Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Embun Pagi di Paviliun Merah
Cahaya matahari yang menyelinap di balik tirai sutra tipis membangunkan dewa yang terjatuh itu dari tidur panjang yang kelam. Aroma kayu cendana yang menenangkan memenuhi ruangan, bercampur samar dengan wangi bunga dari taman yang tak terlihat di luar jendela. Namun, rasa sakit yang menusuk tajam di pangkal tengkoraknya membuat ia refleks mengerang, tangannya bergerak cepat mencengkeram sisi ranjang.
Ia melirik ke sekeliling dengan waspada—naluri bertahan hidup yang tertanam jauh di dalam jiwanya langsung aktif, bahkan sebelum kesadarannya sepenuhnya pulih. Tubuhnya terbaring di atas ranjang giok hijau pucat di dalam sebuah paviliun megah yang terawat. Ukiran naga emas meliuk di pilar-pilar kayu hitam yang menopang langit-langit tinggi, memancarkan kemewahan yang terasa sangat asing bagi matanya yang masih buram. Ini bukan tempat yang ia kenal. Bukan tempat yang seharusnya ia kenal.
Di mana ini?
Sebelum ia sempat bangkit, pintu geser kayu berderit terbuka dengan gerakan ringan. Seorang gadis dengan rambut dikuncir dua, mengenakan gaun berwarna kuning dan merah cerah yang kontras namun serasi, melangkah masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat. Wajahnya bulat dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apa pun—alis tebalnya terangkat tinggi begitu melihat sepasang mata pemuda itu terbuka.
"Hah? Kau akhirnya bangun juga!" serunya, hampir menjatuhkan nampannya sendiri karena terkejut.
Di belakangnya, melangkah seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang menjuntai hingga ke pinggang, diikat longgar dengan tali berwarna biru tua. Langkah kaki pria tua itu hampir tidak terdengar sama sekali meski ubin giok di lantai paviliun ini tipis dan mudah bergema—sebuah pertanda kemahiran yang mendalam. Namun yang lebih mengintimidasi adalah udara di sekitar pria tua itu. Udara yang terasa lebih berat, lebih padat, lebih penuh dengan sesuatu yang tak kasat mata namun sangat nyata bagi siapa pun yang peka. Aura seorang Master Tingkat 6—puncak tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang makhluk fana di dunia sekuler ini.
"Anak muda, kau sudah sadar dari tidur panjangmu?" tanya si pria tua. Suaranya berat dan dalam, mengandung getaran tenaga dalam yang samar namun cukup untuk membuat udara di sekitar mulutnya bergetar tipis.
Gadis itu mendekat lebih cepat dari kakeknya, matanya yang jernih seperti air pegunungan menatap pemuda di ranjang dengan rasa ingin tahu yang tidak ia sembunyikan sama sekali. "Kau sudah hampir tiga hari tidak sadarkan diri! Kami sempat mengira jiwamu sudah tersesat di jalan menuju alam baka." Ia meletakkan nampan di meja samping ranjang, lalu menaruh kedua tangannya di pinggang. "Badanmu waktu kami temukan dinginnya seperti es di musim salju, tapi kau masih bernapas. Sungguh aneh."
Pemuda itu memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Tatapannya kosong, menyipit mencoba fokus pada kedua sosok di depannya. "Kalian... siapa? Dan... di mana ini?"
Pria tua itu terkekeh pelan—sebuah tawa yang terdengar seperti guntur yang sengaja diredam agar tidak merobohkan dinding. "Ahahaha! Aku adalah Jin Taixu, Leluhur dari Kerajaan Tianwu. Anggap saja kau sedang berada di kediaman seorang kawan yang kebetulan menemukanmu terkapar."
"Aku Jin Yuexin," si gadis menyela dengan nada bersemangat tanpa sungkan, menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Maafkan kakekku. Dia memang suka berbicara sesuka hatinya kepada orang asing, bahkan kepada orang asing yang baru saja sadar dari kondisi sekarat."
