Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~32 Ellena, selamanya ia takkan terima
22:55 KST,
Lisa masih berada dalam pelukan Alexi dan malah terlelap, merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, membuat Lisa kelelahan dan tertidur dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Seluruh pelayan dan pengawal masih berdiri dengan kaki yang tengah pegal menanti Seidon yang tak kunjung keluar dari ruang bacanya. Lisa tertidur pulas dengan wajah yang lebam dan tubuh yang penuh luka.
Dae Jung hanya berdiri dan menatap betapa lembutnya Alexi memeluk Lisa. Masih dengan posisi terduduk dilantai dan bersandar disebuah Gucci besar yang dijadikan pot bunga.
Sebenarnya Alexi meminta Dae Jung untuk membantu membawa Lisa ke kamarnya. Tapi, ia takut hal itu dapat membangunkannya.
Tap__ Tap__ Tap__
Seidon berjalan menuruni tangga dengan tangan yang dimasukkan disaku celananya. Dengan tatapan dingin menatap sang istri yang tertidur dalam dekapan Alexi.
"Tuan Muda" sapa Dae Jung dan diikuti tundukan kepala seluruh pelayan dan pengawalnya.
"Hmm"
"Tuan" ucap Alexi.
"Berikan dia padaku.. akan ku bawa ke kamar"
Alexi memberikan Lisa pada Seidon, sangking sakitnya seluruh tubuhnya Lisa tidak bergerak sama sekali tapi, ia tau kalau Seidon tengah menggendongnya.
*Dia kembali untuk membawaku ke kamar, apakah setelah ini dia akan membunuhku?* Batin Lisa.
"Kalian bisa istirahat" ucap Seidon dingin berjalan ke kamar.
"Baik"
..
..
..
Kamar,
Seidon menurunkan Lisa di bathtub, menyalakan keran air hangat dan menyirami tubuh Lisa.
"P-perih.." rintih Lisa lirih.
"Diam" kata Seidon.
"Seidon, perih.. sakit"
"Berhentilah merengek, jika tidak berhenti merengek aku akan membuatmu semakin kesakitan"
Lisa menggeleng kuat dan meringkuk memeluk kakinya. Merasakan perih yang benar-benar menusuk hingga ke uluh hatinya.
"Sayang.. ini tidak akan terjadi jika kau menurut denganku!" Tekan Seidon melempar shower nya.
"Kau begitu keras kepala, apa harus menyakiti ayahmu agar kau menurut? Kau mulai berani denganku!"
"Maaf.. aku khawatir denganmu Seidon," kata Lisa lirih.
"Aku bukan orang payah yang bisa terluka sepertimu! Berhentilah mengkhawatirkan ku Lisa" katanya.
"Kau bukan lagi anak kecil, aku rasa kau bisa mandi sendiri. Sudah begitu malam, para pelayan sudah beristirahat sebaiknya kau bersihkan sendiri dirimu" kemudian Seidon meninggalkan Lisa disana dan keluar dari kamar mandi.
Sebelum keluar Seidon telah menaruh bathrobe di atas wastafel.
Lisa menatap langkah kaki Seidon yang melangkah keluar, matanya sayup dan bibirnya bergetar. Tubuhnya memar dan luka banyak. Wajah cantiknya mulai terlihat bengkak karena ia menangis dan tamparan Seidon yang tak cukup dengan sekali tamparan.
Lisa merenung, ia terdiam dan meringkuk sendu. Bayangan wajahnya terlihat saat ia menatap air. Sinar bulan tersorot melalui jendela kamar mandi. Ia menoleh ke luar dan menatap bulan yang bundar sempurna.
"Indah sekali.." gumam Lisa.
"Kapan ini akan berakhir? Aku, ingin hidup dengan damai meskipun hanya sekali"
"Seidon, aku.. aku mencintaimu sepenuh hati tapi kenapa kau menyakitiku sedalam ini.."
