NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Malam di Pesantren Al-Iman selalu memiliki sunyi yang berbeda. Sunyi yang diisi oleh desau angin di antara celah bambu dan aroma tanah yang tenang. Namun bagi Gus Azlan, malam ini sunyinya terasa mencekik. Jarum jam dinding di kamarnya berdetak seirama dengan denyut di pelipisnya yang kian mengencang.

Tepat pukul dua dini hari, Azlan bangkit. Tubuhnya terasa berat, namun jiwanya jauh lebih lelah. Ia melangkah menuju tempat wudhu, membiarkan air dingin membasuh wajahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam satu malam. Setiap tetesan air seolah mencoba mencuci bayangan "gadis bertato" yang diceritakan Zavier, namun bayangan itu justru semakin lekat.

Ia membentangkan sajadah di sudut kamar yang paling gelap. Salat Tahajud malam ini terasa seperti pendakian gunung yang terjal. Setiap takbir yang ia ucapkan terasa bergetar, dan setiap ayat yang ia lantunkan tertahan oleh sesak di dada.

Saat sujud terakhir, Azlan tidak segera bangun. Ia membiarkan dahinya menempel lama di hamparan kain sajadah. Di sana, di titik terendah seorang hamba, pertahanannya runtuh.

"Ya Rabb... Ya Muqallibal Qulub..." bisik Azlan, suaranya pecah menjadi isak yang tertahan. "Hamba datang membawa hati yang compang-camping. Bertahun-tahun hamba mencoba mengunci satu nama dalam kotak takdir-Mu, berharap ia akan kembali sebagai bidadari yang Kau Ridhoi. Namun hari ini, hamba mendengar ia kembali sebagai jiwa yang hilang."

Azlan meremas pinggiran sajadahnya. Air mata jatuh satu demi satu, membasahi serat kain itu.

"Jika memang Azalea Maheera bukan lagi bagian dari rusukku, jika ia bukan lagi takdir yang Kau tuliskan untuk mendampingi langkahku di pesantren ini, maka hamba memohon dengan sangat... cabutlah namanya dari setiap helai napasku. Hilangkanlah bayangannya dari pelupuk mataku. Jangan biarkan hamba mencintai seseorang yang telah membelakangi-Mu, ya Allah. Bersihkanlah hati hamba agar hamba bisa kembali mengabdi hanya pada-Mu tanpa ada noda rindu yang haram."

Di atas sajadahnya, Azlan meminta sebuah perpisahan batin yang total. Ia meminta agar Tuhan menghapus jejak Lea dari memorinya, karena ia merasa tidak sanggup melihat wanita yang ia cintai dalam keadaan yang begitu rusak di matanya.

Beberapa kilometer dari pesantren, di sebuah balkon Rumah yang menghadap ke arah persawahan, Azalea Maheera berdiri mematung. Ia mengenakan jaket oversize hitam untuk menutupi tubuhnya dari dinginnya angin malam, namun tato kupu-kupu di lehernya tetap terlihat jelas di bawah sinar lampu jalan yang remang.

Di tangannya tidak ada tasbih, tidak ada kitab. Hanya ada sebatang rokok yang ujungnya sudah mati sejak tadi. Matanya yang sembab menatap langit kelam yang sama dengan yang ditatap Azlan.

"Tuhan..." gumamnya lirih. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, karena sudah sangat lama ia tidak memanggil nama itu dengan nada yang lembut. "Hamba tidak tahu apakah Engkau masih mau mendengar suara dari mulut yang sudah penuh dengan makian ini."

Lea menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Pertemuannya dengan Zavier sore tadi adalah belati yang menghujam jantungnya. Melihat adik Azlan tumbuh menjadi pria yang tampak bahagia dan bersih, membuatnya sadar betapa jauh ia telah terlempar dari surga yang pernah ia huni.

"Dia pria yang saleh, Tuhan... Dia imam yang diidamkan setiap wanita di tanah ini," Lea tersenyum getir, air mata mengalir tanpa ia minta.

"Hamba tidak lagi pantas untuknya. Hamba sudah terlalu kotor untuk bersanding di belakang punggungnya yang sering sujud itu. Hamba harap... hamba sangat berharap Engkau memberinya wanita yang jauh lebih baik dari hamba. Berikan dia wanita yang shalihah, yang jilbabnya tidak pernah lepas, yang hatinya tidak pernah ragu pada-Mu."

Lea memejamkan mata, membayangkan wajah Azlan yang terakhir ia lihat saat pemakaman orang tuanya.

"Jagalah dia, Tuhan. Jangan biarkan dia tahu betapa hancurnya aku di Kota A. Biarkan dia mengingatku sebagai Lea yang dulu, atau lupakanlah aku sepenuhnya agar dia bisa bahagia. Aku rela menjadi debu di bawah kakinya, asalkan dia tetap menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya."

