Kehidupan Bryan Lionel Woodrow (30) yang penuh misteri. Pemuda tampan menawan memiliki sejuta pesona dan misteri. Bahkan di setiap langkah pemuda ini selalu menebar senyum tipis menawan, tetapi palsu.
Bryan sendiri adalah seorang Komisaris di Woodrow Corporations sekaligus Dosen baik hati serta jadi idola kaum hawa. Dia adalah sosok sempurna bagi semua orang, tetapi siapa tahu kalau dirinya adalah psychopath sejati yang menakutkan.
Angelica Sonja Cornelius (20) mahasiswa populer, primadona kampus. Gadis baik hati, polos dan ramah. Dia juga memiliki segudang prestasi membuatnya menjadi idol para Mahasiswa.
Siapa sangka Angel sangat mengidolakan sang Dosen (Bryan), hingga suatu hari mengetahui rahasia sang Dosen. Angelica tidak pernah tahu kalau sebenarnya Dosen favoritnya adalah seorang psychopath.
Mampukah Bryan melabuhkan hati serta menjadikan Mahasiswinya sebagai tambatan hati?
Rahasia kelam membuat Bryan menjadi iblis berkedok malaikat. Akankah Angel bisa menerima Bryan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIL - Sincere!
Sudah 7 hari berlalu hubungan mereka semakin merenggang. Saat fiting baju pengantin, Bryan dan Angelica tampak saling bungkam. Soal altar dan pesta akan digelar di Mansion mewah milik Bryan. Kurang 10 hari lagi mereka akan mengucap ikrar janji suci sehidup semati serta terikat untuk selamanya.
"Lusa akan ada pesta besar di kampus, dengan siapa kamu berangkat?" tanya Bryan tanpa menengok ke arah Angelica. Dia fokus menyetir dan menatap jalanan.
"Rocky, kamu sendiri dengan siapa?" jawab Angelica dan dia balik bertanya.
"Oh, mungkin sendiri. Seluruh alumni UCLA akan datang menyambut ulang tahun keseratus," jawab Bryan datar. Sungguh hubungan mereka sekarang terasa rumit dan terkesan dingin.
Angelica tidak menyahut ucapan Bryan dia malah asyik menatap luar . Entah kenapa hatinya ngilu saat Bryan berbicara begitu dingin padanya. Walau dia membenci calon Suaminya namun sejujurnya Angelica masih mencintai dan merindukan Bryan.
"Kamu semakin dekat dengan, Rocky. Ada hubungan apa kamu dengannya? Ingat kita sudah mengklasifikasi hubungan kita, kuharap kamu jaga jarak dengannya!" tegas Bryan seraya melirik tajam ke arah Angelica.
Angelica sontak menatap Bryan kesal, "kamu tahukan? Aku dan Rocky hanya sekadar sahabat tidak lebih. Aku sudah menggagapnya Kakak seperti, Kak Steve!" sergah Angelica.
"Kenapa kamu emosi? Jangan bilang kamu suka dengannya?" tuduh Bryan.
Angelica tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Matanya menyorot tajam menatap Bryan.
"kalau iya kenapa? Lagian dia sangat baik dan tulus tidak sepertimu yang pembohong!" sengit Angelica.
Chit
Karena ucapan Angelica yang menusuk hati, sontak Bryan menginjak rem mendadak. Dia bersyukur tidak ada mobil atau kendaraan dibelakang-Nya.
"Kamu gila ya? Kalau mau mati, mati saja sendiri ....!!!" teriak Angelica kelap.
"Jangan main-main dengan ku, Angel ...! Salah sedikit kamu melangkah, maka kehancuran ada di depan mata. Aku tidak akan segan membunuh keluargamu dengan sadis tepat di depan matamu!" gertak Bryan dengan nada dingin si sertai aura membunuh sangat pekat.
Angelica mendelik mendengar gertakan Bryan. Rasa benci pada Bryan kembali ke permukaan. Air mata meluncur bebas membasahi pipi, Sunggug Angelica tertekan.
"Kamu keterlaluan, Bryan. Aku sangat membencimu hingga rasanya aku ingin membunuhmu. Kamu adalah manusia menjijikkan lebih menjijikkan dari binatang. Kamu iblis terkutuk, aku sangat membencimu ...!!!" raung Angelica penuh akan kebencian, sakit dan kecewa.
"Aku tidak peduli pendapatmu," balas Bryan datar.
Hati dan jiwa Bryan hancur lebur mendengar ucapan wanitanya. Dia ingin menangis dan ingin meraung diperlukan Ibunya. Tetapi, apa dia harus mati dulu agar bertemu Ibunya?
Bryan tersenyum miris mendengar isakan menyayat hati sang kekasih. Dia merasa hatinya tambah hancur karena kebencian Angelica. Menggigit bibir bawah lumayan keras supaya bisa mengendalikan diri.
Apa Bryan tidak boleh bahagia walau dengan keegoisan? Dan dia tidak akan menghancurkan keluarga kekasihnya walau secuil. Itu semua hanya gertakan demi mempertahankan, Angelica. Tapi, apa dia akan terus menyiksa wanitanya? Maka jawabannya tidak.
"Ayo ikut aku Westwood Village . Aku ingin berbicara sebentar, hapus air matamu.!" perintah Bryan.
Angelica tidak membalas ucapan Bryan, yang dilakukan hanya menghapus air mata kasar. Dia tidak peduli dengan ucapan Bryan, yang diinginkan hanya menangis.
