Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Rahasia
Malam itu, langkah kaki Arumi membawanya naik ke lantai dua, tepat di depan kamar yang kini resmi ditempati oleh Rangga. Begitu daun pintu dibuka, Arumi sempat tertegun. Entah bagaimana prosesnya, kondisi ruangan berukuran empat kali empat meter itu kini sudah berubah total secara visual. Sebuah ranjang premium dengan perpaduan cat warna abu-abu dan cokelat bertengger gagah di sudut ruangan, dipercantik dengan ornamen kaca besar serta panel WPC bermotif kayu gelap yang elegan. Bahkan lantainya pun—sejak kapan diubah menjadi granit abu-abu mengilat? Arumi sama sekali tidak menyadari kapan suara bising perombakan kamar ini terjadi.
Pandangan mata Arumi beralih menatapi lemari pakaian built-in berdesain modern yang kini penuh dengan barang-barang mewah milik Rangga. Barisan jam tangan dan aksesori bermerek terpajang rapi di sana, berkilau bagai etalase toko perhiasan mewah.
Arumi mendengus pendek. Isi kamar ini saja bisa jadi nilainya empat kali lipat dari harga jual rumahnya. Keberadaan arloji Patek Philippe yang bertengger di rak kaca seolah mengonfirmasi asumsi liarnya tersebut.
Nekat sekali Tuan Muda ini meletakkan benda berharga triliunan di rumah kompleks tanpa kode keamanan di pintu dan jendela... gerutu Arumi dalam hati. Namun di bibirnya, ia hanya mampu berbisik pelan, “Rangga... Rangga. Yang benar saja kamu ini.”
Jikalau amit-amit ada maling nekat yang masuk ke rumah ini suatu malam, mungkin Arumi tinggal menunjuk kamar ini saja, maka habis perkara.
Namun selanjutnya, perhatian Arumi teralih pada sebuah pintu besar yang berdiri kokoh tepat di sebelah lemari keren milik Rangga. Pintu itu sebenarnya adalah akses menuju balkon belakang tempat area laundry darurat. Namun karena beberapa tahun ini Arumi lebih suka mencuci di lantai satu dan menjemur pakaian di taman koridor samping, balkon atas itu praktis terabaikan tanpa fungsi. Kini, tampilan pintu itu telah berubah total dengan list baja hitam yang solid. Di permukaannya, bertengger sebuah panel smartlock digital yang menyala biru. Satu-satunya pintu di rumah ini yang menggunakan kode pengaman, seolah di baliknya terdapat ruang ‘sangat rahasia’ yang menyimpan dokumen penting.
Arumi mendekati pintu baja tersebut. Karena didorong rasa penasaran, jemarinya iseng menekan barisan angka digital yang merupakan tanggal ulang tahunnya sendiri.
Pip! Pip! Pip!
Lampu merah berkedip-kedip kaku disertai bunyi eror pendek. Tanda bahwa kata sandinya salah. Arumi mencibir tipis.
Ia kemudian mencoba memasukkan angka tanggal lahir Rangga—yang herannya, otaknya bisa mengingat detail angka itu dengan sangat fasih. Namun panel kembali berkedip merah. Salah lagi.
Arumi melipat tangan di dada, memutar otak memikirkan kombinasi angka apa lagi yang digunakan pria itu. Ia benar-benar penasaran akan isinya. Lagipula, ini adalah rumahnya, rumah anak-anaknya, dan statusnya saat ini belum resmi menikah dengan Rangga. Enak saja si Rangga main rahasia-rahasian menggunakan ruangan di rumah ini tanpa izin! Mengubah tampilan kamar ini saja dia tidak meminta persetujuannya dulu!
Lagi-lagi karena iseng—setelah kode yang ini gagal, ia berniat langsung menelepon Rangga untuk mengomeli perihal kode smartlock ini—Arumi bersiap memasukkan angka tanggal lahir almarhum Mas Ary. Namun saat ujung jarinya hendak menekan tombol enter, Arumi mengernyit kaku.
Rasanya ada yang ganjil. Kenapa fokus pikirannya harus melompat pada tanggal lahir Ary? Arumi buru-buru menghapus digit barusan. Alih-alih berhenti, kini jemarinya justru bergerak mengetikkan untaian angka baru: Tanggal kematian Ary Prambudi.
