NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Panjang 2

Tubuh Eve masih berada dalam gendongannya, satu tangan kecil mencengkeram bagian depan pakaiannya, sementara wajah pucat anak tersebut kini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya. Namun perhatian Lucien sama sekali tidak tertuju pada wajah Eve.

Tatapannya turun perlahan ke arah bajunya, cairan muntah mengenai bagian depan pakaiannya, tubuhnya seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak selama beberapa detik. Di belakangnya, Vins yang baru saja melangkah mendekat ikut berhenti. Tatapannya berpindah dari Eve, ke pakaian Lucien, lalu kembali kepada Eve.

'Apakah hari ini akan menjadi hari terakhir Nona Aveline hidup?' Vins menelan ludah.

Dia bisa membayangkan berita buruk yang akan tersebar di kediaman Valois malam ini.

Putri bungsu Duke meninggal setelah muntah di wajah ayah angkatnya.

Bahkan Vins sendiri merasa berita tersebut terlalu konyol untuk menjadi berita kematian.

Cecil juga membeku di tempat. Wajahnya perlahan memucat ketika menyadari apa yang baru saja terjadi. Dia sudah mengenal majikannya cukup lama untuk tahu bahwa pria tersebut bukan tipe orang yang mudah menerima kejutan semacam ini dengan lapang dada.

"Yang Mulia..." Vins akhirnya memberanikan diri bersuara, meski nadanya terdengar seperti seseorang yang sedang mendekati binatang buas yang terluka.

'Sepertinya saya juga harus mulai mencari pekerjaan baru.' Vins menelan ludah sekali lagi.

Namun beberapa detik kemudian, Eve bergerak kecil dalam gendongan Lucien. Tubuhnya kembali lemas setelah rasa mual yang tadi memuncak. Melihat wajah pucat anak tersebut, Lucien akhirnya mengalihkan perhatian dari pakaiannya.

"Ambilkan air," perintahnya singkat.

Vins langsung mengangguk. "Baik, Yang Mulia." Dalam hati, Vins menghela napas lega.

Lucien menyerahkan Eve kepada Cecil setelah memastikan anak tersebut mampu berdiri dengan bantuan. Cecil segera membersihkan wajah dan mulut Eve, sementara beberapa pelayan lain mengambil kain bersih dan air. Eve sendiri hampir tidak memahami apa yang terjadi. Kepalanya masih terasa berputar dan perutnya belum benar-benar tenang. Setelah beberapa teguk air, dia duduk di bangku dekat kereta sambil memejamkan mata.

'Gate sialan. Kenapa rasanya kayak organ gue dipindah-pindahin tanpa izin?' Dia menarik napas pelan.

Tidak lama kemudian, Eve kembali berbaring sebentar di dalam kereta. Setelah kondisi tubuhnya sedikit membaik, rombongan kembali melanjutkan perjalanan.

Sedangkan Lucien, pria tersebut memilih menunggang kuda sendiri di depan rombongan, Eve tidak berani menanyakan alasannya. Dia hanya duduk bersama Cecil di dalam kereta dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.

Perjalanan setelah melewati Gate terasa jauh lebih tenang. Eve beberapa kali tertidur, terbangun ketika roda kereta melewati jalan yang tidak rata, lalu kembali memejamkan mata. Cecil sesekali memastikan kondisi tubuhnya, memberikan air, dan membetulkan posisi selimut.

Waktu berjalan perlahan sampai akhirnya cahaya sore mulai menyentuh langit. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam, rombongan memasuki wilayah ibu kota Kekaisaran.

Eve yang baru saja terbangun mengangkat kepala ketika mendengar suara keramaian dari luar. Dia mendekati jendela dan menyibakkan tirainya sedikit. Pemandangan di luar langsung membuat matanya membesar. Bangunan-bangunan batu berdiri rapat di sepanjang jalan. Pedagang memenuhi sisi jalan, kereta berlalu-lalang, sementara para bangsawan dengan pakaian rapi bergerak menuju berbagai penjuru kota. Berbeda jauh dari wilayah Valois yang lebih tenang dan dipenuhi hutan serta perkebunan.

'Jadi ini ibu kota Elarion...' Eve menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela.

Bahkan setelah mengetahui banyak hal dari novel, melihat kehidupan ibu kota secara langsung terasa berbeda. Dunia yang selama ini hanya hidup di dalam halaman cerita kini bergerak di depan matanya. Tak lama kemudian, rombongan berbelok menuju kawasan tempat keluarga Valois. Mansion tersebut tidak sebesar kediaman utama di Duchy Valois, tetapi tetap berdiri megah dengan bangunan bertingkat, halaman luas, serta pagar batu tinggi yang mengelilingi seluruh area. Lambang keluarga Valois terpasang jelas di bagian depan gerbang.

Kereta akhirnya berhenti.

Cecil turun lebih dahulu, kemudian mengangkat tubuh Eve yang masih lemas. Eve tidak banyak protes. Kepalanya bersandar di bahu Cecil sementara kedua tangannya melingkar lemah di leher pelayan tersebut.