"Bagaimana mempertahankan sikapmu yang baik seperti kemarin.. aku salah karena tidak menurut padahal itu satu-satunya cara agar kau tidak bersikap jahat padaku"
"hidupku sudah sepenuhnya ada ditangannya, aku harap aku tidak mati sia-sia di kehidupan ini" ia masih memandangi rembulan malam yang begitu indah.
"Jika kehidupan selanjutnya benar-benar ada, mari kita bertemu kembali sebagai dua orang yang saling mencintai, kemudian kita hidup bahagia bersama, Seidon Hayden"
Pintu kamar mandi tidak tertutup rapat, Seidon masih bisa melihat Lisa dari luar. Seidon juga mendengar ucapan Lisa karena ia berdiri di balik pintu.
Hampir 2 jam di kamar mandi, Lisa hampir selesai membersihkan diri. Butuh waktu untuk membersihkan dirinya karena tangannya sangat sulit untuk membersihkan punggungnya.
Ia membersihkan setiap inci tubuhnya dengan perlahan dan lembut. Bibirnya sudah terlihat memucat dan tangannya mulai berkeriput. Terlalu lama didalam air membuat Lisa sangat kedinginan.
"Selesai, aku hampir selesai.." gumamnya berusaha untuk membilas rambutnya.
"Sedikit lagi.. ayolah ku mohon bertahan sebentar lagi"
Lisa memaksakan tangannya menopang shower yang menyirami rambutnya.
*Aku sudah tidak kuat lagi, tapi ini sebentar lagi akan selesai.. aku bisa, aku harus bisa* batinnya.
Shower di genggaman nya hampir terjatuh mengenai kepalanya, tapi sebuah tangan mengambil alih shower itu dan menyirami rambut Lisa hingga bersih.
*Seidon..*
Lisa terdiam, ia hanya menurut dengan apa yang suaminya lakukan. Tak ada percakapan apapun dari keduanya. Setelah selesai, Seidon membantu Lisa berdiri dan memakaikan bathrobe padanya.
Tak ada rasa malu di hati Lisa saat full naked dihadapan Seidon.
Tanpa berbicara Seidon menggendong Lisa dan mendudukkannya di meja rias, membantunya mengeringkan rambut basahnya dan membantunya memakai baju.
"Terimakasih.." kata Lisa.
"Emm.."
Dalam posisi Seidon mengeringkan rambutnya, Lisa menatap wajahnya dari pantulan cermin "Kenapa setelah memukuliku, kau malah peduli denganku?"
"Kenapa? Karena kau istriku"
"Seidon, kenapa tiba-tiba kau bersikap begini.. kenapa kau.. melakukan semua ini padaku, kau membuatku bingung dengan keadaan, bagaimana aku harus menyesuaikannya" kata Lisa menatap Seidon dari pantulan cermin.
"Sesuaikan saja sesuai hari perhari, aku juga tidak bisa memprediksi kejadian untuk esok hari" katanya.
*Sebenarnya ada apa..* batin Lisa.
Drrtt__ drrtt__
Ponsel Lisa bergetar diatas meja beberapa kali.
"Ponselmu terus menerus bergetar, mari kita lihat siapa yang menelfon. Sudah semalam ini, berani-beraninya menelfon dan mengganggu" kata Seidon sambil memberikan ponsel Lisa.
"Nomor baru, ayo angkat dan keraskan suaranya"
Lisa mengambil ponsel dari tangan Seidon dan mengangkatnya dengan ragu.
*Siapa ini* batinnya.
Lisa📱:"Hallo?"
???📱:"Lisa??"
Suara pria itu tidak asing baginya dan membuat Lisa bisa langsung menebaknya.
Lisa📱:"Chris..?"
Chris📱:" Ahh.. rupanya kau langsung bisa menebak"
Lisa📱:"ahaha.. i-iyaa, A-ada apa Chris? dari mana kau mendapatkan nomor ponselku"
Seidon menajamkan tatapannya pada Lisa setelah mendengar bahwa di balik telfon adalah seorang pria.
