Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ronde yang Melelahkan
Di dalam kamar utama yang berbalut nuansa *Modern Luxury*, deru napas yang memburu perlahan mulai stabil seiring dengan detak jarum jam dinding yang menunjukkan pukul dua dini hari. Selimut tebal berwarna slate gelap tampak berantakan di atas ranjang king-size, menjadi saksi bisu dari penyatuan takdir dua anak manusia yang awalnya diselimuti kecanggungan tingkat dewa.
Nara berbaring miring, menarik ujung selimut hingga sebatas bahunya dengan jemari yang terasa lemas tanpa tenaga. Wajah polosnya tampak begitu pias sekaligus kemerahan, dengan peluh halus yang masih menempel di sekitar pelipisnya. Rambut hitam panjangnya yang biasa terikat kini tersebar acak di atas bantal beludru.
Di sampingnya, Gus Zayyad duduk bersandar pada headboard tempat tidur. Punggung tegapnya yang kekar memamerkan sisa-sisa guratan memar akibat hantaman balok semalam, namun anehnya, otot-otot tubuh sang CEO hulu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keletihan. Sorot mata hitam kelamnya masih tampak tajam, segar, dan sarat akan keinginan taktis yang belum sepenuhnya tuntas.
Zayyad melirik ke arah istrinya. Jakunnya naik turun saat melihat betapa rapuh dan kelelahannya Nara malam ini. Sebagai pria dominan yang memiliki stamina luar biasa akibat terbiasa mengontrol armada lintas jalur, satu ronde bagi Zayyad barulah seperti pemanasan mesin kontainer di pagi hari.
"Nara..." suara bariton Zayyad mengalun rendah, serak-serak basah dan terdengar sangat intim di keheningan malam. Tangan besarnya yang hangat perlahan merayap di atas permukaan selimut, mengusap bahu Nara dengan gerakan lembut namun penuh kode maskulin yang jelas. "Apakah... kita bisa melanjutkan draf taktis berikutnya?"
Mendengar bisikan itu, Nara refleks membuka matanya yang bulat jernih dengan sisa-sisa kesadaran yang sangat tipis. Jantungnya sempat berdesir, namun seluruh persendian tubuhnya langsung berteriak protes. Mengimbangi kekuatan fisik dan stamina tingkat dewa dari seorang putra mahkota Al-Anwar dalam satu ronde saja sudah membuat seluruh tenaganya terkuras habis hingga ke titik nol.
Nara menatap suaminya dengan pandangan memelas penuh kepasrahan, suaranya keluar sangat pelit dan lirih. "Gus... saya benar-benar memohon ampun... tapi tubuh saya sudah lemas sekali. Rasanya... seperti habis ikut balapan motor liar bersama Davika sepanjang malam."
Zayyad tertegun sejenak. Menatap wajah lelah Nara yang begitu polos tanpa daya, ego maskulinnya seketika mencair, berganti dengan rasa iba dan tanggung jawab seorang pelindung yang pekat. Meskipun instingnya masih menuntut ronde berikutnya, Zayyad tahu kapan harus menarik rem darurat demi keselamatan armada domestiknya.
"Baiklah. Istirahatlah, Nara," ucap Zayyad lembut. Ia menarik selimut slate itu lebih tinggi, memastikan tubuh istrinya terbungkus hangat, lalu mengecup kening Nara dengan khusyu sebuah kecupan penutup yang menyegel malam pertama mereka dalam kepasrahan yang damai.
...----------------...
Gumpalan kabut fajar Jakarta belum sepenuhnya memudar ketika alarm pintar di kamar utama bergetar lembut pada pukul setengah lima pagi. Gus Zayyad, yang hanya tidur beberapa jam namun sudah kembali bugar seutuhnya, bangkit dari ranjang untuk melaksanakan ibadah salat Subuh. Setelah membersihkan diri, ia membangunkan Nara dengan sangat hati-hati, memaklumi langkah kaki istrinya yang masih tampak agak kaku dan pelan akibat kelelahan semalam.
Setelah menyelesaikan salat berjamaah yang takzim, keduanya melangkah keluar menuju ruang makan bernuansa monokrom minimalis. Nara yang sudah kembali mengenakan khimar instan rumahan berjalan sembari memegangi pinggangnya sedikit, sementara Zayyad berjalan tegap di sampingnya dengan wajah kaku andalannya.
Namun, ketenangan pagi itu langsung hancur berkeping-keping begitu mereka sampai di area *pantry*.
Di sana, di atas kursi bar, Davika sudah duduk manis dengan *oversized hoodie* hitam dan kacamata bulat besar nangkring di hidungnya. Tangan mungilnya memegang sebuah buku catatan taktis dan sebuah pulpen, sementara matanya yang berwarna *green-gray* langka langsung berbinar gila menatap kedatangan sepasang pengantin baru itu.
"Selamat pagi, Pasukan Gas Pol!" seru Davika ceriwis dengan volume suara yang langsung merusak estetika keheningan subuh. Gadis genius itu melompat turun dari kursi bar, melangkah mendekati Nara dan Zayyad dengan gaya detektif intelijen. "Davik dari jam empat subuh sudah *standby* di sini buat nagih laporan kemajuan operasional ngerakit bayi!"
Nara seketika mematung, wajah polosnya kembali matang sempurna mirip kepiting rebus akibat ke-kocakan adiknya yang tidak kenal waktu.
"Davika, ini masih subuh..." bisik Nara parau, mencoba menyembunyikan rasa malunya.
"Nggak ada kata subuh dalam kamus evaluasi taktis, Mbak!" potong Davika tanpa dosa, lalu menatap tajam ke arah Gus Zayyad sembari mengetukkan pulpennya pada buku catatan. "Gus kaku, gimana semalam? Tembus berapa ronde? Berdasarkan prediksi draf algoritma Davik, minimal harus tiga ronde biar persentase jadi bayinya menyentuh angka 98%!"
Gus Zayyad mendadak batuk kering, memalingkan wajah tegasnya yang seketika memerah kencang sampai ke ujung telinga. Ia membetulkan posisi kerah kokonya yang tidak miring, mencoba menyelamatkan muruah pesantrennya yang kembali diuji oleh kedegilan tingkat antariksa sang adik ipar.
"Davika... draf operasional semalam... hanya berjalan satu ronde," jawab Zayyad dengan suara bariton yang diusahakan sedingin es, meski otaknya mendadak *blank* total karena harus melaporkan urusan ranjang pada anak remaja.
Davika langsung melotot kecewa, menjatuhkan pulpennya ke atas meja dengan dramatis. "Hah?! Satu ronde doang?! Yah... payah banget! Masa CEO logistik hulu internasional kalah stamina sama mesin dua silinder! Itu namanya *under-performance*, Gus!"
Nara yang sudah tidak kuat menahan rasa malu tingkat antariksa langsung menyambar celemek kain di dekat kompor, bersiap menyumpal mulut ceriwis adiknya. Sementara Gus Zayyad hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menyadari bahwa hidup di bawah satu atap bersama pelindung genius yang super *random* ini akan menjadi petualangan jangka panjang yang jauh lebih menantang daripada mengurus ribuan kontainer di pelabuhan.
selalu bilangnya kitab😄😄😄