Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Batu Ratapan dan Sang Tahanan Baja
Malam tanpa bulan di Lembah Marapi bukanlah sekadar tentang ketiadaan cahaya. Ini adalah tentang ketiadaan harapan.
Langit di atas hutan pinus tidak memantulkan setitik pun rasi bintang, seolah sebuah selimut beludru raksasa berwarna hitam pekat telah dijatuhkan untuk membungkam seluruh permukaan bumi. Tidak ada angin yang berhembus, namun hawa dinginnya terasa lebih menusuk dari biasanya, menembus lapisan jaket tebal dan langsung membekukan sumsum tulang.
Dara Kirana berjalan dalam diam di belakang Kakek Danu. Sepatu bot karetnya menginjak lapisan dedaunan basah dan ranting mati, menciptakan satu-satunya ritme suara di tengah hutan yang mati suri tersebut.
Cahaya kebiruan dari lentera kuningan di tangan kakeknya menjadi satu-satunya suar penuntun mereka di tengah lautan kegelapan. Lentera itu memancarkan pendar yang aneh; alih-alih menyorot jauh ke depan, cahayanya seolah tertahan oleh kabut, hanya mampu menerangi radius dua meter di sekitar mereka.
Dara menatap punggung kakeknya yang tegap, mencoba mencari sekelumit rasa aman. Namun, rentetan instruksi dari jurnal kuno Nyai Ratih terus menggema, berputar-putar di kepalanya bagaikan mantra yang tak bisa dibungkam.
Jangan ada ketakutan. Jangan ada hasrat. Sang Penengah harus menjadi seperti es di dasar samudra: diam, tenang, dan tak tertembus.
Dara mengepalkan tangan kanannya yang terbalut perban. Di atas perban itu, gelang anyaman akar pohon pasak serigala pemberian Bumi melingkar erat. Di tengah hawa beku hutan malam ini, gelang tersebut memancarkan kehangatan yang sangat tipis namun konstan, seolah Bumi sedang menggenggam pergelangan tangannya, menuntunnya melewati bayang-bayang.
Tiba-tiba, Kakek Danu menghentikan langkahnya. Pria tua itu mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Dara tidak bergerak.
Dara menahan napas. Jantungnya seketika berpacu. Ia menajamkan pendengarannya.
Dari arah semak belukar pakis raksasa di sebelah kanan mereka, terdengar suara gemerisik yang berat. Sesuatu yang berukuran besar sedang mengendap-endap mendekat.
Sejenak kemudian, dari balik pekatnya kabut, sepasang mata berwarna kuning keruh menyala. Mata itu tidak memancarkan kecerdasan atau kebanggaan seperti mata Cindaku, melainkan murni memancarkan rasa lapar yang liar dan primitif. Sesosok Ajag liar—bukan bagian dari kawanan Bumi, melainkan monster buangan yang hidup dari sisa-sisa bangkai dan tersesat dalam kegilaan Bulan Baru—merangkak keluar.
Air liur menetes dari sela taringnya yang kotor. Makhluk itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerkam Kakek Danu yang berdiri paling depan.
Namun, sebelum Kakek Danu sempat mencabut golok pusaka dari pinggangnya, Ajag liar itu tiba-tiba menghentikan gerakannya. Hidungnya yang basah berkedut-kedut hebat, mengendus udara.
Mata kuning keruh monster itu beralih dari Kakek Danu ke arah Dara. Lebih tepatnya, ke arah pergelangan tangan Dara.
Gelang akar pasak serigala itu bereaksi. Ia melepaskan sebuah aroma feromon gaib yang hanya bisa dicium oleh ras anjing hutan—aroma absolut dari seorang Alpha kawanan. Peringatan mutlak bahwa gadis manusia ini adalah properti yang dilindungi oleh penguasa teritorial Lereng Timur.
Ajag liar itu langsung memundurkan langkahnya dengan gemetar. Ekornya dijepit rapat di antara kedua kaki belakangnya. Dengan satu lengkingan pelan yang menyiratkan rasa tunduk, makhluk itu membalikkan badan dan lari terbirit-birit kembali ke dalam kegelapan hutan.
