_
When npc fallin love?
Gadis remaja cantik kini terduduk menggaruk keningnya yang tak gatal, pikirannya selalu berkhayal jika npc seperti dia jatuh cinta pada pemain utama di dunia nyata?
Ah, pasti seru!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sapiluv Mprits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keceplosan.
Hemm, ayya menyayangkan sikap teman pertamanya di SMA itu.
" Kayaknya kak galih risih deh, secara Kania nge chat kek udah kenek deket sih."
Membacanya lagi, ayya langsung menghela nafasnya saat tau dimana letak salahnya.
" Ga pake embel-embel kak, Tiba-tiba inget ga?
selama kenal kak galih dan menjadi stalker dia, aku rasa kak galih bukan tipe orang yang suka basa-basi, apalagi sama orang yang ga terlalu deket."
Sembari meminum vitamin sebelum berangkat ke sekolah, ayya membalas pesan Kania yang semakin galau karena galih.
Sesampainya di sekolah, bukannya langsung ke lantai dua dimana kelasnya berada, ayya malah belok dan mengubah haluan ke kelas Kania.
Di kursi tengah nomor tiga dari depan, Kania terlihat merengut kesal di tempatnya.
" Ah dasar cegil, dibilang apa? jangan terlalu espek, ntar ditolak pasti ujungnya nyesek dan kesel sama doi." Peringat ayya sembari mengusap kedua pundak Kania
" Ya mana gue tau kalo kak galih bakal setega itu sama gue, gue sama dia ga pernah ada masalah ya jir. Kita fine aja selama ngantin, ketemu papasan, ya kayak orang temenan..
Tapi masak di chat doang udah main blokir, its not affair ayyaa.."
Kania menggeram kesal, ayya pun berusaha menahan Kania yang sudah tantrum ingin menghajar siapapun yang lewat.
Ayya benar-benar tak tahan untuk menertawakan tingkah Kania yang sedang patah hati ini, untungnya ada Louis yang turut membantunya tertawa.
Louis baru saja datang dan terheran melihat Kania ngereog pagi-pagi.
" Kenapa dia ayy?" Tanyanya menunjuk Kania dengan lirikan.
" Ga apa, cuma bad day.. Kamu jangan tengil dulu ke Kania, oke?" Peringat ayya.
What? Larangan adalah perintah, senyum Louis pun melebar bak iblis yang siap menjerumuskan manusia ke dalam neraka, ayya pun berdecak kesal dan menampar lengannya.
" Nggak usah tengil, ngapain senyumnya kek punya rencana jahat gitu?!" Cibir ayya membuat Louis semakin terpingkal.
" Haahah, Kania galau? dunia gue aman!"
Ish! Kania langsung melirik tajam, setajam silet!
Tanpa takut Louis malah semakin tengil menggodanya.
" Ngomong o, njaluk mu piye.. tak turutane, tak usahakne.. Aku ra masalah, yen kon berjuang dewe.. sing penting kowe, bahagia ending ee... Pfft, hahahahha... cocok nih lagu buat Kania.."
" Babi lo ya! Louis anjing! Sini lo gue jambak rambut lo sampe pitak! Ngeselin banget jadi hewan!"
Astagaa, ayya menggeleng-geleng dan menepuk jidat mendengar ucapan kedua temannya itu, namun yang lebih anehnya teman sekelas mereka bersikap biasa saja.
" Sepertinya temen kelas kalian udah biasa liat kalian gelud gini ya?" Heran ayya.
Salah satu siswi di belakang mereka pun menyahut.
" Langganan dihukum wali kelas mereka berdua mah, tapi ya gitu tiap istirahat pasti akur lagi.."
Pfft... Ayya menahan tawa tanpa berniat memisahkan keduanya.
Ah untungnya bel masuk kelas sudah berbunyi, melihat Louis dan Kania masih saling jambak, ayya pun menunggu waktu pas untuk join.
Oke, melihat di ujung sana gurunya mengarah ke kelas, ayya bergerak cepat menjambak rambut Louis dan Kania bersamaan.
Sreet!
" Woylah!"
" Ayya anjing!"
Keduanya kompak meneriaki ayya yang sudah berlari keluar dengan terpingkal.
" See you istirahat nanti gais!"
Ayya melambaikan tangan dari jendela sebelum akhirnya menaiki anak tangga.
_
Skip-
Sungguh hiburan yang menyenangkan, membuat mood ayya bagus hari ini. Yeah!
Begitu waktunya istirahat ayya langsung keluar kelas dengan ruang gembira, dan disaat ia menuruni anak tangga, Louis dan Kania sudah tersenyum smirk menyambutnya di bawah.
" Oh no, kalian nyeremin sumpah!" Ucap ayya sambil melangkah turun tanpa takut.
Louis dan Kania pun mengernyit heran.
" Lo ga takut kita bales dendam ayy?" Tanya louis.
Keduanya pun mengejar ayya yang terus berjalan dengan begitu santainya melewati koridor.
" Ga takut lah, kalian kan bestie terbaikku selama hidupku."
What? Kania yang siap menjambak rambut ayya pun tiba-tiba urung dan termenung, Louis menoleh heran hingga bukannya balas dendam Kania malah memeluk ayya dari belakang.
" Aaaah, bisa-bisanya gue seneng dianggep sahabat terbaik lo, ayy.. Gue sayang banget sama lo.."
Oooouh.. So sweet, ayya pun menoleh dan mengerucutkan bibirnya karena terharu.
