Arumi Kurnia Ningsih seorang gadis berusia dua puluh tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi desainer terkenal. Namun harapan itu pupus ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak juragan teh.
Bagaimanakah hari-hari yang dijalani Arumi setelah menikah, akankah bahagia atau menderita. Yuk segera baca🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon feby_mb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah kaca
Ibu Rani memeluk putrinya. Ia sudah mendengar kabar tentang Arumi. Ia paham bagaimana perasaan putrinya saat ini. Arumi adalah sahabat terbaik putrinya.
" Mereka tega sama Arumi, Buk"
" Iya sayang"
" Sekarang aku nggak tau Rumi ada dimana. Apa dia baik-baik aja di sana"
" Doakan saja, semoga Arumi baik-baik aja di sana"
" Rani bersyukur punya ibu kaya ibuk. Ibuk baik dan selalu ada untuk Rani"
" Tentu saja, kamu kan putri ibuk. Sekarang kamu harus semangat. Kalau Rumi melihat kamu seperti ini dia akan sedih"
" Iya Buk, mulai detik ini aku akan semangat lagi. Aku yang akan melanjutkan impian Arumi. Suatu saat Arumi balik, dia sudah punya butik sendiri"
Ibu Rani akan selalu mendukung putrinya. Selagi itu hal yang benar. Semoga putrinya bisa bangkit kembali.
" Berarti kamu nggak jualan lagi di lapangan "
" Jualan Buk. Walaupun Rumi nggak ada, aku tetap akan berjualan "
" Sekarang kamu makan "
" Nggak selera Buk"
" Coba dulu sedikit. Kalau kamu nggak makan nanti kamu sakit. Kalau sakit bagaimana bisa jualan. Makan ya, ibuk ambilkan "
Rani mengangguk. Ia harus tetap sehat supaya bisa bekerja dan ngumpulin uang yang banyak.
Ibu Rani mengambil nasi sedikit, karena kalau banyak nanti nggak habis sama Rani. Nasi yang sedikit ini aja bisa habis sudah bagus untuk Rani.
" Ibuk masak capcay sama goreng ikan nila"
Rani makan disuapin sama ibunya. Walaupun ia sudah bilang mau makan sendiri, tapi ibunya tetap mau menyuapinya.
" Enak nggak masakan ibuk"
" Enak seperti biasanya "
" Habiskan ya makannya"
" Iya diusahakan Buk"
Walaupun masih susah menelan makanan, tapi Rani tetap berusaha untuk menghabiskan nasinya. Ia tidak ingin membuat ibunya sedih karena ia tidak makan.
" Rani kenapa?, sakit" tanya bapak Rani yang baru pulang kerja.
" Nggak Pak "
" Tumben makannya disuapin"
" Biasanya Pak, manjanya datang" jawab ibu Rani.
" Oh iya, tadi pas mau pulang bapak nggak sengaja dengar obrolan ibuk-ibuk yang ada di warung depan sana ka..."
Ibu Rani tau suaminya pasti mau mengatakan soal berita Arumi. Ibu Rani segera memberi kode pada suaminya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Ia tidak ingin putrinya sedih lagi mendengar cerita orang-orang diluar sana.
Untung suaminya mengerti, jadi dia tidak melanjutkan ucapannya. Sang suami pun menukar topik pembicaraannya.
Wajar kalau masalah Arumi banyak dibicarakan sama warga. Karena Arumi dijual sama orang tuanya sendiri. Dan yang paling bodohnya lagi, orang tuanya tidak tau kemana anaknya dibawa sama orang itu.
" Oh iya, tempat jualan Rani di lapangan bola itu udah ada izinnya kan Buk"
" Sudah Pak, kenapa?"
" Rencananya bapak mau membuatkan spanduk"
" Bagus juga itu Pak. Bagaimana menurut kamu Ran?"
" Rani terserah bapak aja Buk"
" Kok terserah bapak. Kalau pake spanduk kan lebih jelas kamu jualan apa"
" Yang belinya cuma warga sini kok Buk, jadi menurut Rani nggak usah pake spanduk. Tapi nanti kalau sudah punya tempat yang bagus, nggak apa-apa dikasih spanduk"
" Iya juga sih. Cari tempat yang strategis dulu untuk tempat jualannya"
" Nah itu maksud Rani. Jadi yang beli bukan cuma warga sini"
" Nanti bapak coba lihat tempat yang bagus untuk tempat jualan kamu"
" Jangan cepat-cepat juga cari tempatnya Pak. Uang Rani belum cukup untuk menyewa ruko"
Uang Rani terkumpul baru sedikit. Kemarin tambahannya uang yang dikasih tuan Kusuma. Uang yang dikasih banyak satu juta. Tapi itu hanya cukup untuk menyewa ruko dua bulan.
