NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:989
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Just Two Of Us

Serena berenang sendirian malam itu. Tubuhnya bergerak pelan membelah air hangat kolam, sementara pikirannya terasa semakin berisik setiap menit. Rambut panjangnya basah seluruhnya sekarang, menempel di kulit pucat bahu dan lehernya saat perempuan itu berhenti di pinggir kolam sambil mengatur napas.

Julian sudah tertidur satu jam lalu setelah dokter memberinya obat. Dan Damien belum menghubunginya lagi sejak sore. Sunyi seperti ini seharusnya menenangkan, namun justru membuat Serena semakin sulit berhenti berpikir.

Tentang Julian yang kembali mempercayainya begitu mudah. Tentang dirinya sendiri yang ternyata menikmati itu. Tentang Damien yang sedang berada ribuan kilometer jauhnya, membereskan kebohongan mereka.

Ponselnya tiba tiba bergetar dari kursi lounge dekat kolam. Serena mengernyit kecil sebelum keluar dari air perlahan. Air mengalir turun dari tubuhnya sementara udara malam langsung membuat kulitnya menggigil samar. Ia mengambil bath robe hitam tipis lalu membungkus tubuhnya cepat sebelum meraih ponsel.

Nomor tidak dikenal.

Lagi.

Dan begitu Serena membaca pesannya, seluruh tubuhnya langsung terasa dingin.

Air membuatmu terlihat hidup lagi.

Damien pasti menyukai punggungmu setelah basah seperti itu.

—A

Napas Serena langsung tercekat. Tatapannya refleks terangkat ke arah jendela besar lantai dua mansion yang gelap.

Kosong. Tidak ada siapa siapa. Namun justru itu yang membuat tengkuknya semakin dingin. Karena bagaimana orang itu tahu kegiatannya?

Serena buru buru mematikan layar ponselnya lalu berjalan cepat masuk ke dalam mansion. Pintu kaca otomatis tertutup pelan di belakangnya, memisahkan dirinya dari udara malam yang tiba-tiba terasa mengancam.

Namun langkahnya langsung berhenti begitu memasuki ruang keluarga utama.

Julian duduk di sofa.Pria itu mengenakan kaus hitam longgar dan celana training abu-abu milik staf mansion. Rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding siang tadi meski masih pucat.

Tatapannya langsung jatuh pada Serena.

Dan Serena tiba tiba sangat sadar dirinya hanya mengenakan bath robe tipis dengan rambut basah dan kulit yang masih dipenuhi sisa air kolam.

“Kau belum tidur?” tanya Serena cepat.

Julian terlihat sedikit salah tingkah sebelum menggeleng kecil. “Aku bangun dan tidak melihatmu.”

Jawaban itu terdengar terlalu natural. Terlalu seperti seseorang yang memang terbiasa mencari Serena begitu membuka mata. Dan anehnya, Serena menyukai itu.

“Aku hanya berenang.”

Tatapan Julian bergerak singkat ke rambut basah Serena sebelum buru-buru kembali ke wajah perempuan itu.

“Larut malam begini?”

“Aku sulit tidur.”

Julian mengangguk pelan seolah memahami. Tatapannya masih belum lepas dari Serena. “Aku ingin bertanya sesuatu.”

Serena akhirnya berjalan mendekat lalu duduk santai di sofa seberang Julian sambil menyilangkan kaki.

“Apa?”

“Hampir semuanya.”

Sudut bibir Serena naik kecil. “Kau terdengar seperti anak kecil.”

“Mungkin memang begitu sekarang.” Julian tersenyum samar. “Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sendiri.”

Kalimat itu seharusnya membuat Serena merasa bersalah. Namun yang muncul justru rasa aneh lain. Karena sekarang Julian hanya memiliki dirinya untuk memahami dunia.

“Kau bekerja sebagai apa?” tanya Julian pelan.

“Aku model.”

“Itu masuk akal.”

“Kenapa?”

Tatapan Julian turun sebentar sebelum kembali ke wajah Serena. “Sulit mengalihkan pandangan darimu.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat Serena terdiam sesaat. Bahkan tanpa memorinya, Julian masih tetap laki-laki yang sama.

Tenang, lembut dan terlalu tulus.

“Lalu aku?” Julian kembali bertanya. “Aku dulu seperti apa?”

Serena memperhatikannya cukup lama. Dan untuk pertama kalinya, perempuan itu sadar ia bisa mengatakan apa saja sekarang. Ia bisa menulis ulang seluruh hidup mereka.

“Kau terlalu baik untukku,” jawab Serena pelan akhirnya.

Julian terlihat sedikit bingung. “Itu terdengar seperti sesuatu yang buruk.”

“Mungkin memang buruk.”

Julian tertawa kecil. Dan suara itu langsung membawa Serena kembali ke masa lalu mereka.

Ke kantin sekolah. Ke ramen murah tengah malam. Ke kehidupan sederhana yang pernah mereka miliki sebelum Damien menghancurkan semuanya.

“Ini rumah siapa sebenarnya?” tanya Julian lagi sambil melihat sekeliling mansion besar itu.

“Teman.”

“Temanmu kaya sekali.”

“Ya, bisa dibilang begitu.”

Julian bersandar lebih santai ke sofa sekarang, tetapi ekspresinya berubah sedikit berpikir. “Dia tinggal di sini juga?”

Pertanyaan itu terdengar biasa saja. Namun Serena menangkap sesuatu yang samar di balik nada suaranya. Ketidaksukaan kecil.

Dan entah mengapa, itu membuatnya ingin tersenyum. “Kadang-kadang,” jawab Serena santai.

Julian diam sebentar sebelum bertanya lagi, “Kenapa kita memilih Los Angeles?”

“Kita ingin memulai hidup baru.” Jawaban itu keluar begitu mudah dan natural. Dan Serena mulai sadar dirinya semakin nyaman hidup di dalam kebohongan ini.

Televisi besar di ruang keluarga tiba-tiba menyala otomatis, menampilkan siaran konferensi politik keluarga Knox, tepatnya menampilkan Liam Knox berdiri di podium dengan senyum politik sempurna, dikelilingi wartawan dan lampu kamera yang terus berkedip.

Serena langsung sedikit menegang. Karena beberapa detik kemudian, kamera menyorot Damien yang berdiri tidak jauh di belakang ayahnya.

Rapi. Tenang. Nyaris terlalu sempurna.

Julian yang sejak tadi hanya melihat televisi sambil lalu tiba-tiba mengernyit kecil. Tatapannya langsung tertahan pada layar.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Jantung Serena langsung berdetak lebih keras. “Aneh kenapa?”

Julian masih menatap Damien di layar televisi tanpa berkedip. Lalu perlahan, rahangnya menegang samar.

“Entah kenapa,” suaranya terdengar jauh lebih rendah sekarang, “aku tidak nyaman melihat pria itu. Siapa dia?”

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!