Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan dalam Amarah
Suasana di dalam ruang kerja butik yang temaram itu mendadak hening, seolah waktu telah berhenti berputar. Udara terasa begitu pekat dan mencekik, menyisakan deru napas Arka yang memburu serta isak tangis Naura yang mulai mereda, digantikan oleh tatapan dingin yang sarat akan kekecewaan mendalam. Kalimat Naura yang menolak untuk pulang ke rumah mereka bagai hantaman gada godam yang telak menghancurkan dada bidang Arka.
"Apa maksudmu dengan tidak ingin pulang, Naura?" tanya Arka. Suara baritonnya yang biasanya terdengar penuh otoritas kini bergetar hebat, menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.
Pria itu melangkah maju, mencoba mengikis jarak di antara mereka, namun setiap kali Arka mengambil satu langkah ke depan, Naura selalu mengambil satu langkah mundur.
"Jangan mendekat, Kak Arka!" seru Naura. Tangannya terangkat ke udara, telapak tangannya menghadap ke depan sebagai isyarat tegas agar suaminya berhenti melangkah. "Aku bilang jangan sentuh aku! Setiap kali melihat wajah Kakak sekarang, yang terbayang di kepalaku hanya lembar-lembar foto menjijikkan itu. Aku tidak bisa berada di dekatmu untuk saat ini."
"Naura, demi Tuhan, dengarkan logika sehatmu sekali saja!" Arka memohon, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, menahan gejolak frustrasi yang membakar dadanya. "Kakak sudah katakan bahwa itu semua adalah rekayasa! Valen sengaja menjebakku untuk menghancurkan pernikahan kita! Mengapa kamu justru masuk ke dalam perangkap yang dia buat? Mengapa kamu lebih memilih mempercayai potongan gambar murahan itu daripada mempercayai suamimu sendiri yang setiap malam mendekapmu dan menyatakan cintanya kepadamu?!"
"Karena potongan gambar murahan itu membuktikan hal yang nyata, Kak!" teriak Naura, amarahnya kembali menyala, mengalahkan rasa lemas yang sempat menggelayuti tubuhnya. "Bagaimana mungkin Valen bisa masuk ke ruang pribadi Kakak jika Kakak tidak memberinya celah? Bagaimana mungkin dia bisa menyentuh dada Kakak, bersandar di sana, jika Kakak benar-benar sudah menguburnya di masa lalu?! Kakak bilang dia orang asing, tapi mengapa di foto itu Kakak kelihatan begitu menikmati kedekatan kalian?!"
"Aku tidak menikmatinya, Naura!" bentak Arka kembali, egonya yang terus-menerus diserang membuat kesabarannya menipis. Pria itu menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Aku mendorongnya! Aku mengusirnya dengan kasar! Jika kamu mau, sekarang juga kita pergi ke kantor dan aku akan tunjukkan seluruh rekaman CCTV hari itu kepadamu! Aku tidak akan membiarkan kesalahpahaman konyol ini memisahkan kita!"
"Tidak perlu, Kak! Aku tidak butuh melihat rekaman apa pun lagi!" Naura menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya kembali meluncur membasahi pipinya yang memerah hebat karena amarah dan luapan emosi. "Bagiku, fakta bahwa Kakak merahasiakan kedatangannya ke Jakarta sejak satu minggu yang lalu sudah cukup membuktikan bahwa ada sesuatu yang Kakak sembunyikan dariku. Kakak sengaja menutup-nutupinya karena Kakak takut aku tahu bahwa hati Kakak sebenarnya belum sepenuhnya selesai dengan dia, bukan?!"
Pertanyaan tajam dari Naura menghunjam tepat ke ulu hati Arka. Pria itu tertegun, lidahnya mendadak kelu. Ia memang sengaja merahasiakan pesan singkat dari Valen seminggu yang lalu dengan niat baik,untuk menjaga ketenangan pikiran istrinya yang sedang hamil muda. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa niat baiknya itu kini justru berbalik menjadi senjata makan tuan, sebuah bumerang yang memperkuat tuduhan bahwa dirinya tidak jujur.
Melihat keterdiaman Arka, Naura menganggap hal itu sebagai sebuah konfirmasi atas dugaannya. Senyuman sumir dan penuh kepedihan kembali terukir di bibir ranumnya. "Benar kan, Kak? Kakak diam karena apa yang kukatakan adalah kebenaran. Kakak merahasiakannya dariku."
"Bukan begitu, Naura ... Kakak hanya tidak ingin kamu stres ..." lirih Arka, mencoba membela diri dengan suara yang melemah, menyadari bahwa keputusannya di masa lalu kini berakibat fatal.
"Tapi sekarang aku jauh lebih stres, Kak! Aku merasa seperti wanita paling bodoh di dunia ini!" potong Naura dengan suara yang serak dan parau. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan menuju sudut ruangan tempat ia meletakkan tas tangan dan mantelnya.
Dengan gerakan yang tergesa-gesa dan dipenuhi amarah yang meluap-luap, ia menyambar barang-barangnya. "Aku akan pergi. Aku butuh waktu untuk berpikir jernih tanpa perlu melihat kepura-puraan Kakak lagi."
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi ke mana pun dalam kondisi seperti ini, Naura!" Arka panik.
