"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Mata-Mata Amatiran
Gua emang Sagitarius, dan secara astrologi (yang menurut Dedik adalah ilmu pseudosains nggak logis), gua harusnya berjiwa petualang.
Tapi petualangan gua kali ini bener-bener konyol, gua lagi jongkok di balik pohon palem depan gerbang kampus, pake kacamata hitam gede dan topi rimba milik bapak kost gua.
"Rey, lo ngapain sih? Kayak maling jemuran tau nggak," suara Arlan kedengeran dari sebelah gua. Dia juga ikutan jongkok sambil makan cilok.
"Diem lo, Lan! Itu motor Dedik udah mau keluar. Gue harus tau dia beneran ke rumah Clarissa atau cuma modus doang," bisik gua sambil benerin kacamata yang melorot karena keringet.
"Logikanya pake gaya Dedik nih, lo itu kurang kerjaan. Mending lo samperin, tarik kerahnya, terus bilang: 'Heh Robot! Mau ke mana lo?!' gitu aja repot," Arlan nyengir sambil nawarin ciloknya ke gua.
"Gak bisa! Gue harus elegan. Gue mau liat dulu, seberapa jauh dia bisa 'setia' sama sistem yang udah kita bangun," jawab gua sok bijak.
Gak lama, motor bebek butut Dedik lewat. Penampilan dia rapi banget, Bro! Kemeja flanelnya disetrika licin sampe laler aja mungkin terpeleset kalau nemplok di situ.
Dia bawa map gede, yang gua asumsikan adalah berkas riset, tapi siapa yang tau kalau di dalemnya ada surat cinta buat mamanya Clarissa?
"Tuh! Tuh! Dia jalan! Ayo Lan, ikutin pake motor lo!"
"Tarif ojek gue mahal ya, Rey. Dibayar pake paket data sebulan," canda Arlan, tapi dia tetep nyalain motor matic-nya.
Kita pun ngebuntutin Dedik dengan jarak aman (sekitar lima angkot di belakangnya). Dedik bawa motornya lempeng banget, nggak pake nengok kanan-kiri.
Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah rumah mewah yang pagarnya lebih tinggi dari harapan gua buat dapet nilai A di mata kuliah Akuntansi Biaya.
Dari balik pager, Clarissa keluar. Dia cuma pake baju santai kaos putih polos dan celana pendek, tapi kenapa dia tetep kelihatan kayak model iklan sampo? Dia dadah-dadah ke Dedik dengan senyum yang lebarnya minta ampun.
"Wah, parah sih. Senyumnya Clarissa lebih stabil daripada koneksi wifi kampus," celetuk Arlan yang bikin hati gua makin panas.
Gua liat Dedik turun dari motor, buka helm, terus... eh? Dia malah sibuk ngeluarin penggaris bangunan dari tasnya?
"Lan, liat deh. Dia ngapain?" gua ngerutin dahi.
Dedik nggak masuk ke rumah. Dia malah jongkok di depan pager Clarissa, terus mulai ngukur-ngukur lebar celah pager itu pake penggaris. Clarissa kelihatan bingung, sama bingungnya kayak gua.
"Logikanya, Cla," suara Dedik kedengeran sampe seberang jalan karena saking heningnya komplek itu, "Pager lo ini punya koefisien gesek yang tinggi banget."
"Makanya tiap lo buka, bunyinya frekuensi tinggi yang bisa ngerusak gendang telinga dalam radius lima meter. Gua ke sini mau benerin engselnya dulu sebelum kita bahas paten."
Gua sama Arlan melongo.
"Dia... dia ke rumah mantan cuma buat benerin pager?" Arlan ngakak sampe keselek cilok. "Sumpah, dia emang spesimen langka, Rey!"
Clarissa di sana juga kelihatan speechless. "Ded, aku nyuruh kamu ke sini buat makan siang bareng Mama, bukan buat jadi tukang bengkel pager!"
"Makan siang itu variabel kedua, Cla. Keamanan dan kenyamanan akustik lingkungan itu prioritas utama. Mana minyak pelumasnya?" jawab Dedik lempeng sambil benerin kacamatanya yang melorot.
Gua yang tadinya mau marah, mendadak pengen guling-guling di aspal sambil ketawa. Cowok gua emang bener-bener nggak punya romantis-romantisnya kalau urusan teknis sudah memanggil.
"Lan, ayo cabut. Gue udah tenang," kata gua sambil nahan tawa.
"Loh, nggak jadi labrak?"
"Ngapain? Musuh terbesar Clarissa itu bukan gue, tapi isi kepala Dedik yang cuma isinya koding sama baut. Biarin aja dia pusing ngadepin cowok yang lebih milih benerin pager daripada muji baju barunya."
Tapi pas kita mau balik badan, tiba-tiba HP gua bunyi kenceng banget. Nada deringnya suara Dedik yang gua rekam pas dia lagi bersin, sangat memalukan.
Dedik langsung nengok ke arah pohon tempat kita sembunyi. Dia ngecilin matanya, benerin kacamatanya, terus jalan nyamperin kita dengan penggaris masih di tangan.
"Reyna? Arlan?" Dedik berdiri di depan kita yang lagi jongkok di balik pohon. "Secara probabilitas, kemungkinan kalian ada di sini buat olahraga pagi itu nol persen. Jadi, ngapain?"
Gua berdiri, nyoba tetep kelihatan keren meskipun pake topi rimba bapak kost. "Eh... ini... itu... Arlan katanya mau beli cilok di komplek ini, Ded! Iya kan, Lan?"
"Hah? Gue..." Arlan mau protes tapi gua injek kakinya kenceng. "Eh iya! Cilok di sini... anu... gurih banget, Ded! Pake micin organik!"
Dedik ngeliatin kita berdua, terus ngeliatin kacamata hitam gede gua. "Topi itu... secara aerodinamis bakal bikin lo pusing kalau kena angin kencang, Rey."
"Dan kacamata itu fungsinya buat pelindung UV, bukan buat main detektif-detektifan gagal."
Dia ngehela napas, terus narik tangan gua pelan. "Ayo masuk. Mamanya Clarissa masak rendang. Kalau lo ikut makan, porsi makan gua jadi berkurang dan gua nggak bakal kekenyangan pas bahas paten nanti."
"Lo adalah variabel pengalih perhatian yang paling efektif."
Gua melongo. Clarissa yang liat gua dari kejauhan mukanya langsung ditekuk seribu.
"Jadi gua cuma buat pengalih perhatian?" tanya gua, antara seneng karena diajak masuk tapi kesel karena bahasanya.
"Bukan cuma itu," bisik Dedik pas kita jalan masuk ke rumah Clarissa. "Gua nggak fokus kerja kalau nggak liat 'jitter' di muka lo secara langsung."
Gua langsung mukul bahunya pelan. "Gombal lo, Robot!"
Hari Sabtu yang harusnya jadi drama air mata, malah jadi drama makan rendang bareng mantan yang mukanya asem banget.
Sementara Dedik sibuk jelasin ke Mamanya Clarissa kenapa kompor di dapur mereka kurang efisien secara termodinamika.
***
Makan siang jadi ajang pamer "kedekatan" Clarissa vs "kepemilikan" Reyna. Di tengah obrolan, Mama Clarissa tiba-tiba nanya:
"Dedik, kamu masih simpen kan foto kalian berdua pas di Singapura?" Suasana mendadak kaku. Reyna langsung pasang radar waspada. Apa isi foto itu sebenarnya?