NovelToon NovelToon
JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

JANDA 35 RASA 26: NANA ENGGAN MENUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.

Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!

Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Jangan Ada Arsa di Antara Kita

"Sekarang," Ekantika berkata, menunjuk ke arah pintu. "Kembali ke mejamu. Dan bersiaplah untuk bekerja lebih keras dari sebelumnya. Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkanmu."

Vina bangkit perlahan, tubuhnya masih sedikit gemetar. Ia berjalan keluar ruangan, meninggalkan Ekantika sendirian dengan beban baru di pundaknya.

Ekantika menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang. Keputusannya ini terasa seperti pedang bermata dua. Ia telah menyelamatkan reputasinya untuk sementara, melindungi Riton dari kebenaran pahit yang akan datang, namun ia kini menahan pengkhianat di dekatnya. Arsa. Dia kembali. Semua yang ia coba lupakan dari masa lalunya, kini muncul lagi, lebih kuat, lebih jahat.

Tiba-tiba, ponselnya kembali berdering di atas meja. Layar berkedip, menerangi ruangan yang mulai gelap.

Nama "Arsa" terpampang di sana, jelas dan tak terhindarkan. Sebuah panggilan yang menanti untuk dijawab, sebuah babak baru dari pertarungan yang lebih besar.

Mantan yang Kembali MenghantuiPonsel Ekantika berdering lagi. Nama "Arsa" masih terpampang di layar. Sebuah panggilan yang tak bisa ia hindari.

Ekantika menatap layar ponsel, dadanya bergemuruh. Arsa. Nama itu adalah luka lama yang kini terbuka lagi, memuntahkan nanah pengkhianatan dan kepahitan. Ia membiarkan dering ketiga berlalu sebelum akhirnya menekan tombol hijau, menarik napas dalam-dalam. "Halo, Arsa." Suaranya terdengar dingin dan terkontrol, meskipun jemarinya sedikit bergetar.

"Wah, akhirnya CEO Garuda yang super sibuk ini mau mengangkat telepon saya," suara Arsa terdengar dari seberang, diselipi nada sarkasme yang familiar dan menjengkelkan. "Saya kira sudah jadi terlalu penting untuk berbicara dengan mantan suami yang 'rendah' ini."

Ekantika memejamkan mata sesaat, menahan ledakan amarah. "Langsung ke intinya, Arsa. Apa maumu?"

Tawa renyah Arsa menggelegak. "Saya kira kamu sudah tahu, sayang. Atau perlu saya beritahu Riton tentang hobi barumu main drama remaja?"

Ancaman itu menghantam Ekantika. Dia benar-benar punya bukti. "Jangan pernah kau berani menyentuh Riton," Ekantika mendesis, suaranya mengandung bahaya.

"Oh, touchy sekali," Arsa mengejek. "Tenang saja. Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin sedikit... kompensasi atas waktu saya yang berharga. Bagaimana kalau kita bertemu? Saya tidak suka bicara bisnis di telepon. Apalagi bisnis yang... sensitif."

Ekantika ragu. Bertemu Arsa adalah menggali kembali kuburan masa lalunya, namun ia tahu ia tidak bisa menghindar. Jika Arsa membocorkan semua ini, bukan hanya reputasinya yang hancur, tapi juga hati Riton. "Di mana?"

"Restoran fine dining biasa. Kamu tahu tempat favorit saya," jawab Arsa, suaranya terlalu santai. "Jam delapan malam. Jangan sampai terlambat, CEO."

Panggilan terputus. Ekantika menatap ponselnya, merasakan mual merayapi perutnya. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.

Beberapa jam kemudian, Ekantika tiba di restoran mewah yang Arsa sebutkan. Aroma masakan Italia yang kaya menyambutnya, bercampur dengan wangi parfum mahal dan bisikan percakapan kelas atas. Namun, semua itu terasa hambar baginya. Jantungnya berdebar, bukan karena antisipasi romantis, melainkan karena kengerian yang dalam. Aku kembali ke sini. Ke tempat ini. Dengan dia.

Ini adalah tempat di mana mereka dulu sering berkencan, tempat Arsa melamarnya, dan tempat di mana banyak kebohongan pertama Arsa terungkap. Setiap sudut ruangan, setiap detail ornamen, memicu kilas balik pahit tentang pria yang ia cintai buta, pria yang kemudian menghancurkan kepercayaannya.

Arsa sudah duduk di meja pojok, dekat jendela, menyeruput segelas wine merah. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang elegan, rambutnya tersisir rapi, dan senyum kecil yang menjijikkan tersungging di bibirnya. Wajahnya sama, namun kini memancarkan aura keserakahan yang lebih pekat, seperti karat yang menggerogoti besi.

