follow igku @zariya_zaya
Zariya tidak percaya bahwa kekasihnya yang selama ini ia sangka sebagai pria biasa ternyata adalah seorang artis papan atas yang digandrungi banyak wanita. Ia sama sekali tidak menyangka, pria bermasker yang selama ini menjaga dan melindunginya adalah artis idolanya. akankah kisah cinta mereka berjalan mulus? simak terus kisahnya ya..
Citra Amalia, wanita tangguh malaikat penyelamat Zariya, juga merupakan wanita hebat dan kuat saat menghadapi prahara cinta rumah tangganya yang berakhir kandas dan menyakitkan. Namun, perlahan Citra bangkit dari keterpurukan dan kini sukses menjadi desainer terkenal. Citra pun mulai menemukan cinta sesungguhnya yang dulu pernah hilang karena telah salah memilih pasangan. Sayangnya, kisah cintanya dengan Azka, tidak berjalan mulus juga, ada banyak hal yang harus mereka hadapi bersama.
Akankah kisah dua pasang sejoli ini berakhir bahagia? Seperti apa kisah mereka? ikuti terus ya ..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 32
Sanha datang ke rumah Azka dimana Zariya dan Citra tinggal sementara untuk menghindari paparasi yang masih saja mengintai mereka. Zariya tahu kalau kekasihnya datang, langsung berlari membukakan pintu untuknya. Saat pintu terbuka, setangkai bunga mawar merah dari Sanha ia berikan pada Zariya. Tentu saja gadis itu sangat senang karena Sanha sangat romantis padanya.
“Kau datang juga,” ujar Zariya sambil menerima bunga mawar yang diberikan Sanha padanya.
“Kau merindukanku, Sayang?” Sanha tersenyum manis sambil mengedipkan salah satu matanya dan tebar pesona pada Zariya.
“Apa kau selalu memperlakukan wanita seperti ini? Aku baru tahu, seorang artis papan atas Sanha yang terkenal santai, cuek dan dingin, bisa seromantis ini.” Zariya menatap wajah kekasihnya yang memang sangat menggoda. Tak salah jika semua wanita jadi tergila-gila bila melihat pesona Sanha.
“Aku hanya melalukan salah satu adegan romantis yang ditulis oleh penulis tersembunyi Zaya di setiap karya dan filmnya. Huh, aku tidak menyangka bakal mempraktekkannya pada kekasihku sendiri.” Sanha mengekor Zariya dari belakang masuk ke dalam ruang tamu Azka.
“Oh iya?” Zariya sedikit terkejut mendengar kata-kata Sanha. “Kita sama kalau begitu, aku juga menyukai semua karyanya? Aku bahkan bermimpi punya kekasih sama seperti yang ada di tokoh utama pria pada semua novelnya. Tidak kusangka, mimpi itu terwujud sekarang. tanpa ku minta, kekasihku bersedia melakukan apa yang ada di dalam novel kesukaanku.” Zariya duduk di kursi sambil mengamati bunga pemberian Sanha.
“Benarkah? Kalau begitu aku akan berusaha keras menjadi tokoh utama disemua novelnya agar kau senang.” Sanha duduk di sebelah Zariya. “Dimana kakak dan calon kakak iparmu?”Sanha mengamati suasana rumah yang nampak sepi.
“Mereka sedang pergi ke rumah kakaknya kak Citra untuk menjemput Biebie, putranya. Kau mau minum apa? Biar kuambilkan minum.” Zariya hendak berdiri tapi Sanha menarik tangan mungil itu sehingga Zariya terduduk tepat dipangkuan Sanha. Keduanya saling menatap satu sama lain.
“Jadi hanya kita berdua saja disini?” Sanha masih anteng memangku Zariya.
“Bisa lepaskan tanganmu dari pinggangku? Aku tidak leluasa? Kalau sampai mereka berdua tiba-tiba datang, habislah kau!” ujar Zariya sambil tersenyum.
“Justru aku ingin mereka melihat kita supaya kita cepat-cepat dinikahkan.” Sanha membalas senyuman Zariya.
“Silahkan bermimpi!” Zariya berusaha bangun tapi Sanha mengunci tubuh Zariya sehingga gadis itu tidak bisa bergerak. “Apa maumu?” tanya Zariya.
“Kau tidak cemburu?”
“Cemburu? Aku? Kenapa?” tanya Zariya bingung. Kenapa ia harus cemburu? Dan juga, cemburu pada apa?
“Kau tidak baca berita, ya? Padahal aku datang kemari karena takut kalau kau salah paham dengan berita itu.”
Zariya membenahi rambut Sanha yang terlihat sedikit berantakan. “Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, seharian ini aku hanya tidur, berita apa yang harus aku lihat?”
Sanha menghentikan tangan Zariya yang bermain-main dengan rambutnya. Wajahnya terlihat serius sekarang. Pria itu mendudukkan Zariya disampingnya sambil berkata, “Aku agak sedikit kecewa, aku kira kau marah padaku karena kau tidak menjawab panggilanku. Ternyata kau tidur? Aku khawatir kau salah paham makanya aku datang kemari. Syukurlah kalau kau tidak tahu apa-apa. Yang jelas, semuanya tidak benar.”
