Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.
Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: JEBAKAN DI RUANG ARSIP
JEBAKAN DI RUANG ARSIP
Suara deru mesin mobil mewah Aris perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam rumah besar itu. Ibu Ratna sudah kembali ke kamarnya di lantai atas untuk menonton televisi, sementara Amira masih berdiri terpaku di balik tirai dapur. Tangannya yang dingin meremas selembar kertas asli yang berhasil ia selundupkan dari tas kerja Aris sepuluh menit lalu—lembar Corporate Guarantee yang memuat tanda tangan digital palsunya.
Amira tahu, lembaran yang ia tinggalkan di dalam tas Aris adalah lembar salinan yang sudah ia cacatkan detail nomor serinya menggunakan pulpen hitam saat Aris sedang memakai sepatu di teras. Siang nanti, saat Lista menyerahkan berkas itu di depan direksi bank, bom waktu itu tidak akan meledak ke arah Amira, melainkan akan memantul dan merusak rencana rapi sang pelakor.
Namun, Amira tidak bisa hanya berdiam diri di rumah. Langkah hukum yang direncanakannya bersama Pak Sanusi membutuhkan lebih banyak bukti fisik. Dokumen pinjaman lima miliar itu hanyalah pucuk dari gunung es kelicikan Lista. Amira yakin, di ruang arsip lama kantor—tempat di mana dokumen keuangan fisik dari tahun-tahun awal perusahaan disimpan—masih ada jejak digital dan berkas fisik pengalihan aset yang sengaja disembunyikan Lista.
"Bu... Amira mau izin ke apotek sebentar di depan kompleks. Kepala Amira agak pusing," pamit Amira dari balik pintu kamar Ibu Ratna setengah jam kemudian. Ia sengaja mengubah suaranya agar terdengar lemas dan kuyu.
Dari dalam kamar, terdengar suara gerutuan malas. "Ya sudah sana! Jangan lama-lama! Jam sebelas kamu harus sudah berdiri di dapur lagi buat masak makan siang!"
"Baik, Bu."
Bukannya pergi ke apotek kompleks, Amira justru memesan taksi online menuju kantor pusat Snack Pratama. Kali ini, ia tidak lewat pintu lobi utama lantai dasar. Sebagai istri pemilik yang masih memiliki akses kartu magnetik lama, Amira masuk melalui pintu belakang khusus karyawan logistik yang langsung terhubung ke tangga darurat menuju lantai dasar bawah (basement) dan ruang arsip.
Langkah kaki Amira bergaung halus di koridor ruang arsip yang sepi dan dingin. Ruangan ini terletak di lantai semi-basement, jarang dilalui karyawan kecuali staf legalitas atau administrasi senior. Bau kertas tua dan kelembapan AC sentral langsung menyergap indra penciumannya begitu ia menggesek kartunya pada pintu besi berat berkode digital.
Klik. Pintu terbuka.
Amira melangkah masuk ke dalam barisan lemari besi abu-abu yang menjulang tinggi. Ia langsung bergerak menuju rak bertuliskan Laporan Keuangan & Legalitas 2024-2025—tahun di mana Lista pertama kali masuk sebagai staf magang sebelum merangkak naik menjadi sekretaris pribadi Aris.
Jemari Amira bergerak cepat, membolak-balik map-map tebal berselimut debu tipis. "Harus ada di sini... pasti ada berkas asli pendirian jalur Jawa Timur," bisiknya pada diri sendiri. Keringat dingin mulai membasahi dahinya karena rasa tegang yang luar biasa. Jika Aris atau Lista memergokinya di sini, habis sudah seluruh strateginya.
Tiba-tiba, suara derit pintu besi di ujung ruangan mengejutkannya.
Amira tersentak. Ia buru-buru menyelinap ke celah sempit di antara dua lemari besi besar, menahan napasnya kuat-kuat. Dari balik celah besi, ia melihat bayangan seorang wanita melangkah masuk dengan anggun. Suara ketukan sepatu hak tingginya terdengar ritmis di atas lantai semen.
Itu Lista.
Amira membelalakkan mata. Mengapa Lista ada di sini? Bukankah seharunya dia mendampingi Aris bersiap menuju bank swasta asing itu siang ini?
