Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sore hari menyapa dengan semburat jingga yang masuk melalui celah gorden.
Xena perlahan membuka matanya, merasakan tubuhnya sudah jauh lebih ringan meski masih ada sedikit rasa pening.
Ia tersentak pelan saat menyadari dirinya tertidur di sofa dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Di saat yang sama, Prabu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di lehernya.
Aroma sabun maskulin yang segar langsung memenuhi ruangan.
Xena bangkit dari posisi berbaringnya dengan perlahan.
"Pra, terima kasih sudah merawatku tadi," ucap Xena dengan suara yang masih agak serak.
Prabu hanya menganggukkan kepalanya singkat tanpa menoleh sepenuhnya.
Wajahnya kembali dingin, seolah-olah perhatian yang ia berikan tadi pagi hanyalah sebuah halusinasi.
"Jangan kegeeran, Xen," sahut Prabu datar sambil menyisir rambutnya dengan jari.
"Aku melakukannya hanya supaya kamu cepat sehat, bisa mengurusku lagi, dan aku bisa segera terbang. Aku tidak mau proses penyembuhanku terhambat karena dokter pribadiku malah sakit-sakitan."
Xena terdiam sejenak. Ia sudah terbiasa dengan kalimat ketus itu, namun kali ini rasanya jauh lebih dalam.
Ia menganggukkan kepalanya perlahan, mencoba menelan pahitnya kenyataan bahwa ia hanyalah sebuah "alat" untuk ambisi Prabu kembali ke kokpit.
"Setelah kamu sembuh, aku akan pergi jauh, Pra," gumam Xena sangat lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Langkah Prabu terhenti. Ia sempat menangkap suara, namun tidak begitu jelas apa yang diucapkan istrinya.
"Apa, Xen? Kamu ngomong sesuatu?"
Xena tersentak, jantungnya berdegup kencang karena takut Prabu mendengar kalimat itu.
Ia segera memaksakan senyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku cuma bilang, sepertinya aku harus segera menyiapkan makan malam," jawab Xena cepat, berharap Prabu tidak curiga.
Ia segera berdiri dan berjalan menuju dapur, menghindari tatapan mata Prabu.
Dalam hati, Xena menarik napas panjang. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: ia akan menyembuhkan Prabu sampai tuntas, mengantarnya kembali ke langit, lalu ia akan menghilang dari hidup pria itu agar Prabu bisa mencari kebahagiaan yang selama ini ia klaim hilang karena kehadiran Xena.
Dapur vila yang biasanya sunyi kini terasa lebih hidup.
Xena sedang sibuk memotong sayuran dengan telaten untuk membuat sup hangat, sementara uap dari nasi merah yang baru matang mulai memenuhi ruangan.
Ia mencoba tetap fokus, meski bayangan tentang "pergi jauh" masih membekas di benaknya.
Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Prabu berdiri di ambang pintu dapur, masih dengan kaus santainya, memperhatikannya dalam diam sejenak sebelum akhirnya bersuara.
"Boleh aku bantu?" tanya Prabu pelan.
Pisau yang dipegang Xena hampir saja meleset. Ia sedikit terkejut, matanya membelalak menatap suaminya.
Ini adalah pertama kalinya Prabu menawarkan bantuan secara sukarela tanpa ada nada sinis atau paksaan.
Xena mengerjapkan mata, berusaha menguasai rasa kagetnya, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.
"Boleh. Tolong tumis bawangnya, Pra."
Prabu mendekat ke kompor, mengambil sodet dengan kaku.
Ia memasukkan potongan bawang ke dalam wajan yang sudah panas. Namun, pikirannya seolah melayang; ia hanya memandangi bawang yang mulai berubah warna tanpa mengaduknya.
"Pra, gosong nanti kalau kamu diamkan saja begitu," tegur Xena lembut sambil menghampiri sisi suaminya.
Prabu tersentak dari lamunannya dan segera mengaduk tumisan itu dengan gerakan sedikit panik.
"Iya, iya, Dokter. Sabar, aku kan bukan koki, aku ini pilot," sahutnya dengan nada yang kali ini terdengar lebih seperti gerutuan jenaka daripada hinaan.
Xena tak bisa menahan senyum tipisnya. Untuk sesaat, suasana terasa begitu normal—seperti sepasang suami istri biasa yang sedang memasak bersama.
Di tengah aroma bawang yang harum, Xena merasa ada sedikit kehangatan yang mulai mencairkan suasana beku di antara mereka, meski ia tahu perjuangannya masih sangat jauh dari kata usai.
Xena memasukkan potongan wortel, buncis, dan sayuran segar lainnya ke dalam panci yang mulai mendidih.
Aroma gurih kaldu sayur memenuhi dapur, menciptakan suasana yang lebih hangat dari biasanya.
"Pra, tolong piring sama gelas kamu siapkan di meja ya," pinta Xena lembut tanpa menoleh.
Prabu menganggukkan kepalanya patuh, sebuah pemandangan yang langka.
Ia menata perlengkapan makan dengan rapi, sesekali melirik punggung Xena yang masih sibuk di depan kompor.
Setelah semuanya matang, mereka duduk bersama di meja kayu yang menghadap ke jendela.
Prabu mulai menyuap sup buatan Xena. Kali ini tidak ada keluhan, tidak ada perbandingan dengan masakan masa lalu.
Ia tampak benar-benar menikmati setiap suapan makanan sehat yang dimasak oleh istrinya itu.
Keheningan di antara mereka terasa lebih nyaman, bukan lagi keheningan yang menyesakkan.
Setelah selesai makan, Xena meletakkan beberapa butir obat di atas meja bersama segelas air. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Xena mengeluarkan ponselnya, lalu menyalakan sebuah rekaman audio.
Vroommm...
