Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKELAHIAN
Belum sempat siswa itu menyelesaikan kalimatnya, Lyra mendongak, menatap siswa itu dengan mata hitam pekatnya yang sangat dalam. Seketika, nyali kapten basket itu menciut, dia merasa seperti sedang ditatap oleh seekor predator yang sedang bosan.
"Terima kasih atas tawarannya," ucap Lyra dengan nada yang sangat sopan tapi sangat dingin.
"Tapi aku rasa, kamu tidak akan mau berurusan dengan pria tadi hanya untuk melindungi ku. Simpan cokelat mu untuk orang lain," lanjut Lyra.
Glek.
Siswa itu menelan ludah, wajahnya memerah karena malu sekaligus takut, tanpa sepatah kata pun dia langsung berbalik dan pergi secepat kilat tanpa berani menoleh lagi.
"Gila... kamu baru saja mematahkan hati idola sekolah hanya dengan satu tatapan!" ucap Gia tertawa puas sambil menyuap nasi gorengnya.
Lyra diam, lalu menusuk potongan stroberi di piringnya dengan garpu, di dalam pikirannya, dia sedang menganalisis aura Xavier tadi.
"Siapa sebenarnya kau, Xavier Valerius? Kenapa jiwaku merasa kau bukan sekadar manusia biasa yang haus kekuasaan?" batin Lyra.
Di saat Lyra sibuk dengan pikirannya, sebuah berita mendadak muncul di layar televisi besar yang ada di kantin.
"Berita terkini, terjadi ledakan besar di kawasan industri Negara C. Otoritas setempat menyatakan ini adalah serangan teroris paling mematikan tahun ini..."
Lyra menatap layar televisi itu sejenak, dia tahu, di balik berita itu, ada sosok pria yang tadi pagi mengganggunya, sosok yang kini sedang menari di tengah kobaran api untuk menuntaskan amarahnya.
Sementara itu di waktu yang sama di tempat yang berbeda, di dalam jet pribadi yang membelah awan menuju Negara C, suasana terasa mencekam.
Simon bahkan tidak berani bernapas keras saat melihat bosnya duduk diam dengan tatapan kosong yang mematikan, di atas pangkuan Xavier, sebuah tablet menampilkan video gudang senjatanya yang masih berasap.
"Tuan, tim Alpha sudah mendarat di zona merah. Mereka menunggu perintah pembersihan," lapor Simon dengan suara rendah.
Xavier tidak menoleh, dia sedang memutar-mutar segelas wiski di tangannya, tapi pikirannya justru tertahan pada helai rambut hitam yang tadi sempat dirinya sentuh.
Aroma bunga lili dari rambut Lyra masih tertinggal di ujung jarinya, sangat kontras dengan bau mesiu yang sebentar lagi akan ia hirup.
"Habisi semua tanpa sisa, aku tidak butuh tawanan," ucap Xavier, suaranya sangat dingin hingga suhu di dalam jet seolah turun drastis.
"Tapi Tuan, pemimpin mereka adalah mantan sekutu kita-"
BRAK
Xavier menggebrak meja hingga gelas wiski nya bergetar.
"Aku tidak peduli siapa mereka! Mereka berani mengganggu waktuku di saat aku baru saja menemukan sesuatu yang berharga! Katakan pada mereka, kematian adalah hadiah paling murah yang bisa kuberikan hari ini!" bentak Xavier dengan suara rendah dan dingin nya.
Glek.
Simon menelan ludahnya kasar, dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya, melihat kemarahan di mata bos nya itu.
Amarah Xavier bukan hanya soal bisnis yang hancur, tapi karena musuh-musuhnya memaksanya menjauh dari Lyra di detik pertama dia jatuh cinta.
Bagi Xavier, ini adalah penghinaan pribadi yang harus dibayar dengan nyawa.
Jet pribadi Xavier terus bergerak dan terbang menuju lokasi, dengan keheningan yang mencekam, bahkan Simon tidak lagi berani berbicara.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah hari, akhi nya Xavier tiba di Negara C, udara di sana terasa sangat panas, bukan karena matahari, tapi karena sisa ledakan gudang persenjataan yang masih berkobar hebat.
