NovelToon NovelToon
Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Delapan Pusaka : Amarah Harimau

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:768.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ersa Kurnia

Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.

Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?


Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇‍♂️🙇‍♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Senjata Misterius

Baruna mengerutkan dahinya selama beberapa lama, lalu menceritakan salah satu pengalamannya yang menakutkan.“Kejadiannya kira-kira enam bulan yang lalu, seminggu setelah Kerajaan mengeluarkan pengumuman mengenai nilai buronanku dari delapan puluh keping emas menjadi seratus keping emas. Waktunya pada malam

bulan baru di sebuah jalanan yang sepi serta banyak pepohonan, suasana waktu itu begitu gelap. Kira-kira tujuh hingga sembilan pemburu buronan  menyerang diriku, sebagian besar  menggunakan panah dan berbagai senjata jarak jauh. Dengan mudah, aku berhasil mengalahkan mereka semua. Empat orang berhasil kubuat pingsan, sedangkan sisanya melarikan diri. Saat kugeledah mereka, kutemukan berbagai senjata berbahayanya, salah satunya sebuah busur yang bersenjatakan anak panah beracun yang dibubuhi dengan mantra kuno yang amat

jahat. ”

“Mantra seperti apa yang melapisi anak panah itu?” Cakiya terlihat begitu penasaran.

“Entahlah, tapi dari anak panah itu terlihat sebuah rajah dari huruf kuno yang ditulis menggunakan darah berwarna kehitaman. Saat kugoreskan anak panah itu pada sebuah kayu, kayu itu segera meleleh seperti lilin yang terkena bara api, lalu ketika kuadu anak panah itu dengan batu, batu itu tergores cukup dalam sambil meninggalkan jejak berupa lelehan mengkilap pada permukaan batu tersebut. Saat mengetahui jika dampak dari mantra yang melapisi anak panah itu pada benda mati cukup mengerikan bagiku, rasa takut menjalar di dalam pikiranku begitu membayangkan bagaimana jika anak panah ini mengenai tubuhku. Bahkan jika senjata itu menggores lenganku satu senti meter saja, kemungkinan besar lenganku bisa meleleh atau aku mungkin kehilangan lengan.

Cakiya tertegun mendengar uraian dari Baruna mengenai senjata yang dilapisi racun serta mantra sihir jahat tersebut. Bagi Cakiya, meski tidak melibatkan roh maupun makhluk-makhluk misterius penghuni tempat angker, cerita mengenai senjata yang digunakan para pemburu buronan itu cukup menakutkan. Baru pertama kali Cakiya mendengar ada sebuah mantra yang digunakan pada sebuah anak panah dapat memberikan efek yang mampu melelehkan apa pun yang mampu disentuhnya. Cakiya sendiri juga tidak mampu membayangkan bagaimana dampaknya jika anak panah itu, dapat diperbanyak dengan jumlah tidak terbatas seperti senjata anak panah yang umum digunakan oleh para prajurit kerajaan maupun para pemburu. .

“Kau tidak menanyakan kepada para pemilik anak panah itu, dari manakah  mereka memperolehnya?” Tanya Cakiya dengan memicingkan mata serta ekspresi ngeri di wajahnya.

“Ketika aku berniat menanyai mereka saat mereka sudah sadarkan diri, keempat orang itu berperilaku aneh. Begitu kusinggung mengenai anak panah itu, ekspresi mereka berubah menakutkan menurutku. Mata keempat orang itu terbelalak, namun tatapan mata mereka kosong dan ekspresi wajah mereka dingin bagaikan patung.  Belum selesai aku terkejut melihat mereka berempat, mereka segera mematahkan leher dengan kedua tangan mereka sendiri seolah-olah tubuh mereka dikendalikan oleh sesuatu atau seseorang. Sepertinya yang membuat senjata beracun yang dilapisi mantra itu sudah menyiapkan sesuatu, jika orang-orang yang membawa senjata itu gagal atau tertangkap. Pembuat senjata itu kupikir sudah  memantrai orang-orang itu dengan sihir khusus yang membuat mereka semua bunuh diri, jika ada pihak yang berusaha mengorek informasi mengenai anak panah itu. ”