Chris📱:"apa yang tidak bisa aku dapatkan? Hanya nomor ponselmu itu sangat mudah didapat.. kau sudah sangat lama tidak bekerja, Kau kemana? Apa kau baik-baik saja?"
Lisa📱:"itu.. aku... Aku baik-baik saja, aku hanya ambil cuti panjang... Minggu depan aku baru bekerja"
Chris📱:"aahh.. kalau begitu baiklah, aku lega mendengar mu baik-baik saja, kau tak ada kabar jadi aku pikir terjadi sesuatu padamu.."
Lisa📱:"iyaa ahaha.. aku, baik-baik saja Chris. Terimakasih untuk perhatiannya"
Chris📱:"Sama-sama, kalau begitu.. aku masih ada hal yang harus ku kerjakan, aku tutup dulu telfonnya.. sampai jumpa"
Lisa📱:"i-iyaa.. sampai jumpa"
Lisa mematikan telfonnya dan menggenggam erat ponselnya.
"Chris? Siapa pria itu? Apa pria yang mengantarmu pulang kerja saat itu?" Tanya Seidon.
"I-iya."
"Lisa.. kau tau kan kau milik siapa? Jangan sampai ku dengar dia menelfon lagi" bisik Seidon.
Lisa mengangguk cepat, tatapan mereka bertemu di cermin yang membuat Lisa berdegup kencang. Seidon tersenyum, mengecup kecil pipi Lisa dan pergi.
..
..
Keesokan harinya
Perusahaan Hayden,
"Selamat pagi Presdir" ucap seluruh pengawal yang menyambutnya didepan pintu lobby.
"Presdir? Selamat pagi.." Panggil sekertaris Flora.
"Ada apa?"
"Nona Ellena ada diruangan anda" ucap sekertaris Flora membuat langkah Seidon terhenti.
"Siapa yang mengijinkannya masuk?" Tanya Seidon dingin.
"Maaf Presdir.. nona Ellena berkata bahwa anda yang menyuruhnya menunggu di ruangan anda"
"Aku tak menyuruhnya!" Tekannya berjalan ke ruangannya.
Dae Jung dan 4 pengawal lainnya mengikuti Seidon ke ruangannya yang berada dilantai paling atas dari perusahaan. Seluruh karyawan bisa merasakan hawa dingin setiap kali Seidon berjalan melewati mereka.
Ditambah lagi Ellen adalah satu-satunya orang yang berani masuk keruangan Seidon tanpa ijin darinya.
"Dae Jung.. masuk kedalam dan seret wanita itu keluar.. aku tidak mau dia berada diruangan ku!" Perintah Seidon.
"Baik" ucap Dae Jung masuk bersama dua pengawal lainnya.
Ceklek,
Dae Jung membuka pintu dan masuk bersama 2 pengawal yang ia bawa. Ellena yang tengah duduk santai di kursi putar Seidon sangat senang karena ia berfikir itu Seidon.
"Dae Jung? Kenapa bisa kau? dimana Seidon?" Tanyanya.
"Selamat pagi Nona"
"Maaf.. Presdir Hayden menyuruh Anda untuk segera keluar dari ruangannya.. " ucap Dae Jung penuh hormat.
"Enak saja kau menyuruhku.. dimana Seidon dia tidak mungkin mengusirku begitu saja.. aku tidak mau keluar!" Ucap Ellena kembali duduk.
Dae Jung memberi kode pada 2 pengawal yang ia bawa untuk menarik Ellena secara paksa.
"Heeeeeii apa ini.. lepaskan tanganku kalian tau siapa aku.. haa lepaskan!!" Ucap Ellena berontak.
"Maaf Nona.. ini perintah langsung dari Presdir" ucap Dae Jung.