Lista berjalan tergesa-gesa menuju meja tengah ruang arsip. Wajahnya tidak lagi memancarkan senyum manis nan polos yang biasa ia pamerkan di depan Ibu Ratna. Wajahnya tampak tegang, cemas, dan penuh amarah yang tertahan. Ia memegang ponselnya dengan tangan yang bergetar, menempelkannya ke telinga.
"Halo! Bagaimana bisa ditolak?!" suara Lista meninggi, melengking panik di dalam ruangan yang sunyi itu. "Saya sudah kirimkan semua berkasnya semalam! Apa? Nomor seri jaminannya cacat? Tidak mungkin! Saya sendiri yang memeriksa dokumen digital milik Komisaris Amira!"
Amira yang bersembunyi di balik lemari menahan senyum dinginnya. Jebakan pertama sudah bekerja dengan sempurna, batinnya.
Lista mondar-mandir dengan napas memburu, mendengarkan penjelasan dari seberang telepon dengan wajah yang semakin memucat. "Dengar ya! Pertemuan dengan direksi bank itu jam satu siang ini! Pak Aris sudah dalam perjalanan ke sana! Kamu harus cari cara untuk meloloskan verifikasi awal itu, atau uang lima miliar itu tidak akan pernah cair ke rekening kita! Paham?!"
Lista mematikan sambungan telepon dengan kasar, lalu mengumpat pelan. Ia melemparkan tas desainer mahalnya ke atas meja kerja arsip, lalu bergerak cepat menuju tangga lipat aluminium yang bersandar di dekat rak dokumen utama. Tampaknya, ia berniat mencari salinan dokumen fisik asli yang lama untuk mencocokkan nomor seri yang cacat.
Melihat Lista yang mulai menaiki tangga aluminium setinggi dua meter itu, sebuah pemikiran kilat yang berbahaya melintas di benak Amira.
Amira sengaja menggeser kakinya, membuat gantungan kunci di dompetnya berdenting halus membentur rak besi. Tring.
Suara kecil itu langsung membuat Lista yang berada di anak tangga ketiga menegang. Ia menoleh dengan cepat ke arah lorong lemari tempat Amira bersembunyi. "Siapa di sana?! Siapa itu?!"
Amira tidak bersembunyi lagi. Ia melangkah keluar dari kegelapan rak besi dengan tenang, menatap langsung ke arah mata Lista yang membelalak syok.
"Mbak... Mbak Amira?!" Lista hampir saja kehilangan keseimbangan di atas tangga. Wajah cantiknya seketika berubah dipenuhi kilatan rasa takut yang luar biasa, sebelum dengan cepat ia topeng kembali dengan raut wajah serba salah. "Mbak... sedang apa Mbak Amira di ruang arsip kantor? Bukankah Mbak bilang sedang pusing di rumah?"
Amira berjalan mendekat, berhenti tepat dua meter di depan tangga tempat Lista berdiri. Tatapan mata Amira begitu datar, tak ada lagi riak kelemahan seperti kemarin saat ia dibentak di ruang rapat. "Aku hanya mencari sesuatu yang tertinggal, Lista. Sesuatu yang seharusnya menjadi hakku, tapi sedang dicoba untuk dicuri oleh orang lain."
Mendengar kalimat Amira yang penuh penekanan, insting ular Lista langsung waspada. Ia tahu Amira yang berdiri di depannya saat ini berbeda dengan Amira yang biasa ia injak-injak bersama Ibu Ratna.
Lista mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya bergetar. "Mbak Amira bicara apa sih? Lista tidak mengerti. Oh ya, Lista harus cepat-cepat ambil berkas ini, Mas Aris sudah menunggu di—"
"Menunggu dana lima miliar yang gagal cair karena dokumen jaminannya cacat hukum?" potong Amira dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup membekukan darah Lista seketika.
Wajah Lista mendadak kehilangan seluruh warnanya. Ia menatap Amira dengan pandangan tak percaya. "Mbak... Mbak Amira yang melakukan ini? Mbak yang merusak berkasnya?!"
"Aku tidak merusak apa-apa, Lista. Aku hanya mengambil apa yang menjadi milikku, dan membiarkan kebohonganmu runtuh dengan sendirinya," jawab Amira dingin.
Di titik itu, saat menyadari bahwa seluruh rencana perampokan aset lima miliarnya terancam gagal total dan kedoknya bisa terbongkar di depan Aris, sifat asli Lista yang licik dan nekat keluar sepenuhnya. Matanya menyipit penuh kebencian.
