(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kekhawatiran Nyonya Shanum
Mobil terus melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang, cahaya lampu kota bergerak cepat di balik kaca, meninggalkan pantulan samar pada dashboard mobil. Di dalam kendaraan, suasana kembali dipenuhi keheningan yang aneh, tidak terlalu canggung, tetapi juga tidak benar-benar santai.
Selina tetap menggenggam kemudi sambil berusaha menjaga fokus pada jalan di depan, meskipun pikirannya sejak tadi terasa jauh lebih berisik daripada biasanya.
Sudah terlalu lama ia mengenal Raka, pria itu selalu terlihat sulit dijangkau, terlalu tenang, terlalu tertutup, seolah membangun jarak yang tidak terlihat dengan semua orang di sekitarnya. Bahkan ketika mereka masih lebih muda, Raka selalu menjadi sosok yang membuat orang segan mendekat, bukan karena sikapnya yang dingin, melainkan karena ekspresinya yang nyaris tidak pernah berubah.
Dan ketika Rasti hadir dalam hidup pria itu, entah sejak kapan Selina mulai merasa kesal setiap kali melihatnya.
Bukan karena membenci Rasti, ia hanya merasa aneh melihat seseorang yang selama ini tidak bisa disentuh siapa pun justru memilih memberikan seluruh perhatiannya pada satu orang.
Selina menggenggam setir sedikit lebih erat. Namun malam ini berbeda, untuk pertama kalinya, pria itu duduk di sampingnya setelah sesuatu yang nyaris merenggut nyawanya, lalu menjawab kekhawatirannya dengan nada yang tidak sedingin biasanya.
Hal kecil, tetapi cukup mengusik pikirannya.
“Kenapa kau melamun.”
Suara Raka membuat Selina refleks menoleh cepat sebelum kembali fokus ke jalan. “Aku tidak melamun,” bantahnya terlalu cepat.
Raka melirik sekilas. “Kau hampir melewatkan belokan.”
Selina langsung mengerutkan dahi kecil. “Itu karena aku sedang berpikir.”
“Berpikir untuk apa?”
Pertanyaan itu justru membuatnya sedikit tersedak kata-kata. “Tidak terlalu penting,” jawabnya buru-buru.
“Hm.”
Jawaban pendek itu malah membuat Selina semakin kesal sendiri.
“Kamu ini benar-benar menyebalkan,” gerutunya pelan. “Dan tidak berubah sama sekali dari dulu.”
Sudut bibir Raka bergerak samar. “Aku hanya memastikan pengemudiku tidak mengantuk.”
“Aku bukan sopirmu.”
“Namun malam ini kau sedang menyetir.”
Selina mendecak kecil, meskipun tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat tipis.
Beberapa menit berlalu sebelum mobil akhirnya memasuki kawasan mansion keluarga Pradipta, gerbang besar terbuka perlahan setelah sistem keamanan mengenali kendaraan, sementara lampu taman menerangi jalur masuk dengan cahaya hangat.
Begitu mobil berhenti di area depan mansion, seorang pelayan yang sejak tadi berjaga langsung bergerak mendekat.
“Nona Selina, Tuan muda,” sapanya sopan sambil sedikit membungkuk. “Nyonya Shanum masih menunggu di ruang keluarga.”
Selina langsung menoleh cepat ke arah Raka.
“Astaga,” gumamnya pelan. “Tante belum tidur?”
Raka membuka sabuk pengaman dengan tenang. “Sudah kuduga.”
Namun baru saja mereka turun dari mobil, pintu utama mansion terbuka lebih dulu, Nyonya Shanum berdiri di sana dengan wajah yang jelas menunjukkan campuran lega dan kesal.
“Kalian akhirnya pulang juga,” ucapnya cepat sebelum langkahnya berhenti saat melihat ekspresi Raka yang sedikit lebih serius dari biasanya.
Tatapannya bergerak cepat pada putranya.
“Ada apa?” tanyanya pelan, nada suaranya berubah hati-hati. “Kenapa wajah kalian seperti itu?”
Selina refleks menatap Raka sepersekian detik, jelas ragu harus menjawab apa, sementara Raka berdiri tenang di bawah cahaya lampu teras, tatapannya bertemu dengan mata ibunya sebelum akhirnya berkata singkat,
“Malam ini ada sedikit masalah, Ma.”
Alis Nyonya Shanum langsung berkerut halus, Insting seorang ibu membuat perubahan kecil pada ekspresi putranya terasa jauh lebih jelas dibanding biasanya.
