Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Ujung pahat baja itu terasa dingin saat Arlo menempelkannya pada garis arang yang baru saja ia pertebal. Tangannya tidak lagi gemetar seperti hari pertama, namun jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena ingatan tentang kapal berbendera Vandellia di dermaga utama tadi pagi. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma kayu jati yang tajam memenuhi paru-parunya, lalu memberikan ketukan palu kayu yang presisi. Tak. Satu serpihan kayu kecil terlempar, mendarat tepat di atas tumpukan serbuk gergaji yang sudah setinggi mata kakinya.
Arlo mengusap peluh di keningnya dengan punggung tangan yang kusam. Ia sedang mengerjakan sisik naga ke empat ratus lima puluh tujuh. Master Bram bilang, setiap sisik adalah doa bagi keselamatan kapal, dan jika pikirannya bercabang, doa itu akan patah di tengah jalan. Arlo mencoba fokus, namun setiap kali suara derap kaki kuda terdengar dari luar galangan, ia secara refleks menundukkan kepalanya lebih dalam, membiarkan tudung apron kulitnya menutupi sebagian wajahnya.
"Kau terlalu banyak menekan bagian pangkalnya, Arlo. Kayu ini bukan musuhmu," suara Master Bram terdengar rendah di samping telinganya.
Arlo tersentak, hampir saja pahatnya meleset. Ia meletakkan alatnya dan menatap Master Bram yang sedang berdiri memegang kikir besi. Pria tua itu tidak menatap ukiran Arlo, melainkan menatap ke arah pintu masuk galangan yang terbuka lebar. Di sana, di kejauhan jalanan dermaga, beberapa pengawal berseragam ungu tua tampak sedang menanyai seorang pedagang tali tambang.
"Mereka mencari seseorang yang tidak seharusnya ada di sini," gumam Bram tanpa menoleh ke arah Arlo. "Dan kau terlihat seperti orang yang sedang berusaha menghilang ke dalam serat kayu jati ini."
Arlo menelan ludah, tenggorokannya terasa kering karena debu kayu. "Saya hanya ingin menyelesaikan tugas saya, Master."
"Tugasmu hari ini bukan hanya memahat, tapi juga belajar cara menjadi bayangan," Bram mengambil pahat dari tangan Arlo, lalu memberikan satu contoh guratan yang sangat halus. "Jika kau terus bersikap gelisah seperti itu, bahkan kuli panggul yang buta pun akan tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu. Kembalilah bekerja. Bersikaplah seolah kau lahir di atas tumpukan kayu ini."
Arlo mengangguk patuh. Ia mengambil kembali pahatnya, mencoba mengatur ritme ketukannya agar menyatu dengan bisingnya galangan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suara gesekan zirah besi terdengar semakin dekat. Dua pengawal Vandellia masuk ke Galangan D, langkah kaki mereka berat dan penuh otoritas yang sangat kontras dengan langkah kaki para pekerja yang biasanya terseret.
"Pemeriksaan rutin!" teriak salah satu pengawal yang memiliki bekas luka sayatan di dagunya. "Kami mencari buronan kerajaan Aethelgard yang diduga menyelinap ke kapal dagang Solandis tiga hari lalu. Semua pekerja, angkat wajah kalian!"
Seketika, suasana di Galangan D menjadi sunyi. Suara gergaji berhenti. Suara palu menghilang. Arlo merasakan darahnya berdesir hebat. Ia tetap membungkuk di depan mejanya, berpura-pura sedang membersihkan serpihan kayu di celah ukiran. Jari-jarinya mencengkeram gagang pahat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kau! Yang di meja 84! Angkat wajahmu!" bentak pengawal itu sambil melangkah menuju arah Arlo.
Arlo memejamkan mata sejenak. Ia teringat koin perunggu di sakunya dan wajah Kalea yang menunggunya di penginapan. Ia tidak bisa tertangkap di sini. Tidak sekarang. Tepat saat pengawal itu tinggal berjarak tiga langkah, Jono tiba-tiba muncul dari balik tumpukan balok kayu besar sambil membawa ember berisi minyak pelapis yang baunya sangat menyengat.
"Aduh, maaf Tuan! Lantainya licin sekali!" teriak Jono sengaja.
Praaakk!
Ember itu jatuh tepat di depan kaki pengawal Vandellia, menyiramkan cairan hitam pekat ke sepatu bot zirah mereka yang mengkilap. Cairan itu sangat lengket dan mengeluarkan uap tajam yang membuat mata perih.
"Sialan! Kau tidak punya mata, tua bangka?!" pengawal itu berteriak murka, sibuk mengelap sepatunya yang kini hancur terkena minyak.
"Maaf, Tuan! Ampun! Saya sudah tua, penglihatan saya kabur karena debu jati ini!" Jono meratap dengan akting yang sangat meyakinkan, ia terus membungkuk-bungkuk sambil sengaja menghalangi pandangan pengawal itu ke arah meja Arlo.
