Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan dari Alisha
Alena dan Mohan berjalan dengan langkah lebar memasuki lift. Kebetulan ruang operasi berada dilantai 2 sedangkan Alisha dirawat dilantai 3. Tak berapa lama mereka sampai di lantai 2, Alena dan Mohan berjalan menuju ruang operasi berada. Dari jauh mereka bisa melihat Laras dan Roni duduk di kursi tunggu depan pintu ruang operasi. Nampak Laras menangis terisak sedangkan Roni berusaha menenangkan istrinya.
"Laras bagaimana keadaan Vania sekarang" tanya Alena setelah sampai didepan adik serta adik iparnya. Laras langsung bangun dari duduknya dan memeluk erat kakaknya. "Anakku mbak, aku enggak mau kehilangan Vania mbak huhuhu..." tangis Laras pecah. Sedangkan Alena mengelus punggung adiknya untuk memberi ketenangan. "Sabar ya dek, semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Vania. Mbak yakin Vania anak yang kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya" ucap Alena lembut berusaha menenangkan adiknya. Untuk masalah Vania keguguran Laras dan Roni sepakat tidak ingin memberi tahukan kakaknya karena biar bagaimanapun kabar tersebut begitu memalukan untuk keluarga mereka. Setelah 6 jam kemudian lampu operasi yang tadinya menyala saat ini sudah padam pertanda operasi sudah selesai.
Seorang dokter wanita paruh baya yang tak lain dokter Naya tersenyum ramah menyapa mereka berempat. Laras dan Roni segera mendekati dokter tersebut " Dokter bagaimana keadaan putri kami Dok?" tanya Laras tidak sabar. Dokter Naya menatap kedua orang tua Vania lalu menjawab "Mari ikut ke ruangan saya pak, Bu karena ada beberapa hal penting yang akan saya sampaikan tentang kondisi putri kalian" ucap Dokter Naya berjalan menuju ruangannya dan diikuti oleh kedua orang tua Vania.
"Mbak kami tinggal sebentar ya" pamit Laras sebelum mengikuti Dokter Naya.
"Iya Laras enggak apa apa, kami tunggu disini" jawab Alena.
Didalam ruangan dokter Naya Laras dan Roni mendengarkan penjelasan dokter Naya dengan serius. Sejak mendengar kabar dari dokter tentang kondisi Vania, Laras tidak bisa menahan tangisnya. Sedangkan Roni pria arogan yang biasanya berwajah sangar saat ini hatinya benar-benar hancur. Ada perasaan penyesalan yang begitu dalam dihatinya karena sejak Vania kecil kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya terutama dirinya. Karena obsesinya menginginkan seorang anak laki-laki membuat dirinya membenci putrinya sendiri. Dan saat ini apa yang terjadi terhadap putrinya akibat keteledoran dirinya sebagai orang tua.
"Baik dokter kami mengerti, sekali lagi kami sampaikan terimakasih. Kalau bagitu kami pamit, permisi dokter" ucap Roni langsung merangkul pundak istrinya berjalan keluar dari dalam ruangan dokter. Setelah keluar dari dalam ruangan dokter langkah mereka semakin gontai seolah olah ada beban pikiran yang begitu berat yang harus mereka pikul saat ini. "Apapun kondisi Vania saat ini tolong rahasia dari kakakmu" ucap Roni tiba tiba terdengar dingin. Laras yang mendengar ucapan suaminya langsung menghentikan langkahnya lalu menatap suaminya secara intens "Maksud mas aku harus diam saja kalau mbak Alena tanya tentang kondisi Vania. Terus aku harus jawab apa mas kalau mbak Alena tanya nanti, masak aku harus bohong dengan kondisi Vania" jawab Laras tidak habis fikir dengan jalan pikiran suaminya.
" Terus kamu mau ngomong jujur kalau anak kita sekarang sudah tidak sempurna lagi sebagai seorang perempuan. Awalnya aku bagitu marah mendengar kalau ternyata dia sedang hamil beruntung dia mengalami keguguran setidaknya dia tidak jadi mengandung anak haram itu. Tapi tadi setelah mendengar kabar dari dokter bahwa rahim Vania terpaksa harus diangkat karena mengalami luka parah terpaksa rahimnya harus diangkat. Hati papa hancur ma, karena selamanya kita tidak akan bisa memiliki penerus untuk keluarga kita. Karena selamanya Vania enggak akan bisa mengandung seorang anak. Apakah kabar itu tidak membuat Vania semakin hancur apalagi sampai keluarga besar kita mengetahui ini semua. Aku enggak tau bagaimana reaksi Vania dan keluarga kita jika tau tentang kondisinya saat ini. Maka dari itu papa minta mama rahasia kabar ini termasuk dari mbak Alena, ini semua demi nama baik keluarga kita ma!" ucap Roni memberi alasan yang masuk akal.
