"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Fajar baru saja menyingsing di langit Los Angeles, menembus celah gorden abu-abu di kamar utama apartemen Amieyara Walker. Suasana di dalam kamar itu semula terasa begitu damai dan hangat.
Di atas ranjang berukuran queen size, Maximilian Valerio masih berbaring miring, bertelanjang dada memperlihatkan struktur otot punggungnya yang tegap dan kokoh, sementara kedua lengan kekarnya melingkar posesif memeluk tubuh Yara dari belakang.
Yara sendiri masih mengenakan baju tidur satin biru mudanya, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Max, menikmati sisa-sisa kehangatan malam.
Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping dalam satu detik ketika ponsel pintar Max yang tergeletak di atas nakas bergetar tanpa henti.
Rentetan nada dering panggilan darurat berbunyi nyaring, disusul oleh puluhan notifikasi pesan masuk yang berkedip-kedip laksana lampu badai.
Max menggeram rendah, merasa terganggu karena momen intimnya terusik. Dia mengulurkan tangan kekarnya, menyambar ponsel tersebut dengan kening berkerut tajam.
Di layar, tertera nama Carter dan Demon yang melakukan panggilan grup berulang kali. Begitu Max menggeser tombol hijau, suara panik Carter langsung meledak memenuhi sudut kamar.
"Max! Sialan, kau harus buka forum utama kampus sekarang juga! Seseorang baru saja meledakkan bom nuklir di situs universitas!" seru Carter, suaranya bergetar hebat bercampur napas yang memburu.
Demon menimpali dari seberang talian dengan nada yang tidak kalah tegang.
"Ini tentang Yara, Max. Sebuah video skandal berdurasi tiga menit baru saja tersebar ke setiap grup angkatan, forum mahasiswa, hingga surel resmi dekanat. Judulnya 'Sisi Gelap Asisten Dosen Bisnis'. Isinya gila, Max... benar-benar gila."
Max tidak menjawab. Wajah tampannya seketika mengeras laksana batu karang. Dia menutup panggilan tersebut taktis, lalu dengan jemari yang bergerak cepat, dia membuka tautan video yang dikirimkan oleh Carter melalui pesan pribadi.
Keheningan seketika menyelimuti kamar remang itu. Suara audio dari video manipulasi digital yang dirancang oleh Caca mulai berputar, memenuhi ruangan dengan gema desahan yang teramat vulgar dan menjijikkan, memperlihatkan visual wajah artifisial Yara yang seolah-olah sedang merekam aksi kotornya sendiri di dalam kamar mandi.
Max memperhatikan video itu dengan sepasang mata gelap yang menyipit tajam. Namun, bukannya tersulut emosi atau meragukan wanitanya, Max justru mendengus pelan, sebuah seringai dingin yang sarat akan penghinaan muncul di sudut bibirnya.
Hening.
Max tahu persis, suara desahan di dalam video itu sama sekali bukan suara desahan Amieyara Walker.
Max adalah pria yang paling tahu bagaimana reaksi tubuh Yara. Dia sudah pernah mendengar kekasihnya mendesah halus dengan nada yang teramat suci dan tertahan saat mereka berciuman panas, atau saat jemari kekarnya menggila meremas bagian depan tubuh Yara dengan intensitas.
Nada suara di video ini terlalu dipaksakan, terlalu kotor, dan sangat asing. Itu bukan kekasihnya. Itu adalah produk sampah dari teknologi murahan yang mencoba meniru wanitanya.
Yara, yang sejak tadi berada di dalam pelukan Max, perlahan menggeser tubuhnya. Dia tidak tampak histeris, tidak pula menangis seperti wanita lemah pada umumnya saat mendengarkan video skandal atas namanya berputar di dalam kamar.
Wajah cantiknya justru terlihat sangat datar, namun ada binar kekecewaan yang mendalam di matanya.
Yara menatap lurus ke dalam manik mata gelap Max, lalu berkata dengan nada suara yang teramat tenang namun getir, "Kau boleh percaya pada video itu, Max... tapi aku bersumpah, itu bukan aku."
Max tidak membiarkan Yara menyelesaikan kalimat ketidakpastiannya. Dia langsung melempar ponselnya ke atas kasur, lalu menarik tubuh Yara kembali ke dalam dekapan hangatnya, memeluknya dengan begitu erat seolah ingin mengikis setiap keraguan yang ada di dalam jiwa wanita itu.
