Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata yang Mengguncang Hati
“Aku juga nggak nyangka bakal sedemikian rupa takut kehilangan kamu, Kay.”
Kalimat itu melayang pelan di udara, namun terasa begitu berat dan nyata sampai membuat langkah Kayla perlahan berhenti sepenuhnya.
Musik masih mengalun lembut di sekitar mereka. Kerlap-kerlip lampu kota berkilauan indah di balik punggung Adrian. Orang-orang masih tertawa dan mengobrol riang di sekeliling mereka.
Namun bagi Kayla… semuanya seolah menghilang sesaat. Suara musik, suara tawa, dan hiruk-pikuk suasana pesta itu seolah lenyap begitu saja.
Yang tersisa hanya suara jantungnya sendiri yang berdegup kencang. Dan satu-satunya pria yang berdiri tepat di depannya.
“Kamu bercanda kan?” bisik Kayla pelan, matanya menatap tajam mencari kepastian. Ia takut ini hanya salah paham, atau sekadar kalimat manis sesaat.
Adrian menatapnya cukup lama. Menyelami setiap inci wajah istrinya.
Untuk pertama kalinya, di depan mata Kayla, tidak ada lagi nada dingin, tidak ada lagi sikap menghindar, tidak ada lagi rasa bosan yang biasa terlihat.
Hanya tatapan jujur, polos, dan penuh rasa takut yang sudah lama tidak ia lihat.
“Aku serius,” jawab Adrian lirih namun tegas.
Jantung Kayla berdetak semakin kacau, berpacu dengan rasa sesak di dada.
Karena inilah yang selama ini ia inginkan, doakan, dan tunggu bertahun-tahun lamanya. Perhatian. Pengakuan. Dan rasa takut kehilangan itu.
Namun anehnya… saat akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Adrian, saat akhirnya ia mendapatkannya… hatinya justru terasa sakit sekali.
Karena semua itu datang terlambat. Datang saat dirinya hampir hancur sendiri. Datang saat ia sudah terbiasa terluka.
Adrian mempererat sedikit pelukannya di pinggang Kayla, seolah takut wanita itu akan hilang jika ia melepaskannya sedikit saja.
“Kay…” suaranya terdengar berat. “Julian suka kamu ya?”
Pertanyaan itu terdengar pelan, namun menyimpan tekanan yang begitu kuat.
Kayla sedikit terdiam. Ia menundukkan wajahnya perlahan. “Aku nggak tahu. Dia nggak pernah bilang.”
“Tapi kamu nyaman sama dia.”
Kalimat itu bukanlah sebuah pertanyaan. Bukan pula tuduhan.
Itu lebih terdengar seperti pengakuan pahit yang harus diterima Adrian. Sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Kayla mengangkat kepala perlahan, menatap lurus ke manik mata suaminya. Tatapannya tenang namun jujur.
“Aku nyaman sama dia… karena dia dengerin aku. Dia nggak pernah memotong omongan aku. Dia selalu ada waktu buat dengerin apa yang aku rasain.”
Dan tepat setelah kalimat itu keluar dari bibir Kayla… Adrian langsung terdiam kaku.
Dadanya terasa seperti dipukul benda keras dari dalam. Napasnya tertahan sejenak.
Karena ia tahu itu benar. Itu adalah fakta pahit yang tidak bisa ia bantah.
Sudah lama sekali Adrian tidak benar-benar mendengarkan istrinya.
Selama ini pola hidup mereka hanya berputar pada diri Adrian sendiri. Ia hanya pulang dalam keadaan lelah, sibuk dengan pikirannya sendiri, menganggap bahwa Kayla akan selalu mengerti tanpa perlu ia jelaskan apa pun, dan menganggap kehadirannya saja sudah cukup.
Sementara Julian… hanya dengan memberikan perhatian sederhana, hanya dengan menjadi pendengar yang baik, saja sudah bisa membuat Kayla kembali tersenyum dan merasa berharga.
Dan kesadaran itu terasa begitu menyesakkan dada. Menyadari bahwa ia kalah telak oleh hal yang sebenarnya sangat sederhana.
Musik perlahan berakhir. Irama yang tadinya lembut kini menghilang berganti dengan suara tepuk tangan kecil dari para tamu.
Namun Adrian tidak langsung melepas pelukannya di pinggang Kayla. Tangannya masih bertahan di sana. Tatapannya masih tertahan lekat-lekat pada wajah wanita itu.
Cantik. Lembut. Dan perlahan mulai terlihat semakin jauh darinya. Semakin sulit digapai.
“Kay…” panggilnya lagi, nadanya terdengar pasrah.
“Hm?”
“Aku minta maaf.”
Kalimat itu begitu lirih, hampir berbisik, namun terdengar begitu jelas di telinga Kayla.
Dan untuk pertama kalinya malam itu… Kayla benar-benar melihat penyesalan yang mendalam terpancar di mata Adrian. Penyesalan yang tulus.
Namun luka yang terlalu lama dipendam, rasa sakit yang terlalu lama dirasakan… tidak bisa sembuh hanya karena satu malam yang hangat. Tidak bisa hilang hanya dengan satu kata maaf.
