Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Bayangan Naga Api
Dinginnya salju di dasar jurang terasa menusuk tulang, tapi Lin Fan tidak menggigil. Darahnya mendidih dengan amarah yang terkendali. Jejak sepatu bot militer itu jelas dan segar, mengarah ke sebuah celah sempit di antara dua tebing batu raksasa yang tertutup semak duri beku.
"Sekte Langit Merah," gumam Lin Fan, matanya menyipit saat membaca pola jejak kaki itu. "Mereka bergerak dalam formasi taktis. Bukan penjelajah biasa. Ini adalah unit penyerbu."
Ia mengikuti jejak tersebut dengan hati-hati, menggunakan Teknik Langkah Bayangan untuk meminimalkan suara dan jejak energinya sendiri. Manik Giok di Dantian-nya berdenyut lambat, menyerap energi Yin dari lingkungan sekitarnya untuk memulihkan stamina Lin Fan setelah jatuh bebas tadi.
Setelah berjalan sekitar satu kilometer melalui hutan pinus yang lebat, pepohonan mulai menipis. Di depannya, terbentang sebuah lembah kecil yang terlindung dari angin oleh dinding gunung curam. Dan di tengah lembah itu, berdiri reruntuhan kuil kuno yang megah.
Kuil Es Kuno.
Bangunan-bangunannya terbuat dari batu pualam putih yang telah retak dimakan waktu, ditutupi lumut es berwarna biru kehijauan. Pilar-pilar tinggi menjulang seperti jari-jari raksasa yang menunjuk langit. Meski hancur, aura kesucian dan kekuatan kuno masih terasa kuat di udara.
Tapi pemandangan itu rusak oleh kehadiran para penyusup.
Sekitar dua puluh pria berbaju merah gelap dengan lambang naga api terbalik di dada sedang berkeliaran di area kuil. Mereka membawa obor yang apinya tidak padam meski diterpa angin dingin, dan senjata-senjata berat seperti palu war dan pedang besar.
Di tengah halaman kuil, terdapat sebuah altar batu bundar. Di atas altar itu, seorang pria bertubuh kekar dengan jubah merah cerah sedang berdiri, mengamati sebuah pintu batu besar yang tertutup rapat di dinding belakang kuil utama. Pintu itu dihiasi ukiran naga es yang tampak hidup.
Pria itu adalah Komandan Huo Lie, ahli kultivasi Tahap Fondasi Awal dari Sekte Langit Merah. Wajahnya kasar, dipenuhi bekas luka bakar, dan matanya bersinar dengan arogansi khas pengguna elemen api.
"Lebih cepat!" bentak Huo Lie kepada anak buahnya yang sedang mencoba membongkar mekanisme pintu dengan linggis berapi. "Patriark menginginkan inti energi di dalam sana sebelum bulan purnama malam ini. Jika kalian gagal, aku akan membakar kalian hidup-hidup!"
Lin Fan bersembunyi di balik reruntuhan pilar di tepi lembah, mengamati situasi. Jumlah musuh terlalu banyak untuk serangan frontal. Dan Komandan Huo Lie memiliki aura yang jauh lebih kuat darinya.
Tapi ada sesuatu yang aneh. Di sudut halaman, terikat pada sebuah tiang batu, terdapat sosok yang familiar.
Xue Ying.
Gadis itu terlihat babak belur, wajahnya bengkak, dan bajunya robek-robek. Tapi matanya masih menyala dengan kebencian. Dia tidak menangis. Dia menatap Huo Lie dengan tatapan yang bisa membekukan api sekalipun.
Huo Lie mendekati Xue Ying, mencengkeram rahangnya dengan kasar. "Kau keras kepala, gadis kecil. Kau menolak memberitahu kami kombinasi kunci pintu ini, padahal temanmu sudah kabur. Apa gunanya kesetiaan pada sekte yang sudah mati?"
Xue Ying meludah ke wajah Huo Lie. "Sekte kami mungkin mati, tapi harga diri kami tidak. Kau hanya pencuri yang memakai baju prajurit."
Huo Lie tertawa marah. Dia menampar Xue Ying keras hingga gadis itu terjatuh. "Baik. Jika kau tidak mau bicara, kami akan memecahkan pintunya dengan paksa. Dan setelah itu, kau akan menjadi umpan beast untuk latihan pasukan kami."
Lin Fan mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih. Dia harus bertindak. Sekarang.
Tapi bagaimana? Menyerang langsung berarti bunuh diri. Dia butuh kekacauan. Dia butuh mengalihkan perhatian mereka.
Matanya tertuju pada tumpukan tongkat dinamit alkimia (Fire Crystals) yang disimpan di samping altar oleh pasukan Sekte Langit Merah. Bahan peledak grade rendah, tapi jika diledakkan di dekat pintu batu kuno yang rapuh...
Lin Fan tersenyum tipis. Ide gila terbentuk di kepalanya.
Ia mengambil sebuah kerikil kecil, lalu melemparkannya dengan presisi tinggi ke arah tumpukan Fire Crystals itu. Kerikil itu tidak mengenai langsung, tapi memantul dari batu lain dan jatuh tepat di celah antara dua kristal.
Tidak cukup untuk meledakkannya. Tapi Lin Fan tidak berhenti di situ.
Dia mengumpulkan Qi es di jarinya, membentuk sebuah jarum es mikroskopis yang sangat tajam dan dingin. Dengan fokus penuh, dia menembakkan jarum itu dari jarak jauh, menggunakan teknik manipulasi udara dasar yang ia pelajari dari Sutra Embun Beku.
