NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33— Di Bawah Langit yang Sama

Archive Zero

Bab 33— Di Bawah Langit yang Sama

Aliran cahaya yang membawa mereka bergerak begitu cepat, melintasi batas-batas kenyataan hingga rasanya seolah hanya sekejap mata. Saat cahaya itu perlahan mereda dan wujud mereka kembali terwujud, Ren, Anya, dan Kai mendapati diri mereka berdiri di atas sebuah bukit hijau yang luas, di bawah langit biru yang cerah dan bersih, persis seperti langit di Elarion zaman dulu.

Udara di sini segar, beraroma rumput basah dan bunga liar yang mekar di mana-mana. Di kejauhan, tampak hamparan padang rumput yang luas, beralun lembut tertiup angin, dan sebuah kota kecil yang sederhana namun indah dibangun di pinggir danau berair jernih. Suasana damai, hangat, dan penuh kehidupan ini langsung mengingatkan mereka pada rumah asal mereka.

"Di mana kita sekarang?" tanya Kai pelan, matanya berbinar-binar mengamati sekeliling. Ia merentangkan tangannya, membiarkan angin menerpa wajahnya. "Rasanya... sangat akrab. Seolah kita tidak pernah pergi dari Elarion."

Ren tersenyum, menatap pemandangan di bawah sana dengan pandangan yang lembut. "Kita berada di salah satu dari ribuan dunia yang lahir dari kisah kita. Dunia yang memegang teguh ajaran keseimbangan dan kasih sayang. Lihatlah... mereka hidup sederhana, selaras dengan alam, dan bahagia."

Namun, Anya diam saja. Matanya terpaku pada tiga sosok kecil yang sedang duduk di bawah sebatang pohon besar rimbun di lereng bukit itu, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tiga anak kecil — dua laki-laki dan satu perempuan — berusia sekitar sepuluh tahun, sedang duduk melingkar di atas rumput. Di depan mereka, ada gambar sederhana yang mereka buat dari batang kayu dan batu-batu kecil: tiga lingkaran yang saling terikat.

Hati Anya bergetar hebat. Ia menepuk lengan kedua sahabatnya pelan, memberi isyarat agar mereka melihat ke arah itu.

"Lihatlah mereka..." bisik Anya bergetar.

Mereka bertiga melangkah perlahan, mendekat namun tetap menjaga jarak, membiarkan wujud mereka samar dan tak terlihat mata biasa, hanya menjadi kehadiran hangat yang terasa di udara.

Anak laki-laki yang duduk paling tengah, dengan rambut hitam lurus dan mata yang tenang namun tajam, sedang bercerita dengan semangat.

"Kakekku bilang, dulu sekali, ada tiga sahabat hebat yang menyelamatkan dunia dari kehancuran," ceritanya, suaranya renyah dan penuh keyakinan. "Namanya Ren, Anya, dan Kai. Mereka tidak pernah berpisah, dan bersama-sama mereka bisa melakukan hal-hal ajaib."

Anak perempuan di sebelahnya, dengan rambut panjang dikepang dan wajah yang ceria namun tegas, menimpali sambil menunjuk gambar di tanah.

"Aku ingin menjadi seperti Anya. Dia kuat, dia bisa berbicara dengan alam, dan dia selalu melindungi teman-temannya apa pun yang terjadi. Kata ibuku, nama Anya berarti 'penuh kasih', dan itulah yang membuatnya hebat."

Anak laki-laki yang satu lagi, yang berkacamata kecil dan tampak sangat antusias, langsung menyahut.

"Kalau aku mau jadi seperti Kai! Dia paling pintar, dia tahu segalanya, dan dia yang selalu menemukan jalan keluar saat mereka bingung. Dia bilang rasa ingin tahu adalah harta paling berharga. Dan lihatlah, dia selalu tertawa dan membuat suasana jadi gembira!"

Anak laki-laki tengah itu tersenyum lebar, merangkul bahu kedua temannya itu erat-erat.

"Dan aku mau jadi seperti Ren. Dia pemimpin yang bijak, dia tidak sombong, dan dia lebih mengutamakan temannya daripada dirinya sendiri. Tapi yang paling penting... ketiga orang ini bersahabat selamanya. Tidak ada yang ditinggalkan, tidak ada yang berkhianat. Itulah kekuatan terbesar mereka."

Ketiga anak itu pun berdiri, berpegangan tangan membentuk lingkaran, dan berseru dengan suara lantang dan gembira:

"Kami berjanji! Kami bertiga juga akan bersahabat selamanya! Kami akan menjaga dunia ini, dan kami akan menjadi pahlawan seperti mereka!"

Ren, Anya, dan Kai yang berdiri tak jauh dari sana, meneteskan air mata bahagia — air mata cahaya yang jatuh ke rumput dan berubah menjadi bunga-bunga kecil berkilauan.

"Kalian dengar itu?" tanya Kai dengan suara tercekat karena haru. "Mereka menceritakan kisah kita. Bagi mereka, kita adalah legenda. Tapi lihatlah... mereka tidak sekadar mengagumi. Mereka ingin meniru hal yang paling mendasar: persahabatan dan kebaikan hati."

