Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dusta dibalik pelukan
"Oh, begitu ya..." lirih Tamara. Suaranya terdengar serak, seolah ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Raut wajahnya pucat, kekecewaan mendalam terpancar jelas dari kedua manik matanya yang biasanya berbinar. Ia berusaha tersenyum, namun bibirnya terasa kaku dan berat untuk ditarik ke atas.
"Tentu saja, Sayang. Kau dan aku adalah satu sekarang. Aku tidak mungkin membohongimu," ucap Dion lembut. Pria itu mengusap puncak kepala Tamara dengan penuh kasih sayang, mencoba menenangkan wanita yang sangat ia cintai itu. Tatapannya penuh cinta, namun sayangnya, di mata Tamara, tatapan itu kini terasa menyakitkan.
Saat Dion mencondongkan tubuhnya ingin mencium bibir Tamara, dengan cepat wanita itu memalingkan wajah. Gerakan menghindar itu begitu jelas, menusuk hati Dion bagai pisau tajam.
"Maaf, Kak... Hari ini aku sangat lelah. Aku ingin istirahat," ujar Tamara datar. Tanpa menunggu balasan, ia segera naik ke atas ranjang dan menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya, seolah ingin bersembunyi dari dunia dan juga dari Dion.
Dion terdiam kaku di tepi ranjang. Dahinya berkerut dalam, jantungnya berdegup tak menentu. "Ada apa dengan dia hari ini? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Atau jangan-jangan dia marah karena aku tak bisa memenuhi keinginan Tamara?"
Pikiran buruk mulai meneror benak Dion. "Jangan-jangan... Tamara kecewa mengetahui aku tidak bisa punya anak? Apa dia sangat menginginkan buah hati dari rahimnya sendiri?" gumam Dion pelan, suaranya bergetar menahan ketakutan. Bayangan kehilangan Tamara membuat dunianya terasa runtuh.
Meskipun pikirannya kacau dan rasa cemas menggerogoti hatinya, Dion memilih untuk tidak memaksa bertanya. Ia tak ingin memperkeruh suasana. Dengan langkah berat, ia merebahkan diri di samping tubuh yang bersembunyi di balik selimut itu, lalu melingkarkan tangannya memeluk pinggang Tamara erat-erat. Seolah-olah dengan memeluknya sekuat tenaga, ia bisa memastikan wanita itu tidak akan pergi meninggalkannya.
Di balik selimut itu, mata Tamara terbuka lebar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes membasahi bantal. Ia hanya pura-pura tidur agar tidak perlu berhadapan dengan Dion. Dadanya sesak, sangat sesak.
"Kak Dion... kenapa kau harus berbohong padaku?" batin Tamara menjerit pilu. "Apa aku tidak cukup berharga untuk kau jujuri? Aku sudah terlalu terbiasa dengan kehadiranmu, Kak... bagaimana aku bisa hidup jika ternyata kau tidak pernah percaya padaku?"
Helaan napas berat Tamara terdengar samar, namun Dion mengira itu hanya suara tidur wanita itu.
***
Keesokan paginya, saat mata Tamara terbuka, sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Dion sudah pergi jauh sebelum matahari terbit. Di atas nakas, hanya ada secarik kertas bertuliskan tangan pria itu.
"Sayang, aku harus pergi dinas luar selama beberapa hari. Jangan khawatirkan aku, I love you."
Tamara meremas kertas itu kuat-kuat. "Pergi? Ke mana sebenarnya kau pergi, Kak?"
Tanpa Tamara ketahui, tujuan Dion bukanlah kantor atau kota lain di dalam negeri. Pria itu kini sedang duduk di kursi penumpang pesawat yang sedang terbang menuju Singapura. Hatinya bergejolak, tekadnya bulat hari ini. Ia tidak mau kehilangan Tamara. Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi suami yang sempurna.
Di ruang praktek mewah salah satu dokter terbaik di Singapura, Dokter Anggara, suasana hening sejenak. Sang dokter baru saja selesai membaca rekam medis lama Dion dan menatap pasiennya dengan heran.
"Dion, sebenarnya masalahmu ini sangat sepele," ucap Dokter Anggara memecah keheningan. "Hanya operasi kecil, prosedurnya cepat, risikonya hampir nol. Kau bisa memiliki berapapun anak yang kau mau setelah ini. Aku sudah menyarankan hal ini sejak lima tahun lalu, tapi kau selalu menolak mentah-mentah dengan berbagai alasan. Apa yang berubah sekarang? Kenapa tiba-tiba kau memohon untuk segera dioperasi?"
Dion menatap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Singapura. Senyum tipis namun penuh keyakinan terukir di wajah tampannya. Wajah cantik Tamara, lengkap dengan senyum manisnya, terbayang jelas di pelupuk mata.
"Dulu aku pikir hidup sendiri atau menikah tanpa anak bukan masalah besar," jawab Dion pelan namun tegas. "Tapi sekarang berbeda. Aku sudah menemukan wanita yang tepat. Wanita yang ingin kuhabisi sisa hidupku bersamanya. Aku tidak mau melihat kekecewaan di matanya lagi. Aku ingin memberinya keluarga yang utuh. Aku ingin melihat dia mengandung anakku."
Dokter Anggara mengangguk pelan, mengerti. "Baiklah. Jika itu keinginanmu, kita bisa jadwalkan operasi besok pagi."
***
Sementara itu, di Jakarta...
Tamara duduk termenung di ruang tengah. Tangannya gemetar memegang sebuah amplop cokelat yang baru saja ia terima dari kurir pagi tadi. Amplop itu berisi hasil pemeriksaan medis Dion yang ia minta untuk dicek ulang secara diam-diam.
Jari-jarinya menyentuh baris kalimat di atas kertas itu.
Tubuh Tamara lemas. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bercampur rasa sakit yang luar biasa.
"Kenapa, Kak? Kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dariku? Apa... apa karena kau tidak yakin padaku?"
Rasa curiga dan sakit hati mulai merayap masuk. Tamara mengusap wajahnya kasar. Ia harus tahu kebenarannya. Ia tidak akan membiarkan hubungan mereka dibangun di atas tumpukan kebohongan.
Bersambung...