“Masalah apa?” tanyanya cepat, langkahnya turun satu anak tangga mendekat. Tatapannya bergerak dari wajah Raka ke Selina yang tampak sedikit canggung.
Selina refleks mengatupkan bibir, jelas bimbang apakah harus ikut menjelaskan atau membiarkan Raka yang berbicara.
Raka tetap tenang. “Sebaiknya kita masuk dulu,” ujarnya singkat.
Nada suara datarnya justru membuat Nyonya Shanum semakin tidak tenang.
Tanpa banyak bertanya lagi, wanita itu langsung mempersilakan mereka masuk. Ruang keluarga mansion masih terang, secangkir teh di meja tampak sudah mulai dingin, jelas menandakan ia memang menunggu cukup lama.
Begitu Raka duduk di sofa utama, Nyonya Shanum langsung berdiri di depannya sambil melipat tangan.
“Sekarang coba jelaskan sama Mama,” katanya tegas. “Dan jangan menjawab pendek seperti biasa.”
Raka terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya berkata tenang, “Ada penyerangan di jalan.”
Kalimat itu membuat wajah Nyonya Shanum langsung berubah. “Apa?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Penyerangan?”
Selina refleks menunduk sedikit.
Nyonya Shanum menatap Raka dari atas ke bawah dengan cepat, seolah baru sadar sejak tadi ia belum benar-benar memastikan kondisi putranya.
“Kau terluka?” tanyanya lebih pelan, tetapi jauh lebih tegang.
“Tidak.”
“Jangan hanya menjawab tidak!” potongnya cepat. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Raka mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya menjelaskan secara singkat, tanpa dramatisasi, bagaimana kendaraan mereka dihadang di jalan dan seseorang mencoba menyerangnya.
Semakin lama mendengar penjelasan itu, ekspresi Nyonya Shanum semakin pucat, dan ketika mendengar teman Raka terkena luka tembak karena duduk di samping putranya, jemarinya perlahan mengepal kecil.
“Ya Tuhan...” gumamnya pelan.
Beberapa detik kemudian, Nyonya Shanum bergerak maju tanpa banyak bicara lalu memegang kedua sisi wajah Raka, memeriksanya sendiri seperti memastikan tidak ada luka tersembunyi.
“Kau benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya lagi, kali ini suaranya jauh lebih rendah.
Raka menatap ibunya sebentar sebelum mengangguk kecil. “Aku baik-baik saja, Ma.”
Wanita itu menghembuskan napas panjang, jelas berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Selina yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara pelan. “Tante... Raka benar-benar tidak terluka. Kami dari rumah sakit juga, temannya sudah ditangani oleh dokter.”
Nyonya Shanum mengangguk kecil, tetapi sorot matanya masih dipenuhi kekhawatiran.
“Lalu kemana Jack?” tanyanya tiba-tiba.
“Sedang mengurus mobil ku,” jawab Raka. “Ada peluru yang menembus di kaca depan, jadi kendaraan harus diperiksa.”
Nyonya Shanum langsung memejamkan mata sesaat. “Sudah cukup,” gumamnya pelan sebelum kembali membuka mata. “Mulai besok pengamanan diperketat.”
Raka tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi ibunya lebih dulu memotong. “Tidak ada perdebatan,” ucap Nyonya Shanum tegas. “Kali ini tidak usah membantah.”
Raka terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Melihat itu, Selina justru sedikit terkejut. Jarang sekali Raka memilih diam ketika seseorang mulai mengatur langkahnya.
Namun sebelum suasana berubah terlalu berat, Nyonya Shanum mendadak menoleh ke arah Selina.
“Kau sudah makan malam?”
Selina berkedip kecil, jelas tidak menyangka topik berubah begitu cepat. “Eh... belum, Tante.”
“Bagus,” jawab Nyonya Shanum cepat. “Kalian berdua ikut makan.”
Selina langsung menoleh refleks ke arah jam dinding. “Tante, ini sudah hampir tengah malam...”
“Itulah sebabnya kalian harus makan,” sahut Nyonya Shanum tanpa memberi ruang protes. “Dan kamu Raka, jangan berpikir bisa langsung naik ke kamar mu.”
Raka menghela napas pelan, Selina yang melihat itu tanpa sadar menahan senyum kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada seseorang yang berhasil membuat pria keras kepala itu tidak banyak membantah.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km