“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Mantan Naura
Acara seminar dakwah berakhir pukul sepuluh malam.
Aula hotel perlahan kosong, para tamu mulai berpulang dengan wajah puas dan saku penuh kartu nama yang baru ditukar. Naura berdiri di samping Azzam di lobbi hotel, menyaksikan suaminya berpapasan dengan satu per satu tamu yang ingin berjabat tangan dan berfoto dengannya.
Ia tidak mengeluh. Ia berdiri tegak, tersenyum sopan, dan sesekali mengangguk saat diperkenalkan sebagai istri Gus Azzam. Perannya malam ini adalah sebagai pendamping, dan ia menjalankannya dengan baik, meski kakinya sudah pegal oleh heels dan wajahnya sudah kaku oleh senyum yang dipertahankan selama berjam-jam.
"Maaf membuatmu menunggu," bisik Azzam saat tamu terakhir pergi. Ia meraih tangan Naura, menggenggamnya hangat. "Kamu lelah?"
"Sedikit," akui Naura, menopang dagu dengan tangan bebasnya. "Tapi aku bangga. Ceramahmu tadi luar biasa, Azzam. Benar-benar luar biasa."
Azzam tersenyum. "Kamu tahu kenapa ceramah itu terasa begitu mudah?"
"Kenapa?"
"Karena kamu ada di sana." Azzam menatap Naura dengan mata yang membuat udara di sekeliling mereka terasa lebih hangat. "Melihatmu, menatapku... itu memberiku kekuatan yang tidak bisa kujelaskan."
Naura memerah, menunduk menyembunyikan wajahnya. "Dasar ustaz muluk."
Azzam tertawa pelan, lalu menarik tangan Naura berjalan menuju pintu keluar. "Ayo pulah. Ibu Jamilah pasti sudah menyiapkan..."
"Gus Azzam! Permisi, Gus!"
Suara itu menyela percakapan mereka. Azzam berhenti, menoleh, dan mendapati seorang pria muda berjaket kulit berjalan cepat mendekat. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, celana slacks abu-abu, dan sepatu loafers cokelat yang mahal. Rambutnya disisir ke belakang dengan gel, wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, dan senyumnya... senyumnya adalah senyum seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Naura mengenal senyum itu. Ia mengenalnya sangat baik. Jantungnya berhenti berdetak.
Arkan.
Arkan Pratama. Mantannya. Satu-satunya pria yang pernah membuatnya menangis karena patah hati, dua tahun lalu.
"Naura?" suara Azzam membawa Naura kembali ke realitas. Suaminya menatapnya dengan kerutan di dahi, menyadari perubahan drastis pada ekspresi istrinya. "Kamu kenal dia?"
Naura membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya terkunci pada Arkan yang kini berdiri di depan mereka, dengan senyum yang semakin lebar dan mata yang menyapu Naura dari atas ke bawah dengan cara yang membuat perut Naura berbalik, bukan karena terpesona, tapi karena rasa muak yang tiba-tiba muncul.
"Gus Azzam, maaf mengganggu," Arkan mengulurkan tangannya pada Azzam, nada suaranya percaya diri, hampir arogan. "Arkan Pratama, dari Pratama Group. Kami adalah salah satu sponsor acara malam ini. Ceramah Gus sangat memukau. Sungguh luar biasa."
Azzam menatap tangan Arkan sejenak, lalu menerimanya dengan jabatan yang singkat dan tegas. Jari-jarinya menggenggam tangan Arkan dengan kekuatan yang tidak tersembunyi, sebuah pesan diam bahwa ia tahu sesuatu yang tidak disukainya sedang terjadi.
"Terima kasih, Pak Arkan," jawab Azzam, nadanya sopan namun dingin. Dinginnya bukan seperti es biasa, ni adalah dingin yang tajam, seperti mata pisau yang baru saja diasah.
Arkan menoleh pada Naura, dan senyumnya semakin melebar. "Dan Naura... wow. Lo terlihat... berbeda sekali. Sangat cantik. Gue hampir tidak mengenali."
Naura menelan ludah, memaksa dirinya untuk tenang. "Arkan."
"Itu aja?" Arkan tertawa, seolah mereka adalah teman lama yang sedang bersilaturahmi. "Kita tidak bertemu dua tahun dan itu saja yang lo katakan ke gue?"
Azzam mengeras. Bukan hanya rahangnya, seluruh tubuhnya mengeras, seperti singa yang baru saja mencium bau ancaman di wilayah kekuasaannya. Tangannya yang memegang tangan Naura mengencang, menarik istrinya sedikit lebih dekat ke sisinya.
"Lo kenal SUAMI gue?" tanya Naura, suaranya lebih teguh dari yang ia rasakan. "Arkan, ini Gus Azzam Al-Farizi. Suamiku."
