Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33 - Mendapat Warisan
Dokter baru saja meninggalkan ruang perawatan ketika pintu kamar diketuk pelan dari luar.
“Masuk,” ujar Maya.
Pintu terbuka perlahan..Seorang pria berusia sekitar lima puluhan masuk sambil membawa map kulit berwarna hitam. Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian, tetapi penampilannya masih rapi dan profesional.
Pria itu tersenyum. “Nona Maya.”
Maya mengangkat alis. “Siapa kau?"
“Aku pengacara mendiang ayahmu, kenalkan aku Haris."
Suasana mendadak sedikit hening. Haris adalah salah satu orang yang dulu cukup dekat dengan pria tersebut. Namun setelah kematian ayah Maya, hubungan mereka praktis terputus karena berbagai konflik yang terjadi di dalam keluarga.
Haris menarik kursi lalu duduk di samping tempat tidur..“Saya mendengar apa yang terjadi.”
“Berita buruk memang cepat menyebar," sahut Maya.
“Untungnya Anda selamat.”
Maya tersenyum tipis. “Untungnya.”
Haris memperhatikan luka di pelipis Maya sesaat sebelum menghela napas panjang. “Kalau ayah Anda masih hidup, beliau pasti sangat marah.”
Maya tidak menjawab. Karena mereka berdua sama-sama tahu itu benar. Haris lalu membuka map yang dibawanya. “Ada sesuatu yang harus saya sampaikan.”
“Apa?”
“Secara hukum, sekarang tidak ada lagi pihak yang bisa menghalangi proses pewarisan.”
Maya terdiam.
Haris melanjutkan. “Dengan kondisi terbaru dan hasil penyelidikan polisi, seluruh hak waris Anda sebagai ahli waris utama telah dipulihkan.”
Untuk beberapa detik, Maya hanya memandang pria itu tanpa berbicara. Mungkin beberapa bulan lalu dia akan merasa sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Namun sekarang perasaannya justru aneh. Seolah semuanya memang sudah seharusnya berjalan seperti itu.
“Jadi selesai?” tanya Maya.
Haris mengangguk. “Secara resmi, ya.”
Pria itu menyerahkan beberapa dokumen. “Perusahaan, rekening investasi, properti, dan aset lain yang sebelumnya ditahan akan segera dipindahkan sesuai keputusan hukum.”
Maya menerima berkas tersebut. Jumlah angka yang tertulis di sana bahkan cukup untuk membuat kebanyakan orang kehilangan kemampuan berbicara.
Namun Maya hanya melihatnya sekilas. Yang paling penting bukan uangnya. Melainkan fakta bahwa perjuangan Maya asli akhirnya tidak sia-sia.
“Selamat, Nona Maya.”
Haris tersenyum tulus. “Ini memang hak Anda sejak awal.”
...***...
Beberapa minggu kemudian. Kasus yang melibatkan Norma, Jamie, dan Ziva berkembang jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.
Maya memberikan seluruh bukti yang dimilikinya. Rekaman suara, dokumen, kesaksian, dan termasuk kesaksian Mira.
Satu per satu fakta mulai terungkap. Penyidik menemukan bahwa Maya memang mengalami penganiayaan. Mereka juga menemukan bahwa setelah Maya pingsan akibat benturan di kepala, keluarga tersebut sengaja tidak membawanya ke rumah sakit dan justru menyembunyikannya.
Fakta itu menjadi pukulan telak. Terutama bagi Jamie. Karena tindakan tersebut dianggap sebagai bagian dari percobaan yang membahayakan nyawa korban.
Norma beberapa kali mencoba menangis dan meminta keringanan. Namun bukti yang ada terlalu banyak. Sedangkan Ziva yang selama ini sering mengikuti tindakan keluarganya akhirnya ikut terseret dalam kasus tersebut.
Yang paling parah tetap Jamie. Selain kasus penganiayaan dan percobaan pembunuhan, penyelidikan lanjutan membuka berbagai rahasia lain yang selama ini tersembunyi. Termasuk laporan dari beberapa korban perempuan. Salah satunya berasal dari Mira. Kasus itu membuat posisi Jamie semakin hancur.
