menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Setelah di mobil. Aku menelepon Joy.
"Gimana Bro?" tanyanya santai saat mengangkat telepon.
"Kayaknya gue gak bisa clubbing malam ini Bro," ucapku bingung mau alasan apa. Dia jauh dari agama. Jadi gak mungkin aku jujur padanya.
"Tumben. Lu udah insyaf ya? Kok udah gak pernah pergi club lagi? Kalau gitu kita karaokean yuk? Nanti gue kenalin cewek cantik. Dijamin kali ini dia gak bakal bikin rusuh," jawabnya beruntun.
Jiwa nakalku meronta-ronta. Ingin pergi ke karaokean juga. Tapi aku sudah janji pada Azzahra tadi.
"Ya Allah, gini amat cobaan mau tobat," gumamku merutuki diri sendiri.
"Bro? Lu denger gak?" tanya Joy gak sabaran.
"Gue lagi nyetir. Tapi gue sibuk banget. Ngopi aja yuk? Di tempat biasa," ucapku kemudian.
Kayaknya tempat teraman saat ini adalah ngopi. Jauh dari jangkauan wanita penghibur.
"Ngopi mulu. Kembung perut lu nanti."
"Ya gimana lagi? Kalau ke club, pulangku pasti malem banget. Ke karaoke, juga tergantung sewa kita sampai jam berapa? Gue gak bisa sekarang Bro," ucapku menjelaskan lagi. Semoga Joy paham.
"Ah lu gak asik Bro! Ya udah deh, cancel aja," ucap Joy yang seperti kesal padaku.
Aku gak enak hati. Tapi ya udahlah, biarin aja. Padahal sebelum menikah, apapun yang diajak sam Joy aku ikutin. Gak perduli meskipun cuma nonton aja. Tapi sekarang? Meskipun nontonin dia sama cewek di karaoke, kesannya kayak gimana gitu. Dari pada membuat penilaian yang buruk, mending dimarahi Joy. Gak masalah lah, lain waktu gue mau traktir dia sesuatu.
"Sorry Bro. Lain kali gue traktir lu makan," jawabku menghibur.
"Makan? Ya udah deh, lu traktir gue makan malam ini. Ke club nya gue bisa datang sendiri."
Mendengar itu, aku langsung lega.
"Alhamdulillah, oke bro. Kabarin aja mau di mana."
Setelah telpon mati. Aku melajukan mobilku dengan tenang.
Tanpa di sengaja. Lagi-lagi aku bertemu dengan mantan karyawanku pas di lampu merah.
"Maya," gumamku saat dia sudah menyapa duluan.
"Dari mana Pak?" tanyanya ingin tahu.
Padahal dia dulu tak pernah peduli. Cuma emang dia aja sih, karyawanku yang paling berani. Entah menyuruh, atau memberi tahu sesuatu. Tak disangka, dia yang malah gak betah kerja di tokoku.
"Ini habis nganter istri," jawabku jujur.
"Oh!" Dia hanya ber oh ria. Tapi dari raut wajahnya, dia kayak gak suka dengan jawabanku. Tapi aku masa bodo. Toh, dia hanya mantan karyawan. Gaji terakhir dan pesangon juga sudah ku berikan padanya. Berarti aku gak ada hutang apapun kan?
"Duluan May," ucapku kemudian pas lampu sudah hijau.
...****************...
"Aneh si Maya," gumamku saat sudah sampai di ruangan kerja. Entah kenapa, tiba-tiba aku kepikiran dengan raut wajahnya yang terlihat tidak suka.
"Apa aku ada salah ya sama dia?" ucapku bingung.
"Astagfirullah, ngapain aku mikirin Maya. Azzahra gimana? Oh ya, dia gak akan aktifin ponselnya," gumamku lagi.
Dari pada bingung gak ada aktifitas. Aku keluar dan membantu karyawan lain.
Saking sibuknya, tiba-tiba ponselku berdering. Joy menelepon.
"Ya, gimana Bro?" tanyaku.
Ku lihat udah jam setengah 8 malam. Untung udah sholat maghrib, isya juga tadi. Kalau dia ngajak keluar sekarang gak akan masalah.
"Gue laper Bro. Jadi nraktir gak?" tanyanya.
"Jadi dong. Yuk, dimana?" tanyaku. Aku juga sedang lapar sekarang. Kebetulan Azzahra juga gak ada di rumah. Jadi gak masalah kan jika aku makan di luar? Dia juga udah ku kasih saku tadi.
