Ini season ke 2 dari novel Putra Sang Letnan Kolonel. Dengan Genre Yang berbeda kisah Triple Z (Zayda, Zayden, dan Zafran)
Tawa Semua siswa seketika mencekam, sesaat serangan brutal terjadi di tempat itu.
Panik, Takut semua menjadi satu dalam kericuhan. Hanya dalam hitungan jam puluhan siswa dan guru mati di tempat.
Semua siswa mencari ruangan aman untuk berlindung, tetapi tidak ada satupun ruangan yang bisa menjamin.
Kecuali satu area rooftop. Namun, apakah mereka bisa naik ke atas?
Adakah para siswa ada yang selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ardian
"Zayda tunggu Zayda!" Alea, menghadang jalan sepupunya. Zayda bersikeras Akan mencari Zayden, setelah tahu jika Zayden tengah mencarinya.
"Zayda, kamu jangan asal pergi gitu dong!" Protes Alea.
"Alea, tapi Zayden sedang mencari ku di sana."
"Ya! Zayden memang sedang mencarimu. Tapi ... kalau kalian sama-sama mencari nanti tidak akan ketemu. Gimana kalau kamu keluar terus Zayden yang datang? Nggak mikir ke sana?"
Zayda terdiam.
"Kamu tidak dengar apa kata Bu Raya, Zayden hanya akan mencarimu. Jika tidak bertemu baru dia akan menyusul yang artinya Zayden sebentar lagi akan datang ke sini juga. Jadi ... Untuk apa kamu pergi."
"Alea, benar," sanggah Pak Mun. "Lebih baik kalian tetap di sini jangan ada yang keluar. Karena ini adalah salah satu tempat yang aman," sambung Pak Mun.
Arya kembali menutup ventilasinya. Berjaga-jaga jika nanti ada yang masuk dari lubang itu. Pak Mun juga tidak lupa mengunci pintu, agar tidak ada satu pun yang masuk.
Pak Mun kembali duduk di kursinya begitupun Zayda. Kini mereka hanya saling diam.
Sementara di luar sana. Ardian baru saja tiba di LAC School. Pria itu langsung turun yang berjalan ke arah tenda darurat. Ada dua tenda yang dipasang oleh tenaga medis di depan gerbang LAC School AD, Ardian melihat ada beberapa siswa yang terluka parah, bahkan tewas.
Langkah Ardian semakin maju memasuki ke dalam tenda hingga menemukan istri dan putranya. Ardian cukup tenang karena Zafran sudah ditangani tim medis.
"Sayang?" panggil Ardian menghampiri Zoya. Zoya mendongak.
"Mas," ucapnya yang langsung berdiri, Zayda segera memeluk suaminya.
"Bagaimana keadaan. Zafran?" tanya Ardian setelah melepas pelukan.
Zoya menghela napas sejenak sambil melirik ke arah Zafran yang terbaring. "Seperti yang kamu lihat, Mas. Aku menemukan Zafran di bawah puing bangunan, kakinya tertindih beton Zafran harus segera dilarikan ke rumah sakit. Aku tidak mau ... Kaki Zafran lumpuh nanti, Mas."
(Ada yang lebih parah dari itu Zoya. Zayden dan Zayda, mereka berada dalam bahaya.)
"Zafran," panggil Ardian menunduk di hadapan Zafran. "Ini Papa, kamu kuat, ya sayang?" Zafran mengangguk pelan. Ardian mengecup kening Zafran.
Ardian berdiri. "Kapan Zafran di bawa ke rumah sakit?"
"Sebentar lagi. Aku sedang menunggu ambulance." Karena dua mobil ambulans berulang kali mengantarkan pasien.
"Sebaiknya kamu juga pergi, tinggalkan tempat ini untuk sekarang. Waktunya tidak banyak ... hanya satu jam," ucap Ardian yang melihat jarum arlojinya.
"Tapi ... Mika masih di dalam Mas."
"Mika?" Kening Ardian mengerut. "Mika di sini? Sedang apa dia di dalam? Apa Radit tahu?"
"Azka belum ketemu, Mas. Mika masih mencarinya."
Zoya tidak bisa membantu Mika. Tapi Zoya mengerti perasaan Mika yang pasti sangat gelisah dan cemas. Di dalam sana Mika masih terus mencari Azka. Wajahnya kotor karena debu, terlihat sangat lelah dan frustasi kehilangan anaknya.
"Azka kamu di mana? Mama harus cari kamu ke mana? Apa mungkin Azka tidak di ruangan ini. Mungkin saja Azka ada di tempat lain, dan dia sudah keluar." Pikir Mika, sambil menenangkan hatinya.
"Ya, mungkin saja." Ucap Mika dengan optimis. Mika hendak berbalik menuju jalan keluar, tiba-tiba suara rintihan menghentikan langkahnya.