Entahlah, ia sendiri tidak mengerti kenapa instingnya memaksa memasukkan tanggal duka tersebut. Mungkin karena di dalam lubuk benaknya, tanggal kelam itulah yang menjadi gerbang awal dari segala karut-marut hidupnya ini.
Dan...
BEEP!
Lampu sensorik berwarna hijau seketika menyala terang. Tanda bahwa kata sandi barusan benar adanya.
Daun pintu baja itu perlahan bergerak terbuka ke arah belakang, seolah ada engsel otomatis di bagian atas yang menariknya melebar tanpa suara. Bersamaan dengan itu, lampu sensorik interior di dalam ruangan mendadak menyala satu per satu secara otomatis.
Detik itu juga, pasokan oksigen di paru-paru Arumi seolah tersedot habis. Seluruh benda peninggalan almarhum Mas Ary Prambudi ada di sana, tertata dengan sangat rapi dan takzim. Mulai dari deretan foto-foto lama, koleksi sweater rajut hangatnya, barisan pakaian kerja, memorabilia mengajar, berbagai buku diktat ilmiah dan sertifikat dosen, hingga sepatu-sepatu milik beliau... semuanya terpajang apik di dalam lemari-lemari kaca yang bentuknya mirip dengan milik Rangga di luar. Ruangan balkon itu telah disulap total menjadi sebuah toko kecil yang estetis... atau lebih tepatnya, sebuah museum mini penuh kenangan.
“Ya Tuhanku...” Arumi langsung meremas dadanya yang mendadak terasa sesak bergemuruh hebat didera rasa haru yang langsung mendera.
Sebuah foto berukuran besar menampilkan wajah Mas Ary yang sedang tersenyum lebar terpampang megah di dinding utama, langsung menyambut pandangan begitu pintu terbuka. Arumi ingat betul kapan foto itu diambil; saat hari pernikahan mereka dulu. Di samping foto suaminya, terdapat foto mendiang Mbak Rani—istri pertama Ary—yang rupanya telah direstorasi dengan teknologi digital dan dibingkai sangat indah.
Semua barang di dalam ruangan itu berada dalam kondisi bersih, wangi, bahkan noda-noda tanah di sol sepatu lama Ary pun sudah dibersihkan tanpa sisa. Setiap lembar sertifikat kertas telah diberi pelapis pelindung anti-robek. Balkon luar itu ternyata sudah diberi penutup atap gipsum permanen oleh Rangga. Karena lokasinya tersembunyi di sudut belakang, Arumi bahkan tidak pernah ngeh dari luar jika lokasi ini bukan lagi area balkon kosong. Bahkan sebuah unit AC baru nampak bertengger manis di dinding atas, mengembuskan angin sejuk yang nyaman.
“Mah?”
Suara bariton khas remaja dari arah belakang seketika mengagetkan Arumi. Rian sudah berdiri tegap di ambang pintu kamar Rangga. Mereka berdua bertatapan, dengan sepasang mata Arumi yang kini sudah mulai digenangi air mata yang luruh perlahan.
“Ah, tuh kan. Om Rangga sudah pernah bilang sebelumnya kalau Mamah jangan sampai masuk ke ruangan sana, nanti pasti nangis lagi. Makanya di-password rapat. Tapi rupanya bisa terbuka juga oleh Mamah,” sahut Rian sembari menyunggingkan senyuman tipis yang canggung. Remaja berusia 17 tahun itu rupanya masih mengenakan seragam kerja minimarketnya yang berwarna merah.
“Kamu... kamu sudah tahu mengenai ruangan ini?” tanya Arumi dengan suara parau yang bergetar.
Rian mengangguk tenang. “Kami bertiga yang menata semua isinya dari awal, Mah. Aku, Aryo, dan Om Rangga. Proses pembangunannya dibantu tukang borongan saat Mamah sedang pergi jalan-jalan bersama ibu-ibu arisan kompleks ke Cibubur waktu itu.”
“Mamah pergi ke Cibubur kan cuma sehari, Rian!”
“Ya, setengah hari lebih tepatnya. Waktu yang ternyata cukup buat Om Rangga untuk mengomandani tukang merombak total balkon belakang ini jadi seperti ini,” jawab Rian lempeng.
“Kalian ini benar-benar...” Arumi buru-buru menghapus air matanya yang menetes ke pipi.
