"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Dewa, Keluar kamu! Di mana Arin? Aku tahu kamu pasti menyembunyikan nya!" Teriakan Aga membuatku spontan merangkul lengan Dewa. Aku benar-benar ketakutan. Kenapa Aga bisa tahu aku ada di sini?
"kamu di sini dulu, tidak usah takut"
ucapan Dewa tidak bisa membuat ku tenang, bagaimana aku tidak takut, Aga selalu membawa senjatanya, jika dia mengancam Dewa dengan itu bagaimana?
"Kamu hati-hati"
Aku ingin kembali masuk ke kamar, Aku tidak ingin Aga menemukan ku. Tapi aku penasaran dengan apa yang akan terjadi, jadi aku memutuskan bersembunyi di balik pintu.
"Mana Arin?"
Dengan emosi yang meluap-luap, Aga menarik kerah Dewa. Aku sangat takut jika nantinya mereka berkelahi.
"Dia istrimu, kenapa bertanya pada ku?"
"Kamu pasti menyembunyikan dia"
"Dia pergi dari rumah kamu, pasti dia tidak tahan dengan sikap kamu, kenapa menuduh ku?"
"Kau!"
"Kau apa? Istri mana yang sanggup jika tidak di akui? Istri mana yang kuat di anggap adik di depan banyak orang? Istri mana yang sanggup melihat suaminya terang-terangan berselingkuh di depannya? Jika aku jadi Arin aku pasti sudah pergi dari dulu"
"Tau apa kamu! Itu hanya salah paham. Katakan di aman Arin?"
"Dia tidak di sini, cari saja di tempat lain"
Dewa nampak mendorong tubuh Aga tanpa rasa takut.
"Kamu pasti bohong, aku sudah melacak lokasi ponselnya, dia ada di sini"
Mendengar itu, aku langsung bergegas ke kamar, aku tidak mau Aga menemukan ku, aku belum siap bertemu dengan nya.
*****
POV Author
Aga memaksa masuk ke rumah Dewa, meski Dewa sudah melarangnya.
"Dia tidak ada di sini! Aku akan laporkan kamu jika kamu masuk ke rumah orang tanpa izin"
Aga tersenyum mengejek, dia seorang Letnan. Dia tidak akan masuk rumah orang sembarangan.
"Kamu pikir aku ke sini tanpa persiapan?"
Aga menunjukkan surat pengeledahan rumah Aga dengan tuduhan penculikan. Dia juga punya bukti lokasi ponsel Arin yang berada di rumah ini.
"Gila kamu!"
Dewa tak menyangka Aga akan senekat itu, niat sekali dia menggeledah rumah nya hanya untuk mencari istrinya.
Aga segera masuk, dia sengaja menyenggol bahu Dewa. Dia yakin Arin di rumah ini, Semalaman dia mencari keberadaan Arin, dia sampai ke markas agar dapat bisa melacak lokasi Arin.
Dewa berkeringat dingin, jika tahu akan begini, dia akan membawa Arin ke luar negeri. Semalam Dewa tidak tega melihat Arin yang nampak begitu kacau, jadi Dewa memutuskan membawa Arin ke rumahnya dulu. Dia ingin Arin istirahat dengan tenang.
Kenapa Dewa bisa lupa kalau Aga seorang Abdi negara, Chanel nya banyak apalagi hanya untuk menemukan satu orang saja.
Dewa mengepalkan tangannya, rasanya dia ingin sekali menonjok Aga, dia yang salah tapi saat istrinya menyerah dia yang gelisah.
Aga mulai menyisir rumah Dewa, dari ruang tamu, dapur, ruang makan. Langkahnya terhenti saat dia melihat foto istrinya di pajang begitu besar di bawah tangga.
Mata Aga melotot, dia berjalan tergesa-gesa ke arah foto itu, dia ingin menurunkan foto istrinya dari sana.
"Hey hey hey! Pak Letnan, anda hanya di izinkan menggeledah bukan merusak!"
Dewa mencoba menghalangi Aga yang ingin menurunkan foto itu.
"Punya hak apa kamu memasang foto istriku di sini?" Kesal Aga.
Dewa hanya tersenyum kecil, dia menyukai Arin sejak dulu, makanya dia memajang foto ini di sini. Tapi Aga, meski dia suaminya, tidak ada satupun foto Arin di rumahnya, bahkan foto pernikahan mereka juga tidak di pasang. Mungkin bahkan foto itu tidak ada. Dewa sudah pernah melihat rumah Bu Tina, di sana memang tidak ada foto pernikahan Arin dan Aga.