Master Bram segera melangkah maju dengan wajah dingin. "Galangan ini adalah wilayah Dewan Solandis, Tuan-tuan. Jika kalian ingin menginterupsi pekerjaan kami, pastikan kalian membawa surat izin resmi dari gubernur pelabuhan. Jika tidak, silakan pergi sebelum saya melaporkan gangguan ini sebagai sabotase ekonomi."
Pengawal itu menggeram, menatap sepatunya yang kotor dengan penuh kebencian. Mereka tahu Master Bram bukan orang sembarangan. Di Solandis, seorang pemahat kepala memiliki pengaruh yang lebih besar daripada perwira menengah. Dengan umpatan kasar, kedua pengawal itu akhirnya berbalik dan keluar dari galangan, meninggalkan bau minyak yang menyengat di udara.
Arlo mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di tenggorokannya. Ia menatap Jono yang sekarang sedang mengedipkan sebelah matanya ke arahnya sambil menyeringai tipis.
"Bersihkan kekacauan ini, Jono. Dan kau, Arlo, pergi ke gudang bawah. Ambil beberapa kaleng pernis baru. Jangan keluar sampai aku memanggilmu," perintah Master Bram tegas.
Arlo segera bangkit dan setengah berlari menuju pintu gudang bawah tanah. Di dalam kegelapan yang berbau kayu lembap, ia duduk di atas peti kayu tua. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya yang penuh noda hitam dan kapalan. Ternyata, melepaskan mahkota tidak secara otomatis melepaskan rasa takut. Ia menyadari bahwa Helena tidak akan berhenti sampai ia menemukan apa yang ia anggap miliknya.
Setelah satu jam yang terasa seperti selamanya, Jono mengetuk pintu gudang. "Sudah aman, Nak. Mereka sudah pergi ke dermaga timur. Tapi kau sebaiknya pulang lewat jalur tikus hari ini."
Arlo keluar dari galangan dengan perasaan waspada yang berlipat ganda. Ia tidak melewati jalan utama. Ia memanjat pagar belakang galangan, melewati jemuran ikan nelayan, dan menyelip di antara gang-gang sempit yang lebarnya bahkan tidak sampai sejangkauan tangan. Ia harus memastikan tidak ada bayangan ungu yang membuntutinya.
Sesampainya di penginapan, Arlo menaiki tangga dengan sangat hati-hati, berusaha agar kayu tidak berderit. Ia membuka pintu kamar dan langsung disambut oleh Kalea yang berdiri di depan pintu dengan pisau pahat di tangan.
"Arlo!" Kalea segera menurunkan pisaunya saat melihat wajah Arlo yang dipenuhi debu dan kecemasan. Ia menarik Arlo masuk dan mengunci pintu dengan dua palang kayu. "Aku melihat mereka di pasar bawah tadi. Aku hampir saja menarik Ayah ke bawah dipan."
Arlo menjatuhkan tubuhnya di kursi kayu, napasnya masih memburu. "Mereka masuk ke galangan, Kalea. Jono dan Master Bram membantuku bersembunyi. Mereka benar-benar serius mencariku."
Kalea meletakkan pisaunya di meja, lalu ia mengambil handuk basah dan mulai menyeka wajah Arlo dengan gerakan yang sedikit gemetar. "Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama, Arlo. Penginapan ini terlalu terbuka. Pemiliknya baik, tapi dia bisa saja bicara jika ditekan oleh pengawal kerajaan."
"Aku tahu," Arlo meraih tangan Kalea, menghentikan gerakannya. Ia menatap mata cokelat gadis itu dengan serius. "Tapi kita juga tidak bisa lari sekarang. Ayahmu masih butuh istirahat satu atau dua hari lagi. Dan jika kita tiba-tiba menghilang, itu justru akan menguatkan kecurigaan mereka."
Pak Elara yang sedang duduk di tempat tidur terbatuk kecil. "Dengarkan aku, anak muda. Di Solandis, ada sebuah tempat yang disebut 'Distrik Merah'. Bukan tempat maksiat, tapi tempat para pelaut buangan dan tukang cat ilegal tinggal. Di sana tidak ada pengawal yang berani masuk tanpa pasukan lengkap. Aku punya kenalan lama di sana, seorang tukang kayu tua bernama Silas."
"Distrik Merah?" Kalea mengernyit. "Bukankah itu tempat yang sangat kumuh, Ayah?"
"Kumuh tapi aman bagi orang-orang seperti kita," jawab Pak Elara tegas. "Arlo, kau harus terus bekerja di galangan besok. Jangan tunjukkan kalau kau takut. Sementara itu, Kalea, kau cari Silas di pasar bawah. Katakan padanya 'kayu jati tidak pernah busuk di air'. Dia akan mengerti."