" Ah Kania bikin terharu, aku juga sayang kamuu.." Balas ayya menciun pipi Kania.
Sontak saja Louis tercengang.
" Ngeri coeg! Terdeteksi konsep GL nih cerita.. Kalian berdua walawe kan?!" Tuduh louis.
Kania dan ayya pun serempak menjambak rambut Louis, lalu berlari kencang mendahuluinya ke kantin.
" WOY DASAR WLW!" Seru Louis turut berlari mengejar.
Kania dan ayya pun berlarian masuk ke area kantin dengan cekikikan, tawanya yang nyaring menjadikan beberapa pusat perhatian pengunjung kantin.
Tak terkecuali Galih dengan teman sekolahnya.
Melihat ayya dan Kania hendak bersembunyi dan melewatinya, saat itu juga Galih menghalau tangannya untuk menahan ayya.
" Huh? Kak Galih?" Ayya terkesiap melihat tangannya yang ditahan Galih.
" Ngapain lari-larian disini? Banyak lalu lalang, nanti ketabrak mereka.." Tunjuknya pada beberapa siswa yang membawa nampan makan siangnya.
Ayya sontak meminta maaf dengan begitu gugup, kedua matanya pun was-was menanti kedatangan Louis yang sewaktu-waktu bisa balas dendam lebih kejam lagi padanya dan Kania.
Kania sudah berhasil kabur, sedangkan ayya masih ditahan Galih sehingga ia mulai panik dan memaksa untuk dilepaskan.
" Kenapa? mau lari lagi?" Tanya teman Galih.
Ayya gugup, bukan karena Louis tapi Galih yang kini berdiri menghadangnya.
Melihat kedatang Louis di pintu masuk, Galih pun bisa menebak apa yang tengah mereka bertiga lakukan tadi.
" Becandanya jangan disini, rame.." Peringat Galih tanpa melepas tangan ayya sama sekali.
Ayya pun semakin panik dan akhirnya bersembunyi di belakang Galih.
" Kak Galih maaf, tapi tolong lindungin aku dari Louis.." Ucapnya lirih.
Galih pun menoleh pada Louis.
" Ayya di belakang lo itu kan, bang? Ayya, sini lo.. mana juga si Kania itu, minta di geprek kalian berdua itu ya!" Cetus Louis becanda.
Namun Galih langsung berdehem menghalau langkah Louis yang hendak menemui ayya di belakangnya.
" Mau ngapain?" Tanya Galih menghadang.
" Becanda aja sih bang, tadi mereka berdua jambak rambut gue jir, dikira ga sakit apa? mana abis itu lari, nih satu tersangkanya di belakang bang leo.."
Oh shit, ayya reflek gigit jari saat Galih menolehnya tak suka.
" Ngapain jambak rambut Louis?" Tanya Galih.
Ayya pun menggeleng cepat.
" M-maaf kak, tapi itu louis duluan.. tadi pagi dia tengil ke Kania yang tantrum gara-gara semalem abis diblokir nomernya sama kak Galih..."
Ups...
Ucapan ceplas-ceplos ayya benar-benar membuat mereka semua serempak mematung, Louis pun tercengang tak menyangka alasan dibalik tantrumnya Kania pagi tadi.
" Well???"
Beberapa teman Galih pun tersenyum smirk sehingga membuat Galih menggeleng pelan, ia menarik napas panjang dan menoleh pada ayya.
Senyumnya perlahan mengembang tipis, namun tatapannya jelas menyorot tajam pada ayya.
Ayya reflek menggeleng cepat dan menoleh pada teman-teman galih untuk konfirmasi ulang.
" A.. Em anu.. B-bukan itu, aku cuma asbun aja kak.."
Memicing dan smirk, tak peduli konfirmasi ayya mereka tetap menggoda Galih yang kedapatan memblokir Kania.
" Emang gitu si Galih, ga suka ada cewe yang bikin ga nyaman, kalo ada cewe yang berhasil disimpen nomornya tanpa di blokir, fiks cewe pilihan Galih itu mah.."
Huh? Ayya langsung menoleh pada Galih, Galih pun menarik napasnya semakin panjang lalu menyeret ayya mendekat.
Louis yang masih berdiri itu langsung duduk di samping teman Galih untuk menyaksikan keduanya.
" Jangan dengerin omongan mereka." Peringatnya menekan.
Ayya pun reflek mengangguk. " M-maaf kak.. Aku ga bermaksud bikin kamu malu.."
" Jaga ucapanmu, jangan bikin orang risih kalau ucapanmu aja sering ceroboh kayak tadi."
Oh no, ayya mengangguk cepat dan menunduk gugup. Ia benar-benar tak menyangka jika Galih akan kembali bersikap setajam ini padanya.
" Jangan ngerasa seperti apa yang mereka ucapin hanya karena aku save nomer kamu, ayya.. Aku cuma mau temenan karena kita masih tetangga dekat."
Deg..! Ucapannya bagai ujung tombak yang menusuk jantung ayya sampai menembus punggungnya.
Louis pun turut tegang melihat ayya yang di peringati Galih dengan begitu tegas.
" Tuh anak nangis gak ya nanti? Jadi ngerasa bersalah gue.." Gumam Louis menatap ayya.
Begitu peringatan usai, Galih langsung menyuruh Louis untuk mengajak ayya memilih makan siangnya terlebih dahulu.
" Siap bang!"
Louis langsung bangun dan mendekati ayya, melihat ayya tertunduk langsung saja ia mengajak ayya untuk pergi dari sana menuju pengambilan makan siang.