Laras yang mendengar penjelasan suaminya akhirnya mengangguk pelan "Iya pa, mama mengerti. Tapi pa, bagaimana nasib putri kita nanti, siapa laki laki yang mau menikahinya dengan keadaan seperti ini" sahut Laras dengan pandangan kosong. Jaman sekarang apa ada pria yang mau menikahi wanita yang tidak sempurna. Apalagi setiap pasangan yang menikah pasti ingin memiliki keturunan sedangkan putrinya tidak bisa hamil. Roni yang mendengar perkataan istrinya membenarkan apa yang dikatakan istrinya barusan. " Kita minta pertanggung jawaban dari pria yang sudah menghamili Vania. Karena gara gara dia putri kita mengalami ini semua" ucap Roni tiba tiba.
"Tapi pa, apa dia mau bertanggung jawab menikahi Vania dalam keadaan Vania yang saat ini. Mungkin kalau Vania masih hamil anaknya dia masih mau tanggung jawab tapi sekarang Vania sudah tidak hamil lagi pa, justru Vania tidak akan pernah bisa hamil lagi" ucap Laras. Roni yang mendengar perkataan istrinya tiba tiba perasaannya berubah bimbang. "Papa enggak tau ma, tapi apa salahnya kalau kita berusaha dulu demi anak kita" jawab Roni dan Laras pun hanya mengangguk kecil.
Dua Minggu Kemudian
Hari ini wajah Alisha nampak cerah karena hari ini dia sudah diizinkan pulang oleh dokter. Santa membantu mama Alena merapikan barang barang milik Alisha. Sedangkan papa Mohan masih dikantor untuk menyelesaikan pekerjaannya dan akan pulang lebih awal agar bisa menjemput putrinya dirumah sakit.
"Ma, Alisha sudah tidak sabar ingin secepatnya pulang ke rumah. Alisha sudah benar benar rindu dengan suasana rumah. Selama disini Alisha tidak bisa kemana mana paling cuma pergi ke taman saja" ucap Alisha tersenyum kecil.
"Iya sayang, sabar ya kita tunggu papa jemput kita. Tadi papa berpesan jangan pulang dulu harus nunggu papa yang jemput kita" jawab mama Alena lembut. Alisha tersenyum lalu mengangguk kecil. Sedangkan Santa hanya diam tidak banyak bicara seperti biasanya. Dan itu disadari oleh Alisha yang melihat sahabatnya hari ini lebih banyak diam ketimbang ikut nimbrung obrolan antara dirinya dan mamanya.
"Kamu kenapa San, aku perhatikan sejak tadi kamu lebih banyak diam tidak seperti biasanya" tanya Alisha penasaran. Santa tidak menjawab gadis cantik berpenampilan tomboy tersebut hanya tersenyum lalu menggeleng cepat. "Gue enggak apa apa Al" jawab Santa singkat. Alisha menatap mamanya dan mama Alena paham dengan keinginan putrinya tersebut. Mama Alena tersenyum lembut menatap Santa ia menarik pelan tangan gadis tersebut agar ikut duduk di sofa dengannya.
Santa tidak menolak gadis tersebut menurut dan duduk disamping mama Alena. Sebelum berbicara mama Alena menggenggam lembut tangan Santa. Ditatapnya wajah cantik gadis bule tersebut dengan tatapan penuh kasih sayang karena bagi mama Alena, Santa sudah seperti putrinya sendiri. "Sayang ada apa hem...coba ngomong tante kamu ada masalah apa jangan kamu pendam sendiri" ucapnya lembut. Santa mendengar ucapan mama Alena tersenyum haru "Beneran te, Santa enggak kenapa napa kok" jawab Santa berusaha tenang.