Kakek Danu menatap kepergian monster itu, lalu melirik pergelangan tangan Dara dengan senyum tipis yang sarat akan kelegaan.
"Pemuda Serigala itu memberikan perlindungan yang sangat berharga untukmu malam ini," gumam Kakek Danu, kembali melanjutkan langkahnya. "Akar pasak itu ditanam di atas kuburan leluhur Ajag. Bau itu adalah identitas tertinggi kawanannya. Setidaknya, kita tidak perlu khawatir akan diserang oleh cecunguk hutan sepanjang perjalanan."
Dara menyentuh gelangnya pelan. "Bumi selalu punya cara untuk melindungiku, Kek."
"Dia pemuda yang baik. Pemimpin yang lahir dari rasa empati, bukan dari arogansi," balas Kakek Danu. "Namun malam ini, yang akan kau hadapi bukanlah empati, Dara. Yang akan kau hadapi adalah arogansi murni Sang Raja Hutan yang sedang hancur."
Perjalanan kembali berlanjut dalam keheningan. Semakin dalam mereka masuk ke Lereng Utara, medan yang mereka tempuh semakin curam dan berbahaya. Pepohonan pinus mulai digantikan oleh tebing-tebing batu kapur yang licin berlumut.
Sayup-sayup, dari kejauhan, Dara mulai mendengar suara gemuruh yang konstan. Awalnya seperti suara deru mesin pesawat yang sangat jauh, namun semakin mereka melangkah, suaranya berubah menjadi raungan air yang menghantam bebatuan.
"Kita hampir sampai," kata Kakek Danu, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh air. "Itu adalah Air Terjun Batu Ratapan."
Mereka berbelok di sebuah celah sempit di antara dua tebing raksasa, dan pemandangan di hadapan mereka membuat langkah Dara terhenti.
Sebuah air terjun berukuran masif jatuh dari ketinggian nyaris seratus meter. Debit airnya sangat deras, menghantam kolam gelap di dasar tebing dengan kekuatan yang memekakkan telinga. Kabut air (water spray) beterbangan di udara, membasahi wajah dan pakaian Dara seketika. Kolam di bawah air terjun itu dikelilingi oleh bebatuan hitam yang tajam dan mengkilap.
Di bibir kolam tersebut, tepat sebelum jalan berbatu yang mengarah ke bagian belakang air terjun, berdirilah dua sosok siluet menembus rintik air.
Saat Kakek Danu mengangkat lenteranya, Dara bisa melihat dengan jelas siapa mereka.
Di sebelah kiri adalah Bujang, sang panglima perang Sutan Agung. Ia bertelanjang dada seperti biasa, membiarkan tubuh kekarnya yang penuh bekas luka terguyur kabut air terjun. Matanya menyala tajam, mengawasi setiap pergerakan.
Di sebelah kanan adalah Maya Bagaskara.
Kakak perempuan Indra itu tidak mengenakan seragam sekolahnya yang anggun. Ia mengenakan pakaian tempur klan—setelan hitam ketat yang memudahkannya untuk bergerak leluasa. Rambut panjangnya diikat tinggi. Wajah Maya pucat pasi, dan lingkaran hitam tebal menggantung di bawah matanya.
Saat Dara mendekat, ia bisa melihat bahwa Maya sedang gemetar. Bukan karena kedinginan oleh air terjun, melainkan menahan luapan emosi yang tertahan. Kebencian, keputusasaan, dan rasa sayang yang luar biasa pada adiknya berkecamuk menjadi satu di wajah gadis Cindaku itu.
"Kalian tepat waktu," suara Bujang menggelegar, mengalahkan gemuruh air terjun. "Lewat dari tengah malam, Sutan Agung memerintahkan kami untuk menyegel mulut gua ini selamanya dari luar."
Kakek Danu menancapkan tongkat lenteranya ke sela-sela bebatuan. Pria tua itu menoleh pada Dara, menangkup kedua pipi cucunya yang sedingin es dengan tangan keriputnya yang kasar.
