Dikhianati. Ditinggalkan. Dipisahkan dari anaknya.
Sekar kehilangan segalanya karena cinta yang mendua.
Saat ia bangkit dan menemukan dirinya kembali, seseorang dari masa lalu hadir, membawa kesempatan kedua yang tak pernah ia duga.
Tapi setelah semua yang terjadi
masih beranikah Sekar mencintai lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Sekar menarik napas pelan, menenangkan dirinya sendiri. Ia hanya mengangguk kecil, tanpa memberi komentar lebih. Namun sebelum percakapan itu berlanjut, suara pintu terbuka dari luar terdengar. Langkah kaki masuk ke dalam rumah. Aji dan Mila pulang. Sekar menoleh.
Mila yang berjalan lebih dulu langsung menghentikan langkahnya begitu melihat ruang tamu. Matanya tertuju pada tas-tas besar yang dibawa Sekar. Pada pakaian, makanan, dan mainan yang tertata rapi di atas meja. Ekspresinya berubah. Kaget. Lalu… sesuatu yang sulit dijelaskan, antara tidak suka dan tersentil. “Apa ini?” tanyanya, nadanya datar tapi tajam.
Sekar berdiri perlahan. “Itu buat Sea,” jawabnya tenang. Matanya tidak goyah. Tidak ada lagi rasa ragu seperti dulu. Karena kali ini ia tidak datang sebagai seseorang yang meminta. Ia datang sebagai seorang ibu… yang sedang memastikan anaknya tidak kekurangan apa pun lagi.
Sekar tidak ingin memperpanjang apa pun yang sudah cukup melelahkan sejak pagi. Ia berdiri dengan tenang, merapikan tasnya, lalu berpamitan singkat tanpa banyak kata. Tidak ada lagi basa-basi, tidak ada upaya untuk membuka percakapan baru. Sebelum melangkah keluar, ia menyelipkan sebuah amplop ke tangan mantan ibu mertuanya. “Ini buat jajan Sea, Bu,” ucapnya pelan.
Perempuan itu langsung menerimanya dengan wajah yang berubah cerah, hampir terlalu cepat, seolah beban yang sejak tadi ia rasakan sedikit terangkat. “Iya, iya… nanti Ibu kasih ke Sea,” jawabnya dengan nada sumringah yang tidak bisa disembunyikan.
Di sisi lain, Mila hanya mendengus pelan. Wajahnya jelas tidak suka, matanya sekilas melirik amplop itu dengan tatapan yang sulit diartikan, antara sinis dan tersinggung.
Sekar tidak menanggapi. Ia sudah terlalu lelah untuk peduli. Ia keluar rumah, melangkah menuju mobil dengan perasaan yang kembali berat. Setiap kali meninggalkan tempat itu, selalu ada bagian dari dirinya yang terasa tertinggal, bukan karena ia ingin, tapi karena ia terpaksa.
Baru saja ia duduk di kursi pengemudi dan menutup pintu, tangannya belum sempat menyalakan mesin, tiba-tiba terdengar suara ketukan di kaca mobilnya.
Tok. Tok.
Sekar menoleh. Aji berdiri di sana. Sekar menarik napas panjang sebelum akhirnya menurunkan kaca sedikit. “Ada apa?” tanyanya datar.
Wajah Aji terlihat berbeda. Tidak lagi penuh sindiran seperti biasanya. Kali ini… lebih lelah. Lebih tertekan. “Aku mau minta tolong,” katanya tanpa berputar-putar.
Sekar diam, menunggu.
“Mila… harus segera melahirkan,” lanjutnya. “Sebenarnya sudah lewat bulannya. Bidan bilang harusnya di-cesar.”
Sekar mulai menegang, tapi ia tidak menyela.
“Tapi aku nggak punya biaya buat bawa ke rumah sakit,” suara Aji melemah. “Aku juga nggak berani minta ke orang tua… selama ini sudah terlalu merepotkan.”
Sekar menatap lurus ke depan beberapa detik. Tangannya di setir mengeras pelan. Ia tidak langsung menjawab. Di dalam dirinya, ada penolakan yang muncul begitu saja. Refleks. Luka lama yang belum benar-benar hilang. Ia ingin berkata tidak. Ingin menutup percakapan ini sekarang juga.
Namun Aji belum selesai. “Pengeluaran Sea juga besar, Kar…” tambahnya cepat, seolah itu alasan yang akan membuat Sekar luluh.
Kalimat itu… justru seperti menyulut sesuatu di dalam diri Sekar. Ia menoleh perlahan. Tatapannya berubah. “Tujuh tahun, Ji,” ucapnya pelan, tapi tajam. “Anak tujuh tahun pengeluarannya besar… tapi nggak sekolah?”
Aji terdiam.