“Maksudmu pemberitaan soal Zaya yang membatalkan acaranya karena kau tidak jadi konser? Kalau itu aku sudah tahu, aku terkejut karena kau adalah penggemar Zaya juga. Tapi ... tidak ada alasan bagiku untuk cemburu padanya. Dia mungkin sama sepertiku, termasuk salah satu penggemarmu. Wuah, daebak! Kalian saling mengagumi satu sama lain. Sebenarnya, kalian pasangan yang serasi juga.”
Sanha tiba-tiba tertawa mendengar ucapan Zariya, ini pertama kalinya Zariya melihat Sanha tertawa selepas itu. “Apa ada yang lucu? Kenapa kau tertawa seperti itu?”
“Aku lupa dengan siapa aku pacaran. Kau punya cara unik sendiri untuk menyalurkan rasa cemburumu. Ucapan daebak mu itu, sama seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.” Sanha kembali tertawa lagi karena Zariya pandai sekali menyembunyikn ekspresi cemburunya dengan cara yang berbeda.
“Tapi aku tidak cemburu!” sanggah Zariya.
“Kau cemburu, Sayang.” Sanha masih tersenyum.
“Harus dengan cara apa aku membuktikan kalau aku tidak cemburu!” Zariya hampir menjerit karena Sanha tetap bersi kukuh menuduhnya cemburu.
“Dengan cara ini ...,” Sanha meraih kepala Zariya mendekat kewajahnya dan langsung mencium bibir ranum itu dengan mesra. Tentu saja Zariya sangat terkejut. Matanya bahkan hampir saja meloncat keluar kalau saja tidak terpasang rapi dikelopaknya saking terkejutnya. Detak jantungnya juga berdetak dengan sangat kencang.
“Ehem!”
Terdengar suara dehaman dari seseorang yang sangat mereka kenal. Sanha dan Zariya sangat terkejut dan gelagapan sendiri. Dengan cepat keduanya memisahkan diri masing-masing dengan menahan rasa malu yang amat sangat karena ketahuan dan ketangkap basah berciuman.
“Apa yang sedang kalian lakukan disini? Ba-barusan kalian ...,” Citra tidak sanggup meneruskan kalimatnya saking shocknya.
Untung dengan cekatan, Citra menutup mata Biebie, putra semata wayangnya dari hasil pernikahannya dengan suaminya yang saat ini sedang dalam proses cerai. Jadi anak usia 5 tahun itu tidak sampai melihat adegan dewasa yang tidak patut dilihat anak kecil seusia Biebie.
“Baru sehari kalian memutuskan pacaran dan sekarang kalian berciuman? Aku saja tidak berani melakukannya! Kalian membuatku iri saja.” Azka langsung mendapat cubitan dari Citra.
“Auw.” Laki-laki itu mengerang kesakitan. “Sakit, Choco.” Azka mengusap-usap bekas cubitan Citra.
“Ada Biebie disini, jaga bicaramu, Kak.”
Biebie langsung berlari ke arah Zariya dan duduk diantara Sanha dan Zariya. “Kalian berdua sedang apa?” tanya Biebie dengan polosnya sehingga membuat Zariya dan Sanha jadi salting.
Citra berusaha membujuk putranya agar ia mau tidur dengannya, tapi si kecil Biebie tidak mau dan masih ingin bersama dengan Zariya. Azka juga berusaha membujuk Biebie yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri agar mau pergi tidur dengannya sambil dibacakan dongeng. Namun, anak kecil mengemaskan itu tetap saja tidak mau. Tangannya terus memeluk Zariya dengan sangat erat.
“Biebie mau tidur sama kak Zee,” ujar Biebie dengan mimik wajah melas.
Alhasil Zariya dan Sanhalah yang menemani Biebie tidur dikamarnya. Dengan telaten, Sanha membacakan dongeng untuk Biebie di samping kanannya, sedangkan di sisi kiri anak kecil itu, Zariya mengusap lembut kepala Biebie.
Dalam hitungan menit, anak laki-laki yang sudah Zariya anggap seperti adik sendiri itu tertidur pulas dan sudah masuk ke dunia mimpi. Zariya dan Sanha saling menatap satu sama lain tanpa mereka ketahui, ada sepasang sejoli sedang memerhatikan mereka dari balik daun pintu.
“Mereka berdua begitu terlihat serasi, kenapa aku merasa Biebie bukanlah anakku, melainkan anak mereka. Lihatlah, Kak. Dalam sekejap Biebie langsung tertidur pulas.” Citra ngedumel di samping Azka.
“Itu karena Biebie lebih nyaman bersama dengan mereka. Aku jadi iri, kapan kita seperti mereka?”
Pertanyaan Azka langsung membuat sewot Citra, wanita karir itupun pergi begitu saja meninggalkan Azka tanpa memberikan jawaban yang jelas.
“Lagi-lagi aku digantung,” gumam Azka sambil tersenyum sendiri.
BERSAMBUNG
****
jangaan lupa like dan komentarnya ya ...
Sanha yang membawakan bunga mawar untuk Zariya ... hehe