"Kakek hanya bisa mengantarmu sampai di sini, Nduk," suara Kakek Danu bergetar untuk pertama kalinya. Sorot matanya dipenuhi oleh rasa bersalah yang tak terkira. "Kau harus melangkah menyusuri bebatuan licin itu, masuk ke celah di balik tirai air terjun. Gua Batu Larangan ada di baliknya."
Dara mengangguk pelan. "Aku mengerti, Kek. Kakek kembalilah. Aku akan baik-baik saja."
Kakek Danu memeluk Dara erat selama beberapa detik, menggumamkan doa keselamatan ke telinga gadis itu, sebelum akhirnya melangkah mundur.
Dara menarik napas panjang. Ia mulai melangkah melewati Bujang. Panglima perang itu tidak bergeming, hanya menatapnya dengan pandangan menilai yang tak terbaca.
Namun, saat Dara hendak melewati Maya, tangan gadis Cindaku itu tiba-tiba melesat dan mencengkeram lengan jaket Dara dengan sangat kuat. Cengkeramannya memancarkan hawa panas yang menyengat, membuat Dara meringis pelan.
Maya menarik tubuh Dara mendekat. Mata emasnya menatap lurus dengan intensitas yang nyaris putus asa.
"Dengarkan aku, Manusia," desis Maya, suaranya parau dan bergetar hebat. "Di dalam sana, dia bukan lagi adikku. Dia bukan Indra yang rela mengorbankan nyawanya untuk menahan laju truk kemarin. Dia adalah harimau yang kehilangan akal. Kalau kau merasa energimu tidak cukup untuk menenangkannya... kalau kau melihat dia berhasil melepaskan rantai penempa itu..."
Air mata tiba-tiba menetes dari sudut mata Maya, sebuah pemandangan yang tak pernah Dara bayangkan akan ia lihat dari sosok paling arogan di sekolahnya.
"Jangan ragu," lanjut Maya dengan suara pecah. "Gunakan pisau lipat di sakumu, atau gunakan apa saja, dan bunuh dirimu sendiri sebelum dia sempat menyentuhmu. Aku lebih rela melihatmu mati bunuh diri, daripada harus melihat adikku hidup selamanya sebagai monster yang memakan gadis yang dicintainya."
Kata-kata Maya menghunjam tepat di ulu hati Dara. Pengakuan itu—gadis yang dicintainya—terlontar begitu saja, mengonfirmasi apa yang selama ini menjadi misteri bagi Dara. Fiksasi Indra bukanlah sekadar karena ia membutuhkan energi Pawang, melainkan karena monster di dalam dada pemuda itu telah memilih Dara sebagai satu-satunya pasangannya.
Dara menatap mata Maya. Alih-alih merasa takut oleh peringatan mengerikan itu, Dara justru merasakan gelombang empati yang luar biasa.
"Aku tidak akan mati malam ini, Maya," balas Dara dengan suara yang sangat tenang. "Dan adikmu tidak akan hidup sebagai monster."
Dara melepaskan cengkeraman tangan Maya dengan lembut. Ia memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah tirai air terjun raksasa yang menderu ganas.
Ia mulai memanjat bebatuan hitam yang licin oleh lumut dan cipratan air. Setiap langkahnya harus diperhitungkan dengan matang. Jurang dengan pusaran air mematikan menganga tepat di sebelah kirinya.
Semakin dekat ia dengan air terjun, suaranya semakin memekakkan telinga. Sensasi dingin air yang menghantam tubuhnya membuat gigi Dara gemeretak. Ia menyelinap melalui sebuah celah sempit antara tebing dan tirai air yang jatuh deras. Tekanan airnya nyaris mendorongnya jatuh, namun Dara bertahan dengan mencengkeram tepian batu hingga kuku-kukunya berdarah.
Begitu ia berhasil masuk sepenuhnya ke balik tirai air terjun, suasana mendadak berubah secara drastis.
Suara gemuruh air terjun kini terdengar seperti diredam oleh dinding tebal. Di hadapannya, menganga sebuah mulut gua yang gelap gulita. Tidak ada setitik pun cahaya di dalam sana.
