton saja.
TBC