Dengan langkah seribu, ia langsung merangsek maju dan mencengkeram pergelangan tangan Naura dengan erat, menahan langkah istrinya yang hendak menuju pintu keluar. "Kamu sedang hamil, Naura! Usia kandunganmu baru memasuki minggu keenam dan kondisimu sangat sensitif! Kakak tidak akan membiarkanmu pergi sendirian membawa anak kita dalam keadaan emosi yang tidak stabil seperti ini!"
"Lepaskan, Kak Arka! Sakit!" jerit Naura, mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman tangan besar Arka yang begitu kuat dan protektif.
Namun, dalam kemarahannya, Naura menggunakan seluruh tenaga yang ia miliki untuk menghentakkan tangannya hingga cengkeraman Arka terlepas.
Sentuhan fisik yang dipaksakan itu justru semakin memicu trauma dan rasa sakit hati di dalam diri Naura.
Ia menatap Arka dengan pandangan yang penuh dengan kilatan benci dan kekecewaan yang teramat dalam. "Jangan gunakan alasan kehamilan ini untuk mengontrolku, Kak! Anak ini adalah anakku, dan aku yang tahu apa yang terbaik untuknya. Berada di dekat pria pembohong sepertimu justru adalah hal yang paling berbahaya bagi kesehatannya!"
"Naura!" suara Arka kembali meninggi, terkejut mendengarkan kalimat sekasar itu keluar dari bibir wanita yang biasanya selalu bertutur kata selembut sutra.
"Aku akan pulang ke rumahku!" tegas Naura, menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
"Rumah di mana aku dibesarkan dengan kejujuran, bukan rumah mewah yang penuh dengan kepalsuan bisnis dan bayang-bayang masa lalu suaminya. Jangan cari aku ke sana, Kak Arka. Jangan berani-berani menampakkan wajah Kakak di depan rumahku sampai aku sendiri yang memintanya. Jika Kakak nekat datang, aku bersumpah aku akan pergi lebih jauh lagi ke tempat yang tidak akan pernah bisa Kakak temukan dengan seluruh uang dan kekuasaan Kakak!"
Ancaman yang keluar dari bibir Naura bukanlah gertakan sambal. Arka bisa melihat ketetapan hati yang begitu kokoh dan dingin di dalam sepasang manik mata istrinya. Rasa keras kepala Naura yang biasanya menggemaskan, kini menjelma menjadi sebuah tembok es raksasa yang mustahil untuk ditembus dalam waktu singkat.
Naura tidak menunggu jawaban lebih lanjut dari Arka. Dengan langkah kaki yang cepat namun tetap berhati-hati demi menjaga perutnya, ia menggeser pintu kaca ruang kerjanya dan melangkah keluar menuju area depan butik.
Ratih dan beberapa karyawan yang sejak tadi mencuri dengar jalannya pertengkaran hebat tersebut langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tidak berani menatap wajah sang pemilik butik yang tampak berantakan karena air mata.
"Ratih, tolong pesankan taksi untukku sekarang juga," perintah Naura dengan nada suara yang bergetar namun penuh penekanan.
"B-baik, Ibu Naura. Segera saya pesankan," jawab Ratih dengan gugup, jemarinya dengan cepat mengetik di layar ponselnya untuk memesan layanan taksi daring.
Arka yang menyusul keluar dari dalam ruangan hanya bisa berdiri terpaku di koridor dalam butik.
Ia ingin mengejar Naura, ia ingin mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya dan membawanya masuk ke dalam mobil Rolls-Royce miliknya secara paksa. Namun, kata-kata ancaman Naura tadi kembali berdenging di telinganya: (“Jika Kakak nekat datang, aku bersumpah aku akan pergi lebih jauh lagi”)
Arka tahu betul bahwa dalam kondisi hamil muda, tingkat stres yang terlalu tinggi dapat memicu keguguran atau flek yang membahayakan janin.
Egoismenya untuk mempertahankan Na di sisinya saat ini justru bisa menjadi bumerang yang membunuh calon darah dagingnya sendiri.
Dengan tangan yang terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, dan rahang yang mengatup rapat menahan buncahan emosi yang luar biasa dahsyat, sang CEO muda terpaksa membiarkan tubuh mungil istrinya berjalan menjauh melintasi lobi butik.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil taksi berwarna biru berhenti di depan pelataran butik. Naura melangkah masuk ke dalam kabin belakang tanpa sekali pun menoleh ke belakang, tanpa memandang ke arah suaminya yang berdiri menatapnya dari balik pintu kaca dengan pandangan mata yang layu, hancur, dan dipenuhi penyesalan mendalam.
Begitu mobil taksi itu bergerak menjauh, membelah kemacetan jalanan sore kota Jakarta yang mulai diguyur rintik hujan, Naura menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Tangisan yang sejak tadi ia tahan di depan para karyawannya akhirnya kembali pecah dengan suara yang tertahan.
Ia memeluk tas tangannya dengan erat, meraba perutnya yang bergejolak hebat oleh rasa mual dan sakit yang menyatu.
Keputusan dalam amarah telah ia ambil; ia memilih untuk melarikan diri dari kenyataan pahit yang baru saja meremukkan hatinya, kembali ke pelukan rumah masa lalunya yang telah lama ia tinggalkan, membawa serta luka batin yang teramat perih dan benih kesalahpahaman yang kini telah resmi memisahkan jarak di antara dua jiwa yang sebenarnya saling memuja.