Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memaksa
Sera tak peduli, saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya menghalangi iblis yang keluar dari neraka untuk mendatanginya, mengunci semua akses masuk ke Mansion.
Oma Alena yang tau akan kelakuan cucunya hanya menghela nafasnya, lalu kemudian tersenyum penuh makna, bisa di bilang tak yakin dengan apa yang dilakukan cucunya akan membuahkan hasil yang diinginkan.
"Dasar gadis nakal" gumamnya, lalu melanjutkan langkah menuju taman belakang bersama dengan beberapa asisten rumah tangga.
"Nyonya, akses pintu semua terkunci" salah satu dari mereka memberikan informasi.
"Tidak masalah, Untuk beberapa jam kedepan, kalian tidak perlu masuk ke dalam Mansion, kita akan melakukan kegiatan di luar saja" ucapnya dengan senyuman.
Sera merasa lega, duduk santai dengan baju kimono yang belum terlepas dari tubuhnya.
"Aku akan bebas hari ini, dan jangan harap kamu bisa menganggu ku Graven Rudolf" ucapnya pelan dan tersenyum senang, sepertinya Oma juga mendukungnya, batinnya.
*
*
Sementara itu, Graven yang baru sampai, dikejutkan dengan beberapa security yang mendatangi.
"Maaf Tuan, ingin bertemu dengan Nona Sera?"
"Hem" Graven menjawab dari dalam mobilnya, hanya menurunkan kacanya saja.
"Maaf sekali, Nona Sera memberikan pesan jika hari ini tidak bisa di ganggu, dan akses masuk Mansion telah di tutup untuk beberapa waktu"
"Jadi begitu?"
"Iya Tuan, maaf" dengan Sopan security itu akhirnya undur diri dan kembali lagi ke pos yang berada di samping gerbang.
Graven hanya menghela nafasnya, sepertinya memang Sera sengaja menguji kesabarannya, dan hanya ada senyuman tipis dari bibirnya.
Mobil mundur beberapa meter dari tempat semula, sengaja terparkir rapi di pinggiran tembok pagar Mansion yang menjulang tinggi, Graven menatap kedepan dengan tenang.
"Terpaksa aku melakukan ini, kau tidak akan bisa lari dariku Sera" ucapnya perlahan, menunduk dalam dan_MENGHILANG.
Menerobos masuk memang tidak bisa dilakukan, tapi, Graven bisa menggunakan kekuatan lain untuk sampai di tempat yang diinginkan kan, setidaknya memberikan pelajaran jika wanita di dalam sana tidak akan pernah bisa menghindarinya.
Membuka mata, kini didepannya telah terpampang sebuah pintu besar bertema klasik, gagang pintu yang besar menampilkan kesempurnaan yang di perhitungkan, dan Graven mengetuk pelan.
Tok Tok Tok
Ada suara langkah kaki yang sangat pelan, Graven bersiap dan hanya berdiri tenang.
Saat pintu terbuka_
"TIDAK_!!"
Brak
Didalam sana, Sera sampai gemetar, tak percaya dengan penglihatannya sendiri dan berusaha menormalkan nafas untuk menangkan diri.
"Ini tidak mungkin" Sera masih tak percaya, sampai beberapa detik berikutnya_
"Aku sudah ada disini Sera, buka pintunya atau aku harus menerobos masuk ke kamarmu juga?"
Ya Tuhan!, Sera memejamkan mata, bersandar di balik pintu dan menarik nafas panjang, tidak mungkin Graven melakukan semua tindakan jika_?
"OMA!" Teriaknya frustasi.
Melawan orang yang mendapat dukungan penguasa tertinggi di Mansion?, jelas tidak mungkin dan sungguh terpaksa, Sera kemudian membuka pintu perlahan.
"Terimakasih" ucap Graven dengan senyum tipisnya dan masuk ke dalam kamar Sera.
Sera menatap tajam Graven yang berjalan santai melewatinya tanpa merasa bersalah sama sekali, lalu memutar tubuhnya dan mendekat.
"Sera?" ucap Graven, dengan sabar, dengan tenang, dan Sera ingin melempar kursi sekarang juga.
"Graven dengar _"
"Okey, ada masalah?" jawaban Graven yang membuat Sera benar-benar ingin mencincangnya.
"Oma yang memberimu akses masuk ke sini?"
"Bagaimana kalau kamu tanyakan sendiri, bukankah aku sudah bilang kalau nyonya Alena yang menandatangani kontrak kerjasama proyek ini?"
