NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 - Pulang Bersama

Jalanan di depan gerbang sekolah mulai ramai oleh para siswa yang pulang.

Suara kendaraan terdengar dari kejauhan. Beberapa siswa berjalan berkelompok sambil mengobrol, sebagian lagi langsung dijemput mobil keluarga mereka.

Sinar matahari sore jatuh hangat di atas trotoar.

Rachael berjalan keluar gerbang sekolah seperti biasa.

Tasnya hanya disampirkan di satu bahu.

Langkahnya santai.

Hari ini cukup melelahkan, tapi tidak buruk.

Setidaknya sampai ia mendengar suara langkah kaki yang mengikuti dari belakang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Tidak perlu menoleh pun ia sudah tahu siapa orangnya.

Rachael menghela napas panjang. Lalu berkata tanpa berbalik.

"Leon."

"Hm?"

"Jangan mengikuti." Jawaban itu keluar begitu saja.

Langsung ke inti masalah.

Di belakangnya, Leon tetap berjalan dengan tenang.

Seolah kalimat itu sama sekali tidak mengubah apa pun.

"Kenapa?"

Rachael akhirnya menoleh. Ekspresinya datar.

"Karena aku bisa pulang sendiri."

"Aku tahu. Tapi aku tetap ikut."

Rachael langsung memejamkan mata beberapa detik.

Jawaban itu lagi.

Selalu begitu.

Seolah Leon memiliki bakat khusus untuk membuat argumen orang lain menjadi tidak berguna.

"Aku serius."

"Aku juga serius."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Aku tahu."

"Rumahku nggak terlalu jauh."

"Aku tahu."

"Nggak ada orang aneh yang bakal menculik juga."

"Aku tahu."

Rachael menatapnya tidak percaya.

"Kalau tahu semua itu kenapa masih ikut?"

Leon terdiam sebentar. Lalu menjawab dengan nada yang sangat tenang.

"Karena aku mau memastikan kamu sampai rumah."

Rachael membeku sepersekian detik.

Bukan karena kalimat itu terdengar romantis.

Justru karena cara Leon mengatakannya terlalu biasa. Seolah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Dan justru itulah yang membuatnya sulit dibantah.

Sebelum Rachael sempat membalas, suara lain muncul dari belakang.

"Aku punya ide."

Mereka berdua menoleh bersamaan.

Axel berdiri beberapa langkah di belakang sambil mengangkat satu tangan.

Ekspresinya seperti seseorang yang sedang mencoba mencegah perang dunia.

"Apa?" tanya Rachael.

Axel menunjuk dirinya sendiri.

"Gimana kalau gua ikut?"

Rachael berkedip. "Hah?"

"Kalau masalahnya karena cuma berdua sama Leon, berarti gua ikut."

Leon langsung menoleh. "Kapan gua minta bantuan lu?"

"Lu nggak minta."

"Terus?"

"Aku menyelamatkan situasi."

Leon menghela napas.

Sementara Rachael justru berpikir sejenak.

Kalau Axel ikut... Memang terasa lebih normal.

Setidaknya tidak akan canggung. Tidak akan seperti Leon sengaja mengantar dirinya lagi.

Pada akhirnya ia menyerah.

"Oke."

Leon mengangkat alis.

"Kamu nolak aku, tapi terima Axel?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena biar suasana santai."

"Aku dengar itu." sahut Axel.

"Memang sengaja."

Axel langsung menahan tawa. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa memenangkan sesuatu.

Meski hanya sedikit.

Mereka bertiga akhirnya berjalan meninggalkan area sekolah.

Awalnya suasana terasa biasa.

Rachael berjalan di tengah.

Leon di kanan.

Axel di kiri.

Mereka membicarakan hal-hal ringan tentang sekolah.

Tentang tugas.

Tentang guru.

Tentang ujian yang akan datang.

Namun setelah beberapa menit berjalan... Axel mulai menyadari sesuatu.

Posisi mereka berubah. Tanpa ada yang sengaja mengaturnya. Tanpa ada yang sadar. Rachael dan Leon berjalan sedikit lebih depan.

Sementara dirinya tertinggal setengah langkah.

Awalnya ia tidak terlalu memikirkan itu. Namun beberapa menit kemudian... Ia tertinggal satu langkah penuh.

Lalu dua langkah. Dan sekarang?

Axel menatap punggung dua orang di depannya.

Mereka masih mengobrol santai.

Sementara dirinya berada di belakang seperti karakter tambahan.

"..."

Axel menatap langit.

"Aku ini siapa?"

Angin sore berembus pelan.

Daun-daun pohon di pinggir jalan bergerak mengikuti arah angin.

Sementara di depannya, Rachael sedang bercerita tentang kejadian di kelas.

"Aku serius. Pak Guru tadi hampir lempar penghapus ke dirinya sendiri."

Leon melirik. "Bagaimana caranya?"

"Entahlah. Aku juga bingung."