Dara menyalakan senter besarnya. Cahaya kekuningan menembus lorong gua berbatu kapur yang lembap. Atap guanya dipenuhi oleh stalaktit yang meneteskan air, sementara lantainya tidak rata, dipenuhi oleh stalagmit tajam yang menyembul dari dalam tanah.
Ia mulai melangkah masuk.
Anehnya, semakin dalam Dara masuk ke lorong gua, suhu udara yang tadinya membekukan tulang perlahan-lahan mulai berubah.
Bukan menjadi hangat yang nyaman, melainkan menjadi panas yang menyesakkan. Panasnya tidak logis untuk ukuran sebuah gua di balik air terjun. Dinding-dinding batu di sekitarnya terasa kering, dan genangan air di lantai gua mulai menguap menjadi kabut tipis.
Dara menelan ludah. Ia mulai mencium bau yang sangat spesifik.
Bau ozon yang pekat, seperti udara sesaat setelah petir menyambar. Bau logam berkarat. Aroma darah segar. Dan bau daun pinus yang terbakar hangus. Ini adalah aroma murni dari Nafsu Rimba Indra Bagaskara.
Semakin dalam ia masuk, panasnya semakin ekstrem. Dara harus melepas jaket taham anginnya dan membuangnya ke lantai gua karena keringat mulai membanjiri tubuhnya. Kemeja flanelnya melekat ketat di punggungnya. Oksigen di dalam lorong itu terasa tipis, tergantikan oleh gas sulfur dan uap panas.
CLANG! KLENG!
Dara menghentikan langkahnya. Jantungnya berhenti berdetak sedetik.
Suara itu. Suara logam berat yang berbenturan dengan batu.
CLANG! GRRRRRRRR!
Raungan itu tidak terdengar seperti suara manusia. Raungan itu memantul di dinding gua, menciptakan gema ganda yang membuat telinga Dara berdenging sakit. Raungan itu dipenuhi oleh rasa sakit yang tak tertahankan, kemarahan yang absolut, dan insting primitif yang haus darah.
Jangan ada ketakutan. Jadilah es di dasar samudra, Dara merapal mantra itu di dalam hatinya. Ia memejamkan mata, memaksakan ritme napasnya melambat, meski seluruh sel di dalam tubuhnya menjerit untuk berbalik arah dan lari menyelamatkan diri.
Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kais dari dasar jiwanya, Dara melangkah menuju ruang utama gua yang kini memancarkan pendar cahaya merah redup dari dinding-dindingnya yang memanas.
Begitu ia melangkah melewati pilar batu terakhir, pemandangan di hadapannya membuat senter di tangannya nyaris terjatuh.
Ruang utama gua itu sangat luas, menyerupai sebuah katedral bawah tanah. Namun, ini bukanlah tempat suci. Ini adalah ruang penyiksaan.
Di tengah-tengah ruangan, terikat pada dua buah pilar stalagmit raksasa yang menyatu dengan atap gua, beradalah Indra Bagaskara.
Namun, menyebut makhluk di hadapannya itu sebagai Indra terasa sangat keliru.
Pemuda tampan berwajah dingin yang selalu memakai seragam sekolahnya dengan rapi itu telah lenyap. Makhluk yang dirantai di sana adalah sebuah anomali alam yang mengerikan sekaligus memukau.
Pakaian Indra telah robek sepenuhnya dari tubuh bagian atasnya, menyisakan kain compang-camping di pinggangnya. Otot-otot punggung, dada, dan lengannya membesar dua kali lipat dari ukuran manusia normal, merobek kulit pucatnya. Di beberapa bagian bahu dan lengannya, bulu-bulu kasar berwarna putih bersinar dengan loreng hitam tipis telah tumbuh menembus pori-pori kulitnya.
Wajahnya masih mempertahankan struktur dasar manusia, namun rahangnya telah memanjang ke depan. Taring-taring setajam belati menyembul dari bibirnya yang robek dan meneteskan darah—darah miliknya sendiri karena ia terus menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit. Kuku-kukunya di kedua tangan telah berubah menjadi cakar obsidian sepanjang lima sentimeter yang menggores udara setiap kali ia meronta.