Jin Taixu tidak mengindahkan sindiran cucunya. Matanya yang dalam dan tenang kembali menatap pemuda itu, kali ini menyipit tajam dengan cara seorang rubah tua menilai sesuatu yang menarik perhatiannya. "Lalu, siapa namamu, anak muda? Luka di tubuhmu sangat tidak lazim saat cucuku menemukanmu terkapar di lereng Hutan Terlarang. Di sakumu, kami menemukan ini."
Sang Leluhur mengulurkan tangannya. Di telapaknya, tergeletak sebuah kepingan kecil yang berkilau—serpihan giok emas yang masih memancarkan kilau redup berwarna keemasan, sama persis dengan pecahan kepompong yang melindungi tubuhnya selama lima puluh ribu tahun.
Dada pemuda itu berdenyut tiba-tiba saat matanya menyentuh benda itu. Sebuah sensasi yang ia tidak bisa jelaskan—bukan ingatan, bukan pula mimpi—namun terasa seperti suara yang memanggil dari balik pintu yang terkunci rapat.
"Aku tidak tahu dari mana benda itu berasal," ucap pemuda itu akhirnya, jujur sepenuhnya.
Jin Taixu menyimpan kembali kepingan itu tanpa komentar, namun matanya tidak melepaskan pandangannya dari wajah pemuda itu.
Pemuda itu tertegun. Pertanyaan sederhana "siapa namamu" menghantam kesadarannya seperti gada besi yang diayunkan ke cermin. Ia mencoba menggali ke dalam jiwanya sendiri, mencari sepotong nama, sebuah wajah, atau setidaknya satu kenangan yang utuh. Namun, yang ia temukan hanyalah kegelapan pekat yang dingin—lautan hitam tanpa dasar, tanpa tepi, tanpa cahaya.
Siapa aku?
Setiap kali ia memaksa pikirannya menembus kabut hitam itu, kepalanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum yang dibakar. Rasa sakitnya begitu intens hingga tanpa sadar ia mengerang keras, mencengkeram kepalanya erat-erat sementara urat-urat di leher dan pelipisnya menegang merah tua.
"Kakek, ada apa dengannya?!" seru Jin Yuexin, melangkah mundur setapak karena terkejut melihat perubahan mendadak pemuda itu.
Wajah Jin Taixu berubah serius seketika. Tanpa membuang waktu, sang Leluhur melesat maju dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan usianya dan menempelkan telapak tangannya yang hangat dan kering ke punggung pemuda itu. Energi Yang yang bersih dan teratur langsung mengalir, seperti cahaya yang dipaksa masuk ke dalam ruangan yang telah lama gelap. "Aliran Qi di meridianmu kacau, dan jiwamu menolak ingatannya sendiri. Diam dan tenangkan napasmu!"
Namun, di dalam tubuh pemuda itu, sang Leluhur menemukan sesuatu yang membuat bahunya menegang tanpa disadari. Energi Yin yang luar biasa pekat dan dingin menjalar menembus setiap meridian tubuh pemuda ini, merayap seperti akar pohon yang telah tumbuh selama ribuan tahun. Gelombang dinginnya bahkan mampu menembus perlindungan Qi sang Leluhur sendiri, menggigit telapak tangannya dengan sengatan yang mengejutkan.
Jika manusia biasa memiliki energi Yin sedahsyat ini tanpa penyeimbang Yang, jiwa mereka akan langsung hancur dalam hitungan jam—atau lebih buruk, berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi manusiawi. Namun tubuh pemuda ini telah menahannya selama berhari-hari, dengan harga yang dibayar melalui hilangnya seluruh ingatan sebagai barter agar jiwa ini bisa tetap utuh.
