Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal- 32
Pangeran Bagaskara juga sengaja menyenggol bahu pangeran Auriga sampai suara gesekan bahu keduanya terdengar sangat jelas sedangkan pangeran Auriga masih terdiam. Pangeran Bagaskara tersenyum sinis sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya untuk beristirahat di kamar tamu yang sudah disediakan untuknya.
•••
Keesokan paginya setelah perjamuan sarapan berakhir, semua orang segera kembali ke daerahnya masing-masing. Para anggota kerajaan ikut mengantarkan tamu mereka sampai di depan gerbang istana.
Saat Prabu Dayakarsa dari kerajaan Acalapati ingin masuk ke dalam keretanya, ia berbalik badan menghadap ke arah Prabu Adyatama.
"Prabu Adyatama" panggilnya.
"Ingsun rasa Ingsun perlu menitipkan putra Ingsun, pangeran Bagaskara disini karena pembahasan yang sudah kita lakukan kemarin. Ingsun juga ingin pangeran Bagaskara belajar bahasa Belanda disini karena hanya sedikit sekali orang-orang dari kerajaan Acalapati yang bisa berbahasa Belanda. Ingsun tidak ingin ketidaktahuan kami ini malah menjadi ancaman untuk negeri kami sendiri"
"Karena Ingsun pernah mendengar ada kerajaan kecil yang ditipu oleh Belanda karena mereka tidak bisa memahami bahasa yang orang-orang itu gunakan dan ada seorang penerjemah yang malah salah mengartikan perjanjian yang diminta oleh Belanda hingga akhirnya kerajaan kecil itu sekarang jatuh di tangan Belanda" ucap Prabu Dayakarsa.
"Tentu saja Ingsun akan menerima kehadiran pangeran Bagaskara disini dan untuk masalah bahasa mungkin putri Zora bisa mengajarkannya kepada pangeran Bagaskara" balas Prabu Adyatama.
Prabu Dayakarsa tersenyum. Ia kemudian memanggil pangeran Bagaskara yang sudah masuk ke dalam kereta yang akan mereka tumpangi menuju kerajaan Acalapati.
"Ambil kembali barang-barangmu karena kau masih akan berada di kerajaan Wirastama untuk beberapa saat. Ingsun ingin kau bisa mengerti bahasa Belanda dalam waktu dekat ini" ucap Prabu Dayakarsa kepada pangeran Bagaskara.
Pangeran Bagaskara mengangguk. Ia akan melakukan apa yang diperintahkan oleh ayahnya.
"Baik, ayahanda" ucapnya dengan tegas.
"Kalau begitu Ingsun kembali terlebih dulu" ucap Prabu Dayakarsa lalu ia masuk ke dalam keretanya. Tak lama kemudian kereta itu mulai berjalan seiring derap langkah kuda yang terdengar.
Pangeran Auriga menatap pangeran Bagaskara dengan sinis sedangkan yang ditatap tidak peduli. Ia lalu berjalan menghampiri Zora yang terlihat sedang berbincang dengan selir Agni dan putri Kirana.
"Putri Zora" panggilnya yang membuat Zora menoleh.
"Kenapa pangeran masih ada disini? Bukankah rombongan dari kerajaan Acalapati sudah kembali?" tanya Zora.
"Tidak, aku akan tinggal disini untuk beberapa saat. Ayahku ingin aku belajar bahasa Belanda disini dan Prabu Adyatama mengatakan bahwa kau yang akan mengajariku bahasa Belanda itu" ucapnya sambil tersenyum lebar.
Mata Zora membelalak sempurna mendengar ucapan dari pangeran Bagaskara bahkan Prabu Adyatama tidak meminta persetujuaannya sama sekali untuk hal ini.
"Astaga" ucap Zora sambil mengelus keningnya.
"Aku juga akan belajar bersama dengan pangeran Bagaskara" ucap pangeran Auriga yang sudah berada disana entah sejak kapan.
"Apa?" pekik Zora karena dia harus mengajari dua pria yang sepertinya berbeda prinsip di depannya ini.
"Benar, lebih baik jika pangeran Auriga dan pangeran Bagaskara belajar bersama-sama dan diajari oleh putri Zora" ucap Prabu Adyatama yang ikut-ikutan menimpali ucapan pangeran Auriga.
Tidak, tidak, tidak. Jika seperti ini Zora benar-benar bisa gila. Ia lalu menatap tiga orang di hadapannya.
"Baiklah, aku mau mengajari pangeran Auriga dan juga pangeran Bagaskara tetapi aku ingin kalian menuruti segala perintahku saat kalian sedang menjadi muridku dan aku juga ingin Saka ikut di dalam pelajaran ini" ucapnya.
"Baik, itu tidak masalah asalkan putri Zora mau mengajari dua pangeran ini" ucap Prabu Adyatama sambil tersenyum. Ia kemudian meninggalkan orang-orang yang masih terdiam membisu itu.
Zora lalu berbalik untuk melihat salah satu prajurit yang sedang berjaga di belakangnya.
"Kau, bisakah kau memberitahu kepada Saka agar ia bisa mengikuti pelajaran Bahasa Belanda yang akan aku ajarkan?" tanyanya kepada prajurit itu.
"Mohon maaf putri tetapi hamba tidak mengetahui tempat tinggal Saka" ucap prajurit itu sambil menunduk.
"Oh, ya. Maaf, aku salah menyebut nama maksudku bisakah kau menghampiri tuan Danindra dan memberitahukan yang tadi kepadanya?" tanya Zora menyebut nama belakang Saka.
Prajurit tadi langsung mengangguk. Jika tuan Danindra memang ia tahu tempat tinggal orang itu. Ia lalu pamit undur diri untuk menyampaikan pesan yang disampaikan Zora kepada Saka.
"Kita mulai belajar bahasa Belanda besok. Aku tidak ingin ada yang terlambat" ucap Zora dengan tegas kemudian ia meninggalkan kedua pangeran itu masuk ke dalam istana.
Kedua pangeran itu saling pandang tetapi mereka langsung kembali membuang muka mereka saat pandangan mereka bertemu.
"Dimana aku akan tidur?" tanya pangeran Bagaskara.
"Di tempat yang kemarin saja, aku akan mengatakan kepada pelayan" ucap pangeran Auriga kemudian ia pergi meninggalkan pangeran Bagaskara sendirian di luar istana.
Pangeran Bagaskara kemudian mengikuti langkah kaki pangeran Auriga dengan menenteng barang bawaannya sendiri meskipun pengawal pribadinya sudah menawarkan diri untuk membantunya.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