Untuk lebih mengena lebih baik baca dulu PROGRAMMER SOLEHAH
ini season keduanya menceritakan kehidupan anak - anaknya.
Ammar Putra Ibrahim Al Malik jatuh cinta dengan seorang gadis yang mahir coding Annisa Rahma Wijaya.
Tetapi Cinta Mereka masih sama - sama tertahan dikarenakan Annisa mengetahui jika sahabatnya juga menaruh hati kepada Ammar.
Belum lagi Ammar harus melanjutkan studi S2 nya di luar negeri seperti permintaan Papinya untuk meneruskan perusahaan keluarga Mereka..
Akankah Mereka bersatu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aeni Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menikah dulu ya, Sebelum Abang menikah
"Yuk, kita kumpul kapan gays.. Gas Ken." tulis Rendi di group Mereka.
"Siap Agendakan." Asraf.
"Yukk.. siap meluncur." Riri.
"Berangkat...." Ameera.
"Meluncur." Aqila.
"Kalian mau nikung Abang." balas Ammar baru malam hari ikut nimbrung.
"Walau tak ada Bang Ammar, tetap dong meluncur.." Rendi.
"Sippp.. Nisa aja diajak biar ramai gantinya Abang." balas Ammar.
"Ah.. Siap, Adik Ipar siap mengawal." Ameera.
"Awas jagain Dia." Ammar.
"Beres.. Bos. Aman bersama kita." Ameera.
Itu sedikit percakapan Mereka di group chat, ini memang strategi Ameera, Aqila dan Rendi untuk membuat acara sekaligus mau nembak Riri si Rendinya.
Akhirnya disepakati akhir pekan ini Mereka akan berkumpul dan Annisa untuk pertama kalinya ikut setelah diizinkan Ammar sebagai penggantinya.
Ameera yang biasanya bersama Abangnya kali ini pergi dengan di antar Pak Anton karena Mami Syakila tidak mengijinkannya untuk membawa mobil sendiri apalagi bersama dengan Annisa.
Sesampainya di rumah Annisa, Ameera turun dan menjemput calon Kakak iparnya itu.
"Ma, Pa, Nisa berangkat ya."
"Iya Sayang, pulangnya jangan malam-malam." pesan Mama Ana.
"Iya Ma."
"Ma, Pa. Meera juga pamit ya, "
"Iya ,kalian hati - hati." pesan Mama Ana dan Papa Ilham.
Setelah mencium tangan Mama Ana dan Papa Ilham Ameera dan Annisa pergi untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya dengan diantar oleh Pak Anton.
"Ra.."
"Iya Nis kenapa."
"Aku jadi kangen sama Abang."
Ameera tersenyum dan memeluk Annisa.
"Aku juga kangen Nisa, kangen bawelnya yang suka ngatur, suka jahil ternyata begini ya kalau lagi nggak di sampingnya baru terasa betapa dia perhatian sama Kita."
"Iya Ra, walau bisa melihat dari video call tetap aja nggak puas rasanya kalau tak melihatnya langsung."
"Bucin banget ini Kakak Ipar Ku."
Annisa hanya tersenyum mendengar ledekan Ameera, ya memang itu yang dia rasakan.
"Sudah sampai Non." kata Pak Anto yang memarkirkan mobilnya di cafe.
"Oke, Pak ikut masuk yuk."
"Nggak usah Non, Saya tunggu di sini saja."
"Enak lho Pak adem."
"Nanti Bapak kayak anak muda Non."
"Ha ha ha.. Pak Anton bisa aja makasih ya Pak, kami tinggal dulu."
"Iya Non, jangan malam - malam ya tadi pesan Nyonya besar begitu."
"Siap Pak."
Ameera dan Annisa masuk ke dalam cafe, ternyata Rendi dan Riri sudah sampai di sana.
"Assalamualaikum." ucap Nisa dan Ameera.
"Waalaikumsalam." jawab Rendi dan Riri.
"Ciyeee.. berduaan aja." celetuk Ameera.
"Apaan sih Ra." Riri, Rendi hanya senyum aja.
"Nisa duduk sini." Riri mengajak Nisa duduk di dekatnya.
Tak lama kemudian datanglah Aqila bersama Asraf.
"Ciye.... berduaan mulu." Asraf.
"Berempat ini, datang itu salam dulu." Riri.
"Iya Assalamualaikum." Aqila dan Asraf.
" Waalaikumsalam." jawab mereka semua.
Kemudian Mereka memesan makanan dan minuman sesuai selera mereka masing-masing.
Suasana malam itu ramai sekali di cafe itu dengan pasangan muda - mudi, Annisa jadi teringat dengan kekasih hatinya.
"Kenapa Nis." Meera melihat Annisa sedikit murung.
"Nggak papa."
"Hmmm.. aku tau bentar ya."
Ameera mengambil ponselnya kemudian mengambil gambar Annisa dan mengirimkannya kepada Ammar.