Arkan menatap Azzam dengan mata yang menyipit, seolah sedang mengukur sesuatu, lalu tersenyum. "Oh, gue tau kok. Dan gue juga tau bahwa pernikahan kalian... perjodohan, bukan? Klasik banget. Bisnis dan pesantren."
Udara di lobbi tiba-tiba terasa sangat dingin.
"Apa maksud anda?" suara Azzam turun beberapa oktaf, menjadi begitu rendah dan berat sehingga Arkan secara tidak sadar mengambil setengah langkah mundur.
"Maksudku sederhana, Gus," Arkan mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah, tapi senyumnya tidak hilang. "Aku hanya ingin bilang pada Naura bahwa aku kagum dengannya. Dulu dia adalah gadis yang paling bebas yang pernah aku kenal. Dan sekarang... sekarang dia berdiri di sini, berdandan seperti ini, di samping seorang Gus. Perubahan yang luar biasa. Aku hampir tidak percaya."
Setiap kata yang keluar dari mulut Arkan terasa seperti jarum yang ditusukkan ke kulit Naura. Bukan karena ia masih memiliki perasaan pada pria itu, Tuhan, tidak... tapi karena Arkan menyiratkan sesuatu yang lebih menyakitkan. bahwa perubahan Naura adalah sebuah sandiwara, bahwa ia tidak benar-benar berubah, bahwa ia hanya memakai topeng.
"Perubahan itu nyata," ucap Naura tegas, matanya menatap Arkan dengan amarah yang mulai mendidih. "Gue berubah bukan karena siapa-siapa. Gue berubah karena gue ingin menjadi lebih baik."
"Hahaha." Arkan tertawa lagi,tawa yang sama yang dulu membuat Naura merasa istimewa, tapi kini hanya membuatnya merasa muak. "Maaf, Naura. Gue nggak bermaksud menyinggung. Hanya... kangen. Kita dulu dekat banget, kan? Kita punya banyak kenangan indah."
'Kenangan indah.'
Kata-kata itu adalah provokasi. Dan Arkan tahu persis apa yang ia lakukan.
"Kenangan itu sudah berlalu, Arkan," Naura menarik napas, berusaha menjaga kesopanannya di tempat umum ini. "Gue sudah menikah. Dan gue—"
"Naura," suara Azzam memotong, tenang namun memiliki otoritas yang membuat kedua orang itu terdiam. Azzam melangkah maju, menempatkan dirinya tepat di antara Naura dan Arkan. Punggungnya menghadap Naura, dadanya menghadap Arkan, dan matanya, matanya yang hitam pekat, menatap pria itu dengan intensitas yang bisa membekukan air.
"Pak Arkan," ucap Azzam, setiap kata diucapkan dengan jelas dan lambat, seolah sedang memberikan peringatan terakhir. "Istriku sudah berkata bahwa kenangan itu sudah berlalu. Dan saya harap anda menghargai kata-katanya sama seperti anda menghargai diri anda sendiri."
Arkan menatap Azzam, dan untuk pertama kalinya, kepercayaan dirinya sedikit goyah. Ada sesuatu di mata Gus itu, sesuatu yang bukan sekadar kemarahan suami yang cemburu. Ini adalah kemarahan seorang pria yang sedang melindungi miliknya, dan yang tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mencoba merebutnya.
"Tentu, Gus," Arkan mengangguk, senyumnya akhirnya sedikit pudar. "Maaf jika aku menyinggung. Aku hanya ingin menyapa teman lama."
"Dan teman lama itu sudah menjawab," balas Azzam, tidak mengubah posisinya. "Selamat malam, Pak Arkan."
Ia menoleh ke Naura, meraih tangannya, lalu berjalan meninggalkan lobbi tanpa menoleh kembali. Langkahnya cepat, tegas, dan napasnya teratur, tapi Naura bisa merasakan telapak tangan Azzam yang berkeringat dan genggamannya yang sangat erat, seolah ia takut Naura akan diculik di belakangnya.
.
.
.
Perjalanan pulang di dalam mobil berlangsung dalam keheningan yang memekakkan.
Azzam mengemudi dengan konsentrasi penuh, kedua tangannya mencengkeram stir dengan kuat, rahangnya mengeras, dan matanya fokus pada jalan tanpa pernah menoleh ke arah Naura.
Naura duduk di kursi penumpang, memegang clutch bag-nya dengan kedua tangan, merasa seperti anak yang baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan. Ia tidak melakukan apa-apa salah, tidak mengundang Arkan, tidak memberikan harapan, ia bahkan sudah mengatakan pada Arkan bahwa kenangan itu sudah berlalu.
Tapi ia tahu, Azzam sedang marah. Atau mungkin bukan marah.
Beberapa kali Naura mencoba membuka mulut, tapi kata-katanya menguap sebelum sempat terucap. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak pernah melihat Azzam seperti ini,begitu tertutup, begitu tegang, begitu... rapuh.
