NovelToon NovelToon
Jodoh Sang Bahu Laweyan

Jodoh Sang Bahu Laweyan

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:335.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: Laila Al Hasany

Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.

Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.

Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.

Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Melanjutkan Hidup.

Keesokan paginya, Sakha dan Mesha sudah duduk di ruang tunggu. Kedua orang tersebut menunduk tanpa saling berbicara, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Gusti ... ini kenapa to, Le? Kenapa kamu bisa di sini?" Ningsih menghambur memeluk putra kesayangannya saat tiba di kantor polisi.

"Ibu percaya sama Sakha, 'kan?" sahut Sakha lirih.

"Yo Le, ibu ini yang melahirkan dan membesarkanmu. Ibu tahu betul seperti apa kamu. Tapi tolong jelaskan, kenapa kamu di sini?" Sejenak, mata Ningsih mengerling pada sosok gadis di sebelah Sakha yang terus menundukkan kepala.

"Bukan ibu, itu juga bukan salah Dek Mesha." Sakha buru-buru mengklarifikasi.

Namun malah Ningsih menghampiri gadis itu lalu memeluknya penuh kasih. Pertahanan Mesha luruh, ia kembali terisak.

"Kamu pasti ketakutan ya, Nduk? Sudah, tidak apa-apa."

Rasa keibuan Ningsih seketika muncul saat melihat Mesha, itu sebabnya ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Sebelum Yumna kembali ke kota tempat ia menuntut ilmu, gadis itu pernah menceritakan tentang pribadi Mesha.

"Mbakyu tidak perlu khawatir, saya akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan Sakha. Selama tidak ada bukti konkrit, ia tidak bersalah." Seorang laki-laki berjas dengan menenteng tas kulit di tangannya baru saja keluar dari ruangan lain.

"Ya, Dek Syailendra. Aku tidak akan khawatir selama kamu yang menanganinya." Ningsih tersenyum lembut.

"Om, Dek Mesha juga tidak bersalah," sela Sakha.

"Anak bodoh, kalau aku menyelamatkanmu. Tentu gadis itu juga akan selamat." Syailendra memukul dahi Sakha dengan sebuah map berisi berkas-berkas.

Sakha tersenyum malu, sementara Ningsih menggelengkan kepala melihat tingkah kedua laki-laki di hadapannya.

"Tunggu sebentar, biar saya urus dulu semuanya. Lalu saya akan ajukan kasus yang itu." Laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara handal itu mengedipkan mata pada Sakha.

Setelah menunggu beberapa lama, Syailendra keluar lagi dari ruangan lain dengan tersenyum lebar.

"Beres semuanya, tidak ada bukti kuat yang bisa menjerat kalian. Ayo pulang! Ah, rasa-rasanya aku kangen nasi pecel buatan Mbakyu Ningsih."

"Wooo, kalau begitu, nanti aku bikinkan yo?"

Ketiga orang itu tertawa, kecuali Mesha. Gadis itu masih saja menunduk.

Sakha meraih tangan Mesha, lalu tersenyum.

"Tidak perlu khawatir, Dek. Saya sudah bilang akan bertanggung jawab atas semuanya. Saya akan membersihkan namamu di kantor."

Tiba-tiba seorang perempuan yang terisak berlari menubruk Mesha.

"Putriku yang malang. Maafkan bapak dan ibumu yang ndak bisa melakukan apa pun." Perempuan itu memeluk Mesha, sesaat gadis itu tersenyum getir lalu menangis lagi.

"Ibu tidak perlu khawatir, semuanya sudah berlalu," sela Syailendra.

"Terima kasih, terima kasih banyak." Mayang meraih tangan Ningsih dan mengangguk hormat.

"Bukan apa-apa, Bu. Adik saya yang berjuang, saya hanya mendampingi putra-putri kita di sini."

Bagas baru saja masuk setelah memarkirkan sepeda motornya.

"Bapak dan Ibu. Saya akan bertanggung jawab atas Mesha, putri dari Bapak dan Ibu." Sakha berbicara dengan tegas kepada kedua orang tua Mesha.

"Maksudnya apa, Le?" tanya Ningsih dan Mayang hampir bebarengan.

"Saya ingin menyunting Dek Mesha, sebagai istri saya. Atas bentuk tanggung jawab saya," papar Sakha.

Mesha sangat terkejut mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Sakha. Beberapa orang di situ pun terkejut.

"Tapi, Le ... ndak perlu seperti itu," sela Bagas.

"Tidak apa-apa, Pak. Saya juga mencintai putri Bapak. Kejadian ini semakin membuat saya sadar, bahwa saya tidak bisa membiarkan orang yang saya cintai menderita."

Mata Mesha terbelalak, ia masih saja belum percaya tentang apa yang didengar tadi.

"Kalau ibu, setuju saja, Le," sela Ningsih.

Syailendra tersenyum menghadapi situasi seperti itu, sementara kedua orang tua Mesha masih bingung.

"Sudah, sebaiknya kita pulang dulu. Nanti kita bahas di rumah saja," usul Syailendra.

Dengan menumpang mobil milik Syailendra, Mesha diantarkan pulang oleh Sakha. Sementara Bagas dan Mayang sudah lebih dulu pulang ke rumahnya.

"Om bilang apa, kan? Mendingan kamu bantu-bantu administrasi di firma hukum Om aja, Kha. Kalau perlu, kuliah saja, ambil jurusan hukum. Om siap mendanai. Om yakin, uang pensiun bapakmu sudah cukup untuk menyokong biaya kuliah adikmu dan ibumu juga punya usaha sendiri." Syailendra berbicara saat mobil yang disetirnya meluncur ke rumah Sakha.