"Dasar perempuan sialan!" desis Lista kasar.
Ia bergerak turun dari tangga dengan tergesa-gesa untuk merebut tasnya, namun di anak tangga kedua, matanya menangkap siluet pintu besi ruang arsip yang mendadak terbuka sedikit dari luar. Jaringan CCTV internal ruang arsip mati karena renovasi minggu lalu, tapi Lista tahu... ada langkah kaki yang mendekat dari arah koridor luar.
Itu langkah kaki Aris. Suaminya yang seharusnya menuju bank, tampaknya kembali ke kantor karena ada berkas yang tertinggal.
Insting iblis Lista bekerja dalam sepersekian detik. Bukannya turun dengan normal, Lista justru sengaja mencengkeram erat tepi tangga aluminium itu, lalu dengan sengaja melemparkan tubuhnya sendiri ke belakang, berguling jatuh ke atas lantai semen yang keras sambil menjatuhkan rak dokumen kecil di sampingnya hingga berantakan.
Prang! Gedebuk!
"AAAKHHH! MAS ARIS!!! TOLONGGG!!!"
Lista menjerit histeris, suaranya melengking memecah kesunyian ruang bawah tanah. Ia berguling di lantai, memegangi pergelangan kakinya sambil menangis meraung-raung seolah-olah baru saja mengalami penganiayaan yang luar biasa.
Pintu besi ruang arsip terbuka lebar dalam sekali dorongan. Aris melangkah masuk dengan napas memburu, wajahnya penuh kepanikan begitu mendengar teriakan histeris sekretaris kesayangannya.
"Lista?! Ada apa—" Kalimat Aris terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depannya. Lista tergeletak menangis di lantai di antara tumpukan kertas, dan Amira berdiri tegak di dekat tangga dengan wajah datar.
"Mas... Mas Aris... tolong Lista, Mas," tangis Lista pecah dengan sempurna. Ia merangkak pelan, menggapai ujung celana kerja Aris dengan tangan yang gemetar. "Mbak Amira, Mas... Mbak Amira mendatangi Lista di sini. Dia marah-marah soal proyek Jawa Timur... lalu... lalu saat Lista sedang di atas tangga, Mbak Amira sengaja mendorong tangganya sampai Lista jatuh... Akh! Sakit sekali, Mas... perut Lista... kaki Lista..."
Darah Aris seketika mendidih ke ubun-ubun. Tuduhan Lista yang begitu meyakinkan ditambah keberadaan Amira yang tak terduga di kantor langsung menyalakan api amarah raksasa di dalam dadanya. Ia tidak lagi menggunakan otaknya untuk berpikir jernih.
Aris melangkah lebar mendekati Amira, matanya memancarkan kebencian yang luar biasa. Tanpa menanyakan kebenaran, tanpa memberi kesempatan bagi Amira untuk mengeluarkan satu kata pun pembelaan—
Plak!!!
Satu tamparan keras dari telapak tangan tegap Aris mendarat dengan telak di pipi kanan Amira. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga membuat tubuh Amira terhentak ke samping, sudut bibirnya pecah mengeluarkan setitik darah segar, dan tubuhnya hampir saja ambruk membentur sudut tajam lemari besi jika ia tidak cepat-cepat berpegangan pada rak.
Rasa panas dan berdenyut hebat seketika menguasai wajah Amira. Namun, di tengah rasa sakit fisik yang luar biasa itu, Amira tidak menangis. Ia perlahan menegakkan tubuhnya, menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap langsung ke mata Aris dengan tatapan yang sangat kosong, dingin, dan mati.
Di lantai bawah sana, di balik punggung Aris yang sedang memeluk Lista yang menangis manja, Lista melirik ke arah Amira. Di sela-sela tangisan palsunya, sang pelakor kembali menyunggingkan senyuman kemenangan yang paling menjijikkan.
Amira berdiri dalam kesunyian ruang arsip yang dingin, memegangi pipinya yang terluka akibat tamparan pertama suaminya demi membela sang pelakor. Namun, di balik rasa sakit itu, Amira justru merasakan sebuah ketetapan hati yang mutlak. Tamparan Aris hari ini adalah segel resmi bahwa pria itu tidak lagi memiliki hak atas pengampunan dari Amira.