“Kami bertiga akhirnya memutuskan ada baiknya kode keamanannya menggunakan tanggal kematian Ayah saja. Karena menurut Om Rangga, itu adalah tanggal bersejarah saat dia pertama kali dipertemukan dengannya,” jelas Rian lagi.
Arumi mengembuskan napas panjang yang terasa berat. Ya, sebuah tanggal bersejarah. Dari ruangan ini, Arumi bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana cara seorang Rangga Adiwilaga sedang menghukum ego dan melatih rasa bersalah atas keteledorannya di masa lalu. Rangga sengaja memilih angka duka itu karena ia ingin selalu mengingatkan dirinya sendiri mengenai batas-batas hal yang manusia tidak akan pernah bisa rencanakan di atas dunia ini. Sebuah angka yang ia jadikan acuan hidup agar ia tidak lagi melangkah salah pilih jalan.
Tindakan Rangga memindahkan seluruh aset hidupnya ke rumah kayu ini saja sudah menjadi indikasi nyata; bahwa pria itu tidak akan pernah membiarkan dirinya lupa... bahwa ia mendapatkan keluarga kecil yang hangat ini berkat pengorbanan nyawa seseorang.
“Kamu...” Arumi melangkah masuk melintasi batas ruangan, mengamati detail lemari kaca sembari merasakan embusan angin lembut AC yang menerpa tengkuk lehernya. “Kok kamu sudah pulang jam segini? Bukannya harusnya kamu masih shift malam di luar?” tanya Arumi, mencoba mengalihkan gejolak emosinya sembari menatap anak sulungnya.
“Aku resign, Mah,” sahut Rian santai.
Arumi seketika menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi, menatap Rian dengan pandangan tidak percaya. “Resign?!” serunya dengan nada suara yang meninggi. Bagaimana tidak syok, selama ini Rian adalah anak yang paling keras kepala mempertahankan pekerjaan tersebut dengan alasan harga diri lelakinya emoh dibiayai Rangga. Bisa-bisanya kini dia dengan mudahnya keluar dari pekerjaan itu?
Rian mengangguk ragu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dipaksa resign... lebih tepatnya, Mah.”
“Dipaksa?! Pasti perbuatan dari si Direktur belagu itu, ya?!” semprot Arumi emosi, giginya bergemeretak. Siapa lagi pelakunya di rumah ini kalau bukan sosok CEO angkuh yang kini dengan lancangnya menguasai kamar utama di lantai dua ini, pikir Arumi berprasangka buruk.
“Yah... begitulah,” desis Rian pendek. Namun herannya, sebuah senyuman tipis justru terukir di wajah tampannya.
Melihat seorang pemuda dengan harga diri setinggi langit seperti Rian masih bisa tersenyum lebar saat dipaksa resign oleh sosok pria yang awalnya ia anggap sebagai musuh bebuyutan, benar-benar membuat isi kepala Arumi tak habis pikir. Atmosfer macam apa yang sebenarnya terjadi di antara cowok-cowok ini?
“Kalau si berengsek itu pulang malam ini, akan Mamah—”
“Tunggu dulu, Mah. Tolong dengarkan dulu, ini bukan seperti skenario buruk yang sedang Mamah pikirkan sekarang,” potong Rian cepat, langsung merentangkan tangannya untuk mencegah Arumi yang sudah menggeram bersiap mau turun ke lantai bawah untuk menunggu kepulangan Rangga di teras sembari mengacungkan pisau daging.
“Ya enak saja dia main paksa-paksa kamu keluar kerja! Dia pikir kita ini sekeluarga adalah tipe orang miskin yang mengemis-ngemis harta dan bisa dia setir sesuka hatinya, hah?!” seru Arumi berapi-api, emosinya yang tersulut membuat dadanya bergemuruh.
“Om Rangga... dia sudah membeli seluruh kepemilikan toko minimarket tempatku bekerja itu atas namaku, Mah!” potong Rian lantang, memotong amukan ibu sambungnya. “Dan aku diperbolehkan olehnya untuk mencicil modal pembeliannya secara bertahap melalui potongan persentase keuntungan bersih toko setiap bulan! Makanya aku mau menerima tawaran resign itu, karena kali ini aku bukan buruh lagi, Mah... aku ikut andil sebagai pemilik yang mengelola perkembangannya!”
Mendengar fakta dari mulut anak sulungnya, sepasang mata bulat milik Arumi seketika membesar sempurna membeku di tempat.