Mohon Dukungannya ya Para Reader🥰😉
.
Untuk like+Rate+Vote+Favo😉💖. (Dukungan kalian berharga banget buat author 🥰)
.
Go Follow Ig : @Regin.rosee
.
.
(Area 18+)
*******
.
Zanna Kirania Zein, seorang wanita cantik, berusia 24 tahun, yang baru saja di terima bekerja di perusahaan konstruksi yang terkenal di Negara X, Wijaya Kontruksi. Karena perusahaan tersebut sangat jauh dari kota asalnya, Zanna terpaksa harus tinggal di sebuah unit apartemen milik tantenya yang sudah tidak di tempati, karena sang Tante harus mengikuti suaminya tinggal di luar Negeri.
Nasib buruk terus menimpa Zanna, ketika dia tahu jika tetangga sebelah nya itu adalah Direktur Utama di tempat ia bekerja.
Bertetangga dengan boss, membuat Zanna merasa stres, apalagi bossnya itu terkenal kejam di tempat kerja.
Tapi siapa sangka.. di antara mereka mulai tumbuh benih-benih cinta.
bagaimana kisah selanjutnya?. yuk pantengin terus cerita Tetanggaku adalah Bossku 😊🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon regin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Cerita..
"Zanna, kok diem aja sih., ayo dong nana ku sayang.. bantuin lah sahabat mu ini. Meskipun, baru satu kali ketemu, aku itu udah jatuh cinta banget sama Sekertaris Ri, Jadi please bantu aku..." rayu Sheilla. Namun, Zanna mengabaikan nya dan malah asyik meminum segelas jus.
"Ya udah kalau kamu nggak mau, aku bakal bilang ya ke kak Daffin, soal apa yang kamu suka ceritain ke aku tentang dia, selama ini.." ancam Sheilla. Namun, Zanna mengabaikannya.
Tiba-tiba Zanna tersentak ketika melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Eh, udah jam 1.. ayo kita balik ke kantor.." ajak Zanna kepada Sheilla.
Sheilla mengerucutkan bibirnya ketika Zanna malah mengabaikan nya. "Ish, Zanna." gerutu Sheilla.
Zanna dan Sheilla pun segera kembali ke kantor. Setibanya di kantor, Zanna merasa ingin buang air kecil.
"Eh, Shei.. kamu duluan aja ya ke ruangan, aku ingin ke toilet dulu.. nggak kuat ingin pipis." ucap Zanna.
"Oke, aku duluan ya Zan.." balas Sheilla yang langsung berjalan menuju ruangan divisi keuangan.
Sedangkan Zanna, langsung berjalan menuju toilet. Saat akan masuk kedalam toilet, tiba-tiba Zanna bertubrukan dengan seseorang.
"Kak Bagas.." pekik Zanna.
Bagas menatap Zanna dengan tatapan yang sangat dingin. Sedangkan Zanna langsung membuang wajahnya kearah lain, dan ia pun segera berjalan masuk kedalam toilet. Namun hal itu di cegah oleh Bagas.
Bagas menarik lengan Zanna, kemudian ia berkata. "Zan.. bentar Kaka mau ngomong sama kamu."
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Hmm, iya mau ngomong apa, cepetan.. Zanna nggak kuat ingin buang air kecil.." balas Zanna dingin.
"Zan, kakak, pengen tau.. sebenernya kenapa sih kamu nyoretin mobil kakak, pake spidol permanen.." tanya Bagas sambil menatap Zanna dengan sinis.
"Bukannya masalah itu udah beres ya.. Zanna juga udah minta maaf kan sama kakak.. ngapain harus di ungkit lagi.." balas Zanna dengan nada yang sangat kesal.
"Iya, itu kan di depan pak Daffin, sekarang kakak ingin minta penjelasan dari kamu.." lanjut Bagas yang membuat Zanna semakin kesal.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Itu semua karena.. kakak udah nyipratin genangan air terus genangan air itu kena baju Zanna , dan udah bikin baju Zanna jadi basah seharian.." jelas Zanna dengan penuh penekanan.
Penjelasan Zanna itu membuat Bagas tertawa kecil. "Oh, jadi karena itu.. kamu nyoretin mobil kakak."
"Ya.." balas Zanna singkat.
"Ya, ampun Zan.. kamu itu kaya bocah banget ya.. masa cuman karena hal sepele.. kamu bisa se emosi itu dan malah ngerusakin mobil orang.."
"Denger ya Zan.. sikap kamu kaya gitu.. malah bikin cowok cowok jadi kabur dari kamu.. malah lebih parahnya lagi.. kamu bakal susah dapet jodoh." jelas Bagas yang membuat Zanna semakin kesal.
Zanna menghela nafasnya dengan kasar. "Sebelum nasehatin orang.. lebih baik kakak ngaca dulu deh di kaca yang besar.. biar bisa liat diri Kaka sendiri kaya gimana, busuknya kakak kaya gimana, bejatnya kakak kaya gimana.. dari pada sibuk ngurusin hidup orang.. hidup sendiri aja masih kaya gitu, pake sok sok an ceramahin orang." ucap Zanna yang membuat Bagas terdiam.