Ren mengangguk, dadanya penuh dengan rasa bangga yang tak terlukiskan. Ia menatap ketiga anak kecil itu yang kini berlari-larian riang turun bukit, tertawa bahagia menuju desa mereka.

"Inilah makna sebenarnya dari segalanya," ucap Ren lirih namun tegas. "Bukan tentang kekuatan besar yang kita miliki, bukan tentang petualangan hebat yang kita jalani... tapi tentang pesan yang kita tinggalkan, tentang kebaikan yang menular, dan tentang anak-anak yang tumbuh dengan percaya bahwa persahabatan adalah kekuatan terbesar di dunia ini."

Anya melangkah maju mendekati pohon tempat mereka duduk tadi. Di sana, terukir lambang tiga lingkaran yang saling terikat di batang pohon itu, diukir dengan hati-hati oleh tangan kecil.

"Kisah kita hidup di dalam hati mereka," ucap Anya lembut, menyentuh ukiran itu. "Dan lewat mereka, kisah ini akan terus diceritakan kepada anak-anak mereka nanti, dan seterusnya, selamanya."

Tiba-tiba, dari arah langit, turunlah cahaya lembut ke arah ketiga anak itu yang sedang berlari. Cahaya itu menyentuh dada mereka sekejap, lalu masuk dan menghilang. Ren, Anya, dan Kai mengenali cahaya itu — itu adalah berkat dari Sang Pencipta, benih kekuatan keseimbangan yang baru ditanamkan, karena hati anak-anak itu sudah pantas menerimanya.

"Apakah suatu hari nanti... mereka akan menjadi seperti kita?" tanya Kai penasaran, matanya berkilau melihat masa depan yang terbentang di depan ketiga jiwa kecil itu.

Ren tersenyum, menatap jauh ke cakrawala di mana matahari mulai condong ke barat, menyinari dunia itu dengan cahaya keemasan yang hangat.

"Mungkin ya, mungkin tidak," jawab Ren bijak. "Mungkin petualangan mereka akan berbeda rupa, mungkin musuh yang mereka hadapi berbeda, dan keajaiban yang mereka temukan pun berbeda. Tapi satu hal yang pasti... selama mereka saling menjaga, saling percaya, dan berbuat baik... mereka akan menjadi pahlawan bagi dunia mereka sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup."

Mereka berdiri diam di atas bukit itu hingga senja datang, menikmati keindahan dunia kecil itu, mendengarkan tawa riang penduduk desa, dan merasakan kedamaian yang mendalam. Mereka sadar sekarang, tugas mereka tidak lagi berjuang melawan bahaya atau menaklukkan tempat asing. Tugas mereka sekarang adalah hadir sebagai ingatan, sebagai harapan, dan sebagai bukti nyata bahwa kebaikan selalu memiliki jalan.

"Sudah waktunya kita pergi lagi ya?" tanya Anya pelan, meski ada rasa enggan meninggalkan tempat yang begitu hangat ini.

Ren mengangguk perlahan, namun senyumnya tak pernah luntur. Ia menggenggam tangan Anya di satu sisi dan tangan Kai di sisi lain. Di kejauhan, di langit malam yang mulai bertabur bintang, terbuka jalan cahaya baru yang memancar, jalan menuju dunia-dunia lain, menuju kisah-kisah lain yang menunggu.

"Ya," jawab Ren mantap. "Masih ada ribuan dunia lain di luar sana. Masih ada ribuan anak-anak lain yang perlu tahu bahwa mereka berharga, bahwa persahabatan itu ajaib, dan bahwa kebaikan akan selalu menang."

Kai menoleh ke belakang sejenak, menatap desa kecil itu dan bukit hijau itu untuk terakhir kalinya.

"Jangan khawatir, dunia kecil yang indah," bisik Kai lembut. "Kami tidak akan pernah benar-benar pergi. Saat kau butuh kekuatan, ingatlah kami. Saat kau merasa kesepian, ingatlah kami. Kami ada di setiap angin yang berhembus, di setiap bintang yang bersinar, dan di setiap hati yang tulus saling menyayangi."

Dengan gerakan yang lembut dan serentak, wujud mereka kembali berubah menjadi tiga berkas cahaya indah, melayang naik perlahan, lalu meluncur cepat masuk ke dalam jalan cahaya yang terbuka itu, menghilang di antara bintang-bintang.

Di bawah sana, di dunia kecil itu, malam pun tiba. Tiga anak kecil itu sudah berada di rumah masing-masing, tidur lelap dengan senyum di bibir mereka, bermimpi indah tentang petualangan besar yang akan mereka jalani kelak. Di langit di atas mereka, tiga bintang terang bersinar paling cerah, berkedip seolah sedang tersenyum menjaga tidur mereka.

Dan di seluruh alam semesta, kisah Archive Zero terus bergema, mengalir dari hati ke hati, dari dunia ke dunia, tak pernah putus, tak pernah usai.

Karena kisah tentang persahabatan sejati... adalah satu-satunya kisah yang tidak memiliki akhir. Kisah itu abadi, selamanya, dan selalu bersambung...

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!