NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:102.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Pagi itu suasana rumah terasa begitu tenang. Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan, menciptakan cahaya hangat yang jatuh di atas meja sarapan.

Di tengah meja telah tersaji berbagai makanan sederhana yang masih hangat. Aroma roti panggang dan sup ayam memenuhi ruangan. Ruang makan itu benar-benar terasa hidup.

Melodi yang kini sudah berusia tiga bulan berada di baby box kecil dekat meja makan. Bayi mungil itu mengoceh pelan sambil memainkan tangan kecilnya sendiri. Kadang tertawa kecil tanpa sebab. Kadang menendang-nendang kaki mungilnya dengan gemas.

Sementara Arsyi duduk di sampingnya sambil memegang botol susu kecil. Wanita itu tersenyum lembut saat menyusui Melodi perlahan.

“Pelan, Sayang…”

Melodi langsung meminum susunya dengan tenang sambil sesekali mengeluarkan suara kecil lucu.

Arsyi terkekeh pelan.

“Lapar banget ya?”

Di seberang meja, Harsa yang sejak tadi meminum kopinya tanpa sadar memperhatikan keduanya. Tatapannya diam cukup lama dan entah sejak kapan ia mulai terbiasa melihat Arsyi seperti itu.

Melodi bukan anak kandung Arsyi. Karena wanita itu merawat bayi kecil tersebut seolah darah dagingnya sendiri. Melodi tiba-tiba berhenti minum lalu mengoceh kecil sambil mengulurkan tangan mungilnya ke arah Arsyi.

“Aaa…”

Arsyi langsung mendekat sambil tersenyum.

“Iya, Mama di sini.”

Harsa yang mendengar itu perlahan mengangkat pandangannya. Dulu kata itu terasa asing namun sekarang semuanya terasa begitu alami.

“Aku hari ini mungkin pulang malam,” ujar Harsa akhirnya memecah suasana.

Arsyi menoleh pelan.

“Lembur?”

“Hm.”

Harsa meletakkan cangkir kopinya.

“Ada pertemuan sama Pak Dimas. Bahas proyek baru.”

Arsyi mengangguk kecil.

“Oh…” Nada suaranya terdengar biasa saja. Entah kenapa Harsa justru memperhatikannya lebih lama.

“Mungkin agak lama,” lanjut pria itu. “Jadi nggak usah nungguin.”

Arsyi tersenyum kecil.

“Iya.”

Jawaban sederhana itu malah membuat Harsa sedikit mengernyit. Karena biasanya Arsyi akan bertanya apakah ia sudah makan atau meminta hati-hati di jalan.

Tapi pagi ini tidak. Wanita itu justru kembali fokus membetulkan posisi botol susu Melodi dengan lembut.

“Pelan minumnya nanti keselek,” gumam Arsyi lembut.

Melodi justru tertawa kecil hingga sedikit susu menetes di bibir mungilnya. Arsyi langsung menyeka dengan tisu kecil sambil tertawa pelan.

Harsa tanpa sadar ikut tersenyum tipis. Rumah itu terasa jauh berbeda sekarang.

“Aku nanti coba pulang secepatnya,” ujar Harsa lagi entah kenapa.

Arsyi menoleh sebentar lalu tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa kok kalau memang kerjaannya banyak.”

Jawaban itu terasa ringan. Namun justru membuat Harsa diam beberapa detik. Arsyi sekarang tidak lagi menunggunya seperti dulu. Tidak lagi terlalu bergantung pada perhatiannya. Wanita itu mulai terbiasa sibuk dengan dunianya sendiri bersama Melodi. Itu justru membuat Harsa merasa sedikit kehilangan sesuatu.

Melodi tiba-tiba tertawa kecil sambil menepuk-nepuk meja baby chair-nya.

Refleks Arsyi ikut tertawa pelan.

“Lihat tuh, dia senang banget pagi-pagi.”

Harsa menatap bayi kecilnya. Lalu perlahan sudut bibir pria itu kembali terangkat.

“Hm.” Tatapannya lalu beralih pada Arsyi. Harsa hanya diam memperhatikan wanita itu.

Wanita yang awalnya hanya hadir karena wasiat. Namun kini perlahan mulai menjadi bagian paling tenang di rumahnya.

Suasana rumah masih terasa hangat setelah sarapan pagi selesai.

Mbak Sari sedang membereskan meja makan, sementara Melodi kembali mengoceh kecil di baby box sambil memainkan boneka kecil berbentuk kelinci.

Arsyi menggendong bayi itu pelan sembari berdiri di dekat ruang makan.