Di tengah kepulan asap hitam, sebuah helikopter hitam tanpa logo mendarat darurat di tengah jalanan yang hancur.
Pintu helikopter terbuka, dan Xavier Valerius melangkah turun dengan raut wajah dingin nya.
Saat ini Xavier tidak lagi memakai jas rapi, kemeja hitamnya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat, dan sebuah rompi anti peluru melekat di tubuh kekar nya.
Di tangannya, dia menggenggam sebuah senapan otomatis seolah itu adalah bagian dari tubuhnya sendiri.
"Tuan! Mereka bersembunyi di gedung tua di depan! Ada sekitar lima puluh orang dengan senjata berat!" seru Simon sambil mengokang pistolnya, berlindung di balik bangkai mobil.
Xavier tidak menyahut, matanya yang kelabu berkilat dingin, memantulkan cahaya api di depannya. Ia tidak butuh taktik rumit. Ia hanya butuh pelampiasan atas amarahnya yang tertahan.
"Jangan sisakan satu pun," perintah Xavier rendah.
TAK
TAK
TAK
Rentetan peluru mulai menghujani posisi Xavier dari arah gedung tua.
Xavier bergerak dengan lincah, berguling di balik beton bangunan sambil terus membalas tembakan dengan sangat lihai.
DOR
Setiap peluru yang keluar dari senjatanya selalu bersarang tepat di kepala atau dada musuh.
DOR
DOR
DOR
BRAKKKKKKK
Darah muncrat ke dinding saat Xavier berhasil menembak jatuh seorang penembak jitu dari lantai dua.
Tanpa ragu, Xavier berlari menerjang masuk ke dalam gedung, mengabaikan hujan peluru yang mendesing di dekat telinganya.
"MATI KAU, VALERIUS!"
Teriak seorang pria berbadan besar yang muncul dari balik pintu sambil mengayunkan sebilah parang besar.
BHUK
KRAKKKK
Xavier dengan tenang berkelit, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu dengan satu gerakan cepat, Xavier mematahkan tulang lengannya
Sebelum pria itu sempat berteriak, Xavier sudah menghujamkan pisau taktis ke lehernya.
SRETTT
"Terlalu lambat," bisik Xavier dingin, lalu menendang mayat pria itu menjauh.
Baku hantam pecah di dalam ruangan yang gelap.
Xavier bertarung seperti kesurupan, dia tidak hanya menggunakan senjata api, tapi juga tangan kosongnya.
BHUK
BHUK
BRAKKKKKKK
Xavier memukul, menendang, dan membanting musuh-musuhnya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.
DOR
DOR
DOR
Tiga orang musuh yang mencoba mengepungnya jatuh seketika dengan lubang di dahi mereka.
Tanpa memperdulikan puluhan mayat, Xavier melangkah, napasnya memburu, namun matanya tetap tajam dan waspada.
"Mana pemimpin kalian?!" teriak Xavier, suaranya menggelegar di dalam gedung tua yang mulai runtuh itu.
Seorang pria paruh baya dengan wajah penuh luka bakar merangkak keluar dari balik reruntuhan, mencoba meraih pistolnya.
Melihat pria itu, Xavier melangkah mendekat, lalu dengan kasar menginjak tangan pria itu hingga hancur.
KRAKKKK
"AAAAAKKKKKKHHH!"
"A-ampun... Valerius... kami hanya diperintah..." rintih pria itu kesakitan.
"Kalian membakar gudangku, membunuh anak buahku, dan yang paling parah, kalian mengganggu waktuku dengan gadisku," ucap Xavier berjongkok, menatap pria itu dengan tatapan yang sangat menyeramkan.
"G-gadis? Siapa-"
DOR
Xavier menembak tepat di jantung pria itu tanpa menunggu kalimatnya selesai, lalu berdiri, mengusap noda darah yang memercik di pipinya dengan punggung tangan.
"Simon, bersihkan tempat ini, dan pastikan semua tikus ini menghilang dari muka bumi," perintah Xavier, suaranya kembali datar dan dingin.
"Baik Tuan," jawab Simon, mengangguk tegas.
Dengan tatapan dingin nya, Xavier berjalan keluar dari gedung yang kini mulai dipenuhi api, mengabaikan suara ledakan di belakangnya.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,