"Jangan bodoh, Amieyara," bisik Max, suaranya bariton rendahnya terdengar begitu mutlak di ceruk leher Yara. "Aku tahu itu bukan kau. Suara jalang di video itu terlalu cempreng dan menjijikkan, sangat berbeda dengan suara desahan seksi milikmu yang selalu membuatku gila setiap malam. Aku tidak sebodoh itu untuk mempercayai sampah digital seperti ini."
Yara tertegun di dalam pelukan hangat Max. Rasa lega yang luar biasa seketika merayap di dadanya, namun ego dan ketangguhannya sebagai seorang Walker tidak membiarkannya berlama-lama meratap.
Yara melepaskan pelukan Max secara perlahan, lalu beranjak berdiri dari tempat tidur untuk bersiap-siap Mandi untuk kekampus.
Melihat kegilaan Yara yang tetap berniat pergi ke kampus pagi itu meskipun video skandalnya sedang meledak hebat di luar sana, Max seketika ikut bangkit berdiri.
"Kau gila, Yara? Kau tidak boleh ke kampus hari ini. Koridor universitas saat ini pasti dipenuhi oleh manusia-manusia bermulut kotor yang siap menghujatmu. Biarkan aku yang membereskan kekacauan ini bersama Carter dan Demon."
Yara menghentikan langkahnya di depan lemari pakaian, lalu menoleh ke arah Max dengan senyuman pahit yang terukir di wajah cantiknya.
"Aku akan tetap pergi ke kampus, Max. Walaupun video gila itu tersebar luas, aku tidak akan pernah bersembunyi laksana seorang pengecut untuk kesalahan yang tidak pernah kulakukan."
Yara menarik napas panjang, menatap bayangan dirinya di cermin. "Aku memang sudah dianggap buruk oleh keluargaku sejak dulu, Max. Aku tidak pernah membutuhkan validitas atau penilaian suci dari orang-orang di kampus itu. Aku pergi ke sana untuk menuntut hak hukumku, bukan untuk meminta belas kasihan mereka."
Max menatap wanitanya dengan pandangan yang sarat akan rasa kagum sekaligus gemas atas keras kepalanya yang luar biasa.
"Baiklah, Sayang... aku akan menginformasikan pada pihak dekan sekarang juga bahwa ini adalah video palsu hasil rekayasa digital deepfake. Keluarga Valerio akan menekan tim IT kampus untuk melacak pelakunya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam kemudian, atmosfer di gedung rektorat Universitas Los Angeles terasa begitu mencekam. Seperti yang sudah diduga, Yara langsung dipanggil ke ruang dekanat Fakultas Bisnis sesaat setelah dia menginjakkan kakinya di koridor kampus.
Namun, ruang dekanat yang biasanya menjadi tempat intimidasi bagi mahasiswa bermasalah, kini terasa berbeda karena Maximilian Valerio berdiri kokoh di samping Yara, laksana benteng pertahanan yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengeluarkan kata-kata tidak sopan pada kekasihnya.
Dekan Fakultas Bisnis, seorang pria paruh baya berambut putih, mengembuskan napas panjang sembari menatap dokumen digital di hadapannya.
"Nona Walker, saya tahu dan tim IT kami juga sudah mengonfirmasi dari laporan Tuan Maximilian bahwa video ini adalah video palsu yang dimanipulasi dengan sangat rapi," ucap Dekan dengan nada suara yang penuh penyesalan.
"Namun, Anda harus memahami posisi pihak universitas. Kasus ini sudah terlanjur meledak dan menciptakan opini publik yang sangat liar di kalangan mahasiswa. Demi menjaga nama baik dan kondusivitas Fakultas Bisnis, saya terpaksa harus mengambil tindakan formal untuk menonaktifkan Anda sementara waktu dari posisi asisten dosen di fakultas ini."
Wajah Yara tetap tenang, tidak ada riak keterkejutan sedikit pun di wajah cantiknya. Namun, sebelum Max sempat menggebrak meja dekan karena tidak terima atas keputusan sepihak tersebut, seorang dosen senior dari Fakultas Hukum yang kebetulan berada di ruangan itu segera menengahi.