Jin Taixu segera menggerakkan jemarinya membentuk formasi tangan yang cepat dan presisi, mengalirkan energi Yang murni yang hangat untuk meredam gejolak dingin yang memberontak. "Anak muda, tenangkan jiwamu. Kosongkan pikiranmu. Jangan dipaksa."
Energi hangat itu mengalir perlahan namun stabil, seperti tangan yang menuntun seseorang keluar dari dalam badai. Napas pemuda itu yang tadinya memburu dan tidak teratur kini perlahan-lahan merata. Rasa sakit di kepalanya surut bertahap, menyisakan kekosongan yang hampa dan sunyi di dadanya.
Keheningan menggantung di dalam paviliun itu untuk beberapa saat.
"Jika kau tidak bisa mengingat namamu," ucap Jin Taixu akhirnya, memecah keheningan sambil menarik kembali tangannya, "maka mulai hari ini, aku akan memanggilmu Yu Fan."
Jin Yuexin terbelalak, menatap kakeknya. "Yu Fan? Kakek memberikan nama itu padanya begitu saja?"
Sang Leluhur tersenyum tipis—senyum pertama yang muncul di wajahnya sejak ia masuk ke paviliun ini. "Meskipun badai mengamuk di dalam kepalanya, wajah dan fisiknya tetap menunjukkan ketenangan seorang kultivator yang kokoh. Yu Fan adalah kiasan bagi Ketenangan di Balik Badai. Sepertinya nama itu cocok untuk menyeimbangkan takdir yang kacau ini."
Pemuda itu—kini Yu Fan—menarik napas panjang yang terasa seperti napas pertamanya yang benar-benar sadar. Ia turun dari ranjang giok dengan sisa-sisa lemas yang belum sepenuhnya pergi, lalu menyatukan kedua tangan di depan dada dan membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih, Leluhur Jin Taixu. Yu Fan menghargai budi baik Anda yang telah menyelamatkan nyawa yang tak beridentitas ini."
"Jangan hanya berterima kasih padaku," ucap Jin Taixu, berbalik dengan langkah-langkah tenangnya yang hampir tak bersuara. "Berterima kasihlah pada cucuku. Dialah yang bersikeras memintaku masuk ke hutan itu untuk mengambilmu, meski sudah aku larang." Namun, di sudut matanya yang tidak terlihat oleh siapa pun, sebuah kilatan kalkulatif melintas—dingin dan terukur, berbeda jauh dari tawanya yang hangat.
Sebagai seorang rubah tua yang telah memimpin kerajaan selama puluhan tahun, Jin Taixu tahu dengan pasti bahwa pemuda di depannya ini bukanlah orang fana biasa. Tidak ada manusia fana yang bisa menyimpan energi Yin sebesar itu tanpa hancur lebur. Tidak ada. Dan kepingan giok emas yang ditemukan di saku jubahnya itu—Jin Taixu sudah pernah membaca tentang benda serupa dalam catatan kuno perpustakaan tersembunyi milik kerajaan. Catatan yang sangat tua. Catatan yang seharusnya hanya menjadi dongeng.
"Yu Fan," suara sang Leluhur berhenti di ambang pintu, punggungnya menghadap ke dalam ruangan. "Aku tidak akan meminta bayaran atas obat-obatan kerajaan yang telah kau habiskan. Namun, Kerajaan Tianwu tidak memelihara orang yang tidak berguna. Besok pagi, temui aku di aula latihan. Jika kau ingin tinggal di sini dengan aman, kau harus membuktikan nilaimu pada kerajaan ini."
Yu Fan menatap punggung tua itu. Kehilangan ingatan membuat pilihan di hadapannya sangat sederhana—tidak ada tempat lain yang bisa ia tuju, tidak ada nama yang bisa ia sebut, tidak ada satu pun benang yang bisa ia tarik untuk kembali ke siapa dirinya sebenarnya. Paviliun ini, untuk saat ini, adalah satu-satunya pijakan yang ia miliki di dunia yang sama sekali asing. "Baik, Leluhur. Saya mengerti."