Mobil berhenti di depan rumah mereka di pesantren. Azzam mematikan mesin, membuka pintunya, lalu berjalan menuju pintu samping rumah tanpa menunggu Naura.
Naura terduduk kaku di kursi penumpang, menatap punggung Azzam yang menjauh itu dengan perasaan yang hancur. "Ini dia," batinnya pahit. "Ini saatnya Azzam menyadari bahwa gue bukan istri yang layak untuknya. Gue punya masa lalu, punya mantan bagian yang tidak bisa ia terima."
Ia membuka pintu mobil, dan berjalan masuk ke rumah dengan langkah yang berat.
Azzam sudah berada di ruang tengah. Ia telah melepas jubah dan sorbannya, kini hanya mengenakan kaus dan celana hitam, berdiri di depan jendela dengan punggung menghadap Naura. Tangannya terlipat di dada, bahunya tegang
Naura berdiri di ambang pintu ruang tengah, menatap punggung itu, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Azzam," panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
"Azzam, aku..."
"Siapa dia?" suara Azzam memotong, rendah, tajam, tanpa menoleh. "Pria itu. Siapa dia?"
Naura menelan ludah. "Arkan. Mantanku. Dua tahun lalu."
"Mantan." Azzam mengulang kata itu seolah sedang mencerna rasa yang tidak ia sukai. Akhirnya, ia menoleh, menatap Naura dengan mata yang menyimpan badai. "Dan dia datang ke acara malam ini untuk... apa? Menyapamu? Mengingatkanmu pada kenangan indah? Mencoba merebutmu kembali?"
Ia melangkah mendekat, mengurangi jarak di antara mereka dengan setiap langkah yang terasa berat. Naura mundur selangkah, bukan karena takut, tapi karena mata Azzam terlalu besar untuk ditatap dari dekat.
"Dia tidak mencoba merebutku, Azzam..."
"Benarkah?" Azzam berhenti tepat di depan Naura, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan yang membuat napas gadis itu tertahan. "Karena dari sudut pandangku, pria itu baru saja mengatakan bahwa kamu tidak benar-benar berubah, bahwa pernikahan ini adalah perjodohan, dan dia kangen padamu. Dan kamu hanya berdiri di sana, diam, membiarkannya berbicara padamu seperti itu."
"Aku tidak diam! Aku sudah bilang kenangan itu sudah berlalu..."
"Setelah dia memprovokasimu!" suara Azzam meninggi untuk pertama kalinya sejak Naura mengenalnya. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas kasar, seolah sedang berjuang sangat keras untuk mengendalikan dirinya. Saat ia membuka matanya lagi, ada sesuatu yang retak, bukan kemarahan, tapi kerentanan yang sangat jarang ia tunjukkan.
"Kamu tahu apa yang kurasakan saat pria itu menatapmu seperti itu?" suara Azzam kini bergetar, berjuang untuk tetap terdengar. "Kamu tahu apa yang kurasakan saat dia menyebut namamu dengan suara itu, seolah ia masih memiliki hak atasmu?"
Naura terdiam, menatap Azzam dengan mata yang membesar.
"Saya merasa...," bisik Azzam, suaranya pecah di kata terakhir. "..Merasa bahwa saya tidak bisa memberimu hal-hal yang pria itu berikan padamu. Kebebasan. Nongkrong di Cafe. Keluar malam-malam. Dunia yang kamu tinggalkan demi saya. Dan saat dia berdiri di sana, mengingatkanmu pada dunia itu... saya takut, Naura. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya takut bahwa kamu akan menyadari bahwa saya bukan pria yang layak untukmu."
Naura menatap Azzam dengan mata yang memanas. Pria ini... pria yang berdiri di atas panggung malam ini, menerima 'standing ovation' dari ratusan orang, pria yang dihormati oleh menteri dan akademisi, sedang berdiri di depannya dengan mata yang berkaca-kaca, mengaku bahwa ia takut. Takut kehilangan. Takut tidak cukup.
"Dia takut kehilanganku," sadar Naura, dan kesadaran itu menghancurkan semua pertahanan yang tersisa di hatinya.
"Azzam," Naura melangkah maju, meraih tangan suaminya yang dingin dan mencengkeramnya erat. "Dengarkan aku. Dengarkan aku baik-baik."
Azzam menatapnya, matanya menyimpan kekacauan yang tak ia sangka bisa dimiliki oleh pria setenang itu.
"Arkan adalah masa laluku. Dia adalah kesalahan yang pernah kubuat dua tahun lalu. Dia meninggalkanku saat aku membutuhkannya, dan ia kembali malam ini bukan karena ia mencintaiku, tapi karena egonya tidak terima melihatku bahagia tanpa dia."
Naura menelan ludah, matanya menatap Azzam tanpa berkedip.