Kengerian menyapu benak Cakiya saat mendengar cerita dari Baruna. Rasa takut yang menyerang Cakiya tidak hanya melalui cerita orang-orang yang dikendalikan sihir dengan mudah hingga mereka sanggup membunuh dirinya sendiri. Ketakutan dalam benak Cakiya juga tentang orang-orang biasa yang bisa memiliki senjata dengan daya

rusak mengerikan yang mampu membuat cacat seseorang atau bahkan mungkin dapat membunuh lawan dalam waktu singkat. Hal tersebut benar-benar sebuah mimpi buruk bagi pendekar seperti Cakiya dan juga Baruna. Pengetahuan mengenai senjata dan racun memang menakutkan bagi para pendekar, dan di dalam benak Cakiya, terbesit sebuah pemikiran bahwa di masa yang akan datang nanti bisa jadi ada kemungkinan bahwa pengetahuan mengenai senjata, sihir dan racun akan dapat mengalahkan orang-orang yang memiliki keahlian dalam hal bela diri. Meski demikian, Cakiya meyakinkan dirinya bahwa masa itu akan datang jauh-jauh hari setelah Cakiya

tidak berada lagi di dunia ini, dalam artian masa tersebut akan sangat lama terjadi.

“Ceritamu cukup mengerikan untuk orang-orang yang belajar seni bela diri seperti kita kawan.” Komentar Cakiya dengan wajah sedikit ketakutan.

“Memang, aku sendiri ngeri membayangkan bagaimana jika senjata seperti itu dimiliki oleh semua orang. Mereka akan lebih suka membeli senjata itu dari pada belajar seni bela diri. Lalu, keahlian bela diri menjadi tidak lagi diminati olehorang-orang, dan kemudian perlahan-lahan menghilang serta hanya menjadi legenda.“ Komentar Baruna

“Beruntung kita bertemu dengan pengguna senjata seperti itu kali ini. Semoga saja, rahasia mengenai senjata mengerikan itu terkubur rapat-rapat bersama dengan kematian orang-orang itu.” Harap Cakiya.

“Aku harap demikian.” Balas Baruna.

“Hm…jika seandainya kita tidak berhasil menemukan tiga perempuan itu, atau mereka sudah berada di tempat tujuan, lantas apa yang kaulakukan setelah ini?” Cakiya mengganti arah pembicaraan. “Kau akan pergi ke mana setelah urusan mengenai tiga orang perempuan yang membuat dirimu begitu penasaran itu?”

Baruna menggeleng lemah dan menjawab. “Entahlah soal itu akan kupikirkan nanti. Kalau

dirimu, apa yang kaulakukan setelah ini?”

“Mungkin kembali ke Pancadaha, aku akan bekerja pada seorang pedagang atau pesuruh pandai besi di sana. Kebetulan aku memiliki cukup banyak kenalan di Pancadaha.” Ujar Cakiya bangga.

“Kembali ke Pancadaha…” Gumam Baruna sambil menatap api unggun.

Ada perasaan iri Baruna kepada Cakiya, bahwa Cakiya memiliki tempat untuk pulang. Sebuah kemewahan bagi seorang pelarian seperti Baruna. Kesunyian menemani Baruna dan Cakiya untuk sesaat, hingga muncul sebuah pertanyaan dari dalam benak Cakiya.

“Kenapa tidak pergi saja ke Pancadaha?” Usul Cakiya. “Tempat itu cukup terpencil hingga pengaruh Kerajaan sangat kecil untuk mencapai tempat itu. Meski demikian, kita harus melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mencapai Pancadaha.”

“Ide yang bagus. Tetapi jika bersamaku nyawamu akan selalu dalam bahaya karena para pemburu hadiah itu selalu mengincarku, belum lagi dengan saudara-saudara seperguruanku yang juga mencari-cariku. Apakah itu tidak masalah untukmu Cakiya?” Baruna mengerutkan alis. “Selain itu, apakah dirimu tidak keberatan bila terus selalu

bersama buronan seperti diriku hingga kita mencapai Pancadaha?”

“Tidak masalah untukku. Kau lihat sendiri bukan, aku juga diincar oleh orang-orang Perguruan Harimau Matahari. Sebentar lagi mungkin aku juga bernasib sama seperti dirimu, menjadi buronan kerajaan karena dituduh sebagai pencuri salah satu dari Delapan Senjata Pusaka Suci. Selain itu, aku tidak masalah jika melakukan perjalanan

bersamamu menuju Pancadaha. Lagi pula dirimu sendiri tidak terlihat seperti orang yang jahat.”

Mendengar demikian Baruna justru tertawa getir lalu berkata. “Orang-orang menuduhku sebagai pencuri pusaka keris Rudra Arutala dan murid durhaka pembantai Guru sendiri, kau tidak keberatan melakukan perjalanan bersama-sama dengan orang seperti diriku?” Tanya Baruna mengerutkan dahi.