Di depan mansion, beberapa pelayan sudah berbaris menyambut kedatangan Duke.

Seorang perempuan berdiri paling depan.

Rambutnya hitam kecokelatan disanggul rapi tanpa sehelai rambut pun terlihat keluar dari tempatnya. Wajahnya tegas, tatapannya dingin, dan seragam kepala pelayan yang dikenakannya tampak sempurna.

Namanya Monica. Berbeda dari Bastian yang biasanya menunjukkan sikap lebih ramah kepada Eve, Monica hanya melirik anak kecil yang berada dalam gendongan Cecil. Tatapannya berhenti beberapa detik sebelum kembali diarahkan kepada Lucien.

"Selamat datang di kediaman ibu kota, Yang Mulia," ucap Monica sambil membungkuk.

Lucien turun dari kudanya dan menyerahkan kendali kepada salah seorang pelayan.

"Siapkan ruanganku."

"Baik, Yang Mulia."

Monica kemudian menoleh kepada Cecil. "Kamar Nona Aveline sudah disiapkan."

Cecil mengangguk dan membawa Eve masuk. Eve masih terlalu lelah untuk memperhatikan banyak hal. Dia hanya sempat melirik Monica dari bahu Cecil. Tatapan kepala pelayan tersebut membuat Eve merasa sedikit tidak nyaman.

'Dia kayaknya gak suka gue'

Namun rasa penasaran tersebut segera kalah oleh kantuk. Cecil baru beberapa langkah memasuki lorong ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Lucien mendekat.

Eve yang masih bersandar di bahu Cecil mengangkat wajah ketika pria tersebut berhenti di hadapannya. Lucien tidak mengatakan apa-apa. Tangannya justru terangkat menuju kepala Eve.

Eve refleks menutup mata.

'Jangan-jangan gue dimarahin karena muntah tadi?' Tubuhnya sedikit menegang.

Namun yang dirasakan bukan cubitan atau tepukan keras. Telapak tangan Lucien menyentuh rambut putihnya, kemudian mengusap kepalanya perlahan. Gerakannya terasa kaku, seolah Lucien sendiri tidak terbiasa melakukan tindakan semacam itu.

"Istirahatlah," ucap Lucien dengan suara datar.

Eve membuka mata sedikit.

Lucien sudah menarik tangannya kembali. Dia kemudian berbalik dan berjalan pergi tanpa menambahkan apa pun.

'...Hah?' Eve hanya menatap punggungnya.

Di belakang mereka, beberapa pelayan yang menyaksikan kejadian tersebut saling melirik. Monica bahkan sempat mengangkat alis tipis sebelum kembali memasang wajah dinginnya.

Bagi orang lain, tindakan Lucien mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para pelayan yang sudah bertahun-tahun bekerja di bawah keluarga Valois, melihat Duke mengusap kepala seorang anak kecil dengan lembut terasa seperti menyaksikan kejadian yang jauh lebih tidak masuk akal. Bagaimana tidak, meskipun Lucien memiliki dua orang putra, tidak sekalipun Lucien memperlakukan mereka seperti anak sendiri.

Cecil menunduk melihat Eve yang masih berada dalam gendongannya.

"Nona?" panggilnya pelan.

Eve tidak menjawab, matanya sudah kembali terpejam. Tubuh kecilnya semakin rileks di bahu Cecil, sementara pikirannya hanya menyisakan satu kesimpulan sederhana.

'Lucien ternyata bisa juga jadi Papa.'

Lalu, setelah mengingat kejadian di depan Gate, Eve menambahkan dalam hati dengan sedikit malu.

'Jangan lengah, gue masih harus pura-pura lupa kalau tadi gue muntah di mukanya.'

Di saat yang sama, Lucien berbelok menuju lorong lain yang mengarah ke ruang pribadinya. Langkahnya tetap tenang, seolah kejadian di depan kereta tadi tidak pernah terjadi. Hanya satu hal yang sedikit mengganggunya, bagian depan pakaiannya masih terasa lembap, mengingatkan pada kejadian yang seharusnya tidak perlu dibicarakan lagi.

Sementara Cecil membawa Eve menuju kamar yang telah disiapkan. Langkahnya dibuat pelan agar tubuh kecil yang masih lemas dalam gendongannya tidak terlalu banyak terguncang. Eve sendiri nyaris tidak memperhatikan jalan. Kepalanya bersandar di bahu Cecil, kelopak matanya berat, sementara perutnya masih terasa tidak nyaman setelah melewati Gate.

Monica berjalan beberapa langkah di depan mereka. Sepatu haknya menghasilkan bunyi kecil yang teratur di sepanjang lantai marmer. Perempuan tersebut sudah lama menjadi kepala pelayan di kediaman ibu kota. Berbeda dari Bastian yang cukup mengenal kebiasaan keluarga Valois dan cenderung lebih mudah menerima keberadaan Eve, Monica tidak pernah benar-benar menyukai kehadiran anak tersebut.

