Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma kopi dan sindiran pagi
Pukul tujuh pagi. Di asrama militer, waktu ini seharusnya sudah menjadi puncak aktivitas. Namun, di rumah nomor 12, Adeeva masih meringkuk di bawah selimut tebal. Ia sengaja mengabaikan bunyi terompet apel pagi yang sempat terdengar samar dari arah lapangan. Baginya, asrama ini adalah zona asing yang harus ia lawan dengan cara paling pasif: tidur lebih lama.
Shaheer sudah bangun sejak pukul lima. Ia sudah selesai lari pagi, mandi, dan kini sudah mengenakan seragam dinas harian (PDH) yang rapi tanpa cela. Ia berdiri di depan kamar, menatap gundukan di balik selimut itu. Ada keinginan untuk membangunkan Adeeva, namun ia urungkan. Ia memilih berjalan ke dapur.
Suara denting penggorengan dan aroma nasi goreng mulai memenuhi ruangan. Shaheer memasak sendiri. Sebagai prajurit yang sering bertugas di lapangan, urusan dapur bukan hal sulit baginya.
Di luar rumah, di bawah pohon mangga yang menjadi batas antara rumah dinas Shaheer dan tetangganya, tiga orang wanita berseragam olahraga hijau khas Persit sedang berkumpul. Mereka adalah istri-istri bintara dan perwira pertama yang pangkat suaminya berada di bawah Shaheer.
"Lihat itu, Bu RT. Jam segini pintu depan rumah Kapten Shaheer masih tertutup rapat," bisik Bu Darma, istri seorang Sersan, sambil pura-pura menyapu daun kering.
"Iya, ya. Tadi saya lihat Kapten Shaheer malah sudah di dapur sendirian. Masa istri baru bukannya nyiapin sarapan, malah masih 'ngumpet' di kamar?" sahut Bu Letda Siska dengan nada menyindir. Ia merasa lebih senior secara usia meski suaminya kalah pangkat dari Shaheer.
"Katanya sih anak Kyai dari pondok besar. Tapi kok adabnya begitu? Harusnya kan jam segini sudah ikut bersih-bersih lingkungan. Mentang-mentang istri Kapten baru, apa mau diperlakukan seperti permaisuri?" timpal wanita lainnya.
Adeeva yang akhirnya terbangun karena merasa gerah, berjalan menuju jendela kamar yang sedikit terbuka. Ia berniat mencari udara segar, namun telinganya justru menangkap obrolan pedas di luar sana.
Matanya yang masih mengantuk seketika menyalang. Ia tahu mereka sedang membicarakannya. Adeeva menyambar daster tipis selututnya—pakaian yang sangat tidak standar untuk lingkungan asrama—lalu dengan sengaja membuka jendela lebar-lebar.
Sreg!
Suara jendela yang dibuka paksa membuat ketiga wanita di bawah pohon itu tersentak. Mereka menoleh dan terbelalak melihat penampilan Adeeva. Rambut acak-acakan, bahu yang terekspos, dan wajah tanpa riasan yang terlihat sangat ketus.
"Pagi, Ibu-ibu," sapa Adeeva dengan suara serak namun lantang. "Kalau mau gosip, volumenya dikontrol sedikit. Suara kalian lebih berisik dari knalpot motor."
Ketiga wanita itu mematung. Bu Letda Siska mencoba memperbaiki posisinya. "Eh, Mbak Adeeva sudah bangun? Kami cuma... cuma lagi bahas kebersihan lingkungan, Mbak. Di asrama ini, jam tujuh itu sudah siang."
"Oh, ya? Terima kasih informasinya," jawab Adeeva sambil bersandar di kusen jendela dengan gaya menantang. "Tapi setahu saya, suami saya tidak komplain. Jadi, kalau Kapten saja tidak masalah saya bangun jam berapa, kenapa Ibu-ibu yang suaminya bawahan dia malah yang sibuk? Apa mau saya sampaikan ke suami saya supaya suaminya Ibu dikasih tugas tambahan biar istrinya tidak terlalu banyak waktu luang buat mengurus rumah orang lain?"
Wajah Bu Darma dan Bu Siska pucat pasi. Di asrama, hirarki itu nyata. Meski Adeeva anak baru, statusnya sebagai istri Kapten memberikan dia kekuatan untuk "menekan" suami-suami mereka lewat jalur kedinasan jika ia mau.
"Bukan begitu, Mbak... kami cuma..."
"Adeeva."
Suara bariton Shaheer terdengar dari belakang. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar, menatap Adeeva yang sedang beradu mulut lewat jendela. Shaheer melirik ke luar jendela, melihat ibu-ibu Persit yang langsung pura-pura sibuk menyapu dan bubar jalan dengan langkah seribu.
Shaheer mendekati jendela dan menutupnya pelan. "Pakaianmu, Deeva. Jangan tunjukkan diri seperti itu di depan umum."
Adeeva berbalik, melipat tangan di dada. "Oh, jadi kamu lebih peduli soal pakaianku daripada fakta bahwa istrimu baru saja dijadikan bahan gunjingan tetangga?"
"Aku mendengar semuanya," jawab Shaheer tenang. "Tapi membalas mereka dengan membawa-bawa pangkat suaminya itu bukan cara yang elegan. Itu hanya akan membuatmu semakin dijauhi."
"Aku tidak butuh teman di sini!" ketus Adeeva. "Dan aku tidak butuh sarapan kalau ujung-ujungnya hanya untuk diceramahi."
Adeeva hendak masuk ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat melihat piring berisi nasi goreng telur mata sapi yang tertata rapi di atas meja makan kecil.
"Makanlah. Aku harus berangkat apel pagi," ujar Shaheer sembari mengambil baretnya. "Dan satu lagi... nanti siang Fathiyah akan datang. Dia mau mengajakmu ke pertemuan rutin anggota Persit. Tolong, pakailah seragam hijau yang sudah aku siapkan. Jangan buat keributan lagi."
Adeeva menatap nasi goreng itu, lalu menatap punggung Shaheer yang keluar rumah. Ada rasa kesal karena ia merasa kalah telak oleh ketenangan suaminya, tapi perutnya yang lapar tidak bisa diajak kompromi.
Ia menyuap nasi goreng itu. "Enak," gumamnya pelan. "Tapi tetap saja, aku benci tempat ini."
Siang nanti, tantangan sebenarnya akan datang. Fathiyah bukanlah ibu-ibu bintara yang mudah digertak dengan pangkat. Dan Adeeva tahu, adik iparnya itu sudah menyiapkan "neraka" kecil di pertemuan Persit nanti.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...