Rantai penempa baja yang melilit kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya tampak membara. Baja sebesar pergelangan tangan bayi itu telah berubah warna menjadi merah kekuningan akibat menyerap suhu ekstrem dari tubuh sang Harimau Putih.
Lantai batu di sekitar Indra hangus menghitam, meleleh menjadi kaca vulkanik di beberapa titik. Hawa panas yang memancar dari makhluk itu sanggup membuat kulit manusia biasa melepuh dalam hitungan menit.
Indra sedang berada di ambang batas transformasi sempurnanya. Insting binatangnya sedang menelan sisa-sisa terakhir dari akal sehat kemanusiaannya.
Saat cahaya senter Dara menyorot sudut ruangan, makhluk itu menghentikan rontaannya.
Hening. Rantai baja itu berhenti berdenting.
Perlahan, sangat perlahan, kepala makhluk itu terangkat.
Mata itu.
Dara tercekat. Mata yang menatapnya bukan lagi cokelat keemasan yang jernih dan tajam. Mata itu sepenuhnya berwarna emas terang yang menyala-nyala, tanpa pupil yang jelas, memancarkan ketiadaan dari sisi manusia.
Indra—atau apa pun makhluk yang tersisa dari pemuda itu—menatap Dara. Hidungnya yang kini berbentuk lebih lebar berkedut, menghirup aroma yang menembus panasnya gua.
Aroma Air Murni. Aroma Penawar. Aroma Sang Pawang Rimba.
GRRRAAAARRRGHHHH!
Makhluk itu meraung dengan volume yang membuat langit-langit gua bergetar hingga meruntuhkan serpihan batu kapur. Ia tidak memanggil Dara dengan kasih sayang. Ia menerjang ke depan, berniat merobek gadis itu menjadi dua bagian untuk mengonsumsi energi yang ada di dalam darahnya secara paksa.
CLANG! KREKK!
Rantai baja yang menahan kedua lengannya tertarik hingga mencapai batas maksimalnya. Tegangan yang luar biasa membuat rantai baja merah membara itu berdecit memilukan. Otot-otot monster Indra membengkak mengerikan. Pijakan kakinya menghancurkan lantai batu di bawahnya.
Dara berdiri mematung hanya tiga meter dari jarak jangkauan cakar monster tersebut. Hawa panas dari terkaman itu menyapu wajahnya, membuat matanya perih.
Jika rantai itu putus, ia akan mati dalam hitungan detik. Peringatan Maya bergema di telinganya. Bunuh dirimu sebelum dia sempat menyentuhmu.
Namun, Dara tidak merogoh sakunya untuk mengambil pisau. Ia menatap ke dalam mata emas yang liar dan penuh penderitaan itu. Di balik api insting yang membakar, Dara bisa merasakan sepercik jiwa Indra yang merintih meminta pertolongan, terkubur di bawah lapisan-lapisan Nafsu Rimba.
Gadis itu mengambil napas panjang. Ia menutup matanya sesaat.
Jadilah es di dasar samudra.
Ia memutuskan tali rasionalitasnya. Ia membuang ketakutannya. Saat Dara membuka matanya kembali, sorot matanya tak lagi memancarkan kepanikan seorang gadis remaja. Sorot matanya kini setenang permukaan danau beku yang tak tersentuh angin. Wibawa purba Sang Penengah mengambil alih seluruh kesadarannya.
Tanpa memedulikan hawa panas yang mengancam akan membakar kulitnya, tanpa memedulikan raungan buas yang siap mengoyak nadinya, Dara mengambil satu langkah maju. Melangkah menyeberangi garis batas aman. Masuk sepenuhnya ke dalam jangkauan cakar mematikan Sang Harimau Putih.
"Aku di sini, Indra," bisik Dara. Suaranya sangat pelan, namun secara mustahil menembus raungan sang monster, menggema di dalam setiap sudut gua, dan langsung menghantam jantung sang Cindaku dengan kedamaian yang absolut.