Waktu berlalu seperti aliran sungai di musim semi—tidak berhenti untuk menunggu siapa pun.
Dalam satu purnama, Yu Fan menjalani transformasi yang menyiksa di bawah pengawasan keras Jin Taixu. Setiap fajar, saat embun masih menempel di dedaunan dan udara masih menggigit, ia sudah berdiri di aula latihan dengan pedang kayu di tangan. Sang Leluhur memaksanya mengayunkan tiga ratus gerakan dasar pedang sebelum sarapan, hingga telapak tangannya melepuh dan berdarah, mengotori gagang pedang dengan warna merah. Setiap malam, ia harus duduk dalam meditasi berjam-jam, menyelam ke dalam energi Yin yang bergejolak di dalam tubuhnya dan belajar untuk tidak melawan, melainkan menuntun—seperti menggiring api liar agar mau mengalir melalui kanal yang sempit.
Di awal pelatihan, Yu Fan tidak lebih dari sasaran empuk yang berdiri. Jin Taixu menjadikannya mitra tanding bagi Li Feng—murid paling berbakat di aula latihan, seorang pemuda bertubuh tegap dengan rambut ikat merah yang telah mencapai puncak Master Tingkat 1 di usianya yang baru dua puluh tahun. Li Feng menyambut tugas ini dengan senyum tipis yang mengandung keangkuhan yang tidak ia sembunyikan.
Dalam duel-duel awal, Yu Fan adalah pecundang sejati. Tubuhnya biru lebam dihantam teknik pedang Li Feng yang mengalir secepat kilat. Namun ada satu hal yang membuat Jin Taixu tidak mengalihkan pandangannya dari pemuda ini meski sudah melihat ratusan murid dalam hidupnya: Yu Fan tidak pernah mengeluh. Tidak satu kata pun. Setiap kali ia jatuh, matanya justru semakin tajam—bukan dengan kemarahan, melainkan dengan sesuatu yang lebih dingin dan lebih dalam. Ia tidak hanya menerima pukulan, ia menyerapnya. Pikirannya merekam setiap lekuk gerakan pedang lawan, menganalisis celah, memahami bagaimana Qi mengalir dan memudar di udara setelah setiap serangan.
Hingga suatu hari, tepat satu bulan setelah hari kebangkitannya.
Suasana di aula latihan mendadak sunyi senyap—bahkan murid-murid yang sedang berlatih di sudut-sudut ruangan menghentikan gerakan mereka secara bersamaan, seolah naluri mereka masing-masing menangkap sesuatu yang berubah di udara.
Yu Fan berdiri di tengah arena dengan pedang kayunya. Namun kali ini, dari bawah telapak kakinya, hawa dingin yang tipis dan pekat menyebar secara perlahan ke lantai ubin, membentuk lapisan es yang sangat halus yang merayap ke segala arah seperti akar yang tak kasat mata. Para murid yang berdiri paling dekat mundur setengah langkah tanpa sadar.
Dalam satu bulan, dari seseorang yang tidak memiliki dasar kultivasi dunia fana sama sekali, Yu Fan telah menembus ke Master Tingkat 2. Pencapaian yang, bahkan bagi murid paling berbakat di sekte-sekte besar sekalipun, biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Wajah Li Feng menggelap. Harga dirinya terasa diinjak oleh seseorang yang sebulan lalu bahkan tidak tahu cara memegang pedang dengan benar. "Kau beruntung bisa naik tingkat secepat ini, Yu Fan. Tapi di hadapan pengalaman bertempur yang sesungguhnya, tingkat kultivasi barumu tidak ada artinya!"
Li Feng menerjang maju. Pedang kayunya membelah udara dengan suara siulan tajam yang mengarah tepat ke pelipis Yu Fan—serangan yang secara teknis hampir sempurna.