***
Lima belas menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Angelica menatap kagum Vila sederhana yang dikelilingi pepohonan rindang dan rerumputan hijau. Sangat asri dan menyejukkan.
"Ayo masuk, dulu Ibu sering membawaku kesini saat beliau sedang sedih. Ini Vila milik Ibuku, dan aku merawat Vila ini. Ayo kita masuk," tukas Bryan bersahabat.
Angelica merasa hal buruk akan terjadi antara mereka. Entah mengapa air mata kembali luruh membasahi pipi. Dia tersadar saat tangan besar Bryan menggenggam tangan mungilnya.
Bryan tersenyum miris melihat air mata Angelica. Apa dia sebrengsek itu, sampai Angelica selalu menangis karenanya? Dia menatap Angelica penuh arti, lalu kembali menatap pepohonan rindang yang ada di belakang vila.
"Angel," panggil Bryan lembut penuh makna.
Angelica apa tidak salah dengar, orang yang sangat dicintai sekaligus benci memanggilnya begitu lembut nan bersahaja.
"Apa?"
"Apa kamu membenciku sepenuh hatimu? Apakah tidak ada cinta yang tersisa untukku? Apa kamu ingin pergi dari hidupku?" tanya Bryan lembut seraya tersenyum tulus. Namun nada suaranya begitu putus asa.
"Kamu tahu jawabannya, Mr Bryan. Aku sangat membencimu hingga rasanya aku ingin mati, dan cinta itu lenyap bersamaan dengan pengkhianatanmu. Aku tidak mungkin pergi karena kamu akan membunuh keluargaku," jawab Angelica dengan nada sinis dan benci.
Bryan terkekeh getir tak terasa air mata menetes dari matanya. Buru-buru Bryan menghapus air matanya kasar. Perlahan dia melepas cincin pertunangan mereka lalu menggenggam tangan Angelica penuh perasaan. Dia meletakkan cincin itu di telapak tangan halus Angelica.
Angelica terpaku dengan tindakan tak terduga dari Bryan. Dia tidak bisa berkata apa-apa saat tangannya di genggam penuh duka olah Bryan lalu sebuah cincin pertunangan diletakkan di telapak tangan dan itu sangat menyesakkan.
"Kamu boleh pergi dariku, kita batalkan pernikahan. Tapi, jangan laporkan aku ke polisi. Karena aku masih butuh hidup untuk memastikan bahwa Bryce bisa berdiri sendiri dan siap mandiri. Ibu ingin aku menjaganya sepenuh hati, dan aku sudah menjaganya. Setelah dia menikah entah itu kapan, aku siap kamu laporkan ke polisi sebagai Psychopath. Dengan begitu aku akan pergi dengan damai menemui Ibu dan keluargaku yang sudah tiada," jabar Bryan dengan nada frustrasi serat akan keputusasaan.
Hati Angelica terasa diremas kuat oleh tangan tak kesat mata dan dia merasa ribuan belati tumpul menghunus jantung serta hatinya. Dia menginginkan ini semua, tapi kenapa rasanya sangat sakit hingga dia tak bisa berkutik. Air mata Angelica kembali mengucur deras bak anak sungai mengalir.
"Kenapa? Apa kamu hanya mempermainkan, ku? Begitu mudah kamu hancurkan aku, lalu kenapa baru sekarang melepas?” tanya Angelica dengan suara bergetar menahan sakit hatinya.
Bryan bersimpuh di bawah, tangannya terulur untuk menghapus air mata Angelica penuh perasaan. Ia tersenyum tulus ke arah Angelica, tapi siapa sangka hatinya menangis.
"Aku minta maaf."
3 kata penuh makna dari Bryan membuat Angelica menatap mata coklat muda Bryan. Dapat di lihat, Bryan juga menangis bersamanya. Mata elang itu redup tak ada kehidupan di dalamnya dan itu sangat menyakitkan untuknya.
"Kamu benar-benar menyerah?" tanya Angelica tidak percaya. Rasa sakit semakin dalam saat melihat senyum miris Bryan.
"Ya, ini yang terbaik untuk kita. Cincin itu kamu bisa berikan kepada calon Suami atau orang yang kamu cintai kelak. Hai, aku tulus mencintaimu sungguh. Tapi, aku tidak mau egois hingga menyakitimu terlalu dalam. Aku sangat hancur hingga rasanya ingin mati. Aku harusnya melakukan ini lebih awal benarkan? Mendengar kata pedas, tangisan dan kebencianmu membuatku sadar. Aku tidak boleh egois dengan mempertahankan kamu disisiku. Melihatmu menangis aku sangat terluka dan sekarang kamu bebas. Tenang aku tidak akan menghancurkan keluargamu. Sekarang bawa mobilku, pulanglah!"
Tutur Bryan seraya tersenyum berusaha tegar. Tangan mereka masih bertaut sebelum sebuah akhir melepas segalanya.
Angelica tidak tahan mendengar perkataan Bryan. Hati dan pikiran begitu kalut sampai tidak mampu menjabarkan. Rasanya sangat sakit sampai Angelica tidak tahan, pandangan mengabur dan berakhir pingsan.
Bryan panik melihat Angelica tidak sadarkan diri. Sontak dia mendekap tubuh Angelica lalu mengangkatnya dengan cepat. Tujuan hanya satu rumah sakit guna memeriksa kondisi Angelica.