"Aku tau, tapi ini tidak benar!" sahut Sera kesal.
"Siapa yang tidak benar disini Sera?"
"Kamu, Oma, kalian!" teriaknya.
Graven duduk di sofa yang ada dalam kamar Sera, lihat sekitar seolah tak memperhatikan amukan wanita yang masih berdiri menatapnya tajam.
"Jangan membuang waktu, kita rapat disini atau di ruangan lain, waktu kurang lima menit lagi, laptop akan aku hidupkan dan kita bergabung dengan para investor"
"Aku tidak mau!"
"Okey"
Graven hanya tersenyum, membuka laptopnya perlahan, memposisikan dengan nyaman dan Sera semakin tak percaya.
"Graven apa yang kau lakukan, kamu gila?!" teriaknya.
"Tidak, aku hanya ingin bekerja dan menyelesaikan ini semua"
"Tidak tidak!, jangan di sini, ini kamarku, tempat pribadiku, ini tidak benar Grevan!"
"Tidak ada waktu lagi dan ini_BENAR"
Sera hampir tak bisa bernafas, dengan gesit menahan tangan Grevan untuk menyentuh tombol on di laptopnya.
"Minggir Sera"
"Tidak, kau gila, lihat aku!" Sera semakin erat mencekal tangan Grevan.
Bahkan terlalu dekat, jarak yang begitu intens namun tak di sadari oleh Sera sama sekali, dan Graven terdiam, menatapnya langsung ke arah mata yang begjtu_
"Kamu ingin aku mencium mu?"
"A APA?"
"Ck, bibir mu terlalu dekat"
Sera langsung melepaskan Grevan dan mundur dengan cepat, kesal bercampur malu rasanya, campur aduk membuat Sera bingung harus melakukan apalagi untuk menghadapi mahluk gila di hadapannya.
Klik
Tombol diaktifkan dan mulai proses, mata Sera membulat saking terkejutnya.
"Graven, aku masih memakai baju tidurku"
Hanya menghela nafasnya, lalu Graven melihat kembali, dari ujung rambut sampai ujung kaki, mengamati dengan sedikit menyipitkan mata.
"Kamu lumayan _ LUCU"
"Graven jangan bercanda"
"Aku lebih serius sekarang ini, 2 menit lagi" Graven menatap Sera sejenak, lalu menariknya untuk sedikit lebih dekat dan Graven mempersiapkan diri dengan merapikan jas yang di pakainya.
"Aku tidak suka dengan kata terlambat, apalagi ini sangat penting untuk proyek yang kita jalankan, lakukan meeting ini dengan benar sampai satu jam ke depan, setelah itu kamu_ bebas"
Sera tak menjawab, hanya diam dan perlahan merapikan rambutnya, duduk tegak di sebelah Graven dan menerima berkas yang di berikan untuk di baca selagi ada sedikit waktu.
Kalau Grevan terlihat tenang, tidak demikian kenyataannya, karena di akui atau tidak, wanita yang bisa di bilang berantakan yang ada di sebelahnya, justru semakin mempesona.
Menghela nafasnya, Graven mencoba mengendalikan debaran jantungnya, dan SIAL!
"Kenapa dia semakin membuatku gila dengan keadaan yang berantakan" batin Graven, lalu sedikit bergerak untuk melonggarkan dasinya.
"Okey, aku siap, tapi tolong jangan mengarahkan kamera padaku" Sera memberi peringatan.
"Kamu okey?" tanya Graven memastikan.
"Aku berantakan Graven" bisiknya lirih takut jika suaranya akan terhubung.
"Tenang, tidak akan kelihatan"
"Graven, Jangan konyol!" sahut Sera nampak begitu khawatir sekarang.
Ada senyuman yang tertahan, dan Graven mulai menatap monitor, hingga detik berikutnya semua orang yang ikut meeting bergabung dengannya.
"Selamat pagi, terimakasih saya ucapkan karena semua hadir tepat waktu sekarang, seperti agenda yang kita sepakati bersama, Ibu Sera juga telah hadir bersama kita, jadi mari kita mulai meeting nya, ibu Sera bisa mulai?
Brug
Sera hampir tergelincir saking terkejutnya.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!" bisiknya pelan tepat di telinganya Graven sebelum akhirnya mengeluarkan suaranya untuk memulai.
Duo kocak ini bisa akur nggak ya?, yuk mari jawab di komentar.
Bersambung di jam 12 Siang.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