Di mata para murid lain, gerakan itu hampir tidak terlihat. Namun di mata Yu Fan, gerakan itu terasa seperti seseorang yang bergerak di dalam air—setiap lekuk pergelangan tangan Li Feng, setiap perpindahan berat badannya, terbaca jelas seolah dituliskan di udara sebelum gerakan itu sendiri terjadi. Tubuhnya, secara insting yang tidak ia mengerti asalnya dari mana, sudah terbiasa melihat serangan yang jauh lebih mematikan dari ini.
Yu Fan tidak mundur. Ia hanya bergeser setengah langkah ke samping, membiarkan ujung pedang Li Feng melewati ruang kosong di sisi kepalanya sejauh satu helai rambut. Kemudian, tanpa riak emosi di wajahnya, ia memutar pergelangan tangannya dengan gerakan yang sangat ekonomis.
TAK!
Pedang kayu Yu Fan memukul tepat pada titik lemah di sendi pergelangan tangan Li Feng, memanfaatkan momentum serangan lawan untuk memperbesar tenaga benturan. Cengkeraman Li Feng terlepas seketika. Dan sebelum pedang itu sempat jatuh ke lantai, ujung pedang kayu Yu Fan sudah berhenti tepat satu sentimeter di depan jakun Li Feng—tidak bergetar, tidak buru-buru, hanya berhenti dengan presisi yang dingin.
Aula itu sunyi seperti kuburan.
Li Feng membeku. Keringat dingin mengucur dari dahinya saat merasakan aura dingin yang merembes pelan dari ujung pedang kayu yang berhenti tepat di depan tenggorokannya. Ini bukan keberuntungan. Ini bukan teknik yang dipelajari dalam satu bulan. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih dalam—ingatan otot yang tertanam selama waktu yang jauh melampaui satu bulan.
Dari lantai atas aula, Jin Taixu yang duduk di kursi gioknya berdiri tanpa disadarinya sendiri. Matanya yang tenang kini berbinar dengan sesuatu yang jarang muncul di wajah sang Leluhur—kekaguman yang murni. Tawa menggelegar kembali memenuhi ruangan. "Luar biasa! Harimau yang terluka telah menumbuhkan taringnya kembali!"
Malam itu, bulan sabit menggantung indah di langit yang bersih dari awan, dikelilingi ribuan bintang yang terlihat lebih dekat dari biasanya. Yu Fan duduk bermeditasi di atas atap paviliun, membiarkan angin malam yang dingin membelai jubah hitamnya yang baru.
Sret.
Sebuah langkah kaki seringan bulu mendarat tepat di sampingnya. Jin Yuexin, mengenakan jubah kuning hangatnya, melompat naik ke atap dengan teknik meringankan tubuh yang rapi, membawa kotak bekal kecil yang mengeluarkan aroma harum kue bunga osmanthus.
"Aku pikir kau akan menolak makanan lagi malam ini," ucap Yuexin, duduk di sampingnya tanpa menunggu undangan. Ia membuka kotak bekal itu dan mengambil satu kue, lalu menatap hamparan lampu kota Kerajaan Tianwu yang berkelip di bawah mereka seperti bintang-bintang yang jatuh.
"Dunia luar tidak sesederhana wilayah kerajaan kita, Yu Fan," ucapnya pelan, nadanya berubah dari santai menjadi sesuatu yang lebih serius. "Benua ini sangat luas. Ada tujuh kerajaan besar yang saling mengunci kekuatan dalam keseimbangan yang rapuh—dan di atas kerajaan-kerajaan itu, ada para praktisi sekte yang memegang kendali sejati atas nasib semua orang, meski tidak ada yang mau mengakuinya."
Yu Fan mendengarkan dalam diam, matanya tetap tertuju pada kegelapan malam di luar tembok kota.
