Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Edwin kesal
Suasana ruang tengah semakin tegang setelah ucapan Bara tadi. Hujan di luar terdengar makin deras. Kilat sesekali menyambar langit gelap di balik jendela besar mansion.
Rosline masih berdiri kaku di dekat sofa dengan wajah pucat. Sedangkan Bara berdiri tidak jauh darinya sambil menghembuskan asap rokok perlahan. Dan tepat saat suasana mulai membeku.
“Aku akan menikah dengannya.”
Semua orang langsung menoleh cepat ke arah Edwin.
Rosline membulatkan matanya kaget. “Tuan Edwin?”
Bahkan Kakek Alberto terlihat sedikit terkejut. Sedangkan Bara perlahan menoleh dengan sorot mata dingin menusuk.
Edwin berjalan pelan mendekati tengah ruangan sambil memasukkan tangan ke saku celananya. Namun kali ini ekspresinya tidak main-main seperti biasanya.
“Kalau Rosline menikah dengan Bara…” ucapnya serius. “Sama saja membuat dia semakin terancam, Opa.”
Ruangan langsung hening.
Tatapan Edwin kini tertuju pada Rosline beberapa detik sebelum kembali pada Kakek Alberto.
“Victor membenci Bara.” lanjutnya tenang. “Kalau Rosline resmi menjadi istri Bara, Victor justru akan semakin menjadikannya target utama.”
Rosline langsung menegang mendengar itu.
“Namun kalau Rosline menikah denganku…” lanjut Edwin rendah. “Situasinya berbeda.”
Tatapan Kakek Alberto perlahan menyipit.
“Aku punya bisnis legal.” gumam Edwin. “Aku tidak terlalu terlibat langsung dengan urusan Black Viper seperti Bara.”
Rosline langsung menggeleng panik. “Ti-tidak! Aku tidak setuju.”
Namun Edwin tetap melanjutkan. “Kalau Rosline bersamaku, Victor mungkin tidak akan terlalu tertarik.” ucapnya serius. “Setidaknya keselamatannya lebih terjamin.”
Ruangan mendadak sunyi. Dan detik berikutnya…
“Tidak.”
Suara Bara terdengar rendah. Namun cukup membuat seluruh ruangan terasa dingin.
Edwin perlahan menoleh ke arah kakaknya.
Sedangkan Bara kini menatap Edwin tajam dengan rahang mengeras. “Aku tidak setuju.”
“Kau pikir aku bercanda?” balas Edwin datar.
Tatapan Bara justru semakin gelap. “Kalau Rosline menikah denganmu…” suaranya rendah penuh tekanan. “Apa kau yakin bisa melindunginya?”
Edwin langsung diam beberapa detik.
Namun Bara kembali melanjutkan sebelum pria itu sempat menjawab. “Victor itu urusannya denganku.” lanjutnya dingin. “Begitu dia tahu Rosline berada di sisimu, maka kau juga akan ikut terseret.”
Tatapan Bara mengeras tajam sekarang. “Kau memiliki bisnis legal.” gumamnya dingin. “Dan semuanya akan hancur kalau Victor mulai ikut bermain di wilayahmu.”
Edwin mengepalkan rahangnya pelan.
Sedangkan Rosline mulai terlihat benar-benar panik sekarang. “Tolong hentikan…” suaranya gemetar kecil. “Kenapa kalian malah membahas siapa yang harus menikah denganku…”
Namun tidak ada yang menjawab. Kini dua bersaudara itu saling menatap dingin satu sama lain. Kakek Alberto memperhatikan mereka diam-diam dengan wajah serius.
Sedangkan Bara akhirnya mengalihkan pandangannya dari Edwin lalu menatap Rosline lurus.
“Biarkan saja dia menikah denganku.”
Rosline langsung membeku.
Bahkan Edwin spontan mengernyit tajam. “Bara.”
Namun pria itu tidak peduli. Tatapannya masih lurus pada Rosline saat melanjutkan kalimatnya. “Setelah itu…” sudut rahangnya mengeras perlahan. “Aku akan memastikan Victor berhenti menyentuh Rosline.”
Rosline langsung menunduk gugup. Sedangkan Edwin menatap kakaknya tajam dengan rahang mengeras. Suasana kembali hening beberapa detik sebelum akhirnya Kakek Alberto menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.
“Aku lebih setuju Bara yang menikah dengan Rosline.”
Ucapan pria tua itu langsung membuat Edwin menoleh cepat. “Opa.”
Namun Kakek Alberto tetap melanjutkan dengan wajah serius. “Kalau kau yang menikahi Rosline…” tatapannya kini lurus pada Edwin. “Maka kau dan seluruh perusahaanmu yang akan menjadi target Victor berikutnya.”
Edwin langsung terdiam.
“Kau selama ini tidak pernah masuk ke dunia gelap keluarga ini.” lanjut Kakek Alberto rendah. “Dan justru itu yang membuatmu lebih rentan.”
Tatapan pria tua itu berubah tajam sekarang.
“Victor tidak bermain bersih.” gumamnya dingin. “Dia bisa menghancurkan perusahaanmu, menyerang investormu, bahkan membunuh orang-orang penting di sekitarmu hanya untuk menekan keluarga Alexander.”
Rahang Edwin perlahan mengeras mendengar itu.
Sedangkan Bara tetap diam sambil menghembuskan asap rokok perlahan.