Rachael tertawa kecil.

"Tiba-tiba penghapusnya mental balik."

"Itu fisika." sahut Leon.

"Itu kutukan."

Leon menggeleng pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dan Rachael langsung terlihat puas karena berhasil membuatnya bereaksi.

Sementara itu...

Axel masih berjalan di belakang.

Sendirian.

"Aku bahkan tidak ikut dalam percakapan lagi."

"Keberadaanku sudah seperti pohon pinggir jalan."

Ia menghela napas panjang.

Sangat panjang.

Beberapa menit kemudian.

Mereka melewati trotoar yang sedikit rusak.

Rachael yang sedang sibuk berbicara tidak memperhatikan batu kecil di depannya.

Kakinya nyaris tersandung.

Tubuhnya sedikit oleng.

Dan hampir bersamaan—

Leon bergerak refleks. Tangannya menangkap tali tas Rachael dari belakang. Cukup untuk menahan keseimbangannya.

Rachael langsung kembali tegak.

"Oh." Ia berkedip beberapa kali. Baru menyadari apa yang terjadi.

Leon melepaskan tali tasnya.

"Hati-hati."

Nada suaranya tenang. Seolah itu bukan hal besar.

Rachael mengusap tengkuknya.

"Terima kasih."

"Hm."

Percakapan selesai.

Sederhana.

Namun Axel yang melihat semuanya dari belakang langsung memejamkan mata.

"Refleks. Itu refleks murni. Orang normal tidak secepat itu."

Ia membuka mata lagi.

Leon sudah kembali berjalan seperti biasa.

Rachael juga sudah kembali mengobrol.

Seolah tidak ada apa-apa.

Dan Axel merasa dirinya satu-satunya orang yang sadar betapa berbahayanya situasi ini.

Karena Leon benar-benar sudah terlalu memperhatikan Rachael.

Sampai tingkat yang bahkan mungkin tidak ia sadari sendiri.

Lima menit kemudian.

Axel akhirnya tidak tahan.

"Hei."

Rachael menoleh.

"Hm?"

"Aku merasa seperti NPC."

Rachael berkedip bingung.

"Apa?"

Axel menunjuk dirinya sendiri.

"Aku."

Lalu menunjuk mereka berdua.

"Kalian."

"Habis itu?"

"Aku cuma jalan di belakang sambil menyaksikan kalian ngobrol."

Rachael menoleh ke Leon. Lalu melihat posisi mereka. Kemudian melihat Axel yang memang tertinggal beberapa langkah di belakang.

"..."

Ia terdiam. Lalu bahunya mulai bergetar.

Beberapa detik kemudian, tawanya pecah. Bukan senyum kecil. Melainkan tawa yang membuatnya harus memegang perut.

"Pfftt... Maaf— Kau memang hanya pelawak, haha..."

Axel langsung menunjuknya.

"Tuh kan!"

Leon sendiri berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.

Sayangnya gagal. Sudut bibirnya ikut terangkat. Dan melihat itu Axel langsung menunjuk Leon juga.

"Nah! Dia juga!"

Rachael malah tertawa semakin keras. "Aku hanya bercanda saja... Maaf ya."

Sementara Leon memalingkan wajah, seolah tidak ingin ketahuan sedang tersenyum.

Di bawah cahaya matahari sore yang mulai menguning, ketiganya terus berjalan menyusuri jalan menuju rumah Rachael.

Namun jauh di dalam hati Axel, hanya ada satu kesimpulan.

Ia memang ikut mengantar Rachael pulang.

Tapi entah kenapa rasanya seperti sedang menjadi karakter sampingan dalam kisah dua orang yang perlahan saling mendekat.

Dan yang paling membuat frustrasi?

Kedua tokoh utamanya bahkan belum sadar.

...----------------...

Rachael menghentikan langkahnya sesaat lalu menoleh ke belakang. Ekspresinya tetap santai seperti biasa.

"Kalian tidak perlu repot-repot mengantar aku pulang." Ia melirik Leon dan Axel bergantian. "Lagipula rumahku sudah dekat."

Leon belum sempat menjawab ketika Rachael kembali berbicara.

"Kalau tidak keberatan, mau makan di rumahku tidak?"

Langkah ketiganya benar-benar berhenti kali ini.

Hening sesaat.

Bahkan Axel yang biasanya paling cepat bicara pun tampak sedikit terkejut. "Hah?"

Rachael berkedip. "Kenapa?"

"Kau baru saja mengundang kami ke rumahmu?"

"Iya."

"Sesantai itu?"

Rachael berpikir sebentar.

"Lalu kenapa? Memangnya harus bagaimana?"

Axel menatap langit. "Gua lupa kalau standar sosialmu kadang berbeda dengan manusia normal."

"Aku manusia normal."

"Kalau manusia normal tidak mengundang dua teman laki-laki pulang dengan ekspresi seperti sedang menawarkan permen."

Rachael terlihat benar-benar bingung.