Pria yang dulu merasa dirinya selalu aman berkat uang dan koneksi keluarga akhirnya harus menghadapi kenyataan yang berbeda. Di ruang tahanan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada orang yang bisa dia perintah. Tidak ada orang yang bisa dia ancam dan Norma tidak berhenti menyalahkannya.
“Kamu puas sekarang?!”
Suara wanita itu menggema di ruang pemeriksaan saat mereka dipertemukan. “Semuanya hancur gara-gara kamu!”
Jamie mengepalkan tangan. “Ma—”
“Diam!”
Norma menangis.
“Ma, aku nggak sengaja.”
“Nggak sengaja?!” Norma tertawa pahit. “Kamu menghancurkan keluarga ini!”
Jamie menunduk. Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.
Sementara itu, hidup Maya perlahan berubah. Tidak langsung sempurna. Tidak langsung bahagia. Tetapi jauh lebih tenang.
Rumah besar yang dulu terasa seperti penjara kini menjadi tempat yang sunyi. Anehnya, Maya justru menyukai kesunyian itu. Beberapa bagian rumah direnovasi. Sebagian staf lama dipertahankan. Sebagian lagi diganti. Maya bisa berjalan di dalam rumah itu tanpa merasa harus waspada setiap detik.
Suatu sore, saat duduk di teras sambil meminum teh, Bobby datang berkunjung.
“Jadi...” katanya sambil melihat sekeliling.
“Hm?”
“Lu sekarang kaya raya?”
Maya tertawa kecil. “Mungkin.”
“Gila! Sekarang, bayar hutang lu!" timpal Bobby.
"Nanti lah! Lagian gue nggak bakal kemana-mana juga," balas Maya.
Bobby mengangguk mengerti. Namun beberapa detik kemudian dia ikut tertawa.
Rasanya aneh. Semua kekacauan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir akhirnya mulai mereda.
“Terus sekarang gimana?” tanya Bobby.
“Maksudnya?”
“Rencana hidup lu lah!”
Maya terdiam. Pertanyaan itu mengingatkannya pada seseorang. Pada taman bunga. Pada gadis bernama Maya yang tersenyum tenang sebelum menghilang.
"Hiduplah dengan bahagia."
Kalimat itu masih sering muncul di kepalanya.
“Gue nggak tahu,” jawab Maya akhirnya. “Untuk pertama kalinya, gue benar-benar nggak tahu.”
Bobby mengangguk. “Bagus berarti.”
“Bagus?”
“Karena sekarang lu punya pilihan.”
Maya tersenyum tipis. Mungkin Bobby tidak sadar. Tetapi kata-katanya mirip dengan ucapan Maya waktu itu.
Sekolah juga mulai kembali normal. Setidaknya hampir normal. Gosip memang masih ada. Beberapa siswa masih membicarakan kasus Ziva. Sebagian lagi membicarakan warisan Maya. Namun perlahan semuanya mulai mereda.
Orang-orang kembali sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Maya juga kembali menjalani hari-harinya seperti siswa biasa.
Hal-hal yang dulu terasa sangat sepele kini justru terasa menyenangkan. Meski begitu, ada satu hal yang tetap menarik perhatian Maya.
Pak Darto, guru yang selama ini diam-diam menyimpan rahasia kelam. Beberapa minggu terakhir, kondisi pria itu terlihat semakin buruk. Wajahnya pucat. Kantung matanya semakin gelap. Dia sering melamun saat mengajar. Bahkan beberapa kali terlihat berkeringat meskipun ruangan ber-AC.
Suatu siang, Maya melihat pria itu duduk sendirian di ruang guru. Tatapannya kosong. Tangannya gemetar saat memegang cangkir kopi. Seolah ada sesuatu yang terus menghantuinya.
Maya berdiri di balik jendela beberapa saat. Mengamati guru tersebut. Lalu tersenyum tipis. Dia tahu penyebabnya. Obat yang sempat diberikannya. Obat itu pasti sudah bekerja di tubuh Pak Darto
Maya memandang pria itu beberapa detik lagi. Lalu berbalik pergi. Tidak ada rasa kasihan. Hanya sebuah kesadaran sederhana..Bahwa setiap orang pada akhirnya akan menghadapi akibat dari perbuatannya sendiri.
"Sekarang dia nggak bisa sentuh sembarangan muridnya sendiri," gumam Maya.