Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru di Balik Kabut
Pagi itu, udara di sekitar Pesantren Al-Fatih terasa jauh lebih ringan bagi Lea. Setelah badai emosi dan ketegangan yang menguras energi di pelabuhan tua semalam, matahari terbit dengan membawa kedamaian yang baru. Sesuai janjinya, sebelum matahari meninggi, Gus Malik mengajak Lea ke area belakang rumah utama dekat dengan tempat pembakaran sampah daun kering yang terisolasi.
Di sana, di dalam sebuah wadah kaleng besi kecil, Malik menyulut korek api dan membakar amplop cokelat serta flashdisk berisi foto-foto manipulasi dari Tom. Lea menatap lekat-lekat bagaimana api melahap habis lembar demi lembar kertas foto tersebut hingga menjadi abu hitam yang terbang tertiup angin.
"Semua masa lalu yang buruk sudah terbakar habis, Kalea. Jangan biarkan bayang-bayang itu menakutimu lagi," ucap Malik pelan, berdiri di samping Lea dengan tangan yang menyusup lembut menggenggam jemari istrinya.
Lea mengangguk, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu kokoh Malik. "Makasih, Gus. Gue merasa kayak baru lahir kembali hari ini."
Setelah menyelesaikan urusan masa lalu itu, mereka kembali ke dalam rumah untuk bersiap menghadapi aktivitas masing-masing. Di meja makan, Najwa menyambut mereka dengan senyuman hangat seperti biasa. Kondisi tubuhnya pagi ini nampak sedikit lebih stabil, walau wajahnya tidak bisa menyembunyikan rona pucat akibat penyakit yang dideritanya.
"Lea, hari ini kamu ada kelas siang, kan?" tanya Najwa sambil menikmati bubur ayamnya secara perlahan. "Mas Malik bilang, kamu sudah memasuki tahap penyusunan draf skripsi. Bagaimana perkembangannya?"
Lea agak tersentak, lalu melirik Malik yang sedang menuangkan air putih ke gelasnya. "Iya, Kak. Hari ini jadwalnya konsultasi draf bab satu dan dua ke dosen pembimbing. Agak deg-degan sih, takut banyak revisi."
"Jangan takut," sahut Malik dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Kamu sudah berusaha keras menyusunnya selama beberapa malam ini. Nanti siang saya yang akan mengantarmu ke kampus. Kebetulan saya ada pertemuan dengan asosiasi pesantren di daerah dekat kampusmu."
Najwa tampak sangat senang mendengar perhatian yang diberikan suaminya kepada adiknya. "Alhamdulillah. Kalau ditemani Mas Malik, pasti semuanya lancar. Semangat ya, Lea."
Mendapat dukungan penuh dari kakak dan suaminya, motivasi Lea yang sempat kendur kini bangkit kembali. Ia bertekad untuk segera menyelesaikan kuliahnya di Jakarta ini, membuktikan bahwa dirinya bukan lagi Lea si pemberontak yang hobi membuang-buang waktu di London.
Pukul sebelas siang, mobil putih Gus Malik kembali meluncur membelah jalanan kota Jakarta. Namun kali ini, tidak ada lagi kecanggungan atau ketakutan yang menghantui kabin mobil. Sebaliknya, suasana terasa begitu hangat.
"Gus..." panggil Lea memecah keheningan yang ditemani lantunan murattal pelan.
"Ya, Kalea?" Malik melirik istri keduanya itu sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan di depan.
"Gue beneran nggak tahu harus bilang apa. Perhatian kecil lo, cara lo jagain gue dari Tom semalam, sampai dukungan lo buat kuliah gue... itu semua bikin gue ngerasa berharga banget," ucap Lea tulus, matanya menatap Malik dengan binar cinta yang tidak lagi ia sembunyikan.
Malik mengulurkan tangan kirinya, menggenggam erat tangan Lea di atas pangkuannya. "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Kalea. Sejak saya menerima ikatan pernikahan ini, kamu adalah tanggung jawab saya di dunia dan akhirat. Saya ingin melihatmu sukses dan menjadi wanita yang mulia."