Kebisuan menyelimuti tempat itu, Baruna dan Cakiya membisu tanpa suara.  Di dalam pikirannya Baruna segera bersiap untuk kejadiian tidak terduga jika Cakiya menyerang dirinya dengan kata-kata yang menyakitkan bagi Baruna. Akan tetapi, jawaban yang dikatakan oleh Cakiya mengenai statusnya sebagai seorang buronan yang dicari-cari di luar dugaan Baruna.

“Aku sendiri tidak masalah dengan statusmu sebagai buronan yang dicari pihak-pihak Kerajaan maupun para pendekar dan pemburu hadiah. Dirimu pada dasarnya adalah orang baik.” Cakiya berkata demikian sambil tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Sebelum aku berduel melawan dirimu di rumah makan itu, aku sempat mengamati pertarunganmu melawan soerang ksatria dan dua orang jawara pengawalnya. Aku melihatmu sangat berhati-hati memilih jurus. Selain itu , puluhan jawara yang tidak sadarkan diri saat melawan dirimu sebelum melawan ksatria serta dua orang jawara itu pun semuanya hanya menderita luka yang tidak terlalu fatal. Jujur, jauh lebih mudah bagimu untuk melenyapkan nyawa mereka dalam sekejab, namun entah kenapa dirimu mengurungkan niat tersebut. Kau bukanlah orang yang sembarangan melenyapkan nyawa orang dengan mudah. Bahkan ketika dikepung oleh puluhan pendekar tangguh yang mengincar nyawamu, dirimu masih sibuk memikirkan cara untuk mengalahkan mereka tanpa melenyapkan nyawa atau membuat mereka semua cacat. Tidak semua pendekar memiliki sifat yang demikian welas asih seperti itu saat berduel melawan musuh. Tetap memenangkan pertarungan, akan tetapi juga menyelamatkan nyawa mereka. Bagiku apa yang kau lakukan pada hari itu merupakan sebuah sifat luhur pendekar sejati.” Cakiya tertawa terkekeh-kekeh mengatakan hal tersebut.

Baruna duduk terdiam, kebisuan merayap kembali di antara dua pendekar itu. Dirinya tidak menyangka bahwa seorang anak berusia belasan tahun sanggup memahami sifat dirinya begitu dalam. Tangis haru pecah di dalam hati Baruna, begitu mengetahui ada seseorang yang cukup memahami mengenai dirinya. Selama tiga tahun terakhir, Baruna selalu hidup sebagai seorang pelarian, hanya segelintir orang yang mau untuk berinteraksi dengan dirinya. Namun, baru kali ini ada yang dapat mengerti mengenai Baruna sebagai seorang pendekar dengan hidup yang demikian. Jalan hidup yang tidak sembarangan melenyapkan nyawa seseorang dengan mudah sekali pun sedang berada dalam titik terendah di dalam hidup.

“Apakah kau percaya bahwa aku bukan pembunuh?”Tanya Baruna. “ Orang-orang menuduhku sebagai seorang murid durhaka yang tega membunuh Guruku sendiri, sebuah kejahatan yang cukup menjadi alasan bagi setiap pendekar aliran putih yang merasa berkewajiban menegakkan kebenaran untuk membasmi diriku.”

“Entahlah.” Jawab Cakiya dengan enteng.”Jika dirimu membunuh gurumu sendiri dengan tanganmu atau memiliki rencana untuk membunuhnya. Ada dua kemungkinan yang kau lakukan setelah kematian Gurumu. Kemungkinan pertama, kau menyangkalnya dengan beribu macam alasan. Sedangkan yang kedua, dirimu justru membanggakannya bahwa kau adalah orang yang lebih hebat dari Gurumu atau lebih layak menguasai Perguruan Harimau Bulan. Akan tetapi, Kau mengatakannya seolah-olah membunuh gurumu bukan sesuatu yang patut dibanggakan, ditambah lagi dirimu tidak menyangkal tuduhan tersebut. Kupikir, kau membunuhnya karena terpaksa atau gurumu sendiri melakukan hal yang sangat buruk padamu hingga tanpa sengaja kau membunuh  gurumu.”