"Dan kakak liatin aja.. pasti suatu saat aku akan mendapatkan pasangan.. yang lebih baik dari kakak.." tegas Zanna sambil berjalan masuk ke dalam toilet.
Bagas memandang punggung Zanna yang masuk ke dalam toilet. Lalu menatap nya dengan tajam.
Setelah selesai, membuang air kecil. Zanna membasuh tangannya di wastafel.
Ketika sedang membasuh tangan nya di wastafel. Tiba-tiba ponsel nya bergetar. Zanna pun segera mengecek ponselnya.
Setelah mengambil ponsel nya di saku celananya, Zanna tersentak ketika melihat di layar ponsel. 'Panggilan video dari Sheilla.'
"Ah, Sheilla. Ngapain dia nge Video Call.. emangnya.. dia belum nyampe di ruangan apa.." gerutu Zanna dalam hati.
Dengan segera, Zanna mengangkat sambungan video call dari Sheilla.
"Hallo, Sheilla.. kamu ngapain pake nge video call segala.. emangnya kamu nggak takut di tegur apa, nge video call di jam kerja.." gerutu Zanna sambil menatap wajah Sheilla di layar ponselnya.
Zanna mengerutkan dahinya, ketika melihat posisi Sheilla seperti bukan berada di ruangan divisi keuangan.
"Eh, Sheilla.. kamu ada di mana itu.." tanya Zanna.
Sheilla hanya tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan dari sahabat nya itu.
"Kamu, mau tau.. aku dimana.." tanya Sheilla sembari cengengesan.
"Iya.. cepet dimana.."
Tak lama kemudian, Sheilla memfokuskan kameranya pada ruangan seseorang, dan seseorang tersebut tengah duduk di meja kerjanya. Sontak hal itu membuat Zanna tercengang.
"Hei, Sheilla kamu ngapain ada di ruangan Pak Daffin." pekik Zanna yang membuat telinga Sheilla yang tengah menggunakan headset menjadi berdenging.
"Ish, Zanna.. jangan teriak gitu dong." protes Sheilla sambil berbisik.
"Ya, terus kamu ngapain di sana.. cepetan ih kamu balik ke ruangan.." saran Zanna.
"Iya.. ini aku mau ke ruangan kok, tapi aku mau cerita dulu ke Kak Daffin, " balas Sheilla sembari cengengesan.
"Ya, udah cerita aja sanah.. soal aku sering ngata ngatain dia dibelakang, soal aku suka ngedumel setiap dia nyuruh aku. Ceritain aja semuanya, Shei.. aku nggak peduli dia mau marah juga.. aku udah kebal di marahin sama dia.." lanjut Zanna dengan penuh penekanan.
"Kamu yakin?" tanya Sheilla.
"Iya.. yakin.. lagian kamu nih ya.. suka sama sekertaris Ri, tapi libatin aku.. emang kamu nggak takut kejadian yang waktu jaman SMP ke ulang lagi.. waktu kamu nyuruh aku buat ngedeketin kamu sama si Once. Si Once bukannya suka sama kamu.. tapi malah suka nya sama aku.."
"Ah, aku yakin.. kali ini nggak akan terjadi lagi na..."
"Ah, terserah.. tapi tetep aku nggak bisa bantu kamu, untuk deket sama Sekertaris Ri."
"Oke, kalau gitu.. aku ceritain semuanya ya.. ke kak Daffin." balas Sheilla sambil berbisik.
"Iya, silahkan, Sheilla. Udah ya.. aku mau ke ruangan. Kerjaan aku masih numpuk." ucap Zanna sambil menutup sambungan video call dari Sheilla.
"Ish, Sheilla ini ya.. masih aja nggak berubah, dari dulu..." ucap Zanna dalam hati.
Zanna pun segera meninggalkan toilet, dan segera menuju ruangan divisi keuangan.
Setibanya Zanna, di dalam ruangan. Zanna melihat meja Sheilla masih kosong, tidak nampak Sheilla di sana.
"Ish, Sheilla... kayanya beneran, dia ceritain semuanya ke Pak Daffin.."
"Dia, itu ya.. bukannya kerja.. malah ngurusin hal yang nggak penting.." gerutu Zanna dalam hati, sambil duduk di meja kerja nya.
Tak berselang lama, Sheilla datang ke dalam ruangan divisi keuangan.
"Hei Zan.." sapa Sheilla sambil berbisik.
Zanna mengerutkan dahinya ketika melihat wajah Sheilla seperti bahagia. "Kamu seneng banget ya.. udah ceritain semua ke kakak sepupu kamu itu.. " ucap Zanna sambil berbisik.
"Iya dong.." balas Sheilla sambil tersenyum lebar.
"Terus gimana reaksi nya.. pasti dia marah kan?" tanya Zanna lagi.