Suara deru mesin pesawat yang sedang lepas landas memenuhi ruangan.
Itu adalah bagian dari terapi desensitisasi untuk mengatasi trauma pasca-kecelakaan yang dialami Prabu.
"Pra, dengarkan suara pesawat ini," ucap Xena dengan tatapan serius namun menenangkan.
"Kalau kamu nggak kuat, kamu boleh bilang berhenti. Kita lakukan pelan-pelan."
Prabu menganggukkan kepalanya, wajahnya sedikit menegang dan tangannya mencengkeram pinggiran meja saat suara turbin itu semakin keras.
Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya sesuai instruksi yang pernah diberikan Xena sebelumnya.
Di hadapannya, Xena tetap siaga, memantau setiap perubahan ekspresi suaminya, siap menjadi jangkar saat badai trauma itu kembali menyerang.
Suara deru mesin pesawat dari ponsel Xena masih memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang mencekam.
Xena menatap Prabu dengan saksama, suaranya terdengar lirih namun stabil saat ia mulai memancing ingatan yang selama ini terkubur.
"Saat itu, aku sedang di rumah sakit ketika tiba-tiba mendengar kabar kecelakaan itu, Pra," ucap Xena pelan.
Prabu tersentak. Cengkeraman tangannya pada pinggiran meja mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Bayangan kokpit yang berguncang, alarm yang meraung, dan kepulan asap hitam mendadak memenuhi pikirannya.
"Pra, tolong aku... Tolong aku, Pra..." Xena sengaja menggunakan kalimat yang memicu sisi protektif Prabu, mencoba menariknya keluar dari rasa bersalah yang melumpuhkan.
Napas Prabu mulai memburu, tidak beraturan. Ia memejamkan mata erat-erat, seolah sedang bertarung dengan hantu di dalam kepalanya.
"Cukup, Xen... Cukup..." gumamnya parau.
Ia berusaha keras melakukan teknik pernapasan yang diajarkan Xena, menghirup udara dalam-pelan dan mengembuskannya dengan gemetar.
Xena memperhatikan dengan saksama. Ada kemajuan; Prabu tidak lagi berteriak atau mengamuk, melainkan mencoba mengendalikan emosinya sendiri meski tubuhnya masih bergetar hebat.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan, sampai akhirnya Prabu membuka matanya. Tatapannya terlihat sangat lelah, seolah ia baru saja berlari ribuan mil jauhnya.
"Hentikan, Xen. Tolong. Hentikan suaranya," pinta Prabu dengan suara yang hampir habis.
Xena segera mematikan rekaman itu. Keheningan seketika menyelimuti ruangan, hanya menyisakan suara napas Prabu yang perlahan mulai stabil.
Xena mengusap bahu Prabu dengan gerakan singkat, memberikan dukungan tanpa harus berkata-kata banyak.
"Kita lanjutkan besok lagi, Pra. Kamu sudah hebat hari ini," ucap Xena lembut.
Ia menyodorkan dua butir kapsul terakhir ke hadapan suaminya. "Dan ini obat setelah makan. Minumlah, setelah itu kamu harus istirahat total."
Prabu mengambil obat itu tanpa membantah. Ia menatap Xena sebentar, ada kilatan rasa terima kasih yang tersembunyi di balik matanya yang lelah, sebelum akhirnya ia beranjak menuju kamar dengan langkah yang masih sedikit goyah.
Xena hanya bisa menatap punggung suaminya, menyadari bahwa meski perlahan, luka itu mulai dibersihkan—meskipun ia harus mempertaruhkan perasaannya sendiri setiap harinya.
Malam semakin larut, namun lampu di meja kerja Xena masih menyala temaram.
Setelah memastikan Prabu beristirahat, Xena masuk ke kamarnya sendiri.
Ia mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit yang selalu ia bawa—jurnal perkembangan medis dan psikologis Prabu.
Dengan telaten, ia mulai menuliskan detail hari ini:
24 April. Pagi: Lari pagi di pantai (subjek sempat mengalami disorientasi nama, namun fisik menunjukkan peningkatan). .
Sore: Terapi suara mesin pesawat. Respon: Subjek mulai mampu melakukan teknik pernapasan mandiri saat pemicu trauma muncul.
Meskipun meminta berhenti, kendali emosi meningkat 20% dari sesi sebelumnya.
Xena menghela napas panjang, menutup bukunya.
Ada rasa bangga sekaligus getir yang menyelimup matanya.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan singkat kepada Ayah Prabu.
"Selamat malam, Pa. Xena ingin mengabarkan kemajuan Prabu hari ini. Tadi sore kami melakukan terapi desensitisasi suara. Prabu sudah mulai bisa mengatur napasnya sendiri tanpa perlu bantuan fisik penuh dari Xena. Ini kemajuan besar. Secara fisik, dia juga sudah lebih kuat. Mohon doanya terus ya, Pa."
Setelah mengirim pesan itu, Xena meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamar.
Ia tahu, setiap langkah maju yang diambil Prabu adalah satu langkah lebih dekat menuju hari di mana pria itu akan kembali ke langit, dan satu langkah lebih dekat menuju hari di mana ia harus memenuhi janjinya pada diri sendiri: pergi menjauh.
Di kamar sebelah, Prabu sebenarnya belum sepenuhnya terlelap.
Ia menatap langit-langit yang gelap, telinganya masih terngiang suara Xena yang lembut namun tegas saat menuntunnya melewati badai trauma tadi sore.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Prabu tidak memikirkan Tryas sebelum tidur; ia justru memikirkan betapa hangatnya minyak kayu putih di jemari Xena saat menyentuh kulitnya pagi tadi.
Dinding es itu tidak lagi sekadar retak, ia mulai mencair, setetes demi setetes.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