"Aku menyukainya, ini salah satu tanda kalau aku mencintai dia. Bukan seperti seseorang yang tidak mau memasang foto istrinya di rumah"
'Bug'
Pukulan keras mendarat di pipi Dewa, darah segar mengalir dari bibirnya saat Aga kembali meninjunya.
Amarah Aga kembali mendidih, dia kembali meraih kerah baju Dewa, Aga menatapnya begitu bengis.
Dia benci mendengar kata cinta dari mulut Dewa yang di tujukan untuk istrinya. Arin hanya miliknya, dia tidak akan pernah melepaskan Arin.
"Dia istriku!"
"Kepala kalau dia istri mu? Seseorang yang menikah bisa bercerai bukan?"
Aga ingin kembali meninju Dewa, namun kali ini Dewa menahannya.
"Kamu tahu pak letnan, sudah dua kali kamu memukulku, Aku juga bisa melaporkan kamu"
"Laporkan saja, Aku rela di penjara, bahkan rela mati untuknya, tapi aku tidak akan rela kamu mengucapkan kata itu lagi untuk istri ku!"
Keduanya saling menatap tajam, semua pembantu sampai ketakutan melihat adu mulut antara kedua lelaki itu.
Aga tetap ingin mengambil foto Arin, namun saat mengambil kursi dan naik, Dewa memukul kaki Aga hingga terjatuh. Foto itu miliknya, Dewa tidak akan memberikan foto itu pada siapapun.
Perkelahian pun tidak bisa di hindari, para pembantu menjerit ketakutan, mereka tidak pernah melihat perkelahian di rumah ini, salah satu dari mereka pun memanggil satpam agar bisa memisahkan kedua pemuda yang saling merebutkan satu bingkai foto di dinding.
"Pak masuk pak, ada yang berkelahi"
Dua satpam langsung masuk ke rumah, mereka mencoba memisahkan Aga dan Dewa.
Namun kedua satpam itu tidak cukup kuat memisahkan mereka.
"Beraninya kamu menyukai istriku!" Teriak Aga.
"Kau juga tega membuat hati orang yang ku cintai terluka!"
Kedua satpam dan para pembantu mulai bingung, Pak satpam sampai kena getahnya juga, mereka ikut kena pukulan dan lebam di tubuh mereka saat berusaha memisahkan mereka.
"Panggil satpam sebelah, bilang kita butuh bantuan" pinta salah satu satpam.
"Baik"
Asisten rumah tangga itu langsung ke berlari minta bantuan, salah satu dari mereka bahkan ada yang menelfon polisi.
Namun baru saja ingin melakukan panggilan, perkelahian kedua orang itu mendadak terhenti saat seseorang memanggil nama mereka.
"Aga? Dewa?"
Suara itu membuat keduanya menoleh, ternyata Ibunya Dewa yang datang.
"Kalian ngapain berantem?"
Baik Aga maupun Dewa langsung melepaskan tangan mereka begitu saja.
"Aga ma yang mulai berbuat ulah"
"Dewa duluan Tante"
Bu Emi menggeleng tak percaya, bagaimana bisa mereka berkelahi di usia mereka sekarang?
"Kalian tidak malu dengan jabatan kalian? Satu CEO, satunya lagi seorang Letnan. Kalian sudah dewasa, kenapa bertingkah seperti anak ABG yang baru masuk SMA?"
Geram Bu Emi, Bu Emi langsung menanyakan pada Asisten rumah tangga di sana, kenapa mereka sampai bertengkar hebat.
Bu Emi makin tak habis pikir saat mengetahui alasannya.
"Jadi hanya karena sebuah foto mereka bertengkar?"
Bu Emi kembali geleng-geleng kepala. Apa spesial nya foto yang dia potret, hingga dua lelaki berpengaruh ini sampai berkelahi.
Buruan Ga segera kejar si Arin smg blm sempat terbang pesawatnya
kl kabur beneran pasti kluar kota Naik bus ganti kapal pesiar pasti gk Ada yg nemuin. ntah Arin itu goblok apa tolol jd wanita. pdhl dah dewasa dah pernh kawin tp ttp oon.
niat kabur Dr awal pergi jauh ganti nmr jng hub orang rumah lagi. kemarin mncing hub mertua oalah alah. cewek plin plan.
terus aja Rin keraskan hatimu buat dirimu sama ky si Aga yg suka menyimpan dendam jd kamu ga ada bedanya sama si Aga kan
heran koq bisa si Dewa tau2 nongol bawa bunga bawa cincin, ntar pas mereka lg pandang2 an ato pegangan tangan si Aga nongol tuh, lanjut lg salah pahamnya gitu aja terus ga kelar2