"Dan kamu... kamu adalah pria yang menemuiku di tengah hujan, Kamu adalah pria yang membuatkan taman bunga karena aku merindukan bunga-bungaku. Kamu adalah pria yang membelaku di depan semua orang. Pria yang membuatku ingin bangun subuh bukan karena terpaksa, tapi karena aku ingin melihat wajahmu saat shalat."
Air mata Naura jatuh, tapi ia tidak mengusapnya. Ia membiarkan Azzam melihatnya... rapuh, jujur, dan benar-benar miliknya.
"Aku nggak butuh nonggrong di cafe. Aku nggak butuh keluyuran malam-malam ataupun dunia yang kutinggalkan itu. Karena dunia yang aku mau... ada di sini. Bersamamu."
Azzam menatap Naura lama-lama, dan perlahan, kekacauan di matanya mulai mereda. Ia mengangkat tangannya yang dingin dan sedikit gemetar, menghapus air mata di pipi Naura dengan kelembutan yang luar biasa.
"Jangan menangis," bisik Azzam, suaranya serak. "Karena setiap kali kamu menangis, saya merasa... ."
"Ini air mata kebahagiaan, Azzam," Naura tersenyum getir, menangis dan tertawa bersamaan. "Orang boleh menangis karena bahagia, kan?"
Azzam menatapnya, lalu tanpa peringatan, ia menarik Naura ke dalam pelukannya. Bukan pelukan penghiburan seperti di taman. Bukan pelukan protektif seperti di malam hujan. Ini adalah pelukan yang berbeda, pelukan yang mengatakan "kamu milikku dan aku tidak akan pernah membiarkanmu di miliki orang lain."
Ia mendekap Naura sangat erat, membenamkan wajahnya di leher gadis itu, dan menghirup aromanya... aroma teh manis, bunga, dan sesuatu yang sangat Naura.
"Saya cemburu, Jannati" bisik Azzam di leher Naura, mengakui kelemahannya untuk pertama kalinya. "Sangat cemburu. Dan saya tidak tahu cara mengendalikannya. Karena setiap kali saya memikirkan pria itu pernah memegang tanganmu, pernah mendengar tawamu, pernah melihat senyummu... ada sesuatu di dalam diriku yang ingin menghancurkan segalanya."
Naura memeluk Azzam kembali, mengusap punggungnya yang tegang, dan berbisik, "Tapi sekarang tanganmu yang memegangku, telingamu yang mendengar tawaku, matamu yang melihat senyumku. Dan nggak bakal ada orang lain yang akan mengambil tempatmu. Nggak ada, Azzam."
Azzam mengencangkan pelukannya, dan lama kemudian, ia menghela napas panjang, napas yang seolah membawa beban yang telah ia pikul selama berjam-jam.
"Berjanjilah padaku," bisik Azzam, suaranya masih serak, masih rapuh, tapi mulai stabil. "Berjanjilah padaku bahwa jika pria itu atau siapa pun mencoba mendekatimu, kamu akan memberitahuku. Bukan karena saya tidak percaya padamu. Tapi karena saya ingin melindungimu. Saya tidak sanggup hidup dengan rasa takut kehilanganmu."
Naura menarik diri sedikit, mendongkak menatap mata Azzam, lalu mengangguk pelan. "Aku berjanji."
Azzam menatapnya, lalu mengangkat tangannya, mengusap pipi Naura, dan menatap bibir gadis itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.
Naura menahan napas. Jantungnya berdebar brutal, lagi dan lagi Ia tahu apa yang sedang Azzam pikirkan, Ia tahu apa yang pria itu inginkan dan yang lebih mengerikan... ia menginginkannya juga.
Tapi Azzam menahan dirinya. Ia menunduk, mempertemukan dahinya dengan dahi Naura, dan memejamkan mata.
"Selamat malam, istriku," bisiknya, suaranya akhirnya kembali ke nada yang tenang. "Istirahat yang cukup. Saya di sampingmu."
Ia melepaskan pelukannya, meraih tangan Naura, dan menuntunnya naik ke kamar. Di depan pintu kamar, Azzam mencium punggung tangan Naura, seperti kebiasaannya, lalu berjalan menuju ruang kerjanya tanpa menoleh kembali.
Naura berdiri di depan pintu kamarnya, memegang tangan yang baru saja dicium Azzam, menatap punggung yang menjauh itu, dan berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku jatuh cinta padamu, Gus Azzam," bisik Naura dalam gelap, mengakui apa yang telah ia coba sembunyikan selama berminggu-minggu. "Aku benar-benar jatuh cinta padamu."
Ia tidak tahu apakah Azzam mendengarnya. Tapi mungkin, itu lebih baik. Karena untuk sekarang, pengakuan itu cukup menjadi rahasia antara ia dan malam.
.
.
.