Mama Alena tersenyum kecil menatap lekat wajah cantik Santa "Mungkin dengan sedikit bercerita tentang apa yang kamu rasakan beban hatimu akan sedikit berkurang" ucap mama Alena lagi. Santa menjawab "Iya te, itu pasti karena bagiku kalian sudah seperti keluarga ku sendiri. Santa cuma ada sedikit masalah tapi Santa masih bisa mengatasi itu. Cuma untuk saat ini Santa sedang tidak ingin cerita dulu enggak apa apa kan tante". Mama Alena tersenyum lalu mengangguk "Baiklah kalau begitu enggak apa apa tapi kamu harus ingat nak, kamu enggak sendirian masih ada kami yang selalu ada di sampingmu" ucap mama Alena tersenyum lembut. Santa tersenyum lalu mengangguk kecil "Iya te, terimakasih banyak" jawab Santa tulus. Sedangkan Alisha hanya diam mendengar obrolan mereka berdua namun dalam hati ia masih penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh sahabatnya. Karena tidak biasanya Santa bersikap seperti ini, sepertinya masalah yang sahabatnya hadapi cukup serius namun Santa masih belum ingin bercerita tentang masalahnya.
Sore itu papa Mohan sudah sampai dirumah sakit. Pria paruh baya tersebut yang masih tampan meskipun usianya sudah tidak muda lagi berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Tujuannya adalah lantai 3 tempat putrinya dirawat, wajahnya nampak lelah namun ada semangat baru setelah mendengar kabar bahwa putrinya sudah bisa pulang ke rumah.
Ting..
Pintu lift terbuka lebar, papa Mohan berjalan menuju kamar VVIP tempat putrinya berada.
Ceklek.....
Pintu terbuka perlahan didalam ruangan terlihat putrinya sudah nampak cantik memakai dress selutut bermotif bunga kecil kecil berwarna putih. Senyuman merekah dibibir mungilnya sehingga wajah cantiknya semakin nampak anggun. Sedangkan istrinya dan Santa sudah selesai merapikan barang barang milik putrinya. "Alhamdulillah ya nak akhirnya kamu sudah diperbolehkan pulang hari ini. Papa senang akhirnya kita bisa berkumpul kembali lagi" ucap papa Mohan langsung memeluk putrinya serta mencium kening putrinya. Papa Mohan membantu putrinya duduk di kursi roda. "Mama yang dorong kursi rodanya biar papa yang bawa tasnya" ucap papa Mohan lembut kepada istrinya. Mama Alena tersenyum lalu mengangguk kecil. "Maaf sebelumnya Om, tante..
Santa enggak bisa ikut antar sampai rumah. Soalnya Santa mau antar kak David ke bandara sore ini. Enggak apa apa kan Al, gue enggak ikut antar sampai rumah. Gue janji besok gue datang ke rumah Lo, sekalian nginap kalau perlu hehehe..." ucap Santa sambil nyengir. Alisha tersenyum lalu menjawab "Iya enggak papa kok, santai aja San. Lagi pula sudah ada mama dan papa yang jemput aku" jawab Alisha. "Santa pamit ya om, tante.." Ucapnya mencium punggung tangan kedua orang tua Alisha.
"Bay Alisha sampai bertemu besok ya" ucapnya tersenyum langsung keluar dari dalam ruangan tersebut. Alisha hanya mengangguk tersenyum kecil melihat sahabatnya sudah keluar. "Ayo sayang kita pulang sekarang" ajak kedua orang Alisha. Alisha mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya dirumah, keluarga Alisha sudah ditunggu kedatangannya oleh semua pekerjanya. Dari mulai supir, security, tukang kebun dan terakhir asisten rumah tangga bik Surti dan mbak Siti. Mereka semua tersenyum bahagia menyambut nona mudanya yang sudah mereka rindukan. Alisha adalah sosok majikan baik hati dan tidak sombong kepada semua para pekerja dirumahnya. Begitupun kedua orang tua Alisha adalah sosok majikan yang baik hati dan memperlakukan pekerjanya dengan baik.
Semua pekerjanya berbaris rapi demi menyambut kedatangan nona mudanya. Bahkan bik Surti membawa dan mbak Siti masing-masing membawa bujet bunga. Sedangkan Para pekerja laki laki membawa balon berwarna warni sehingga terlihat begitu meriah walaupun dengan cara sederhana. Saat pintu terbuka lebar tiba tiba dari dalam rumah "Suprise... gimana kejutan gue Al, bikin lo terharu enggak..??" ucap Santa seraya tersenyum lebar dibelakangnya ada seseorang yang berdiri tegap dengan membawa buket bunga mawar putih cukup besar. Ia tersenyum menatap Alisha sehingga jantung Alisha tiba tiba berdegup kencang. "Ya ampun jantungku" batin Alisha.
Karena tidak ingin salah tingkah ditatap seperti itu, Alisha buru buru mengalihkan pandangannya ke sahabatnya. "Santa tadi kamu ngomong katanya mau antar tuan me...eh maksudnya tuan David ke bandara memangnya enggak jadi pergi?" tanya Alisha penasaran.