"Namun, Nona Walker, Anda tidak perlu khawatir tentang status akademis utama Anda," sela dosen hukum tersebut dengan senyuman hangat.
"Beasiswa penuh Anda di Fakultas Hukum universitas ini masih tetap berlaku seratus persen. Dekan Fakultas Hukum secara pribadi menjamin bahwa posisi dan hak Anda sebagai mahasiswa berprestasi tidak akan pernah terganggu oleh fitnah murahan seperti ini. Anda dibebaskan dari tugas asisten dosen di sini, namun ruang sidang akademik hukum selalu terbuka lebar untukmu."
Max yang mendengar hal itu perlahan menurunkan ketegangannya. Dia menoleh ke arah Yara, lalu menggenggam tangan wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat posesif di depan para petinggi kampus.
"Tenang saja, Sayang," ucap Max dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan kekuasaan yang mutlak. "Bila perlu... jika kampus ini membuatmu tidak nyaman lagi, aku akan menyuruh ayahku untuk membangun sebuah universitas hukum baru khusus untukmu, agar kau bisa mengajar dan memimpin di sana tanpa ada satu pun tikus pengganggu yang berani mengusikmu."
Mendengar ucapan gila dan luar biasa sombong dari mulut kekasih berondongnya itu, tawa Yara seketika pecah. Sebuah tawa renyah yang begitu indah, yang seketika mencairkan seluruh ketegangan di dalam ruang dekanat tersebut.
Yara menggelengkan kepalanya sembari menatap Max dengan binar mata yang dipenuhi rasa sayang.
"Kau benar-benar sudah gila, Maximilian. Membangun kampus dalam satu hari? Pikirkan logistiknya, Bocah Bodoh." Yara kemudian kembali menatap dekan dan memberikan anggukan hormat yang anggun.
"Terima kasih atas keputusannya, Dekan. Mungkin... ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk memang harus beristirahat sejenak dari urusan administrasi bisnis, dan mulai fokus sepenuhnya pada bidang hukum saja untuk menyelesaikan beberapa berkas perkara penting minggu depan."
Setelah menyelesaikan urusan administrasi, Max dan Yara melangkah keluar dari gedung rektorat menuju area taman tengah kampus yang lebih sepi. Max berjalan dengan tangan yang merangkul posesif pinggang ramping Yara, mengabaikan setiap lirikan dari mahasiswa yang berpapasan dengan mereka.
Melihat suasana hati Yara yang sudah jauh lebih baik, tabiat menggombal Max yang nakal seketika kembali muncul ke permukaan. Pemuda itu menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon maple yang rindang, lalu membalikkan tubuh Yara hingga menghadapnya.
Max menundukkan kepalanya, mengikis jarak hingga embusan napas hangatnya menyapu permukaan kulit wajah Yara yang putih bersih.
"Sayang... berbicara tentang fokus pada bidang hukum dan beristirahat dari tugas mengajar... aku benar-benar menantikan hal itu terjadi secepatnya."
Yara menaikkan sebelah alisnya, menatap bingung ke arah binar mata Max yang mendadak berkilat penuh dengan riak birahi yang jenaka sekaligus konyol. "Menantikan hal apa, Max?"
Max menyeringai tengil, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, membisikkan kata-kata mesumnya tepat di dekat daun telinga Yara dengan suara baritonnya yang teramat seksi.
"Tentu saja menantikan saat di mana kau tidak perlu lagi sibuk memeriksa lembar jawaban mahasiswa di malam hari, Baby. Jadi, seluruh energi dan fokus hukummu bisa kau gunakan sepenuhnya untuk mempelajari setiap jengkal struktur tubuhku di atas ranjang apartemenmu tanpa ada gangguan berkas akademis lagi, hm? Bagaimana menurutmu?"
Wajah Yara seketika merona merah padam hingga ke lehernya karena syok atas kelancangan gombalan mesum kekasihnya di tengah situasi pelik seperti ini.
Dia memukul dada bidang Max dengan gemas, sementara Max justru tertawa renyah, merengkuh tubuh ramping Yara ke dalam pelukannya dengan perasaan luar biasa puas karena berhasil mengembalikan senyuman di wajah wanitanya.