"Ngapain foto Aku Ra."
"Hussstt.. tunggu sebentar lagi ponsel Mu bunyi."
Dan benar saja, ada panggilan masuk di ponsel Annisa.
"Abang.. Kamu kirim foto aku ke Bang Ammar."
"Udah buruan dijawab marah lho nanti Dia."
"Iya..."
" Assalamualaikum Abang."
Nampak wajah Ammar yang tersenyum kepadanya.
" Waalaikumsalam sayang, kenapa wajahnya murung."
"Nisa nggak murung Bang, ini senyum."
"Itu sekarang, tadi fotonya murung."
"Pasti Meera yang ngirim."
"Kenapa kangen ya sama Abang."
"Iya Bang, kita semua kangen." Aqila, Asraf, Ameera, Riri dan Rendi teriak di belakang Annisa.
"Rusuh kalian ah, lagi pacaran juga gangguin ha ha ha.."
"Pacaran jauhan gitu." Riri.
"Biarin, Abang nggak ngiri kok sama yang pacaran deketan itu." sindir Ammar.
"Siapa Bang." Riri.
"Ha ha ha... belum ya." Ammar tertawa lihat ekspresi Rendi.
"Sekarang Ren, biar Abang lihat."
"Oke.." Rendi.
"Sayang, videonya geser ke arah Rendi."
"Iya Bang."
Annisa sudah mengarahkan kamera ponselnya ke arah Rendi yang duduk di sebelah Riri.
Rendi mulai bersiap, Annisa dan Yang lainnya duduknya agak bergeser memberi ruang untuk mereka berdua.
"Ada apa ini." Riri.
"Ri... sudah lama aku memendam ini cuma keberaniannya aja yang belum terkumpul semuanya." Rendi.
"Maksudnya Ren."
"Aku Sayang sama Kamu, Maukah kamu jadi pacar Ku." Rendi mengeluarkan sebuah buket bunga yang entah tadi disimpan dimana hingga Riri tak melihatnya.
"Terima..terima..terima..."
teriak Mereka sehingga membuat perhatian pengunjung lainnya di cafe itu.
"Ini apaan sih, Kita sahabatan Ren."
"Aku tahu Ri kita sahabatan, tapi Aku sayang sama kamu, Aku ingin tiap hari ku terisi dengan Mu. Aku Sayang sama kamu lebih dari sahabat Ri."
"Ren, bangun."
Rendi berjongkok di depan Riri dengan mempersembahkan sebuah buket bunga kepadanya.
"Aku serius Ri,.."
"Rendi please.. bangun malu.."
"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu menjawabnya."
"Oke, aku jawab tapi Kamu berdiri."
Akhirnya Rendi pun berdiri dan masih menanti sebuah Jawaban dari Riri.
"Rendi, makasih sekali tetapi aku takut, kalau kita pacaran kemudian kita putus persahabatan kita terus bagaimana."
"Kalau begitu menikahlah dengan Ku, jadi kita nggak akan putus."
"So sweet... terima ..terima...terima..."
teriak sahabat mereka, Ammar yang menyaksikannya lewat video ikut memberi semangat kepada Rendi.
"Kita masih kuliah Ren."
"Hanya tinggal komitmen kita Ri, aku serius Ri nggak mau pisah sama Kamu."
Riri sudah nampak bingung harus jawab apa enggak menyangka sama sekali belum malam ini, menjadi malam dimana Rendi menyatakan perasaannya kepadanya.
"Ren.. makasih sekali, tapi kamu mau janji kan sama Aku."
"Janji apa Ri."
"Janji nggak akan ninggalin Aku, nggak akan buat aku nangis dan nggak akan menyakiti hati Ku."
"Aku janji Ri."
Riri mengambil bunga itu dan menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum malu menyembunyikan wajahnya dengan menutupi buket bunga itu.
"Yeayyy.... " teriak Asraf.
Dan semua orang bertepuk tangan dan memberi selamat kepada Mereka.
"Makasih Sayang.." Rendi tersenyum kepada Riri. Dua sejoli itu malu- malu tapi mau.
"Selamat Rendi, Riri." Ammar.
"Makasih Bang, baik - baik di sana Bang."
"Siap.. Awas jangan nikah duluan sebelum Abang menikah." canda Ammar.
"Ha ha ha ..." Mereka semua tertawa.
Annisa tersenyum dan berpamitan dengan Ammar, karena semakin malam dan Mereka harus pulang ke rumah sebelum Mami Syakila menelpon Mereka.
Pak Anton masih menunggu Annisa dan Ameera kemudian melajukan mobilnya menuju ke rumah Annisa terlebih dahulu untuk mengantarnya pulang.
#######
Bonus hari ini, jangan lupa kasih jempol dan komennya ya ☺☺☺...
Makasih sekali ini atas dukungannya,
☺☺☺☺🌹🌹🌹🌹