Malam itu, suasana di kamar penginapan terasa sangat mencekam. Arlo tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi jendela yang tertutup rapat, mendengarkan setiap suara langkah kaki di lorong. Ia meraba tali rambut biru yang masih terikat di pergelangan tangan Kalea yang sedang tidur pulas. Hatinya terasa sesak. Ia merasa bersalah karena telah membawa Kalea dan ayahnya ke dalam situasi berbahaya ini.
Ia keluar dari kamar, berjalan menuju teras kecil di belakang lantai dua yang menghadap ke arah pelabuhan. Di bawah cahaya bulan yang pucat, ia melihat siluet kapal Vandellia yang megah. Kapal itu tampak seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.
"Kau sedang memikirkan cara untuk menyerahkan diri agar kami selamat, kan?"
Suara Kalea terdengar dari belakang. Arlo menoleh dan melihat gadis itu berdiri dengan jaket tipis menutupi kemeja tidurnya.
"Itu pilihan yang paling logis, Kalea," jawab Arlo jujur. "Jika aku kembali pada Helena, dia akan melepaskan Aethelgard dan Solandis. Kalian bisa hidup tenang di sini."
Kalea melangkah maju, berdiri tepat di depan Arlo. Ia menampar pipi Arlo dengan cukup keras, membuat Arlo tersentak kaget.
"Jangan berani-berani bicara seperti itu lagi, Arlo Valerius!" bisik Kalea dengan nada penuh amarah yang tertahan. "Kau pikir aku membantumu melarikan diri hanya untuk melihatmu menyerah saat keadaan menjadi sulit? Kau pikir nyawaku dan nyawa Ayah lebih berharga daripada harga dirimu?"
Arlo menyentuh pipinya yang terasa panas. "Aku hanya tidak ingin melihatmu terluka karena aku."
"Aku sudah terluka sejak hari pertama aku mengenalmu!" Kalea mencengkeram kerah kemeja Arlo, menariknya hingga wajah mereka sejajar. "Tapi luka ini adalah luka yang nyata, Arlo. Bukan luka palsu karena pura-pura bahagia di istana. Kita adalah satu sambungan kayu sekarang, ingat? Jika kau patah, aku juga patah. Jadi jangan pernah berpikir untuk menyerah."
Arlo menatap mata Kalea yang berkilat di bawah cahaya bulan. Ia melihat kekuatan yang luar biasa di sana, sebuah kekuatan yang tidak pernah ia temukan di balik tembok istana mana pun. Ia perlahan merengkuh tubuh Kalea, memeluknya dengan sangat erat seolah takut gadis itu akan menghilang.
"Maafkan aku, Kalea," bisik Arlo di rambut gadis itu.
"Jangan minta maaf. Cukup asah pahatmu lebih tajam lagi besok," jawab Kalea sambil membalas pelukan Arlo.
Mereka berdiri di sana cukup lama, dua jiwa yang sedang mencoba bertahan di tengah badai yang mulai mendekat. Di bawah sana, Solandis tetap berisik dengan nyanyian pelaut yang tidak tahu tentang drama di atas kepala mereka. Arlo menyadari satu hal; ia mungkin sudah kehilangan mahkotanya, tapi ia baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih kuat: sebuah alasan untuk terus berjuang.
Retakan itu kini tidak lagi terasa menyakitkan. Ia justru terasa seperti jalan keluar menuju cahaya yang lebih terang. Dan Arlo Valerius bersumpah, ia akan melindungi cahaya itu dengan seluruh sisa hidupnya, meskipun ia harus memahat takdirnya di tengah kegelapan Distrik Merah sekalipun.
Pagi harinya, Arlo berangkat ke galangan dengan mental yang berbeda. Ia tidak lagi membungkuk. Ia berjalan dengan kepala tegak, menatap setiap orang yang lewat dengan pandangan yang tenang. Ia sampai di mejanya, mengambil pahatnya, dan mulai mengerjakan sisik naga nomor empat ratus lima puluh delapan.
Tak. Tak. Tak.
Suara ketukannya terdengar mantap dan berani. Ia tidak lagi takut pada derap kaki kuda. Ia justru sedang menunggunya. Karena ia tahu, di balik setiap serpihan kayu yang ia buang, ada kebebasan yang sedang ia bangun, inci demi inci.
Master Bram lewat di belakangnya dan memberikan tepukan singkat di bahunya. "Sekarang kau sudah benar-benar berbicara dengan kayu itu, Arlo. Teruskan."
Di ujung jalan, bayangan ungu pengawal Vandellia kembali terlihat, namun Arlo tidak menoleh. Ia terus memahat, membiarkan debu jati menjadi zirah barunya. Hari ini, ia bukan lagi seorang pangeran yang melarikan diri. Ia adalah seorang pria yang sedang melindungi dunianya yang baru.