Tubuh Baruna mengejang, mengetahui apa yang dikatakan Cakiya benar-benar tepat sesuai fakta yang dialami Baruna. Sedangkan Cakiya hanya tertawa geli melihat reaksi wajah Baruna yang seolah-olah mengatakan darimana Cakiya mengetahui hal tersebut. Akan tetapi, Baruna kemudian menyadari meski pun Cakiya dan segelintir orang yang mengetahui kejadian sebenarnya tentang kematian Guru dan juga keberadaan keris Rudra Arutala di tangannya, tidak mampu merubah kenyataan bahwa Baruna adalah seorang buronan Kerajaan. Buronan yang dituduh membunuh sang Guru pemilik Perguruan Harimau Bulan serta mencuri salah satu dari Delapan Senjata Pusaka Suci, keris Rudra Arutala. Rasa putus asa kemudian menggelayut di hatinya, di dalam benaknya, Baruna bertanya, apakah namanya dapat dipulihkan seperti sebelumnya, ataukah akan selamanya hidup sebagai pelarian?

Baruna kemudian menghela nafas panjang sambil terus menatap api unggun yang nyalanya mulai mengecil. Meski terlihat muram, Baruna diliputi sedikit kelegaan bahwa Cakiya tidak menganggapnya sebagai orang jahat yang telah tega membunuh guru yang telah susah payah mengasuh serta mengajarinya banyak hal. Dirinya bersyukur akhirnya dapat bertemu dengan orang yang tulus seperti Cakiya, meski Ia memiliki keceriaan yang tidak wajar, bahkan cenderung janggal, namun tidak pernah sekali pun Cakiya memiliki niat buruk untuk mencelakai Baruna. Bila Cakiya berniat buruk pada Baruna, tentu Cakiya akan melakukan hal-hal tersebut pada saat awal pertemuan mereka di rumah makan itu.

“Aaa..waktunya tidur.” Kata Cakiya sambil merebahkan diri di depan api unggun tanpa berselimut apa pun.

Dalam waktu singkat, Cakiya terlelap serta mendekur cukup keras, ikat kepala yang melindungi kepalanya bahkan tidak dilepaskan oleh Cakiya. Baruna melihat pemandangan Cakiya yang langsung tidur nyenyak dalam waktu singkat itu hanya tersenyum lemah sambil menatap punggung Cakiya.

“Kalau tidur, sebaiknya ikat kepalamu itu kau lepas dulu...” Komentar Baruna sambil menggelengkan kepala. Malam itu beban di dalam hati Baruna jauh lebih ringan dari pada hari-hari sebelumnya. Ia pun tidur cukup nyenyak pada malam itu.

1
anggita
tetep top👍
Feri Ferdiansyah
cerita yang sangat menarik.. kata katanya sangat detail sekali.. perumpamaan yg halus, logis dan diluar nalar.. harusnya cerita nusantara seperti ini yg dibutuhkan bagi penikmat cerita seni beladiri..
Nedi Junaidi
Luar biasa
asta guna
tak simak e sek
asta guna
tak kiro wes end....
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
Ardi Yansyah
gak disangka ada notip update ceritanya
Eclairs5888: Maaf Yaa...dari Agustus-Desember 2023 Saya ada Diklat Latsar & Aktualisasi. Januari-26 Februari, Saya urus administrasi dll sampai pengambilan sumpah hhu.
total 1 replies
asta guna
bangke, gue kira tambah lagi yg tumbang ternyata 2 paragraf cuma untuk menjelaskan yg sudah tumbang. keterlaluan lu. gue di novel2 lain yg bergenre pendekar biasanya sangat royal. sebut saja sang musafir, 13 pembunuh. tp maaf gak di novelmu. merinci hal2 yg gak penting itu MENYEBALKAN
asta guna: anda hebat JD bagian dari pejuang kemanusiaan. sedikit masukan yg agak frontal semoga gak mengendorkan semangatmu thor
total 2 replies
asta guna
bertele2... 3 chapter perterungan seimbang.. kelihatan banget author ngulur2 cerita dan narasi
asta guna
hal2 receh kek gini gak perlu di deskripsikan dengan detail. gak menarik tau
asta guna
novel ini keren. sayangnya kau telat bacanya.
asta guna
namanya keren
asta guna
mantab
Priskila Prima Hevina
coyoteeeee
Priskila Prima Hevina
woww plot twist Recamadya Anala
Ardi Yansyah
tetap akan di update ceritanya oleh author tapi para pembaca setia harus extra sabar dan slow
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya
Eclairs5888: Mohon maaf updatenya lama, Saya masih latsar utk PNS ini, sampai tanggal 11 November 2023.
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kek nggak percaya lihat notif novel ini up 😅😅😅
Priskila Prima Hevina
Baruna dan Recamadya Anala
Priskila Prima Hevina
Busur Cincin Ungu
Kang_Wah_Yoe
,siiip thor
anggita
top✊☝👏👌👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!