Di sisi lain ruangan atap itu, Julian berdiri menyendiri di dekat pembatas pagar, sambil memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Wajahnya tetap tenang, datar, dan terkendali. Namun di sisi lain, jemarinya perlahan menggenggam gelas minuman yang dipegangnya semakin erat. Sampai buku-buku jarinya memutih.
Karena dari kejauhan itu, ia bisa melihat sesuatu yang jelas dan nyata malam ini:
Adrian mulai sadar bahwa ia bisa kehilangan Kayla. Adrian mulai sadar betapa berharganya wanita itu.
Dan itu berarti… pria itu tidak akan melepaskan Kayla dengan mudah. Pria itu akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
Acara reuni kampus itu selesai hampir tengah malam. Suasana semakin dingin karena angin malam, dan para tamu pun mulai berhamburan pulang.
Di dalam mobil, sepanjang perjalanan menuju pulang, suasana terasa sunyi namun tidak dingin seperti biasanya. Tidak ada ketegangan yang mengganjal, hanya keheningan yang penuh dengan pikiran masing-masing.
Kayla menatap lurus ke jalanan kota yang mulai sepi dari balik jendela kaca. Sedangkan Adrian, yang menyetir, beberapa kali melirik ke arah istrinya diam-diam. Tatapannya seolah takut wanita itu menghilang jika ia lengah sedetik saja.
“Kamu senang tadi? Di acara itu?” tanyanya pelan, memecah keheningan.
Kayla mengangguk kecil, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Senang. Sangat senang.”
“Kamu keliatan beda banget di sana. Lebih hidup,” gumam Adrian lagi, lebih kepada dirinya sendiri.
Kayla tersenyum samar, namun senyum itu terasa sedikit pahit. “Karena aku ngerasa jadi diri aku lagi di sana. Ngerasa aku ada harganya.”
Jawaban sederhana itu membuat Adrian diam cukup lama. Hatinya terasa dicabik-cabik oleh rasa bersalah.
Karena selama ini… tanpa sadar dan tanpa ia sadari dampaknya, ia telah membuat Kayla kehilangan dirinya sendiri di dalam hubungan ini.
Sesampainya di apartemen, pintu baru saja ditutup dan dikunci, Kayla langsung melepas sepatu hak tingginya pelan-pelan. Ia mengerutkan kening menahan rasa sakit.
“Kaki aku sakit,” gumamnya kecil sambil menopang diri ke dinding. Terbiasa memakai sandal atau sepatu datar, kakinya terasa perih dan pegal.
Adrian yang berdiri di dekat pintu masuk tiba-tiba berhenti bergerak. Ia menoleh, lalu berkata singkat,
“Duduk sini.”
Kayla sedikit bingung, menatap suaminya bengong. “Hm?”
“Duduk dulu di sofa sini.” Nada suaranya lembut namun tegas, tidak bisa dibantah.
Kayla akhirnya berjalan terseok-seok dan duduk di tepi sofa ruang tamu.
Dan beberapa detik kemudian… ia langsung membeku kecil di tempat saat melihat Adrian bergerak mendekat, lalu perlahan berjongkok tepat di depan kakinya.
“Adrian…” panggilnya pelan, terkejut setengah mati.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menundukkan wajahnya.
Tangannya yang besar dan hangat perlahan memegang pergelangan kaki Kayla dengan sangat hati-hati, lalu mulai memijat bagian yang terasa sakit dengan gerakan yang pelan dan lembut.
Gerakannya terlihat canggung. Kaku. Seolah tidak terbiasa melakukan hal selembut ini. Seolah baru pertama kali ia melakukan hal seperti ini.
Namun justru kecanggungan dan ketulusan itulah… yang membuat hati Kayla terasa bergetar hebat.
“Udah lama nggak pakai sepatu hak tinggi ya? Makanya sakit gini,” tanya Adrian pelan, matanya tetap fokus pada kakinya.
Kayla hanya bisa mengangguk kecil. Ia menundukkan wajahnya, dan pandangannya mulai buram karena air mata yang menggenang.
Karena perhatian sederhana seperti ini… adalah sesuatu yang dulu, bertahun-tahun yang lalu, sangat ia rindukan dan ia doakan kehadirannya.
Adrian perlahan mengangkat kepalanya. Posisi mereka menjadi sangat dekat. Tatapan mereka bertemu tepat di depan mata.
Dekat. Sangat dekat.
Dan untuk beberapa detik yang terasa lama… suasana di antara mereka berubah menjadi terlalu sunyi. Terlalu hangat. Dan terlalu berbahaya bagi hati Kayla yang mulai rapuh lagi.
Lalu perlahan, dengan tangan yang bergetar halus, Adrian mengusap sisi wajah Kayla, menyeka rambut yang jatuh ke wajahnya, sambil berbisik dengan suara penuh permohonan yang tidak pernah ada sebelumnya,
“Kamu jangan pergi dari aku ya… apapun yang terjadi, jangan pergi.”
harus nya lebih banyak lagi tadi di balikin kata-kata soal kedekatan antara laki dan perempuan kepada si Adrian yg kemarin dia lebih parah deketnya sama si ulet Bianca itu 😡😡👍