Jarum es itu melayang lambat, hampir tak terlihat, dan menusuk salah satu Fire Crystal yang retak.
Suhu ekstrem jarum es menyebabkan reaksi termal mendadak pada kristal api yang tidak stabil.
Kret...
Suara retakan halus terdengar. Salah satu penjaga mendengar suara itu dan menoleh. "Hei, apa itu—"
BOOM!
Ledakan kecil terjadi. Tidak besar, tapi cukup untuk memicu rantai reaksi. Tumpukan Fire Crystals lainnya ikut meledak satu per satu seperti popcorn raksasa.
BUM! BUM! BUM!
Gelombang kejut dan serpihan batu beterbangan ke mana-mana. Pasukan Sekte Langit Merah panik, berhamburan mencari perlindungan. Debu dan asap hitam memenuhi halaman kuil.
"Apa yang terjadi?!" teriak Huo Lie, melindungi wajahnya dari serpihan batu.
Dalam kekacauan itu, Lin Fan melesat keluar dari persembunyiannya. Teknik Langkah Bayangan membuatnya tampak seperti hantu yang meluncur di atas tanah. Tujuannya bukan Huo Lie, tapi Xue Ying.
Dia mencapai tiang batu tempat Xue Ying diikat. Dengan pisau kecilnya, ia memotong tali pengikat dengan cepat.
"Lin Fan?" Xue Ying terbelalak, tidak percaya. "Kau gila? Ada puluhan dari mereka!"
"Diam dan ikuti aku," bisik Lin Fan, mengangkat Xue Ying yang lemah. "Kita tidak bisa melawan mereka semua. Kita harus masuk ke dalam kuil."
"Masuk? Pintunya tertutup!"
"Tidak lagi," kata Lin Fan, menunjuk ke arah pintu batu besar.
Ledakan Fire Crystals tadi ternyata merusak mekanisme kunci kuno di sekitar pintu. Retakan besar muncul di permukaan batu, dan pintu itu bergeser sedikit, terbuka celah sempit.
Huo Lie menyadari apa yang terjadi. Matanya yang marah menatap Lin Fan. "Tangkap dia! Jangan biarkan dia masuk!"
Lima prajurit terdekat menerjang Lin Fan.
Lin Fan tidak menghindar. Dia menghadapi mereka. Dengan Tinju Embun Beku yang diperkuat oleh kemarahan, ia menghantam dada prajurit pertama, membekukan jantungnya seketika. Prajurit kedua menebas dengan pedang, tapi Lin Fan menggunakan cambuk Xue Ying yang dilemparkannya kembali ke gadis itu sebagai alat pertahanan, membelokkan serangan pedang, lalu menendang perut prajurit itu hingga terpental.
"Cepat!" teriak Lin Fan kepada Xue Ying.
Mereka berdua melesat menuju celah pintu batu yang terbuka. Huo Lie mengejar dari belakang, tangannya menyala dengan api merah menyala.
"Kalian tidak akan lolos!"
Huo Lie melemparkan bola api raksasa ke arah punggung mereka.
Lin Fan merasakan panas yang membakar di tengkuknya. Dia mendorong Xue Ying masuk lebih dulu ke dalam celah pintu, lalu berputar, mengangkat kedua tangannya.
Perisai Es Manik Giok!
Sebuah dinding es transparan terbentuk di depan celah pintu. Bola api Huo Lie menghantam dinding es itu.
Ssssttt...
Uap tebal menyembur. Es mencair dengan cepat, tapi berhasil menahan ledakan api cukup lama bagi Lin Fan untuk menyusup masuk ke dalam celah.
Begitu Lin Fan masuk, dia mendorong sebuah tuas batu tua di sisi dalam pintu. Mekanisme kuno bekerja. Pintu batu besar itu bergeser menutup kembali dengan suara gemuruh berat, mengunci mereka di dalam, dan mengunci Huo Lie di luar.
Hening.
Kegelapan total menyelimuti mereka. Hanya suara napas berat Lin Fan dan Xue Ying yang terdengar.
"Mereka... mereka akan membobol pintu itu," kata Xue Ying terengah-engah, tubuhnya gemetar karena shock dan rasa sakit.
"Biarkan mereka mencoba," kata Lin Fan, menyalakan cahaya kecil dari ujung jarinya menggunakan Qi murni. Cahaya putih redup menerangi ruangan luas di hadapan mereka.
Ruangan itu bukan sekadar ruang kosong. Itu adalah aula besar yang dipenuhi patung-patung pendeta es yang berbaris rapi. Dan di ujung aula, terdapat sebuah tahta batu, di mana sesosok kerangka duduk dengan tenang, memegang sebuah gulungan jade yang bersinar lembut.
Warisan Sejati Sekte Lembah Es.
Lin Fan tersenyum lelah. "Kita berhasil, Xue Ying. Sekarang, saatnya kita mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam."
Tapi sebelum mereka bisa melangkah maju, kerangka di tahta itu tiba-tiba membuka matanya. Dua titik cahaya biru menyala di rongga mata kosong itu.
Suara tua dan bergema terdengar di seluruh ruangan, bukan dari mulut kerangka, tapi langsung di pikiran mereka.
"Siapa yang berani mengganggu tidur abadi Patriark Mo Han?"
Lin Fan dan Xue Ying membeku.
Mo Han? Nama yang sama dengan leluhur Elder Mo?