"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
persiapan menuju penutupan
Lara duduk di samping Arsel, ikut menemani gadis remaja itu belajar. Tak lama kemudian, suara mobil Baskara terdengar memasuki halaman. Lara refleks berdiri dan berjalan menuju pintu depan, menyambut kepulangan pria yang sudah menjaganya sepanjang malam.
Baskara masuk membawa beberapa kantong plastik yang mengepulkan uap hangat. Aroma gurih kaldu ayam dan cakwe seketika memenuhi ruangan. Ia sempat tertegun sejenak saat melihat Lara yang sudah siap, terutama saat matanya tertuju pada bros lili yang terpasang manis di dada Lara.
"Kamu sudah siap?" tanya Baskara. Suaranya sudah kembali stabil dan berwibawa, meski matanya masih sedikit kemerahan karena kurang tidur.
"Sudah, Kak. Mari sarapan dulu, Arsel juga sudah kelaparan kayaknya," ajak Lara lembut.
Mereka bertiga makan dalam suasana yang sangat hangat—sesuatu yang jarang Lara rasakan sejak orang tuanya sering pergi dinas. Baskara terlihat lebih banyak diam, namun ia terus memastikan piring Lara terisi cukup. Sesekali ia mengingatkan Arsel untuk fokus pada ujiannya.
"Setelah ini, saya antar Arsel dulu ke sekolahnya, baru kita langsung ke kampus," ucap Baskara sambil merapikan sisa makanan. "Hari ini penutupan. Pastikan kamu tetap berada di dekat saya atau Randy. Saya tidak ingin ada 'kejadian' lagi di hari terakhir ini."
Lara mengangguk patuh. Ia tahu, di balik instruksi tegas itu, ada rasa protektif yang luar biasa besar.
Setelah mengantar Arsel dengan selamat di depan gerbang sekolahnya, Baskara segera memacu mobilnya kembali ke rumah Lara. Waktu menunjukkan pukul 07.30 pagi, masih ada cukup waktu sebelum acara puncak penutupan PKKMB dimulai pada pukul 09.00.
Baskara turun dari mobil dengan langkah yang tetap tegap meski tubuhnya sebenarnya menuntut istirahat. Ia melihat Lara sedang duduk di teras, tampak cantik dengan almamater yang sudah rapi dan bros lili yang berkilau terkena cahaya matahari pagi.
"Lara, saya bersihkan diri sebentar. Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana dan jangan buka pagar untuk siapa pun kecuali saya," pesan Baskara tegas. Ia bahkan tidak mempedulikan rasa pegal di bahunya akibat tidur duduk semalaman.
Baskara bergegas masuk ke dalam rumah. Guyuran air dingin di kamar mandi tamu lantai bawah terasa sangat menyegarkan, seolah membilas semua rasa lelah dan kantuk yang sempat menggelayuti matanya. Ia berganti pakaian dengan kemeja baru yang bersih dan merapikan rambutnya hingga kembali terlihat tajam dan berwibawa—sosok Ketua Panitia yang disegani siap kembali.
Tepat pukul 08.15, Baskara keluar dengan aroma parfum maskulin yang segar. Ia mendapati Lara sedang mengecek kembali catatan sambutannya untuk penutupan nanti.
"Sudah siap?" tanya Baskara sambil mengambil kunci mobilnya.
Lara mendongak dan sedikit terpana melihat Baskara yang sudah kembali segar dan terlihat jauh lebih tampan dari sebelumnya. "Sudah, Kak. Tapi... Kakak beneran nggak apa-apa? Kakak belum tidur sama sekali lho."
Baskara tersenyum tipis, jenis senyuman yang hanya ia perlihatkan pada Lara. "Melihat kamu aman dan bersemangat seperti ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya terjaga sampai acara selesai. Ayo, kita tidak boleh terlambat. Randy sudah mengirim pesan kalau massa sudah mulai berkumpul di lapangan utama."
Mereka berangkat menuju kampus dengan suasana hati yang jauh lebih tenang. Namun, Baskara tahu bahwa di balik pagar kampus nanti, Manda mungkin sudah menyiapkan 'serangan' terakhirnya karena merasa semakin tersisih. Tapi kali ini, Baskara sudah bersumpah: tidak akan ada satu helai rambut Lara pun yang boleh terluka lagi.