Ekantika berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat. Ia mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang simpel namun berkelas, menutupi lekuk tubuhnya dengan anggun. Riasannya tipis, hanya untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya, bukan untuk menciptakan persona baru. Ia ingin terlihat kuat, tak tergoyahkan, di hadapan mantan suaminya.

"Wah, Ibu CEO akhirnya datang juga," Arsa menyeringai, tidak berdiri menyambutnya. "Saya kira kamu akan mengirim Vina."

Ekantika menarik kursi di hadapannya, tatapannya sedingin es. "Kau tahu aku tidak pernah lari dari masalah, Arsa."

"Oh ya?" Arsa tertawa kecil, melambaikan tangan ke pelayan untuk memesankan minuman untuk Ekantika. "Tapi kamu lari dari umurmu sendiri, kan? Sampai harus membuat identitas baru agar bisa diterima pria muda."

Hantaman pertama. Ekantika merasakan pipinya panas. Dia tahu. Dia tahu segalanya. "Itu bukan urusanmu."

"Tentu saja urusanku, sayang," Arsa membalas, menyesap wine-nya. "Kamu tahu, Vina sangat membantu. Video-videonya sangat jernih. Mulai dari kamu yang video call pura-pura di luar kota, sampai kamu yang ketakutan setengah mati di kos-kosan fiktif itu. Aku harus akui, kemampuan aktingmu patut diacungi jempol. Layak dapat Oscar."

Ekantika mengepalkan tangan di bawah meja, kukunya menancap di telapak tangannya. Membayangkan Vina, asistennya, merekam setiap kepanikan dan kebohongannya, membuat rasa dikhianati itu semakin dalam. Aku sudah memperingatkannya.

"Apa yang kau inginkan, Arsa?" Ekantika bertanya, suaranya tegang. Ia ingin segera mengakhiri drama ini.

Arsa meletakkan gelasnya, menatap Ekantika lurus. "Sederhana. Aku hanya ingin apa yang seharusnya menjadi milikku."

"Kau sudah mengambil segalanya dariku saat perceraian, Arsa," Ekantika membalas, nada suaranya penuh kepahitan. "Termasuk rasa hormatku."

"Oh, saya tahu itu," Arsa mengibaskan tangan, seolah ucapan Ekantika adalah angin lalu. "Tapi kamu lupa, kita dulu membangun perusahaan itu bersama. Setidaknya, secara ide. Dan sekarang, Garuda sedang melaju kencang berkat Proyek Garuda. Aku rasa, aku berhak mendapat bagian lebih besar."

"Kau tidak punya hak apa pun," Ekantika mendesis. "Semua sudah diatur di pengadilan."

"Pengadilan tidak tahu tentang Nana, kan?" Arsa menyeringai, tatapan matanya tajam. "Dewan direksi Garuda juga tidak tahu CEO mereka ini berbohong tentang identitasnya untuk mengencani mantan karyawannya sendiri. Bayangkan, sayang, bagaimana reputasimu akan hancur? Bagaimana saham Garuda akan anjlok? Dan bagaimana Riton... si bocah polos itu... akan merasa dikhianati?"

Trauma masa lalu Ekantika kembali menyeruak. Arsa selalu seperti ini: menekan, memanipulasi, dan menghancurkan secara emosional demi keuntungan pribadi. Ia mengingat bagaimana Arsa dulu menguras rekeningnya, membuat perusahaan mereka hampir bangkrut, lalu mencampakkannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

"Apa yang kau mau?" Ekantika bertanya, suaranya nyaris berbisik. Ia merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

"Sederhana," Arsa berkata, meraih serbet di sampingnya. "Aku ingin dua puluh lima persen saham Garuda dari Proyek Garuda. Dan seratus miliar tunai sebagai kompensasi atas 'kesakitan emosional' yang kamu timbulkan karena menipuku selama pernikahan."

Ekantika menatapnya tak percaya. "Seratus miliar? Kau gila! Itu pemerasan!"

"Panggil saja negosiasi," Arsa mengangkat bahu. "Lagipula, apa gunanya uang sebanyak itu kalau reputasimu hancur lebur? Karirmu tamat. Dan si brondongmu itu, Riton, akan membencimu lebih dari apa pun. Trauma masa lalunya akan kembali, dan kali ini, kamu adalah pelakunya."

Arsa tertawa kecil, tawa yang penuh kemenangan dan kekejaman. "Aku tahu kamu takut, sayang. Takut jadi 'Bu Janda' yang tua, tidak dicintai. Makanya kamu menciptakan Nana. Persona bodoh itu. Tapi siapa sangka, persona itu justru akan menghancurkanmu. Lucu sekali, bukan?"

Kata-kata itu menghantam Ekantika dengan kekuatan fisik. Ia merasakan napasnya tercekat, jantungnya berdenyut. Perutnya bergejolak. Dia benar. Dia tahu persis apa ketakutan terbesarku. Rasa malu dan marah membakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!