“Kau membangun bisnis legalmu bertahun-tahun.” lanjut Kakek Alberto. “Dan aku tidak akan membiarkan semuanya hancur karena Victor.”
Ruangan kembali sunyi.
Rosline langsung terlihat semakin tidak enak hati sekarang. “Maaf…” suaranya kecil penuh rasa bersalah. “Semua jadi kacau karena saya…”
“Jangan mulai lagi.” Bara langsung memotong dingin tanpa menoleh.
Rosline langsung diam.
Sedangkan Edwin tertawa kecil tanpa humor sambil mengusap wajahnya kasar. “Jadi sekarang keputusan semuanya sudah dibuat?” tanyanya pelan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Tatapan Edwin perlahan berpindah pada Bara. Kini ada sedikit kekesalan terlihat jelas di wajah pria yang biasanya santai tersebut.
“Kau serius ingin menyeret Rosline ke dalam hidupmu?” tanyanya rendah.
Tatapan Bara perlahan bertemu dengannya. “Kalau itu cara yang paling aman, maka iya.”
Jawaban singkat itu justru membuat Edwin semakin kesal. Pria itu mendecak kecil lalu mundur beberapa langkah sambil memasukkan tangan ke saku celananya.
“Terserah.” gumamnya dingin.
“Edwin…” panggil Kakek Alberto.
Namun Edwin sudah menggeleng pelan. “Aku tidak ingin membahas ini lagi.”
Tatapannya sempat beralih pada Rosline beberapa detik. Wajah gadis itu terlihat pucat dan bingung sekarang.
Lalu Edwin kembali menatap Bara tajam sebelum berkata. “Kalau sampai sesuatu terjadi padanya… jangan salahkan siapa pun selain dirimu sendiri.”
Setelah mengatakan itu, Edwin langsung berjalan keluar dari ruang tengah dengan langkah cepat menuju lantai atas.
Suara pintu kamarnya yang tertutup keras terdengar sampai ke bawah. Dan setelah kepergian Edwin, suasana ruang tengah justru terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Suasana ruang tengah terasa jauh lebih sunyi setelah Edwin pergi. Hanya suara hujan deras dan petir di luar yang sesekali memecah keheningan mansion malam itu.
Rosline masih berdiri canggung dengan wajah pucat. Dadanya terasa berat sekarang. Semua terjadi terlalu cepat sampai ia bahkan belum sempat mencerna semuanya.
Sedangkan Bara tetap berdiri dekat meja sambil mematikan rokoknya perlahan. Wajah pria itu kembali dingin tanpa ekspresi.
Kakek Alberto akhirnya menghela napas panjang sebelum berkata rendah, “Edwin hanya terlalu khawatir.”
Tidak ada jawaban.
Tatapan pria tua itu lalu beralih pada Rosline yang terlihat benar-benar kebingungan sekarang. “Duduklah dulu, Nak.” ucapnya lebih lembut.
Rosline perlahan duduk kembali di sofa dengan gugup. Namun beberapa detik kemudian, Bara tiba-tiba berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tapi aura dingin di sekitarnya masih terasa kuat.
“Kau tidak perlu memikirkan keputusan malam ini sekarang.” ucapnya rendah.
Rosline perlahan mengangkat wajah.
“Tapi mulai besok…” lanjut Bara serius. “Keamananmu akan diperketat.”
Rosline langsung menggigit bibir pelan. “Tuan Bara…” suaranya lirih. “Apa semua ini benar-benar perlu?”
Tatapan Bara bertemu dengannya beberapa detik. “Victor bukan tipe orang yang suka bermain-main.”
Nada suaranya terdengar datar. Namun justru itu membuat Rosline makin merinding.
“Kalau dia sudah menaruh perhatian padamu…” lanjut Bara dingin. “Maka dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Rosline langsung menunduk lagi.
Kakek Alberto memukul pelan ujung tongkatnya ke lantai. “Mulai malam ini Rosline pindah kamar.”
Rosline langsung tersentak. “Hah?”
“Kamarmu terlalu dekat dengan area yang diretas tadi malam.” lanjut pria tua itu serius. “Aku tidak mau mengambil risiko.”
Bara mengangguk kecil. “Daniel akan memindahkan barang-barangmu.”
Rosline langsung panik. “Ti-tidak perlu...”
“Itu bukan permintaan.” potong Bara dingin cepat.
Rosline langsung diam lagi.
Beberapa detik kemudian, Daniel masuk ke ruang tengah sambil sedikit membungkuk. “Tuan Bara, seluruh akses mansion sudah diamankan.”
“Bagaimana hasil pemeriksaan staf?” tanya Bara tanpa basa-basi.
“Masih berlangsung.” jawab Daniel cepat. “Namun kami menemukan satu hal lagi.”
Tatapan Bara langsung tajam.
Daniel menyerahkan sebuah ponsel kecil ke atas meja. “Ini ditemukan di kamar penjaga yang menghilang tadi.”
Kakek Alberto langsung mengernyit.
Sedangkan Bara mengambil ponsel itu dengan wajah datar. Namun begitu layar dinyalakan, sorot matanya langsung berubah gelap.
“Ada apa?” tanya Rosline pelan penuh gugup.
Bara tidak langsung menjawab. Rahangnya justru perlahan mengeras. Lalu tanpa bicara, pria itu membalik layar ponsel ke arah mereka semua.