"Tolong ... tolong ...."
Langkah Mika terhenti. "Azka ... Itu seperti suara Azka."
Mika kembali lagi ke ruangan itu. Menapaki puing-puing bangunan. Langkahnya semakin hati-hati sambil terus mencari asal suara.
"Tolong ... Tolong ...." Suara itu semakin jelas.
Mika diam sejenak sambil menajamkan pendengarannya.
"Azka."
Netranya menoleh ke arah meja guru di bawah tumpukan beton. Mika terbelalak seketika, ketika melihat putranya yang selamat.
"Azka!"
"Mami!"
Azka, menunduk di bawah meja, sehingga tubuhnya masih bisa terlindungi dari reruntuhan beton. Mika segera menjauhkan berapa benda yang menghalanginya. Setelahnya ia masuk ke dalam bawah meja yang langsung memeluk Azka.
"Mami, Azka takut!"
"Jangan takut ya, sayang ada Mama di sini."
"Mami, bawa aku keluar sebelum gempa susulan."
Azka berpikir sekolahnya runtuh karena sebuah gempa. Anak seumuran nya memang polos, tapi sebagai seorang ibu Mika tidak boleh mengatakan yang sebenarnya. Jangan biarkan Azka panik karena tahu di sekolahnya ada teroris.
"Iya, sayang kita keluar sekarang."
Mika membawa Azka keluar dari bawah meja. Dengan langkah pelan dan hati-hati. Seraya memeluk buah hatinya itu dengan langkah tertatih.
"Pelan-pelan sayang." Azka memang terlambat ditemukan tapi kondisinya tidak separah Zafran.
"Mami tunggu ...." Azka tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ada apa sayang?"
Azka menoleh ke ruang lain yang tampak hancur. "Zafran ...."
"Kamu jangan khawatir, Zafran sudah ditemukan."
"Bagaimana keadaannya?"
"Zafran terluka parah dibagian kakinya. Tapi kamu tidak perlu cemas karena Zafran sudah diobati oleh ibunya. Ayo, kita lanjutkan lagi perjalanannya."
Azka diam termangu, mendadak gelisah setelah mengetahui keadaan Zafran.
"Jika ada yang sakit kamu katakan pada Mami." Ungkap Mika selama perjalanan.
Di luar sana banyak sekali polisi. Mika cukup terkejut, banyak sekali siswa yang dievakuasi. Ada yang terluka parah, ada pula yang terlihat baik-baik saja. Sebagian dari jalanan depan sekolah dipenuhi mobil para wali murid yang mengetahui keadaan putra dan putrinya di telivisi.
Beberapa wartawan meliput langsung dari TKP. Namun, mereka tidak bisa masuk yang dihalangi garis polisi. Para anggota kepolisian hanya takut jika hal buruk terjadi. Sehingga dilarang bagi mereka untuk menemui putranya sekalipun.
"Pak tolong Pak, saya harus bertemu anak saya."
"Maaf, Bu. Di dalam sangat berbahaya jadi tidak diizinkan masuk. Semua siswa sudah dievakuasi dan di bawa menuju tenda yang di sana. Ibu bisa mencari anak Ibu di sana." Tunjuk salah satu anggota polisi kearah tenda merah yang dipindahkan ke arah taman yang tidak jauh dari halaman sekolah.
Mengingat akan adanya bom meledak, untuk keamanan mereka memindahkan tenda darurat di sana.
Ardian, menghampiri salah satu anggota polisi yang bertugas berjaga. Ketika dihampiri petugas itu langsung hormat padanya.
"IPDA Damar," panggil Ardian.
"SIAP! Saya Letjen," jawabnya dengan tegas.
"Siapa yang sudah masuk ke dalam?"
"Siap!" Hormat IPDA Damar. "Di dalam sudah ada tim khusus UNITRAKS yang beroperasi."
"Bisakah saya hubungkan pada mereka?"
"SIAP! Letjen bisa tanyakan langsung ke base-singa 1." IPDA Damar menunjuk posko - Base-singa1 yang di mana di sana ada radio komunikasi ke tim khusus UNITRAKS dan Ardian akan mendapat informasi lebih lengkap nantinya.
"Baik, terima kasih."
"SIAP! sama-sama Letjen Ardian."
Ardian melangkah ke arah posko ( base - singa 1) di sana ada salah satu komandan yang memantau radio komunikasi penghubung informasi ke dalam. Tentunya orang itu akan tahu perkembangan tim khusus UNITRAKS.
"IPTU Dimas," panggil Ardian ketika tiba di base. Orang yang dipanggil dengan nama tersebut langsung berdiri, berbalik menghadap Ardian. Dia berdiri tegak sambil hormat.