"Aku cuma berpikir kalian sudah jalan sejauh ini. Masa langsung pulang? Apa kau berpikir Aneh-aneh?"

Axel tidak bisa membantah logika itu.

Sementara itu Leon masih diam. Tatapannya sedikit tertuju ke arah Rachael.

Bukan karena ajakan itu, tapi karena ia tahu mengundang seseorang ke rumah bukan hal yang biasa bagi Rachael.

Gadis itu tidak pernah terlihat terlalu dekat dengan banyak orang. Tidak pernah terlihat aktif mengajak teman bermain.

Bahkan saat di sekolah pun ia lebih sering membiarkan orang lain mendekatinya terlebih dahulu.

Jadi ajakan sederhana ini... Entah kenapa terasa cukup berarti.

Rachael akhirnya menyadari Leon belum menjawab.

"Kamu?"

Leon mengangkat pandangan.

"Apa orang tuamu tidak keberatan?"

Jawaban itu membuat Rachael berkedip beberapa kali.

"Mereka tidak masalah."

"Kau yakin?"

"Iyalah. Tapi kalau tidak mau, ya tidak apa-apa. maaf merepotkan kalian."

Leon akhirnya menerima ajakan itu.

"Yasudah, Tapi tidak akan lama, kita juga bisa mengerjakan PR bersama."

Bukan karena ia ingin melakukan hal aneh-aneh, tapi ia justru ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang Rachael.

Banyak hal yang ingin Leon ketahui tentang Rachael. Semua itu membuatnya penasaran dan tertarik untuk mencaritahu.

Axel cukup terkejut mendengar jawaban Leon untuk menerima ajakan itu.

"Hah...? Yang bener aja, dua laki-laki ke rumah seorang perempuan. Wah... Gua takut di kira aneh-aneh nanti."

"Bisa saja kau yang mikirnya aneh-aneh." Sahut Rachael.

"Enak saja! Mana ada gua gitu. Paling Leon yang begitu"

Axel mengelak, lalu dengan sengaja menyalahkan Leon.

Leon menoleh dan menatap tajam Axel.

"Lu mau mati kapan?"

"Kapan-kapan aja." jawab Axel sedikit terkekeh.

Mereka berjalan kaki bersama, Leon berjalan di samping Rachael. Sementara itu Axel berjalan di belakang mereka berdua.

Rachael menoleh ke minimarket di seberang jalan, ia ingin membeli beberapa makanan.

"Kita ke minimarket dulu"

"Mau beli apa?" tanya Axel penasaran.

"Ya, pake nanya. Udah jelas mau beli makanan, lalu beli minuman, beli es krim, banyak lagi." Jawab Rachael sedikit senyum tipis.

"Ayo." Leon berjalan duluan, masuk minimarket.

Rachael mengambil keranjang belanja, dan berjalan melihat-lihat rak-rak makanan.

Axel pun ikut melihat-lihat, ia memperhatikan es krim yang menarik perhatiannya.

"Ini enak nggak sih?"

Axel mengambil satu es krim di freezer, lalu menunjukkan ke Rachael yang sedang memilih makanan ringan.

Rachael menoleh lalu menjawabnya.

"Enak, itu rasa kacang hijau. Emang belum pernah cobain?"

"Kacang hijau? Anjir Kirain Matcha."

Axel sedikit terkejut tidak pernah tahu ada es krim rasa kacang hijau, ia mengira itu rasa matcha.

"Lah? Norak ih." Rachael tertawa pelan.

Leon memperhatikan tawa Rachael itu, lalu ia menghampiri meletakkan satu pack permen ke dalam keranjang belanja yang Rachael pegang.

Rachael menoleh untuk melihat apa yang Leon masukkan ke dalam keranjang belanja.

"Permen? Kamu mau beli permen ini?"

"Iya, sini biar aku yang bawa."

Leon mengambil keranjang belanja dari tangan Rachael.

Rachael membiarkan Leon yang membawa keranjang belanjaan itu.

"Ah, baiklah.."

Rachael memasukan beberapa snack dan minuman kaleng. Ia berjalan ke rak-rak lain. Leon mengikutinya.

Rachael memasukan satu pack telur dan beberapa bungkus mie instan.

"Chael... Kamu nanti akan masak mie instan?" Tanya Leon sambil memperhatikan wajah Rachael yang serius melihat-lihat.

"Iya, nanti pakai telur, sosis dan di rumah ada beberapa sayuran. Pasti akan enak, jadi tenang saja."

"Jangan sering-sering makan mie instan. itu tidak baik untuk kesehatan mu."

"Aku tahu itu, tenang saja jangan khawatir. Aku mengatur pola makan dan makanan yang dimakan, itu tetap teratur dan sehat."

Mendengar jawaban itu, membuat Leon khawatir tentang kesehatan Rachael. Leon tahu pasti Rachael sudah sering makan makanan instan atau cepat saji.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!