Sekar melanjutkan, suaranya tetap tenang tapi jelas menyimpan emosi yang tertahan. “Aku juga nggak lihat ada yang baru dari dia. Bajunya… itu-itu saja.”
Sunyi.
Aji tidak bisa menjawab.
Sekar menghela napas panjang, menahan dirinya sendiri agar tidak terbawa lebih jauh. Ia tahu kalau ia lanjut, ini akan berubah jadi pertengkaran. Dan ia tidak mau. Tidak di sini. Tidak sekarang. Ia memejamkan mata sebentar, lalu membuka lagi. “Aku akan pertimbangkan,” katanya akhirnya, singkat.
Aji terlihat sedikit lega, meski belum sepenuhnya tenang.
“Tapi aku juga baru beli rumah sama mobil,” lanjut Sekar, nadanya kembali datar. “Uangku juga lagi banyak keluar.” Itu bukan sepenuhnya alasan. Tapi juga bukan kebohongan. Sekar tidak ingin memberi harapan berlebih. Tidak ingin terjebak lagi.
Aji mengangguk pelan. “Aku ngerti…” katanya lirih.
Sekar tidak menjawab lagi. Ia hanya menaikkan kaca mobilnya perlahan, menutup percakapan itu tanpa perlu kata tambahan. Beberapa detik kemudian, mesin mobil menyala. Sekar menggenggam setir lebih erat, matanya lurus ke depan, tapi pikirannya penuh. Bukan tentang Aji. Bukan tentang Mila. Tapi tentang Sea.
Tentang semua hal yang baru saja ia dengar. Tentang kondisi yang semakin jelas. Dan tentang satu keputusan yang perlahan mulai menguat di dalam dirinya bahwa kali ini ia tidak boleh lagi ragu.
***
Perjalanan pulang itu seharusnya menjadi waktu bagi Sekar untuk menenangkan diri. Jalanan yang ia lewati tampak biasa saja, kendaraan lalu lalang seperti hari-hari lain, tapi pikirannya penuh tentang Sea, tentang rumah itu, tentang semua percakapan yang baru saja terjadi. Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya, seolah ia sedang menahan sesuatu yang terus mendesak keluar dari dalam dirinya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terdiam. Damar. Sekar menghela napas pelan sebelum akhirnya menekan tombol terima. “Halo…” suaranya datar, lelah.
“Sekar, kamu di mana?” suara Damar terdengar cepat, tidak seperti biasanya yang santai.
“Di jalan, mau pulang.”
“Aku mau ketemu. Sekarang bisa?”
Sekar terdiam sejenak. Ia sebenarnya ingin menolak. Hari ini sudah terlalu panjang, terlalu penuh emosi. Ia ingin pulang, ingin diam, ingin menyusun ulang dirinya sendiri. Tapi entah kenapa, sesuatu dalam dirinya memilih untuk tidak menghindar.“…ya sudah,” jawabnya akhirnya. “Di mana?”
Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari posisi Sekar. Tempatnya tidak terlalu ramai, cukup tenang, tapi cukup untuk menjadi saksi percakapan yang ternyata jauh dari ringan. Sekar datang lebih dulu. Ia duduk di sudut ruangan, memesan minuman seadanya, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi begitu Damar masuk dan duduk di hadapannya, Sekar langsung tahu ini bukan pertemuan biasa.
Wajah lelaki itu… gelisah. Tidak ada senyum santai seperti kemarin. Tidak ada candaan ringan. Dan tanpa basa-basi, tanpa pembukaan, Damar langsung berbicara. “Kenapa kamu menikah, Sekar?”
Sekar mengerutkan kening, belum sepenuhnya memahami arah pertanyaan itu.
Damar menatapnya lurus, matanya penuh sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lihat. “Padahal aku nunggu kamu.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Sekar membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus merespon apa. Kata-kata itu terasa datang dari masa lalu yang tiba-tiba muncul di depan matanya, membawa sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun entah kenapa, alih-alih terdiam lebih lama, sesuatu di dalam diri Sekar justru pecah. “Karena nggak ada kamu!” jawabnya tiba-tiba, suaranya meninggi tanpa bisa ia tahan.
Damar terkejut.
dan berulang terus kejadiannya.. dari Sekar di sakiti si Aji & Mila.. terus berusaha legowo demi kepentingan Sea.. dan terus aja MAU di manfaatin terus sama si Aji dan keluarga nya atas nama Sea.....
yg ada malah gampang di bodohin melulu 😤
Saat tersakiti, terus bangkit, tapi ujung-ujungnya mau aja terus di gituin lagiiii.... hadeuhhhh.. cape bacanya juga bolak-balik terus demi kepentingan nya Sea 🤦♀️🤣
.Damar 🤩🤗