Rani memang tidak tau biaya sewa ruko berapa. Kalau tempatnya strategis pasti biaya sewanya juga mahal. Jadi Rani harus mencari uang lebih banyak lagi.
" Untuk masa percobaan nggak perlu sewa lama-lama. Kalau hasil penjualannya bagus di sana, barulah nanti di perpanjang kontraknya"
" Iya Pak, nanti Rani pikirkan lagi"
" Emang uangnya sudah terkumpul berapa?"
" Belum sampe tiga juta Pak"
" Udah banyak itu "
" Emang cukup uang segitu, nanti modal jualannya gimana?. Setidaknya Rani harus pegang uang lima juta atau sepuluh juta mungkin"
" Bulan depan kan kamu gajian "
" Benar juga apa kata bapaknya, jadi uang gajinya pake aja untuk tambah sewa ruko"
" Liat nanti deh Pak. Kalau uangnya sudah ada nanti Rani kasih tau bapak"
" Baiklah"
Rani akan mengembangkan gorengannya. Ia harus banyak belajar lagi untuk membuat gorengan yang enak. Gorengannya juga harus banyak macemnya, jangan cuma tiga macam aja.
...***...
Arumi takjub melihat bunga-bunga yang ada di rumah kaca itu. Ya, mama Ranti menyebutnya rumah kaca. Karena dindingnya semua terbuat dari kaca.
" Mawarnya cantik-cantik ya Ma"
" Iya sayang, ini ada yang dari luar negeri juga"
" Jauh juga ya Ma"
Arumi tidak menyangka kalau ada beberapa jenis bunga dari luar negeri yang bisa di tanam di sini.
" Nah kalau anggrek-anggrek ini hadiah dari papa dan juga beberapa dari teman mama "
Banyak lagi macam bunga yang ada di dalam rumah kaca itu. Ranti menjelaskan satu persatu macam bunga itu pada Arumi. Dan bagaimana cara merawatnya.
" Berarti bunga-bunga disini memang harus diperlakukan khusus ya Ma"
" Iya sayang, makanya mama buatkan tempat khusus untuk bunga-bunga ini"
Sekarang Arumi banyak tau tentang macam bunga. Matanya sangat senang melihat bunga-bunga cantik itu.
Setelah puas berkeliling di rumah kaca. Ranti mengajak Arumi ke kebun buah yang ada dibelakang rumah kaca.
" Di rumah ini memang tidak banyak di tanam buah-buahan. Yang di tanam cuma buah kesukaan keluarga saja"
Di kebun buah cukup banyak juga jenis buah yang di tanam di sana. Ada pisang, alpukat, kelengkeng dan juga ada durian.
" Pohon alpukat-nya masih kecil ya Ma, tapi sudah berbuah "
" Iya sayang, rata-rata di kebun ini memang pohonnya kecil-kecil. Tapi mereka sudah berbuah. coba kamu lihat pohon jambu air dan jambu biji itu"
" Buahnya banyak banget Ma. Tapi buah jambunya beda dengan yang pernah Arumi lihat"
" Mungkin jenis jambunya beda sayang. Ini jambu citra"
" Jambu ada jenis dan namanya juga ya Ma"
" Iya sayang, kalau ini jambu kristal dan ini durian monthong. Daging buahnya sangat tebal. Arumi suka durian?"
" Nggak tau Ma, soalnya Rumi belum pernah makan durian"
" Nanti kita coba. Lihat Rum, strawberry mama ada yang sudah merah"
" Buahnya gede juga ya Ma"
" Iya, tapi ini belum yang gede banget. Kemarin ada yang lebih gede dari ini. Ayo coba "
Arumi mencoba strawberry yang diberikan mama Ranti. Rasa strawberry nya berbeda dengan yang pernah ia coba dengan Rani dulu. Rasa strawberry yang ini manis dan asemnya cuma sedikit.
" Gimana?, manis nggak?"
" Manis Ma, tapi ada sedikit asemnya "
" Iya, segar kan rasanya. Ayo kita cari lagi. Siapa tau masih ada yang merah "
Arumi manut saja apa kata mama Ranti. Tapi ia juga senang karena bisa merasakan memetik strawberry.
To be continued.
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian 💞 💞
Happy reading guys 🤗🤗
ibuk macam apa itu pilih kasih..
Arumi diruh itu ini diambik lagi gajinya..
Memeras aja kerjanya.. huh..