Bagi Monica, posisi seseorang dalam keluarga Valois seharusnya memiliki dasar yang jelas. Eve tidak memiliki nama keluarga bangsawan sebelum diangkat Lucien. Tidak ada garis keturunan yang bisa dibanggakan, tidak ada keluarga besar yang berdiri di belakangnya. Dia hanya seorang anak rakyat jelata yang tiba-tiba mendapatkan tempat di bawah atap Duke Valois.

Bahkan sekarang anak tersebut mendapat kamar sendiri di mansion keluarga. Bagi Monica, keputusan Lucien mungkin merupakan hak seorang Duke. Namun menerima keputusan bukan berarti dia harus menyukainya. Pandangan Monica sempat bergeser kepada Cecil yang masih menggendong Eve. Raut wajahnya semakin dingin.

Cecil juga tidak pernah masuk dalam daftar orang yang disukai Monica. Menurutnya, perempuan muda tersebut terlalu naif. Bagaimana mungkin seorang pelayan bisa begitu mudah mengabdikan diri kepada seseorang hanya karena anak tersebut membutuhkan perhatian? Terlebih lagi, Cecil memperlakukan Eve seolah-olah anak bangsawan sungguhan.

Monica tidak memahami kesetiaan semacam itu.

Mereka berhenti di depan sebuah kamar yang terletak di bagian mansion yang cukup tenang. Monica membuka pintunya, lalu menyingkir sedikit agar Cecil bisa masuk.

"Kamar Nona Aveline sudah disiapkan," katanya datar.

Cecil mengangguk. "Terima kasih, Nona Monica."

Monica tidak langsung pergi. Matanya justru tertuju kepada Eve yang masih memejamkan mata di bahu Cecil. Dari wajah pucat dan rambut yang sedikit berantakan, anak tersebut terlihat jauh berbeda dari gambaran putri Duke yang selama ini ada di kepalanya.

"Sepertinya Nona Aveline cukup beruntung," ujar Monica pelan.

Cecil berhenti melangkah.

Monica menatap sekeliling kamar sebelum kembali mengarahkan pandangan kepada Eve. "Bisa mendapatkan kamar di kediaman keluarga Valois meskipun darahnya tidak membawa nama bangsawan. Sebaiknya Nona belajar berterima kasih."

Nada suaranya terdengar sopan, tetapi pilihan katanya tidak meninggalkan banyak ruang untuk salah paham.

"Jangan sampai lupa bahwa darah kotor yang dibawanya sudah cukup membuat mansion ini harus menyediakan tempat tambahan."

Langkah Cecil terhenti.

Tangannya yang menopang tubuh Eve mengencang sedikit. Wajah Cecil berubah. Senyum yang biasanya mudah muncul sudah menghilang, digantikan tatapan yang menahan amarah. Dia ingin menjawab, tetapi jabatan Monica jauh berada di atasnya. Sebagai kepala pelayan, Monica memiliki kewenangan atas sebagian besar urusan rumah tangga di kediaman tersebut.

'Kurang ajar sekali...' Cecil menggigit bagian dalam pipinya. Dia menahan napas, lalu menurunkan pandangan kepada Eve.

Anak kecil tersebut bahkan tidak bergerak. Matanya masih terpejam, napasnya terdengar pelan. Setelah perjalanan panjang dan kejadian di Gate, Eve sudah terlalu kelelahan untuk menanggapi perkataan siapa pun.

Cecil justru merasa semakin kasihan.

'Nona bahkan tidak punya tenaga untuk membalas.'

Monica mengamati Cecil beberapa detik, kemudian berbalik.

"Pastikan Nona Aveline tidak membuat masalah selama berada di mansion," ucapnya sebelum melangkah pergi.

Cecil menunggu sampai suara langkah Monica semakin jauh. Setelah perempuan tersebut menghilang di ujung lorong, Cecil mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.

Eve bergerak sedikit dalam gendongannya.

"Nona?" Cecil langsung menunduk.

Eve hanya menggeser wajahnya lebih nyaman di bahu Cecil. Tangannya masih mencengkeram kain pakaian pelayan tersebut dengan lemah.

Cecil terdiam sejenak, kemudian ekspresinya melunak.

"Sudah, Nona. Jangan dipikirkan," bisiknya sambil menepuk punggung Eve perlahan. "Cecil ada di sini."

Eve tetap tertidur. Cecil membawa Eve masuk ke kamar, lalu menutup pintu dengan hati-hati. Di balik pintu, suara langkah kaki Monica sudah tidak terdengar lagi. Namun perkataannya masih terngiang di kepala Cecil. Dia menatap wajah kecil Eve yang tampak damai dalam tidurnya. Setelah meletakkan Eve di atas tempat tidur, Cecil menarik selimut hingga menutupi tubuh kecilnya. Dia kemudian duduk sebentar di sisi ranjang, memastikan napas Eve tetap teratur sebelum bangkit untuk merapikan barang-barang perjalanan.

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!