"Iya, Dek. Aku juga sudah meminta anak ini buat memikirkan hidupnya sendiri. Toh Yumna juga dapat beasiswa full, tapi jawabannya ya gitu katanya pengen membahagiakan ibu dan adiknya. Padahal, ibu dan adiknya juga bakal bahagia kalau anak ini bahagia." Ningsih menimpali perkataan Syailendra dari jok belakang tempat ia duduk.

"Nah, Mbakyu aja setuju." Syailendra tersenyum lebar.

Sementara itu, di sebuah kantor kecamatan, beberapa anggota polisi datang untuk menangkap seseorang yang diduga mengorupsi uang proyek desa. Beberapa pegawai kelurahan Karangsoka pun dipanggil untuk dimintai keterangan.

***

"Kamu sungguh-sungguh waktu di kantor polisi, Le?"

"Ya, Bu. Tentu saja."

"Ya sudah, ibu manut saja. Ibu akan mulai mempersiapkan untuk lamarannya sekarang."

"Tidak perlu repot-repot, Bu. Sakha sudah pernah berbicara dengan teman Sakha. Ia yang akan mengurus semuanya hingga acara pernikahan."

Ningsih begitu terkejut dengan perkataan putranya. Ia tisak menyangka bahwa Sakha sudah mempersiapkan segalanya.

"Sakha memang sudah menyiapkan semuanya, Bu. Dengan harapan, jika tiba saat yang tepat, Sakha hanya perlu memanggil teman Sakha itu."

"Lalu, uangnya?"

Sakha tersenyum lalu berkata, "Sakha sudah menyisihkan sedikit demi sedikit dari gaji Sakha."

Ningsih terharu, ia sekarang tahu kenapa sang putra tidak pernah membeli apa pun untuk dipakai sendiri. Ternyata laki-laki itu sedang "Priatin" untuk menyiapkan masa depannya.

"Kalau begitu, besok kita akan datang ke sana, tunggu apalagi? Ibu akan menelepon Yumna untuk segera pulang kembali."

"Jangan ibu, nanti dia jadi banyak bolosnya."

"Ini kan acara sekali seumur hidup, Le."

Sakha hanya pasrah dan tersenyum kepada sang ibu.

Sementara itu, di rumah Mesha, gadis itu masih duduk termenung di pinggir ranjang. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. Kejadian yang bertubi-tubi memporak-porandakan hatinya dalam sekejap. Hingga kata-kata Sakha di kantor kepolisian yang terus terngiang-ngiang di telinga. Ia tidak tahan lagi dan kembali menangis.

Mayang masuk ke dalam kamar Mesha, ia mengelus kepala putrinya dengan lembut. Gadis itu membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan sang ibu.

"Seseorang utusan dari keluarga laki-laki itu sudah datang. Ia mengabarkan tentang kedatangannya sekeluarga besok malam." Mayang masih mengelus rambut Mesha.

Namun, Mesha tidak terlalu peduli dengan perkataan ibunya. Ia terus-terusan menghela napas.

"Terserah Ibu saja." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Mesha setelah tangisnya mereda.

Bersambung ....

1
syamsul efendi
bagus banget karya nya semoga karya lain akan ada di masa yang akan datang , Sukes terus buat author nya
Eli Sunarni
bagus
Dian Soedarminto
kereeennn...makin oke critanya...semoga grisa menemukan pria baik yg mencintainya... buat wanita klo cinta hanya sebelah...eh sepihak...garing😅
Dian Soedarminto
lanjooott👍👍
Dian Soedarminto
duh..tu gelang dilepas...gak bahaya ta? buat Giyan?...semoga selamet🤲
aryaseta
thanks thor atas karyanya
estycatwoman
alhamdulillah happy ending
Thanks thor 🙏😘💗
Guz Pur
ada karya lain lagi thoorr
Elmaz
makasih thor bonchap nya ....😁😁😁 klo boleh nambah lagi ...🤭🤭
Ayra Ilvya
up thor 🙏🙏
Bunda Titin
makasih mba ithor udh ksh boncabe eh.......bonchap ........🤭😁 lanjutin LG ya mba bonchap nya aku msh penasaran sama ceritanya mas Zay n mba Mesha lho..........msh pingin liat keuwuan penganten baru to mba.........🤭☺️😁😅😅😅😅😅😅😅
Bunda Titin: perempuan tua Kumal itu sepertinya orang yg udh memberi kutukan pada Mesha.........mungkin krn rencananya gagal dan caraka jg udh mati dia jd gila, dia terkena karma perbuatannya sendiri............🤔🙄
total 1 replies
Elmaz
akhir nya selesai jg ....mudah2 an ada extra part yak thor hehehe.....thanks thor atas karya mu ...😘😘
Bunda Titin
yaaahhhh..........msh penasaran aku ,. ksh bonchapnya dong mba ithor..........please.......🙏🙏🥺
Elmaz
makasih ya thor sdh mau up lg....🙏🙏🙏
Bunda Titin
hadeuuhhhh.........deg2an aku mudah2an mas Zay bisa mengalahkan caraka..........kakek Nirwasita tolong bantu mas Zay ya..........🙏🙏😔
Bunda Titin
itu kyknya caraka dtng ya,. mudah2an mas Zay bisa menghadapi caraka di bantu kakek nirwasita.........🙏🙏
Bunda Titin
dr mana aj mba ithor kok ngilang lg........Hiatus lama bangeeeeet.........jangan ngilang lg ya selesaikan dl sampe tamat lho mba,. aku ga sabar nungguin masZay sama mba Kesha bersatu..........🤦🥴🤪🙏🤭😁
Elmaz
kapan up nya lg thor.....😭
Tamuji Redmi
sepertinya berakhir sampai di SINI????
Tamuji Redmi
😞😞😞😞😞😞😞😞😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!