Sementara Harsa yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya berdiri di depan cermin kecil ruang tamu, membetulkan jam tangan di pergelangan tangannya.

“Meeting-nya jam berapa?” tanya Arsyi pelan.

“Siang nanti,” jawab Harsa sambil merapikan manset kemejanya. “Tapi pagi ini ada beberapa berkas yang harus aku cek dulu.”

Arsyi mengangguk kecil.

“Hati-hati ya.”

Harsa menoleh.

Pria itu melangkah mendekat. Awalnya Arsyi mengira Harsa hanya ingin pamit biasa seperti biasanya. Namun ternyata Harsa berhenti tepat di depannya. Tatapannya turun pada wajah wanita itu beberapa detik.

Lalu tanpa banyak bicara tangannya terangkat pelan menyibakkan sedikit rambut Arsyi yang jatuh di dekat pelipis. Dan detik berikutnya Harsa mencium keningnya singkat. Hal itu cukup membuat Arsyi membeku di tempat. Jantungnya seperti berhenti sepersekian detik.

Sementara Harsa sendiri terlihat sedikit canggung setelah melakukannya.

“Aku berangkat,” ucap pria itu pelan.

Arsyi masih tertegun. Matanya bahkan membulat kecil karena tidak menyangka.

“I-iya…” Jawabannya terdengar gugup.

Melodi tiba-tiba mengoceh kecil di pelukan Arsyi. Seolah ikut memecah kecanggungan di antara mereka.

Harsa berdeham pelan lalu kembali berkata,

“Aku udah minta Mbak Sari buat belanja keperluan dapur sama kebutuhan Melodi.”

Arsyi yang masih salah tingkah akhirnya mencoba fokus mendengar.

“Oh…”

“Mungkin stok susu sama popok mulai habis.”

Arsyi mengangguk kecil.

“Iya, tinggal sedikit.”

Harsa memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Kalau ada yang kurang tinggal bilang aja.”

Arsyi terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan,

“Aku boleh ikut?”

Harsa sedikit mengernyit.

“Ikut belanja?”

Arsyi mengangguk kecil.

“Aku pengen sekalian pilih sendiri kebutuhan Melodi…”

“Boleh.”

Arsyi sedikit terkejut.

“Serius?”

“Hm.” Harsa lalu menambahkan pelan,

“Daripada kamu bosan terus di rumah.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun berhasil membuat hati Arsyi terasa hangat lagi.

“Kalau capek nanti pulang aja duluan,” ujar Harsa lagi.

Arsyi tersenyum kecil.

“Iya.”

Harsa menatap wanita itu beberapa detik. Lalu tanpa sadar pandangannya turun pada bibir Arsyi yang masih tersenyum tipis.

“Aku pergi dulu.”

“Iya, Kak.”

Harsa berjalan menuju pintu depan.

Hai sambil nunggu update, ayo mampir di karya teman aku ❤️

1
tris tanto
kabar ortunya gimn,gk baean kah?
Teh Euis Tea
sudah tamat ternyata thor ga nunggu sampai arsy lahiran tp terima kasih thor atas ceritamu, sehat selalu untuk othor
Teh Euis Tea
si rina udah gila x ya
Angga Gati
bagus ceritanya lope sakebon💖💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝💝
Angga Gati
baru bahagia kok udh tamat kak😍
Aditya hp/ bunda Lia
eeeh, ... ternyata tamat kirain masih lanjut tapi makasih 🙏
Ita rahmawati
Weh tamat benerankan 😅
Ita rahmawati
kalo gtu bikin mati ajalah si rinanya Thor soalnya nti kalo udh bebas dendam dia Pasti lebih bahaya 🤣
Ita rahmawati
beneran kn ini si Rina udh KO 🤣
Aditya hp/ bunda Lia
untunglah selamat dan semoga si Rina lama dipenjara
Teti Hayati
Makasih karya luar biasanya ka...
Rieya Yanie
kok cepet tamatnya
Ikaaa1605
Yaaaahhh uda tamat ajaa
Naufal Affiq
terkejut aku bacanya kak,tiba-tiba sidah tamat
Naufal Affiq
kok ada ya model orang seperti si rina ini
Marini Suhendar
Yach....
Marini Suhendar
good job harsa
Naufal Affiq
mampus kau rina,sudah ketahuan belang mu yang sebenarnya
Aditya hp/ bunda Lia
mampus kau .... tamat sudah kamu Rina
Ass Yfa
dan rterjawab sudah...siapa yg menemui Nadin sebelum mnggl dia Rina..sengaja buat shock Nadin dan akhirnya jatuh dari tangga..karna pikirannya nggk fokus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!