"Oh itu jadi dong, setelah dari sini kami langsung berangkat ke bandara tapi kami sempatkan kesini dulu untuk menyambut kedatangan Lo dulu gitu ceritanya. Terus ada satu hal yang mau dibicarakan kak David sama kamu sebelum berangkat ke Rusia. Ayo kak buruan ngomongnya, udah jangan malu malu gitu biasanya juga datar kayak kulkas 10 pintu" ucap Santa menggoda kakaknya. Sedangkan David yang digoda adiknya hanya mendelik kesal. Mohan dan Alena tersenyum ramah menyapa David "Maaf nak David kami enggak tau kalau nak David mau datang kesini. Jadi kami belum menyiapkan apapun untuk menyambut nak David" ucap papa Mohan tersenyum canggung. David yang mendengar perkataan pria paruh baya tersebut hanya tersenyum kecil."Tidak apa pak, saya hanya mampir sebentar kesini karena ada suatu hal yang akan saya bicarakan dengan putri anda" jawab David jujur. "Oh begitu ya, yaudah silahkan duduk dulu nak, Alisha temenin nak David ngobrol sebentar ya sayang" ucap Mama Alena lembut. Setelah itu semua orang masuk kedalam termasuk Santa. Sedangkan para pekerja kembali pada kerjaan mereka masing masing. Sedangkan di ruang tamu hanya tinggal David dan Alisha yang masih duduk di kursi roda. Gadis cantik tersebut masih diam dan menunduk saja karena saat ini ia benar benar merasa canggung duduk berdua dengan David.
"Aku datang kesini mau pamit sama kamu dan mau bertemu kamu sebelum kembali ke Rusia" ucap David tiba-tiba.
"Sekarang sudah bertemu, lalu tuan mau apa lagi" tanya Alisha tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tatap wajah saya, apakah lantai jauh lebih menarik ketimbang wajah saya" ucap David tidak senang.
Alisha tidak menjawab dia hanya diam saja dengan kepala menunduk. "Alisha aku masih menunggu jawabanmu dan hari ini saya ingin tau jawaban atas pernyataan cinta saya waktu itu" ucap David. Alisha diam namun dalam hatinya dia bertekad untuk tidak menerima cinta David. Sejujurnya Alisha belum ada perasaan apapun terhadap David hatinya masih trauma untuk menerima cinta pria lain karena takut sakit hati untuk yang kedua kalinya.
"Maaf tuan, saya tidak bisa menerima perasaan anda. Saya baru saja disakiti oleh mantan saya seseorang yang sudah saya kenal cukup lama. Sedangkan kita masih baru kenal tidak mudah bagi saya menerima cinta anda yang baru saya kenal itupun kita tidak memiliki hubungan sedekat itu" jawab Alisha tegas. Karena ia tidak ingin memberikan harapan terhadap pria didepannya. "Tapi saya serius dengan perasaan saya Sha" ucap David lagi. "Sekali lagi mohon maaf tuan David saya tidak bisa menerima cinta anda karena saya merasa tidak pantas menerima cinta anda. Diluar sana masih banyak wanita yang lebih pantas untuk anda tapi bukan saya hanya seorang gadis lumpuh, sekali lagi saya minta maaf tuan. Kalau begitu saya mohon izin dulu untuk istirahat dan hati hati dijalan semoga selamat sampai tujuan anda, permisi tuan" ucap Alisha langsung pergi meninggalkan ruang tamu dengan mendorong kursi rodanya memasuki lift yang baru beberapa hari dibuat papanya untuk mempermudah dirinya pergi ke lantai atas menuju kamarnya.
David yang mendengar jawaban Alisha kedua tangannya terkepal erat untuk melampiaskan kecewanya. Barusan perasaannya ditolak seorang gadis yang ia sukai untuk pertama kali. David langsung pergi meninggalkan rumah Alisha dengan perasaan tak menentu. Ia segera memasuki mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Mohan Bastara. "Saya tidak akan menyerah Alisha Azura Bastara, suatu saat saya akan buktikan. Untuk saat ini aku akan memberikan kamu waktu untuk sendiri dulu" ucapnya dalam hati.
Sedangkan bik Surti membawa nampan berisi minuman dan beberapa camilan untuk tamu nona mudanya. Namun saat tiba di ruang tamu, bik Surti mengernyit heran melihat ruang tamu dalam keadaan kosong tidak ada orang. "Loh kok sepi kemana nona Alisha dan pria tampan tadi. Apa iya sudah pulang tamunya, tapi kok cepet banget" gumam bik Surti membawa nampan tersebut kembali ke dapur.