"Ada tujuh sekte utama yang paling disegani di bawah langit ini," lanjut Yuexin. "Sekte Pedang Ilahi—tempat aku belajar sebelum kembali ke sini. Sekte Buddha yang mengasingkan diri di pegunungan utara. Sekte Pedang Iblis yang haus darah dan tidak bisa disebut dalam jarak dekat dengan anak kecil. Sekte Penggoda yang misterius dan tidak pernah bisa dipercaya. Sekte Pencuri yang licin dan selalu berada di tempat yang tidak seharusnya mereka berada." Yuexin menjeda, mengetuk dagunya. "Dan... Sekte Teratai Putih yang konon diisi oleh orang-orang paling suci dan saleh di dunia ini."
Deg.
Begitu nama itu keluar dari bibir Yuexin, dada Yu Fan mendadak berdenyut dengan cara yang berbeda dari sakit kepala biasanya. Sebuah rasa panas yang asing membakar pembuluh darahnya selama sepersekian detik—bukan menyakitkan, melainkan mengingatkan. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang mengenali nama itu jauh lebih dalam dari yang diizinkan oleh ingatannya yang kosong. Kilasan samar melintas—hamparan putih yang sangat luas, dan setetes merah di atas kelopak bunga yang bersih.
Namun kilasan itu hilang secepat kemunculannya, menyisakan rasa sesak di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan.
Yu Fan mengepalkan tangannya di atas lutut secara perlahan, mencoba menahan gejolak itu agar tidak terlihat dari luar. "Dunia ini... ternyata sangat luas," gumamnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
"Sangat luas," jawab Yuexin lembut. Untuk sesaat, ia menatap profil samping wajah Yu Fan yang diterangi cahaya bulan—wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang tidak memiliki ingatan apa pun, seolah ketenangan itu bukan sesuatu yang dipelajari, melainkan sesuatu yang telah lama dimiliki. "Dan entah mengapa, aku merasa namamu suatu saat nanti akan bergema di setiap sudut benua ini."
Yu Fan tidak menjawab. Matanya kembali menatap bulan sabit di atas langit malam Kerajaan Tianwu.
Di dalam hatinya yang hampa tanpa ingatan, sebuah riak tekad yang tipis namun keras seperti baja mulai terbentuk. Ia tahu ia berutang budi pada kerajaan ini, dan ia akan membayarnya. Namun ia juga tahu—dengan keyakinan yang tidak ia mengerti dari mana datangnya—bahwa tempat ini hanyalah awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang. Sebuah kebenaran tentang dirinya terkubur di suatu tempat di luar sana, di balik nama-nama sekte yang disebutkan Yuexin malam ini.
Dan rasa sesak di dadanya setiap kali nama Teratai Putih itu terdengar—rasa sesak itu bukanlah sekadar gejala luka lama. Itu adalah sebuah petunjuk. Petunjuk pertama yang belum ia mengerti cara membacanya.
Ia hanya belum siap. Belum.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak membuka matanya di dunia yang asing ini, Yu Fan bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di sebuah altar putih yang sangat tinggi, di bawah langit yang kelabu. Dan di hadapannya, seorang wanita berpakaian putih berdiri memunggunginya—tidak bergerak, tidak berpaling, namun kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat udara di dalam mimpi itu terasa seperti es yang menghimpit paru-paru.
Yu Fan ingin memanggil namanya.
Namun sebelum suara itu keluar dari tenggorokannya, ia terbangun—dan di telapak tangannya yang mengepal, sebuah kehangatan kecil berdenyut lemah. Ia membuka tangannya perlahan di bawah cahaya bulan.
Kepingan giok emas milik sang Leluhur itu—entah kapan berpindah ke tangannya—kini memancarkan kilau yang sedikit lebih terang dari sebelumnya, berdetak sangat lemah seperti jantung yang baru saja diingatkan untuk berdetak kembali.
Dan di permukaannya yang halus, terukir samar sebuah aksara kuno yang tidak ada di dunia fana mana pun.
Aksara yang berbunyi: Penghancur.