Desiran halus kembali merayap di dada Lea. Genggaman tangan Malik terasa begitu kokoh, seolah menyalurkan energi positif yang menghalau segala keraguannya.
Sesampainya di area parkir universitas, Lea bersiap turun dari mobil dengan membawa map tebal berisi draf skripsinya. Namun, sebelum ia membuka pintu, Malik menahan lengannya lembut.
"Tunggu sebentar," ucap Malik. Ia merogoh saku baju kokonya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru merah.
Lea mengernyitkan dahi. "Apa ini, Gus?"
"Buka saja," jawab Malik dengan senyuman tipis yang sangat menawan.
Ketika Lea membukanya, matanya melebar melihat sebuah cincin emas putih polos yang nampak sangat elegan di dalamnya. Cincin itu sederhana, namun memancarkan kilau yang begitu indah.
"Saya sadar, saat kita menikah di kamar rumah sakit waktu itu, tidak ada prosesi tukar cincin atau perayaan yang layak untukmu," ucap Malik, suaranya terdengar begitu dalam dan penuh ketulusan. "Ini sebagai tanda ikatan kita yang sesungguhnya. Pakailah."
Malik mengambil cincin tersebut, lalu dengan perlahan menyematkannya di jari manis tangan kanan Lea. Ukurannya sangat pas. Lea menatap cincin yang melingkar di jarinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena haru. Rasa cemburu yang sempat mengusik hatinya kemarin kini benar-benar musnah digantikan oleh keyakinan mutlak bahwa ia telah memiliki tempat yang istimewa di hati suaminya.
"Makasih banyak, Gus. Gue bakal jaga cincin ini dengan nyawa gue," bisik Lea penuh emosi, lalu tanpa ragu ia condong ke depan dan mencium pipi Malik dengan cepat sebelum membuka pintu mobil dengan wajah memerah.
Malik sempat tertegun mendapat serangan kecupan mendadak itu, namun sedetik kemudian ia hanya bisa terkekeh pelan menatap punggung Lea yang berjalan setengah berlari memasuki gedung kampus dengan langkah riang.
Sementara itu, di rumah utama pesantren, Najwa sedang duduk di dekat jendela kamarnya, menatap ke arah luar taman tempat bunga-bunga melati mulai bermekaran. Di sampingnya, Ibu mertua sedang merajut selembar syal hangat untuk Arkan.
"Bu..." panggil Najwa lirih.
Ibu mertua menghentikan aktivitas merajutnya, lalu menatap menantu pertamanya itu dengan penuh kasih sayang. "Iya, Najwa? Ada apa, Nak? Ada yang terasa sakit?"
Najwa menggelengkan kepala, tersenyum tipis. "Tidak, Bu. Justru hati Najwa merasa sangat lapang hari ini. Najwa melihat... Mas Malik dan Lea sudah mulai bisa membuka hati satu sama lain. Tatapan mata Mas Malik ke Lea sekarang sudah penuh dengan kehangatan pelindung."
Ibu mertua menghela napas panjang, mengusap punggung tangan Najwa yang nampak kurus. "Ibu juga memperhatikannya, Nak. Ibu sempat khawatir awal-awal pernikahan mereka karena latar belakang Lea yang bebas. Tapi melihat bagaimana Malik membimbingnya, Ibu sadar bahwa wasiatmu adalah jalan terbaik dari Allah."
"Najwa ikhlas, Bu. Sangat ikhlas," setitik air mata menetes di pipi pucat Najwa, namun senyumnya tidak memudar. "Tugas Najwa di dunia ini mungkin sudah hampir selesai. Jika nanti waktu Najwa tiba, Najwa bisa pergi dengan tenang karena tahu Mas Malik, Arkan, dan Lea akan saling menjaga satu sama lain dalam ikatan keluarga yang utuh."
Di bawah atap pesantren yang suci, takdir baru yang dirajut dari keikhlasan seorang kakak dan tanggung jawab seorang suami kini telah tumbuh menjadi sebuah kenyataan. Meskipun badai dari masa lalu telah berhasil dihancurkan, masa depan yang menanti di depan mereka tetap akan menguji seberapa kuat jalinan cinta dan keteguhan iman yang telah mereka rintis bersama.