Malam itu, di bawah langit yang sama, dua doa yang berbeda arah namun berasal dari akar cinta yang sama, membumbung tinggi. Yang satu meminta untuk dilupakan, dan yang satu lagi meminta untuk dijauhkan.

Kilas Balik

Pikiran Lea kemudian terseret ke sebuah malam, Lima tahun yang lalu. Malam yang seharusnya menjadi malam paling bahagia dalam hidupnya.

Saat itu, Lea sedang duduk di ruang tamu rumahnya, mengenakan gamis biru muda yang baru saja dibelikan ibunya. Ayahnya, seorang tokoh yang disegani, baru saja pulang dari pesantren membawa sebuah amplop putih.

"Lea, anakku..." Ayahnya tersenyum sangat lebar, matanya berbinar penuh kebanggaan. "Gus Azlan sudah mengirimkan surat ta'arufnya. Dan Ayah Sudah menerimanya."

Jantung Lea saat itu seolah ingin melompat keluar. Ia menunduk malu, namun hatinya menari. Ia sudah menyiapkan jawabannya sejak lama. "Jika Ayah dan Ibu ridho', maka Lea juga Ridho'," jawabnya pelan.

"Malam ini Abi dan Ibu akan pergi ke kota sebelah untuk mengurus berkas-berkas penting, sekaligus mengambil perhiasan warisan nenekmu yang ingin Ibu berikan padamu saat lamaran nanti," ucap ibunya sambil mencium kening Lea. "Doakan perjalanan kami lancar ya, Nak. Besok kita akan sampaikan jawaban resmimu pada keluarga ndalem."

Itulah pelukan terakhir. Itulah senyum terakhir.

Tiga jam setelah orang tuanya berangkat membawa kabar kemenangan cinta Lea, telepon berdering. Kecelakaan beruntun. Mobil ayahnya terhimpit di antara dua truk besar. Ledakan terjadi. Ayah dan ibunya meninggal seketika, terbakar bersama surat taaruf Azlan dan perhiasan warisan yang seharusnya menjadi hiasan di hari bahagianya.

Saat itulah, jiwa Lea patah.

Di hari pemakaman, saat ia melihat tanah menimbun orang-orang yang paling ia cintai, Lea merasa Tuhan sedang mempermainkannya. Kenapa sekarang? Kenapa di saat aku baru saja akan meraih kebahagiaan yang halal?

"Jika Engkau memang adil, kenapa Engkau merenggut mereka di saat mereka sedang mengurus ibadahku?!" teriak Lea dalam hatinya di depan liang lahat.

Dendam itu tumbuh. Ia merasa Tuhan telah berkhianat. Sejak hari itu, ia merobek jilbabnya. Ia pergi ke Kota A, mencari pelarian dalam tinta tato yang menyakitkan untuk menutupi luka batinnya. Ia ingin menghancurkan dirinya sendiri agar Tuhan "puas". Namun malam ini, ia sadar bahwa ia tidak pernah benar-benar bisa membenci Tuhan; ia hanya sedang patah hati pada takdir.

Kembali di kamar Azlan, sang Gus kini telah selesai dengan doanya. Ia duduk terdiam, memutar tasbih di jemarinya.

"Ya Allah... jika ia kembali untuk bertaubat, terimalah ia. Tapi jangan hubungkan kembali denganku jika itu akan merusak jalan dakwahku," gumam Azlan.

Sementara itu, Lea di balkonnya mulai merasa kedinginan. Ia mematikan lampu balkon dan masuk ke dalam kamar. Sebelum berbaring, ia menyentuh pergelangan tangannya yang bertato.

"Selamat malam, Gus Azlan," bisiknya pada kegelapan. "Semoga harimu besok penuh keberkahan, tanpa perlu melihat bayanganku lagi."

Dua insan ini tidak tahu, bahwa meski mereka meminta untuk saling dijauhkan, Tuhan memiliki cara tersendiri untuk menguji sejauh mana kekuatan sebuah doa.

Malam itu, sejadah Azlan dan air mata Lea menjadi saksi bahwa cinta yang paling menyakitkan adalah cinta yang harus dipasung demi sebuah prinsip yang mereka anggap benar.

Azlan ingin melupakan, Lea ingin dilupakan. Namun di atas sana, mungkin sedang mencatat sebuah skenario lain yang belum sempat mereka baca. Sebuah skenario di mana kupu-kupu hitam itu mungkin akan menemukan kembali jalannya pulang menuju taman yang dulu ia tinggalkan.

1
winpar
lnjuttttttt💪💪💪💪💪lnjuttttttt
Ros🍂: Okay kak🥰
total 1 replies
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!