NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Ada Maaf Buatmu, Satura!

"Vandini…" bisiknya, tangan terulur mau menyentuh bahu wanita itu.

Tapi gerakannya terhenti tepat di udara. Kesadaran itu menghantam dadanya keras-keras. Ia bukan orang yang berhak menghibur Vandini sekarang. Dialah yang bikin Vandini hancur begini. Setiap tetes air mata itu murni karena kesalahan dan kebodohannya sendiri.

Isakan Vandini makin keras. Ia menekan kepalan tangannya ke mata, seakan ingin menghilang dari situasi itu. Dada Satura terasa sesak sekali. Ia hanya bisa diam, merasa tak berdaya melihat orang yang dicintainya menderita karena ulahnya sendiri.

Terapis itu mencondongkan tubuh, suaranya tenang tapi tegas. "Vandini, keluarin aja apa yang kamu rasain. Nggak perlu ditahan-tahan, nggak apa-apa nangis sekencang-kencangnya."

Vandini menarik napas panjang lalu menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya basah oleh air mata, sorot matanya campur aduk antara marah, kecewa, dan lelah yang luar biasa. Ia mengangguk kecil, lalu menatap Satura tajam.

"Kalau kamu takut atau ada masalah," suara Vandini parau dan bergetar, "kenapa nggak cerita sama aku? Aku kan istri kamu."

Satura ingin menjawab apa saja, ingin meringankan rasa sakit itu, tapi mulutnya terasa kaku. Ia sadar, apapun yang diucapkan sekarang takkan pernah cukup untuk menebus kesalahannya.

Terapis itu kembali berbicara, menatap Satura. "Satura, aku mau kamu benar-benar rasain dampak dari perbuatan kamu. Ini bukan cuma soal minta maaf, tapi soal ngerti beban apa yang Vandini rasain sekarang karena pilihan kamu."

Satura mengangguk pelan, tenggorokannya terasa sakit. Ia bisa merasakan betapa dalamnya luka yang ia buat, sesuatu yang selama ini ia coba hindari. Rasanya seperti tertimpa batu besar, baru kali ini ia benar-benar mengerti penderitaan istrinya.

"Vandini, aku… aku minta maaf," bisiknya parau.

"Rasa sakit dan marah Vandini itu valid banget, Satura," lanjut terapis. "Ini nggak bisa diselesaikan cepet-cepet cuma pake kata-kata. Butuh proses. Tugas kamu sekarang ada di sini, terima semua emosi itu, walau rasanya berat banget."

Satura menatap Vandini, hatinya terasa remuk melihat air mata yang masih mengalir. Ia ingin sekali menyentuh dan menghapus air mata itu, tapi tahu diri kalau ia tak berhak. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya diam, menyaksikan kehancuran yang ia buat sendiri, dan berharap suatu hari nanti Vandini bisa sembuh total.

...***...

Mereka keluar dari ruang praktik terapis tanpa bicara sepatah kata pun. Suasana di antara mereka terasa sangat berat karena banyak hal yang belum terungkap.

Satura berjalan di samping Vandini dengan langkah gontai. Ia sadar, dirinya sudah jauh berubah dari sosok pria yang dulu berjanji akan menjaga Vandini.

Sesampainya di mobil, Satura berhenti. Ia ragu apakah harus bicara atau membiarkan keheningan itu terus berlanjut.

Vandini mengambil kunci dari tasnya dengan tangan yang gemetar, lalu berbalik menatap Satura. Wajahnya terlihat lelah, marah, dan sangat sedih.

"Kamu benar-benar ngerti nggak sih, Satura?" tanyanya pelan tapi tegas. "Kamu sadar apa yang udah kamu perbuat? Atau ini cuma cara biar hati kamu sendiri tenang?"

Satura menelan ludah susah payah. Kata-kata itu menghantam dadanya dengan keras.

"Aku sadar, Van. Dulu mungkin aku belum paham sepenuhnya, tapi sekarang... melihat kamu kayak gini dan tahu betapa sakitnya hati kamu, aku rasa aku mungkin nggak bakal bisa maafin diri aku sendiri."

Vandini memalingkan wajah, menggigit bibirnya menahan amarah.

"Bagus," sahutnya dengan nada dingin dan getir. "Soalnya aku juga... jujur, aku ragu bisa maafin kamu suatu hari nanti."

Satura mengangguk pelan, tenggorokannya terasa tercekat. Secara logika ia sudah menerimanya, tapi mendengar kalimat itu langsung dari mulut Vandini, sisa harapannya seakan hancur lebur.

"Vandini," ucapnya nyaris berbisik. "Aku tahu kamu nggak percaya sama aku lagi, dan itu hak kamu sepenuhnya. Tapi aku bakal tetap di sini. Aku bakal berjuang, walau akhirnya kamu nggak mau balikan sama aku. Setidaknya supaya kamu tahu, dulu kepercayaan kamu ke aku itu nggak salah, sebelum aku merusak segalanya."

Vandini tertawa sinis.

"Dulu? Rasanya itu kejadian zaman purba banget, Satura."

Satura menunduk, tak sanggup menatap mata Vandini lebih lama.

"Aku tahu semua ini belum cukup. Tapi aku bakal terus berusaha jadi orang yang seharusnya ada buat kamu. Walau hasilnya mungkin tetap sama buat kamu."

Vandini menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan tapi segera hilang. Ia membuka kunci mobil dan mencengkeram gagang pintu dengan kuat.

"Jangan nunggu aku bilang 'cukup', Satura. Karena buat aku sekarang, rasanya nggak bakal pernah cukup."

Vandini masuk ke dalam mobil. Gerakannya terlihat sangat lelah, seakan energi di tubuhnya tersedot habis.

Satura mundur selangkah, memandang mobil itu pergi. Rasanya seperti kehilangan Vandini untuk selamanya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima kenyataan.

Saat kendaraan itu menghilang, kehampaan di dada Satura semakin terasa. Ia berdiri diam di tempat, menyesali kenapa tak menyadari semua ini jauh sebelum terlambat.

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!