"Nanti gue shareloc," jawabnya.
"Oke."
Setelah telepon mati. Aku ijin pada Ridwan selaku kepala toko.
"Wan! Saya keluar dulu ya. Nanti hasil penjualan hari ini seperti biasanya aja," ucapku.
Ridwan mengangguk. "Siap Pak!"
Lalu segera aku keluar. Sebenarnya pengen naik motor aja. Tapi kalau ada Azzahra, kasihan kalau gak naik mobil. Pakaiannya aja gamis lebar banget. Lekuk tubuh nyaris tak terlihat. Jadi bakalan susah kalau ku bonceng pas motoran.
Sampai tengah jalan. Alamat baru dikirim oleh Joy. Gak kaleng-kaleng, Joy ngajaknya makan di restoran.
Untung aja uangku tebal. Kalau gak? Mana berani aku turutin kemauannya.
Joy ini karyawan kantor. Dia S1. Entah apa kerjaannya, aku gak terlalu nanya. Kayaknya bagian staff manager atau apa gitu. Aku lupa. Dia pakai motor cowok warna merah. Kalau bonceng cewek, pasti yang dibonceng kayak nungging gitu.
Sampai di parkiran resto. Ku lihat ada motor Joy sudah terparkir di sana.
Dari pada gak tahu tempatnya. Jadi ku chat si Joy.
"Joy, gue di depan. Lu di mana?" tanyaku via whatsapp.
5 menit kemudian dia nyusulin aku di parkiran.
"Bro!" Dia panggil aku sambil melambaikan tangannya.
Wajahnya tampak semangat. Pasti ada apa-apanya. Pikirku.
"Girang banget lu!" tanyaku spontan.
Kami udah biasa kayak gini. Sebab Joy ini kenalanku pertama saat aku merantau di SBY.
"Dah, nanti lu tahu," jawabnya santai.
Wajah Joy lumayan putih dibanding dengan wajahku. Jadi wajar dia bisa menggaet wanita sana sini.
Aku mengekor di belakang Joy. Gak tahunya Joy membawa cewek.
'Sialan si Joy. Kenapa dia ngajak cewek? Jika Azzah tahu gimana?' batinku kaget saat Joy duduk di samping cewek seksi. Yang mana perut pusar dan belahan dadanya terlihat. Ini gak bener sama sekali. Yang ada aku kena fitnah nanti lagi.
"Duduk Bro!" ajaknya.
Gue tersenyum kecut. Bisa-bisanya Joy bawa cewek secara random kayak gini. Mentang-mentang wajah mumpuni, jadi dengan seenaknya dia gonta-ganti cewek.
"Ah, nanti gue ganggu kalian. Gue duduk di belakang kalian aja," jawabku beralasan.
"Lah Bro!" Joy kecewa.
Dia mendekat ke arahku. Dan berbisik di telingaku. "Padahal gue mau kenalin dia sama lu Bro. Kenapa lu ngehindar?" tanyanya.
"Gak usah," jawabku menolak. Aku belum ngasih tahu ke Joy sih kalau aku udah nikah. Aku malu ngenalinnya gimana? Sebab pernikahanku ini secara aku yang salah.
"Lah, masih kinyis lho? Lu gak penasaran?" tanyanya sekali lagi.
"Udah, buat lu aja. Mau makan apa ini?" Ku alihkan pembicaraanku. Kalau gak, dia gak akan menyerah nyodorin bekasnya untukku.
"Ah elu Bro. Susah amat sih dikenalin sama cewek," ucapnya menyerah.
Aku hanya tersenyum kecil. Gak mungkin aku kenalan sama cewek lagi. Apalagi di hatiku ini udah ada nama istriku, Azzahra. Wanita bercadar yang buatku masih penasaran sampai sekarang.
Makanan pun datang. Joy pamer kemesraan. Entah mencubit atau menoel pantat wanita itu.
Cih! Aku yang udah beristri aja gak segitunya sama istriku. Tapi emang sih. Gak mungkin sama istri nglekauin hal rendah seperti ini. Beda kalau gak sama wanita bayaran, apa aja pasti gak masalah.
Aku memalingkan mukaku. Joy pede banget cium-cium pipi wanita itu. Di depan mukaku lagi.
Awas aja, nanti sampai rumah aku juga bakalan ciumi pipi istriku. Emang dia aja yang bisa kayak gitu?
Bersambung...