Sheilla menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Enggak, tuh.. awalnya.. sih iya dia kaya yang kesel gitu. Tapi pas aku ceritain, cerita kamu yang beberapa hari lalu.. muka dia yang asalnya kesel.. berubah jadi bahagia loh.." lanjut Sheilla.
Zanna mengerutkan dahinya ketika mendengar perkataan dari Sheilla. "Hmm, masa sih, Shei. Emang cerita aku yang beberapa hari lalu. Itu.. apaan, yang malah bikin dia bahagia.." ucap Zanna sambil berpikir.
"Coba inget lagi.. nana ku sayang.." balas Sheilla sambil tersenyum.
Zanna membelalakkan matanya. Ketika mengingat hal yang ia ceritakan pada Sheilla beberapa hari yang lalu.
"Ah, Sheilla!! kamu cerita ke dia.. kalau aku itu.."
*Flashback On*
(Beberapa hari yang lalu..)
"Shei.. kenapa ya. Aku itu sekarang... kalau ada di samping bos aku.. suka deg deg an, jantung aku suka berdebar kencang gitu.."
"Wah, itu tandanya kamu suka sama dia na.."
"Ah, nggak mungkin.. dia itu kan, nyebelin, terus mesum lagi.. aku juga udah pernah mergokin dia bercumbu sama seorang wanita di balkon apartemen nya."
"Iya.. emangnya kenapa kalau cowok mesum.. wajar kali cowok itu mesum.."
"Udah na, fix kamu itu suka sama bos kamu itu.. kamu juga pernah bilang kan waktu itu, kamu.. nyaman kalau di deket dia. Ya, itu udah pasti, kalau kamu.. suka sama dia, Zanna."
*Flashback Off*
"Shei, kamu serius ceritain yang itu juga.." pekik Zanna yang kesal.
Sheilla hanya tersenyum menahan tawanya. Hal itu membuat Zanna semakin kesal.
"Ish, Sheillaaaa...." pekik Zanna.
"Sssssst! Zanna.. jangan berisik.." protes karyawan senior.
Zanna pun menghentikan pembicaraan nya dengan Sheilla. Lalu, ia menatap wajah Sheilla dengan serius. Sedangkan Sheilla malah tertawa kecil melihat Zanna.
"Ish, Sheillaaaa, bener bener ya dia.." pekik Zanna dalam hati, sambil mengerucutkan bibirnya.
****
Epilog
"Eh, Sheilla.. kamu ngapain ada di ruangan Kakak, kamu ini ya.. bukannya kerja.." protes Daffin yang menatap Sheilla sedang duduk di atas sofa dalam ruangannya.
Kemudian Sheilla, menghampiri meja kerja Daffin, lalu duduk di seberang Daffin.
"Kak, aku mau cerita tentang Zanna." ucap Sheilla.
"Zanna? emang kenapa dia.. kamu kaya yang kenal aja sama Zanna. Udahlah.. kamu mending kerja aja sana Shei.." balas Daffin.
"Ih, ya udah kalau kaya gitu aku mau lanjut kerja.."
"Oh iya, asal Kak Daffin tau ya.. Zanna itu sahabat baik aku dari jaman SD. Hampir setiap hari dia itu suka curhat ke Sheilla.. termasuk tentang Kaka juga." jelas Sheilla yang berjalan pergi meninggalkan ruangan Daffin.
"Ah, Zanna sahabat nya Sheilla?. Terus dia suka cerita tentang aku.." batin Daffin yang masih tak percaya.
"Eh, Shei.. sini dulu.. sok ceritain.. tentang Zanna.. yang tadi kamu bilang." pekik Daffin.
"Huh.. tadi aja nggak mau denger.." lanjut Sheilla, sambil berjalan kembali menghampiri Daffin.
"Hmm, iya cerita aja lah, terlanjur.. kakak udah penasaran." balas Daffin.
"Oke deh.. Sheilla cerita ya..."
Beberapa menit lamanya Sheilla bercerita tentang Zanna. Termasuk, cerita Zanna yang bercerita tentang Daffin beberapa hari lalu pada Sheilla.
"Udah puas kan, denger cerita nya.. ya udah Sheilla mau balik lagi ke ruangan.." ucap Sheilla sambil berjalan meninggalkan ruangan Daffin.
Kemudian, Daffin menatap punggung Sheilla. Daffin tersenyum lebar ketika mengingat cerita yang tadi Sheilla ceritakan padanya.
"Aish, masa sih Zanna suka sama aku. Sampai-sampai.. jantung nya suka berdebar kencang kalau di deket aku.." batin Daffin sambil tertawa kecil.
"Tapi bagus deh... aku seneng banget kalau Zanna suka sama aku. Jadi, kalau aku nyatain cinta ke Zanna. Udah kemungkinan besar bakal di terima.." ucap Daffin dalam hati, sambil tersenyum bahagia.
.
.
.
🌸🌸🌸🌸 Bersambung 🌸🌸🌸🌸
sukses
semangat
mksh