NovelToon NovelToon
Samudra Di Atas Langit

Samudra Di Atas Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.

Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan yang Dirahasiakan

Kepergian Ratna dan keluarganya meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang makan. Nyonya Shinta masih terpaku, jemarinya meremas serbet hingga buku-bukunya memutih. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah. Tuan Baskara segera merangkul istrinya, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia sendiri pun hampir kehilangan.

"Ayah, apa ini tidak terlalu cepat?" suara Shinta bergetar. Ia menatap Kakek Wijaya dengan wajah sembab.

"Cakrawala baru sembilan belas tahun. Kejadian itu... sabotase itu... pelakunya masih berkeliaran. Bagaimana jika mereka tahu dia masih hidup?"

Trauma enam belas tahun lalu kembali berputar di kepala Nyonya Shinta, seperti film rusak. Kobaran api, dentuman logam, dan tangisan kedua putranya yang terputus. Baginya, menyembunyikan Cakrawala di luar negeri adalah satu-satunya cara agar ia bisa bernapas setiap harinya.

Kakek Wijaya menghela napas panjang, menatap foto keluarga besar yang tergantung di dinding, foto yang diambil sebelum tragedi itu terjadi. "Shinta, ketakutanmu adalah wajar. Tapi membiarkannya terus bersembunyi adalah hukuman bagi kita semua. Cakrawala bukan lagi bocah tiga tahun yang rapuh."

Kakek mengetukkan tongkat naganya ke lantai, suaranya memberat penuh keyakinan. "Di sana, dia tidak hanya belajar teori bisnis. Dia dididik secara militer, dia menguasai beladiri untuk menjatuhkan lawan dalam perhitungan detik. Dia juga monster di depan layar monitor, pergerakan grafik saham adalah mainannya setiap hari. Dia adalah senjata yang kita asah di kegelapan."

Tuan Baskara Mengangguk pelan, meski guratan kecemasan masih ada di dahinya. "Aku merindukannya, Shinta. Setiap malam aku membayangkan bagaimana wajahnya sekarang. Apakah dia mirip denganku, atau lebih mirip denganmu?"

"Dia memiliki mata ayahmu, Baskara. Tajam dan tak terkalahkan," sahut Kakek Wijaya bangga.

Tiba-tiba, langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Pak Surya, asisten pribadi setia yang selama belasan tahun menjadi jembatan antara Indonesia dan tempat persembunyian Cakrawala, muncul dari balik pintu jati. Ia membungkuk hormat dengan ekspresi formal yang sulit dibaca.

"Maaf menggangu waktu anda, Tuan Besar," ujar Pak Surya pelan.

Ia melirik Tuan Baskara dan Nyonya Shinta sebelum melanjutkan, "Saya baru saja menerima pesan terenkripsi. Tuan Muda Cakrawala akan mendarat besok pagi pukul sembilan."

Jantung Nyonya Shinta seakan berhenti berdetak sesaat. "Besok?" bisiknya tak percaya. Antara bahagia dan takut, perasaannya berkecamuk hebat.

Kakek Wijaya berdiri, sorot matanya kembali menyala. "Bagus. Surya, dengarkan instruksiku dengan baik."

Pak Surya menegakkan punggungnya, menunggu perintah.

"Jangan kirim iring-iringan mobil mewah. Jangan ada pengawalan bersenjata yang mencolok," perintah Kakek Wijaya tegas. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman mansion.

"Jemput dia sendiri. Gunakan mobil yang paling biasa di garasi kita. Dia harus masuk ke negeri ini, tanpa satu pun radar musuh yang menangkap keberadaannya. Biarkan publik tetap mengira cucu Samudra telah tiada."

"Baik, Tuan Besar. Saya akan menjemput Tuan Muda secara pribadi," jawab Pak Surya dengan anggukan mantap.

Tuan Baskara berdiri di samping ayahnya. "Dia akan tinggal di sini kan, Ayah?"

Kakek menggeleng pelan. "Tidak. Jika dia di sini, Ratna akan mencium baunya. Dia akan tinggal di apartemen. Dia akan masuk ke Universitas Samudra sebagai mahasiswa jalur beasiswa. Biarkan dia melihat sendiri bagaimana Kenzo dan Bramantyo mengacak-acak warisannya."

Nyonya Shinta menyeka air matanya, mencoba menguatkan hati. "Jika itu maumu, Ayah. Tapi aku mohon... pastikan dia selalu dalam jangkauan kita."

"Dia adalah Samudra, Shinta," ujar Kakek Wijaya sambil menatap langit malam yang mendung.

"Badai pasti akan datang, tapi dialah yang akan mengendalikan ombaknya."

Esok pagi akan menjadi awal dari keruntuhan kebohongan yang dibangun musuh-musuh mereka. Sang pewaris sah telah pulang, siap mengambil kembali takhtanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!