2 pengawal itu menarik Ellena secara paksa dan mendorongnya keluar ruangan hingga tersungkur tepat dibawah kaki Seidon. Dae Jung keluar ruangan dan menutup kembali pintu ruangan Seidon.
"Apa yang kau lakukan Ellena? Apa kau pikir kursi itu bisa di duduki oleh sembarangan orang??" Ucap Seidon dingin.
"Seidoonn.. lihatlah apa yang dilakukan pengawalmu itu mereka menarik ku kasar dan mendorongku.. lihat!! Tanganku merah sekarang.. sakit sekali" ucap Ellen manja dan bergelayut di lengan Seidon.
"Pergi!" Ucap Seidon dingin.
"Iya usir saja mereka dari sini! mereka menyakitiku.. lihatlah tanganku" ucap Ellena manja.
"Aku bilang pergi dari sini sekarang juga!" Bentak Seidon.
"Apa kalian tidak dengar? Seidon telah mengusir kalian!" Kata Ellena sombong.
"Yang ku bilang itu kau bukan mereka!! Lepaskan tanganku dan pergi dari sini!" Tekannya menatap Ellena tajam.
"Seidon kau kenapa.. apa salahku?? Semenjak kau menikah kita tidak bertemu apa kau tidak rindu padaku" ucapnya.
"Untuk apa bertemu? Apa kau lupa? Kau dan aku sudah tidak ada hubungan apapun!" Ucapnya penuh penekanan.
"Seidon tapi aku mencintaimu.. sangat mencintaimu.. kenapa kau begini.."
"Ellena.. hubungan kita sudah berakhir! Berhentilah menggangguku lagi! Cintamu itu palsu, kau hanya ingin kekuasaan sebagai nyonya Hayden. Bukankah begitu?"
"Sei-"
"Diam! Dae Jung cepat seret dia keluar!"
"Baik"
"Seidon! Kau dengar aku baik-baik!! Aku tau kau telah mencintai wanita murahan itu kan, Kau begini terhadapku karena dia. Wanita murahan itu pasti sengaja merayu mu kan!" Ucap Ellena marah dan memberontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pengawal Seidon.
Seidon menoleh kearah Ellena menatapnya tajam dan mencengkram pipinya kuat membuatnya meringis kesakitan.
"Dia... istriku! Lisa adalah Nyonya Hayden! Bukan.. gadis.. murahan!!" Ucapnya menekan setiap katanya.
"Yang seharusnya menjadi Nyonya Hayden itu aku!! bukan dia!!" Bentak Ellen.
"Jangan melewati batasan mu Ellena! Aku sudah cukup sabar terhadapmu jadi jangan membuatku memperlakukanmu seperti yang lainnya!!" Ucap Seidon penuh penekanan.
"Kau mau membunuhku demi istrimu itu?! Seidon sadarlah!! Dia adalah anak dari pembunuh orang tuamu! Harusnya kau balas dendam bukannya jatuh cinta dengannya!" Tekan Ellena.
"Bawa wanita ini pergi dari hadapanku, melihatnya terlalu lama benar-benar membuatku sangat muak!!" ucap Seidon.
2 pengawal yang memegangi Ellena membawanya keluar membuat seluruh karyawan terkejut dan berbisik-bisik selama ini Ellena selalu bebas melakukan apapun karena dia kekasih Seidon. Tapi hari ini dia diseret oleh pengawal atas perintah dari Seidon.
Bruukk__
Pengawal itu mendorong Ellena hingga tersungkur didepan pintu keluar perusahaan. Membuat seluruh pejalan kaki dan karyawan melihatnya dengan heran. Malu dan sakit hati itu yang di rasakannya saat ini.
"Kau akan membayar semua ini Tuan Seidon Hayden!" Tekannya dengan menahan emosinya. Rasa sakit karena dorongan itu tidak seberapa, tapi rasa malunya membuatnya begitu dendam.
_____________